
*
Sore itu Atar datang ke rumah Sam. Namun, Hanya ada Kusno disana sedang memangkas tanaman bonsai beringin agar lebih berbentuk.
"Assalamualaikum, Pak?" sapa Atar begitu memasuki halaman rumah Sam.
"Waalaikumsalam, Tar. Masuk, masuk!" Kusno sumringah melihat Atar yang mendekat dan mengulurkan tangan lalu mencium tangannya. Ia letakkan parang pada sisi kolam lalu mencuci tangan.
"Lama sekali kamu nggak kesini. Padahal kan, sekolah juga lumayan dekat. Sibuk, ya?" tanya Kusno.
Atar tersenyum dan mengangguk saja. Padahal ia tahu, sejak masuk SMA, Sam sudah tak seperti dulu lagi. Persahabatan mereka renggang tanpa ia tahu masalahnya. Pemilik nama lengkap Attarasiqh Baihaki itu tetap berusaha untuk saling sapa saat di sekolah, tapi Sam selalu bersikap datar.
"Biasanya Sam pulang jam berapa, Pak?" tanya Atar.
"Nggak bisa di tebak. Kalaupun saya kirim pesan, pasti jawabnya jangan di tungguin, selalu seperti itu. Kadang, malah menyuruh saya pulang. Katanya ia tak mau merepotkan. Padahal bukan itu maksud saya," jelas Kusno.
Keduanya beralih berbasa-basi mengenai kegiatan Atar, sembari berjalan santai menuju teras. Teras rumah itu begitu sejuk karena di sisi kiri terdapat tanaman menjalar dari atap yang di atur rapi, sedangkan di bagian dindingnya terdapat batu alam. Di sana juga ada air yang senantiasa mengalir setiap saat, sebagai hiasan. Menambah kesan tenang di rumah itu.
Atar celingukan mencari Sam dan Kusno segera tanggap bahkan sebelum Atar bertanya.
"Sam belum pulang." Kusno menghela nafas, "anak itu makin susah di atur. Makin di kasih tahu, makin berontak saja dia," cerita Kusno.
Atar tak jadi menyampaikan maksud kedatangannya. Ia bermaksud menyampaikan pihak OSIS mencalonkan dirinya. Takut Sam makin salah paham dengannya.
Pesan WhatsApp yang ia kirim hari ini tak terbaca sama sekali. Hanya centang satu.
Tak lama, Atar pamit lalu pulang. Saat di minimarket, Atar bertemu dengan Bella. Mereka tak bicara serius. Hanya berbasa-basi sekenanya.
Di akhir obrolan ringan mereka, Bella menyinggung soal Sam, membuat Atar tersenyum penuh arti pada Bella.
"Bel. Kamu masih suka sama Sam?" tanya Atar dan respon Bella sedikit terkejut.
"Emang keliatan, Tar?" tanya Bella resah.
Atar mengangguk sedikit tersenyum. "Tapi Sam emang nggak peka, ya!"
"Dia tahu, kok. Dia peka, makanya dia berusaha bersikap biasa saja. Terkesan menjauh malah. Agar aku nggak terlampau baper. Tapi dasar aku, aku justru udah kejebak friendzone sama dia."
"Sam takut dia akan mainin kamu, Bel. Makanya begitu," timpal Atar.
"Sam nggak gitu, ya, Tar. Mereka aja yang suka salting dan baper." Nada tak terima Atar menjelekkan Sam perihal itu, padahal memang seperti itu. Ia tersenyum kecut lalu menunduk, "sayangnya, aku mungkin juga seperti mereka," lanjutnya.
"Aku seperti kehilangan Sam yang dulu. Yang tenang dan nggak banyak tingkah." Atar tersenyum masygul.
Setelah menyudahi pembicaraan itu, Atar dan Bella berlalu.
Sementara sang objek pembicaraan mereka, nyatanya sedang membenahi motornya di depan rumah Dika.
Sam dan ke-empat kawannya baru saja pulang dari Curug Selo. Sebuah tempat di kaki gunung Merapi, berupa air terjun dan ada beberapa taman.
Saat perjalanan pulang, Sam merasa motornya tidak baik-baik saja jadi terpaksa ia benahi sendiri di bantu teman-temannya di rumah Dika.
Sam menggeber motor ber-cc besar itu agar mendapatkan kesesuaian suara. Bunyi bising tentu mengganggu sekitar. Salah satunya seperti yang di alami seorang gadis di depan rumah Dika. Gadis itu kesal karena kerabatnya yang membawa bayi dari kampung merasa terganggu karenanya. Hingga ia berjalan cepat menuju pagar rumah Dika
"Woyy, Mas! Jangan di geber dong, ada anak bayi, tuh!"
Sedikit membentak, Nada mengucapkan protes besarnya.
Sam yang sedang duduk jongkok memunggungi pendemo tunggal itu menoleh karena merasa tak asing dengan suara itu.
Sam terkejut karena ada Nada yang sedang debat dengan Dika pada akhirnya
"Iku lho, Mas. Mbok temenya di bilangin. Brisik banget motornya. Lagian kalau mau bengkel ya di bengkel aja kenapa di rumah orang, sih!" Nada masih meluap kesal meskipun ia baru tahu orang itu adalah Sam. Ada rasa terkejut tapi sudah terlanjur, mau bagaimana.
Sam mendekati Dika dan Nada. "Iya, sorry. Habis, gimana, mau ku bawa ke bengkel pasti butuh uang banyak. Kalau kita bisa benerin sendiri kan lumayan ngirit," bela Sam dengan meringis.
"Aku sih nggak apa, Mas. Tapi kebetulan ada bulekku datang, bawa bayi soalnya. Nagis terus, tuh!"
"Dahlah, Da. Itu temenku juga udah selesai," bela Dika lalu Nada pergi begitu saja membuat Sam jadi tak enak hati.
"Aku jadi nggak enak sama kamu. Kena damprat, kan," ucap Sam seraya mengelap tangannya sehabis di cuci.
"Lagian punya tetangga, sok berkuasa deh. Namanya juga hidup berdampingan, ya sedikit terganggu ya biasa, kan, ya! Aneh tuh cewek," dengus Royan sembari memasukkan kunci kunci berbagai ukuran ke dalam kotak.
Dika terkekeh dan geleng-geleng "Nada itu cerewetnya, ampun!"
"Btw, dia adik kelas kita, kan?" tanya Akmal melihat satu-satu temannya, setelah ingat beberapa waktu lalu.
Sam jadi terhenyak, lalu ikut menatap Dika. "Kok kamu nggak bilang, Dik?"
"Ya, kamu nggak nanya!" Dika menonyor bahu Sam," jangan bilang kamu naksir dia!" Dika tersenyum meremehkan membuat Sam mengangguk paham. Kok baru ngeh sih, kalau tuh anak tetanggaan sama Dika.
*
Malamnya, Nada uring- uringan sendiri. Mondar-mandir tidak jelas.
"Kenapa sih, aku nggak bisa jaga image,"
"Mana ada si muka masam begitu, makin suka ngejahil nanti kalau ketemu,"
Nada memukul pelan keningnya dengan kepalan tangannya. "Bisa-bisanya, sih, aku salting depan dia, njiiirrr! Bego-bego-begoooo bat, sih, aku!"
Nada duduk menghadap meja belajarnya. Menumpu kedua siku di meja.
"Tapi, tapi. Kok aku baru nyadar kalau si asem itu teman Dika, sih."
Nada tersenyum dan menepuk nepuk kedua pipinya.
Kalau saja panggilan Marni tak menyeru Nada, dia pasti masih terus-menerus ngedumel tidak jelas. Rupanya Nada sudah di tunggu keluarga besarnya untuk makan.
Ada sanak saudara dari kampung datang sekeluarga. Jadilah rumah Nada yang biasanya sepi jadi ramai.
Makan malam yang biasa jadi istimewa hari ini. Ramai dan sesekali berceloteh membicarakan masakan Marni yang enak.
"Kenapa bisa di sebut sayur Lombok, ya, padahal ada tempe dan rambak sayur yang ada di dalamnya," canda Hardi dan segera di sahut iparnya.
"Kalau mau bilang sayur lombok-tempe-krecek, ya kepanjangan, to, Mas," canda pakliknya Nada itu.
Sedangkan para ibu-ibu lebih asyik membicarakan menu buat besok pagi lalu berlanjut ghibah menceritakan saudara-saudara jauh yang lama tak bertemu.
Selesai makan, sekeluarga itu ngobrol santai saja di ruang tamu yang kebetulan satu ruang dengan ruang keluarga.
Pihak bapak-bapak lebih nyaman memisahkan diri di teras. Sedangkan ibu-ibu lanjut ghibah membicarakan anak masing-masing.
Saat bersama keluarga seperti itu, bisa-bisanya Nada malah teringat kembali bagaimana bar-barnya dia ngelabrak tetangga depan rumah. Bonusnya, dia bertemu sosok yang membuatnya bersemu tiba-tiba.
Hingga Kalis, sepupunya pun menangkap keanehannya. "Mbak Nada, kok senyum-senyum sendiri, sih, aku perhatiin dari tadi." Kalis memainkan dua telunjuknya, "hayyoo, mbak Nada mikirin pacarnya, ya," goda Kalis.
"Heh, anak kelas tiga esdeh mana boleh ngomongin pacaran. Nggak boleh, nggak boleh, ya!" Nada memangku anak perempuan berambut sedikit curly dengan mata besar itu. Nada tetap menggelitiknya meski Kalis sudah meronta minta ampun.
"Na, udah lepasin, kasihan!"
Suara Marni membuat Nada mengehentikan kejahilannya dan berganti mengajari sepupunya itu belajar menggambar.
Malam kami merambat, membuat udara semakin dingin. Di saat saudara-saudaranya sedang tertidur di ruang tengah, Nada justru bangun dari dari tidur rame-rame di depan televisi. Berniat ingin pindah ke kamarnya.
Namun, entah mengapa dia tidak bisa tertidur. Akhirnya ia berjalan ke dapur untuk membuat kopi, tentu saja matanya jadi model on.
Alhasil dia justru membuka buku pelajarannya. Tak lama ponselnya muncul notifikasi dari nomor tak di kenal.
[Hai,]
[Belum tidur, ya?]
*