
Rasa yang masih terus tumbuh di diri Nada tidak bisa ia hapus begitu saja. Inginnya melupa. Namun, hati berkata sebaliknya. Terus menerus tumbuh subur bahkan saat musim kemarau kembali menyapa.
Siang itu Nada membawa setumpuk buku dari ruang guru. Sebetulnya ada Via yang sebelumnya ikut membantunya. Namun, sahabatnya itu masih tertinggal di ruang guru karena ada kepentingan di ruang tata usaha.
Via menyuruh Nada untuk ke kelas lebih dulu. Karena, buku yang di bawanya akan segera di pakai untuk pembelajaran.
Saat melewati depan ruang OSIS ia mendengar suara ribut. Ingin sekali ia masuk. Namun, ia rasa bukan urusannya.
Suara ribut itu semakin jelas saat Nada berjalan perlahan di depan pintu yang terbuka.
Ada Sam dan Dita yang tengah beradu mulut. Dita berurai air mata sedangkan Sam terlihat marah.
"Pliss, lah, Sam. Jangan begini, aku nggak bisa biarkan kamu sama dia."
"Jangan egois kamu, Dit. Perasaan itu nggak bisa di paksakan."
Begitu Dita menyadari Nada telah ada di ambang pintu, tangis Dita semakin tersedu dan berakhir memeluk Sam.
Lekas Nada beranjak dari sana. Di ruang itu bukan ranahnya. Apapun yang terjadi di sana bukan urusannya.
Nada meremas pelan dadanya. Ada rasa sakit di dalam sana. Matanya pun turut serta bereaksi sama. Ada setitik genangan yang siap terjun bebas di sudut mata sayu miliknya.
Segera Nada menghapus kasar ujung matanya yang berair. Lalu mengambil langkah lebar menuju ruang kelasnya.
*
"Kamu masih mau hidup tenang, kan?" tanya Dita sungguh-sungguh pada Nada yang sedang duduk terhalang meja kecil.
"Maksud Mbak Dita?" tanyanya sambil mengeryit. Benar-benar tidak mengerti.
"Jawab dengan benar. Apa kamu menyukai Sam?"
Nada masih diam. Mencoba memahami maksud pertanyaan Dita. Memang wajah kakak kelasnya itu tidaklah sinis seperti dulu. Bahkan sekarang ini terlihat menyedihkan.
Saat di parkiran tadi, Dita mengajak Nada untuk berbicara empat mata di kafe yang tidak jauh dari sekolah. Ternyata, hal ini yang ingin Dita sampaikan.
"Aku nggak pernah suka sama Sam, Mbak." Kata itulah yang akhirnya keluar dari bibir Nada. Ya, memang sejak Dita memberinya pelajaran kala itu, Nada benar-benar mencoba mulai memupus perasaannya.
"Yakin, kamu nggak pernah suka sama Sam?" tanya Dita lagi memastikan.
Nada mengangguk yakin. "Iya, Mbak. Dan segala tuduhan kamu waktu itu benar-benar tidak benar. Aku dan Mas Sam hanya jalan biasa. Karena waktu itu, motor Via mendadak trouble jadi biar nggak gagal sunmori aku nebeng aja. Itupun atas usulan temannya."
Dita sedikit tersenyum lalu mengangguk pelan. "Yah, Royan juga bilang begitu."
Dita kembali menatap Nada. " Emm. Aku juga mau minta maaf soal waktu itu."
"Nggak apa, Mba. Aku udah lupain hal itu kok," jawab Nada tulus. Meskipun dengan susah payah, Nada berusaha tetap berdiri. Menulikan pendengarannya dari kasak-kusuk yang membuat dirinya tidak nyaman. Cibiran seluruh siswi kelas sebelas dulu memang sangat menyiksanya. Ia sampai enggan mengikuti ekstrakulikuler apapun. Karena disana peserta dari kakak kelasnya itu masih begitu mendominasi.
Dita mengangguk lagi lalu wajahnya berubah sendu. "Tapi, semua sudah terlanjur. Sam benar-benar sudah jijik sama aku. Dan itu sangat nyakitin aku. Sam nggak pernah lirik aku sama sekali, meskipun aku sudah berkali-kali minta maaf."
Kali ini penjelasan Dita membuatnya terdiam di tempatnya. Jadi, apa maksud dia berbicara panjang lebar sampai ajak aku ke kafe seperti ini. Aneh. Ku pikir penjelasan aku dapat menyelematkan aku dari piktor cewek-cewek. Jikapun Dita memperingatkan aku baik-baik, pasti aku juga akan mengiyakannya kok. Huhhh, padahal kejadiannya sudah lama. Namun, efeknya masih nggak ngenakin banget sampai sekarang. Kaya' nggak ada cowok lain apa.
*
"Vi, punya pacar tuh, enak nggak sih?" tanya Nada polos. Matanya menatap kosong papan tulis di depan sana.
"Enak, dong." Awalnya Via masih asyik memainkan ponselnya. Ia sedang berbalas chat dengan pacar barunya. Saat menyadari pertanyaan Nada, ia segera memiringkan tubuhnya dan meremas lengan Nada.
"Hah. Gimana, gimana? Ngomong apa tadi!" Via terbelalak dengan tersenyum jahil.
Nada memutar bola matanya. Via baru akan mendengarkannya bila ia memancing pertanyaan seperti ini. Nada mengulang pertanyaannya kembali dan membuat Via menutup mulutnya dengan mata berbinar.
"Jangan bilang kamu sedang naksir orang!"
Senyum palsu terukir di bibir Nada. Membuat Via antusias dan menafsirkan sendiri senyum yang Nada berikan.
"Kasih tahu. Siapa orangnya?"
"Ma-maksudnya?"
Via tidak memperdulikan kebingungan Nada. Ia justru begitu senang sampai ia menengadahkan kedua tangannya seperti saat berdoa. "Akhirnya, sahabat aku mau pacaran juga. Ku pikir kamu selamanya akan jadi cupu dan anti pacaran. Huhhh, lega rasanya."
"Viiii, jangan geger sendiri. Kamu belum jawab pertanyaan aku." Nada gemas dengan ekspresi wajah Via. Ia mencubit-cubit lengan Via membuatnya mengaduh. Pura-pura kesakitan.
"Kalau begitu, sama aja kek aku sama kamu, dong," ungkap Nada sambil mencebik. Ia masih menggali pengalaman Via selama ini.
"Ya beda, dong. Ah, kamu nih. Pokoknya setiap kali ketemu di sekolah tuh, ada moodboster gitu, deh. Kita jadi semangat belajarnya. Dan yang pasti, seneng aja hidup kita begitu di perhatikan. Makanya, cepetan terima Arka atau Atar. Mereka jelas-jelas kelihatan kalau suka sama kamu, kan," terang Via panjang lebar. Tidak lupa bujukan itu ikut membuat Nada penasaran juga.
"Emang kalau nggak pacaran. Trus kita jadi kelihatan udik banget gitu. Bukannya sendiri itu justru asyik, yah. Nggak terkekang dan bebas."
"Polos banget, Na. Kita ini udah remaja. Gunain lah, waktu remaja kita dengan yang indah-indah. Nggak guna banget, sekolah cuma mau belajar terus. Jenuh, tau."
"Yaelah, temen lucknut kamu. Ngajarin kok ya pacaran."
"Heh. Kita ni kudu ada pengalaman, biar tau karakter orang tuh beda-beda. Kita bisa belajar buat mengenal yang tulus ama yang modus. Jangan pandang sisi negatifnya, lah. Ada kok sisi positifnya. Asalkan nggak yang aneh-aneh aja, loh, ya."
"Aneh gimana?" tanya Nada semakin tertarik.
"Yaaa, taulah. Misalkan sampai yang *****-***** gitu, deh. Contoh di drakor juga banyak. Atau nggak usah jauh-jauh, deh. denger gosip di sekolah depan, kan!"
"Gosip yang mana?"
"Ish, Nada, mahh. Itu yang tekdung dan ketauan menjelang ujian." Via gemas sendiri sambil mencubit pipi Nada.
"Iya. Tau, tau," ringisnnya pelan.
"Nahh. Musti kudu ati-ati kita. Ada juga loh, di tempat pakde ku di desa sana. Ada anak SMA, nih. Berjilbab. Seragam kan, gede-gede, tuh. Longgar. Ortunya nggak ngeh. Nah, tau-tau di kamar anaknya ada tangis bayi. Ngeri nggak, tuh!"
Nada meringis mendengar cerita Via. Terasa ikut pening membayangkan perasaan ibunya.
"Eh, Vi. Seriusan kamu suka nonton drakor sekarang?"
Via tersenyum geli sambil merangkul Nada. Selanjutnya ia memperhatikan koleksi Drakor di ponselnya. Akhirnya, Nada mendownload aplikasi pesawat kertas untuk menonton hal serupa di ponselnya.
"Gilak, Na. Ku kira kamu ini beneran polos. Ternyata emang sangat polos."
"Bukan polos, ya, ralat, deh,! Bapak aku tuh kritis banget sama aku. Tau sendiri, selama ini dia terlalu banyak larangan ini-itu. Saat kemarin kelompok aja, tau sendiri bapak sampai nyariin aku kan."
"Sweet juga, sih. Tapi menurutku, kamu terlalu nurut deh, Na."
Nada tersenyum kecil. Perhatian Bapak dan ibu memang tiada tandingannya. Mungkin karena Nada adalah anak satu-satunya. Jadi bapak begitu amat memerhatikanya.
Karena terus di ejek oleh Via, Nada benar-benar membuktikannya. Akhirnya, Nada coba-coba menerima permintaan Arka untuk menjadi pacarnya.
Via mengompori Nada dan mengingatkan Nada soal kode-kode dari Arka. Arka adalah teman sekelasnya. Meskipun saat dengan Arka, tidak ada rasa berdebar sama sekali. Nada mencoba menjalaninya. Daripada masih terus di ejek oleh Via.
"Mulai sekarang kamu jadi pacar aku ya," ucap Arka sambil tersenyum. Dengan tangan tertaut di belakang tubuhnya karena sedikit grogi.
Nada mengangguk pelan dan selanjutnya ia berjalan beriringan menuju kelas. Hanya jalan beriringan.
Arka mencoba meraih tangan Nada. Membuat siswi berjilbab segitiga itu terkejut.
"Cuma mau gandeng, aja, boleh, kan?" terang Arka memahami wajah terkejut Nada
"Ish. Ini di sekolah tau, Ka. Di laporin Pak Koni bisa habis kita," tolak Nada mulai terlihat juteknya.
"Oke,oke. Galak juga ya kamu," gumam Arka dan Nada masih mendengarnya.
Selama berjalan, Arka mengungkapkan awal-awal dia menjadi tertarik pada Nada. Hal itu cukup membuat Nada tersenyum geli.
"Oh, iya. Aku lihat kamu cukup dekat dengan Atar. Dia nggak sedang usaha pedekate sama kamu, kan?" tanya Arka. Remaja yang gemar menggunakan topi hitam itu terlihat menunggu jawaban Nada.
"Mas Atar, toh." Nada sempat berhenti sejenak lalu kembali meneruskan langkah. Arka tentu masih terus menyamakan langkah Nada.
" Aku dekat ya nggak dekat banget sih. Awalnya aku tanya-tanya ke dia soal cara mengajukan beasiswa. Dan akhirnya kita sebatas kenal aja. Dia pintar, kan, jadi aku rasa semua info yang dia berikan itu adalah langkah-langkah dia bisa sekolah bebas biaya. Siapa sih yang nggak kepengen, sekolah geratis tanpa biaya."
"Oooh," sahut Arka lega, "btw, nanti pulang bareng ya," ajak Arka kemudian mendapat tawa dari Nada.
"Kenapa ketawa? Ada yang lucu?" tanya Arka dengan wajah bingung.
Nada sendiri sedang teringat akan cerita Via. Ia terkekeh karena apa yang Via ucapkan benar adanya.
"Aku bawa motor sendiri, Ka. Tapi, kalau mau bareng, ya hayuk. Motoran sendiri-sendiri tapi," ujarnya seraya tertawa meninggalkan Arka yang masih berdiri menggaruk kepalanya. Ajakan pertamanya gagal di hari pertama jadian.
*