Sam

Sam
Satu demi satu ...



*


Kesehatan dan keterbatasan fisik membuat Sam tidak bisa membantu lebih banyak. Nyeri masih sesekali ia rasakan. Terlebih, masa pemulihan masih belum genap dua minggu.


Di bengkel pun, Sam hanya diam di depan layar komputer. Sesekali mengecek teamnya yang sedang menyervis atau yang sedang mengganti suku cadang pelanggan.


Jika sedang di bengkel, perhatiannya masih teralihkan dengan kesibukan yang ada. Tapi jika sedang di rumah, Sam pun tak bisa diam untuk tidak memikirkan Nada. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Sedangkan jarak dan kesempatan belum berpihak padanya.


Berencana untuk kembali berkunjung ke rumah Nada, hanya sebatas rencana. Tangannya tidak bisa di gunakan untuk perjalanan jauh. Apalagi untuk sampai ke tempat Nada membutuhkan waktu satu jam perjalanan.


Berkali-kali ia telah mengetikan chat di aplikasi hijau. Namun, berkali-kali juga Sam menghapusnya. Entahlah, keberaniannya menguap begitu saja mengingat fisiknya seperti sekarang ini. Mungkin sengaja memberi jeda tidak masalah. Ia akan fokus pada masalah Reva lebih dulu.


*


Siti muncul dari dapur dan menemui Sam di ruang tengah.


"Mas, tolong Vidio call sama mama, bisa? WA-nya bulik lagi eror ini."


"Sebentar, Bulik," ucap Sam dan beralih pada ponselnya. Di depannya masih ada banyak emping goreng yang akan di kemas ke plastik clip. Untuk snack acara besok pagi.


"Bulik cuci tangan dulu sebentar," ucap Siti sambil berlalu.


Dengan segera Sam menekan tombol panggilan vidio pada mama.


"Assalamualaikum, Sam?" sapa Tantri begitu bertatapan dengan wajah sang anak yang tengah tersenyum menyambutnya.


"Waalaikumsalam, Ma." Sam kembali tersenyum manakala mama terlihat antusias.


"Sehat, kamu?"


"Alhamdulillah, sehat Ma. Mama sehat?"


"Alhamdulillah. Eh, gimana proyeknya? Udah jalan?" Tantri tentu tau mengenai rencana usaha Sam yang di danai oleh Alif–kakaknya.


"Belum, Ma. Materialnya belum semua terkirim. Tapi kalau kesiapan sudah berjalan. Mungkin hari ini."


"Iya, semoga lancar, ya," harap Tantri sungguh -sungguh.


Sam melirik Bulik Siti yang sudah selesai membersihkan tangannya. "Emmm, ini ada bulik Siti mau ngobrol sama mama. Mama lagi senggang, kan?"


"Mama lagi santai ini." Tantri mengibaskan tangannya seperti tengah berhadapan secara langsung, "ya udah, kasih ke bulik hapenya!"


Sam tersenyum lalu memberikan ponsel pada Siti dan segera Siti membawa ponsel Sam ke belakang.


"Pinjem bentar ya, Sam. Nggak nyampe sejam," teriak Siti sambil berlalu.


"Sejam katanya, Sam," goda ibu-ibu yang sedang mengemas kacang oven, duduk tidak jauh dari Sam.


"Ibu-ibu, kalau udah ngobrol aja, pasti sampai lupa waktu," gumam Sam sambil geleng-geleng kepala lalu mengembuskan napas besarnya.


"Dimana-mana, ibu-ibu ya sama, Sam," seloroh wanita berdaster batik berjilbab biru tua.


"Kalau sudah ngobrol.. bisa lupa waktu," imbuh yang lainnya.


Sam sedikit melempar senyum melihat empat tetangga dekat bulik Siti yang ikut bantu-bantu.


Selama ia berada di sana, mereka tak sedikitpun menyinggung masalah Reva. Membuat Sam sedikit lebih lega. Ia hanya takut ucapan tetangga akan memperburuk mental Reva meskipun tidak sengaja.


"Ibuk-ibuk, ngapunten kulo pamit riyin njih. Kulo wonten urusan. Monggo di sekecakaken," (Ibu-ibu, maaf saya pamit duluan ya. Saya ada keperluan. Silakan di lanjutkan,)" pamit Sam dan mereka menjawab:


"Ya Sam. Wes Kono leren sikek. Ben gak keceneng tangane." Iya, Sam. Sudah istirahat dulu. Biar nggak cedera tangannya.


"Iyo, wes. Bene ibu-ibu sek nggarap Iki," Iya, udah. Biar ibu-ibu Nyang mengerjakan ini.


Membuat Sam segera berdiri untuk berjalan agak menunduk segan. Tidak sepenuhnya lega melihat mereka bercanda seperti biasanya.


Sam kembali ke kamarnya sekedar untuk merebahkan diri. Cukup banyak ia membantu mengemas emping hingga empat toples besar penuh. Sedikit capek tapi cukup menyenangkan.


Namun, sejurus kemudian. Sam kembali teringat akan Nada. Gadis itu begitu mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. Terlebih, beberapa waktu lalu sempat meluangkan waktu untuk menjenguknya. Membuatnya kembali mengulas senyum simpul penuh arti terbit di wajahnya.


Raut bahagia tidak bisa Sam tutupi. Meski wajah terlihat datar. Namun, lengkungan di kanan dan kiri bibirnya mengubah wajah tegas Sam yang terlihat begitu memikat setiap orang yang memandangnya.


Sayangnya, Sam di luaran sana jarang sekali menunjukkan sisi lain dirinya. Wajah tegas dan irit senyum lah yang sering kali Sam tunjukkan pada orang-orang. Terlebih pada mereka yang tidak begitu akrab dengannya.


Maka, tidak jarang sebagian tetangga Siti menyimpulkan keponakannya si minim ekspresi.


Dengan munculnya sosok Reva sesaat setelah kenop pintu bergerak lalu terbuka sempurna.


"Mau balikin hape, Mas," kata Reva sambil berjalan mendekat.


"Tumben, bentaran doang?" tanyanya sambil mengeryit, "biasanya, kann..."


"Lama," sahut Reva cepat dengan terkekeh. Membuat Sam pun ikut terkekeh demi melihat wajah sepupunya sudah bisa tersenyum.


Sejak di ketahui hamil, gadis itu lebih banyak menyendiri. Diam di dalam kamar. Keluar kamar bahkan hanya untuk mandi. Karena memang kamar mandi tidak di desain di dalam kamar.


"Kok bisa di kamu, Rev," ucapnya seraya menerima hape dari tangan Reva.


"Iya, tadi sempat bincang-bincang dikit sama Bude."


"Mamaku?"


"Iyalah, siapa lagi," dengus Reva sedikit sewot.


Sikapnya yang seperti ini membuat Sam kembali teringat akan sosok Nada. Nada lagi. Ini sangat menjengkelkan. Aku jadi pengen cepet-cepet ketemu dia.


"Ish, gitu aja sewot. Calon manten nggak boleh cemberut. Nggak baik, loh," goda Sam sambil mencubit pipi Reva gemas.


"Kata siapa?"


"Akulah,"


"Ngarang! Kamu aja belum jadi pengantin. Bisa-bisanya ceramahin aku, Mas," cibir Reva meledek.


"Iya juga sih. Tapi, sayangnya kok benar juga," oceh Sam sambil terkekeh.


Reva tidak menanggapi dan memilih duduk di pinggir kasur dengan menatap daun-daun di luar sana, yang bergoyang diterpa angin.


"Mas," panggil Reva setelah beberapa menit terdiam tanpa saling meledek.


"Hm," jawab Sam melirik Reva lalu kembali pada ponselnya.


"Aku mau minta restu buat nikah besok," ucap Reva dan mampu mengalihkan atensi Sam.


Ada interval waktu sebentar sebelum Sam mengulas sedikit senyum. "Sepupu aku minta restu ini? Kasih restu nggak ya, kira-kira," seloroh Sam membuat Reva menunduk.


"Hey, aku bercanda." Sam mendongakkan kepala Reva yang menunduk agar ia dapat melihat wajah Reva. Wajah yang kian tirus karena tidak dapat makan teratur membuat Reva terlihat pucat.


"Iya. Pasti aku kasih restu buat kamu. Semoga dengan ini kamu bisa jadi pribadi yang lebih kuat, tegar dan dewasa. Dengan ini kamu juga bisa mengambil hikmahnya. Bahwa, menuruti kata orang tua, tidak ada salahnya."


Sam menepuk bahu Reva beberapa kali. "Setelah ini, aku harap kamu tabah menghadapi omongan orang luar. Tidak untuk dihindari, melainkan untuk dihadapi. Lama-lama, pasti mereka akan reda dengan sendirinya."


Reva mengangguk lalu menghapus sudut matanya yang menjadi tempat singgah sementara tirta bening di sana.


Ada gurat lega dengan wajah sedikit lebih cerah saat Reva memandang Sam.


"Terimakasih ya, Mas. Berkatmu aku masih bisa di⁶akui jadi siswa Smaba." Reva baru tahu perihal ini. Hal yang di usahakan Sam untuk mendapatkan hak Reva untuk menuntaskan pendidikan wajib belajar hingga selesai sekolah menengah atas. Hal yang membuat hari-harinya sempat keruh dan gelap.


"Iya sama-sama."


"Makasih, Mas. Untung ada kamu. Aku benar-benar beruntung punya kakak sepupu rasa sodara kandung. Sekarang, aku nggak nyesel lagi jadi anak pertama bapak. Karena ternyata bapak punya anak mbarep meski bukan dari darahnya."


"Kamu ngomong apa," ucap Sam sambil mengacak ujung kepala Reva. "Kamu lupa, kita lahir dari nenek dan kakek yang sama juga," lanjutnya membuat Reva tersenyum lega.


"Yang mau jadi pengantin, jangan nangis terus ya. Inget dedek di perut, kata orang kalau ibunya sedih anaknya juga sedih loh,"


"Sok tau," cibir Reva sambil melengos jengah.


"Di bilangin, juga." Sam tidak terima jika di remehkan. Apalagi di remehkan anak kecil. Ya. Baginya, Reva tetaplah adik kecilnya. Meskipun gadis itu akan lebih dulu menikah daripada dirinya yang belum jelas hilalnya.


Reva berdiri menatap Sam sambil mencibir. "Nikah, Mas!" Reva menutup mulutnya sekilas, "eh, salah. Harusnya, cari cewek Mas! Kasih pengertian, kejelasan hubungan, habis itu di bawa ke pak penghulu,"


Kali ini Sam di buat kicep dan mendengus pelan. "Masih berjuang juga. Ini juga nggak diem aja. Masih atur strategi."


"Good luck, deh , Mas. Doa dan actionnya di kencegin. Jangan sampai di ambil orang hanya karena kalah gesit, ya." Kali ini Reva benar-benar menyemangati Sam tulus dari dalam hati.


Sedikit cerita dari Revi, sudah membuatnya menyimpulkan kisah cinta Sam yang masih juga belum dirakit kembali. Reva berjalan keluar kamar meninggalkan Sam yang kembali sendiri menatap pintu jati. Dimana Reva menghilang tadi.


Wahai sang waktu, cobalah bergerak lebih cepat. Pertemukan aku segera dengannya. Hatiku sudah resah juga takut. Takut akan kemungkinan-kemungkinan yang akan membuatku semakin menyesal.–Sam.