
*
Persami hari ke dua. Kali ini, Nada dapat bangun tepat waktu. Meskipun semalam ada kegiatan renungan malam dan kembali ke tenda sudah sekitar pukul 02.00 dini hari.
Sebelum sholat subuh berjamaah tadi, Nada memang sudah mandi. Jadi, saat teman-temannya bebersih diri, ia sudah santai di tenda sembari membuat rells Instagram.
Vidio dan foto ia dapat dari ponsel pribadi. Ada sebagian dari grup besar Smaba.
Ia mencari-cari audio yang sekiranya sedang viral atau paling banyak di kolom pencarian.
Sam kakel.
[Masih pagi, udah online. Nggak mandi?]
Satu pesan dari Sam membuat Nada melongok sekitar mencari sosoknya. Ia menoleh pada tenda sekretariat pun juga tak terlihat wujud aslinya.
"Dimana, si orangnya?" gumam Nada tanpa berniat membalas pesan Sam.
Sam kakel:
[Nggak usah di cari, ntar ge-er orangnya 😍.]
Nada hanya mendengkus saja melihat isi pesan kedua. Baru saja Nada akan kembali mengedit, Sam sudah muncul dari belakang Nada. Tangan Sam juga sekilas menarik jilbab Nada.
"Hah! Ngapain kamu di sini, Mas!"
Sam tak menjawab lalu membuat duduk bersila. Bersisihan dengan Nada.
Nada menepuk kasar lengan Sam. "Di tanyain, juga!" Nada berniat untuk beranjak dari duduknya, tapi Sam lebih dulu mencekal lengan Nada yang masih berbalut seragam Pramuka lengan panjang.
"Mau kemana?" cegah Sam tak rela.
"Apasih!" Nada berusaha menepis lengan Sam namun ia kalah tenaga tentunya. Akhirnya ia tak melawan lagi dengan membenahi cara duduknya. Tak mau saja ia di kira pacaran, terlebih semalam Dita terang-terangan memperingatkankannya agar jauh-jauh dari kakak kelasnya itu.
"Nah, manis gitu kan, cakep." Suara Sam membuat Nada menoleh sengit pada kakak kelasnya itu.
Sam melirik, merasa di tatap marah oleh Nada. Ia tak perduli lalu menyesap lintingan tembakau dan meniupkannya ke udara. Nada tentu terbelalak karenanya.
"Mas. Kamu itu ketua OSIS, kok, malah bikin contoh jelek, sih!"
"Kata siapa?" tanya Sam tak perduli dan masih terus menyesap benda bertaste mint kali ini.
Nada memgeryit dan memutar jengah bola matanya. "Serah, deh. Lagian, kamu tuh, harusnya tau, kalau merokok bisa membunuhmu."
"Kamu nggak mandi?" tanya Sam mengalihkan pembicaraan.
"Kamu nggak lihat aku udah cantik begini," ucap Nada menunjuk wajahnya sendiri. Membuat Sam sedikit terkekeh melihat wajah judes yang Nada suguhkan.
"Masa'?" canda Sam mencebik setelah melirik Nada melotot.
"Mau aku mandi, kek, enggak kek, itu bukan urusan kamu, ya," sengit Nada. Entah mengapa kini ia sudah terbiasa dengan tingkah usil Sam.
Sam sedikit mencondongkan tubuhnya seolah menghirup bahu Nada. Tentu, Nada segera menjauh, meski dadanya sudah berdegup tak karuan. Apalagi pergerakan Sam membuat sisa parfum beraroma Woody memanjakan indra penciumannya. Terasa menenangkan.
"Deket -deket lagi, aku teriak, nih!" Nada mengancam was-was. Nada masih waras. Di sekitarnya tengah sepi, mungkin penghuni tenda lainnya itu tengah mandi berjamaah. Ia tak bisa menjamin Sam akan berbuat hal-hal bodoh.
"Heran, deh. Cewek-cewek lain aja pada nempel-nempel sama aku. Kamu yang aku samperin malah pasang kuda-kuda," canda Sam dengan terkekeh, "kaya' ngajak duel aja," lanjutnya.
Melihat Sam sudah tenang, membuat Nada kembali memainkan ponselnya.
"Semalam langsung tidur?" tanya Sam karena ia mencari-cari Nada tapi tak menemukannya.
"Iya,"
"Ck. Aku malah lihat penampakan," ucap Sam membuat Nada mendongak.
"Serius? Dimana Mas?"
"Nah, kan. Takut, kamu!" Suara jahil Sam kembali menggoda Nada. Ia hanya mencari perhatian Nada, tak sungguh-sungguh akan apa yang ia ucapkan.
"Nggaklah, enak aja," elak Nada. Ia hanya penasaran dimana tempatnya.
"Di dekat .."
Baik Sam maupun Nada menoleh ke asal suara. Ada Dita datang sambil berkacak pinggang.
"Kamu tuh, di cariin Kak Galang buat briefing. Malah di sini!" Jangan lupakan wajah tak ramah sudah tercetak sejak Dita datang. Melirik sinis pada Nada yang terlihat tak menghiraukannya.
Sam enggan mendongak untuk melihat wajah Dita. "Males. Kamu aja. Lagian aku juga belum mandi."
"Mana bisa Sam, kamu, tuh, ketuanya."
"Dan kamu itu ketua dua. Udah, hal enteng begini jangan di bikin ribut, ah." Sam berdiri, sungguh ia ingin mandi setelah menancapkan sisa giliran tadi.
"Bisa nggak sih, Sam, kamu tuh bersikap selayaknya ketua OSIS!"
"Bisa. Asalkan semua orang tak meremehkan aku. Kamu pikir aku nggak tahu. Kalau kalian selalu ngomongin aku di belakang." Sam bersedekap, ia sungguh lelah melihat sebagian wajah-wajah anggotanya yang pura-pura baik di depan.
Sam mulai melangkah dengan Dita masih mengikutinya. Nada sendiri sudah tak mau tau. Ia kembali fokus pada ponselnya.
"Ya makanya kamu jangan seenaknya." Dita masih membujuk Sam agar ikut briefing bersama panitia yang lain.
"Dahlah. Urus sendiri."
Suara ribut Sam dan Dita masih samar terdengar. Nada kepo juga di buatnya. Ia melongok untuk mencuri dengar. Tapi, rupanya kedua kakak kelasnya itu sudah semakin jauh dari pandangan.
"Nggak bisa gini, dong, Sam!" Kini Dita berani mencekal lengan Sam. "Kalau gitu, kabulin permintaanku semalam. Baru aku handle semua urusan OSIS, gimana?" tawar Dita sambil bersedekap.
"Terserah," ucap Sam sambil menepis tangan Dita lalu melanjutkan mengayun langkah. Tak tahu saja di belakang sana Dita justru memekik senang.
Bagaimana tidak, permintaannya semalam adalah untuk meminta Sam menjadi pacarnya. Ia tak menyangka, pagi ini justru ia mendapatkan kabar gembira.
"Yes. Tadi, dia mau kan jadi pacar aku?"
Dita mengepal dua tangan dengan senyum tak berhenti mengembang dari bibirnya.
"Beneran, kan! Tadi dia bilang terserah. Itu artinya iya." Dita menepuk-nepuk pipinya, "kan, ini nyata," ucap Dita seraya mencubit pipinya, "auuu, sakit beneran," lanjutnya begitu bahagia.
Jelelang malam, Nada sudah siapkan pertunjukan untuk api unggun nanti. Tinggal satu jam dari sekarang, api unggun akan di mulai. Seharian ini ia sedikit lega karena tak bertemu Sam. Tapi anehnya ia seperti mencari-cari keberadaan Sam. Ada yang kurang saja.
Hingga tibalah saat yang di tunggu-tunggu. Setelah pembacaan Dasadarma dan Tri Satya serta doa-doa, api unggun di nyalakan dengan upacara seperti pada umumnya.
Pertunjukan pun di mulai dari masing-masing regu. Panitia dan kakak-kakak pembina terlihat menuliskan beberapa skore. Hingga sampai tiba saatnya regu Nada.
Aneh. Musik yang semula berputar begitu epik, mendadak berhenti. Sejenak Nada dan anggotanya di serang malu yang menggunung.
Itu tak berlangsung lama, Nada mengganti alunan lagu menjadi suaranya. Lalu gerakan pun mengalir dengan sendirinya. Beruntung anggotanya dapat bekerjasama dengan baik dan kompak.
Raut lega terpancar dari seluruh anggota Nada. Setelah mereka kembali pada barisan melingkar dan di gantikan oleh regu selanjutnya.
"Njirr, siapa sih yang iseng," cetus teman yang duduk di samping Nada. Karena setelah regunya selesai. Musik kembali menyala. Aliran listrik juga tak padam. Hal itu jelas membuat Nada berburuk sangka pada seseorang.
"Ada yang nggak suka sama kita, Gaiis.''
"Untung suara Nada di tambah yang lain juga kece buat syair rip love. Iya nggak, Na!" Kali ini Via menyenggol lengan Nada yang tengah melamun memikirkan suatu hal.
"Udah, nggak usah di pikirin. Tadi kamu oke banget kok, " hibur yang lain. Mengira Nada masih mengembalikan rasa malunya.
Nada tak menggubris, ia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan.
[Bercandamu nggak lucu tau, Mas!]
Sam membuka ponselnya. Begitu mendapat pesan dari Nada ia jelas tak begitu mengerti. Pasalnya, sejak tengah hari tadi ia merasa badannya sedang tidak baik-baik saja. Walau cuaca cukup terik tapi ia justru merasa kedinginan.
Saat Sam akan membalas, ponselnya justru mati. Sepertinya habis baterai. Ia pasrah dan kembali tidur meringkuk berselimutkan sarung. Entah sarung milik siapa. Selain dingin, kepala juga pening dan terasa mau pecah. Anggota yang lain mengira Sam hanya malas dan memilih tidur.
Tak ada yang menanyakan keadaannya. Tak ada yang perduli dengannya di tenda laki-laki.
Ada satu nyawa yang perduli dan menanyakan keberadaannya, tapi Sam sengaja tak menggubris pesannya. Dita.
Keperduliannya justru membuat Sam semakin pusing. Karena, Dita tengah bersikap seolah-olah ia memang pacarnya.
*