Sam

Sam
Usaha Sam



Semua jadi gaduh. Kusno, Sam dan Revi memasuki kamar Reva karena teriakan Siti.


Pertama kali yang Sam lihat adalah Reva yang berada dalam pelukan Siti. Meraung-raung dan sesekali meronta hingga beberapa kali terlepas dan ingin mengambil pisau yang sudah teronggok di lantai.


Kusno berulang kali bertanya pada Siti dan Reva, tapi tak ada yang menjawab. Siti masih berusaha menenangkan Reva berada di sisi kanan sedangkan Kusno berada di sisi kiri Reva.


Revi masih berdiri kebingungan mencoba memahami apa yang terjadi begitupun dengan Sam.


"Ma_afin Reva, Bun." Kata itulah yang berulang kali terdengar di sela tangisan Reva. Siti sendiri hanya bisa sesenggukan.


"Ma.... af," ulang Reva terbata.


Revi mendekati saudara kembarnya. "Vaa," panggilnya parau.


Reva masih dalam pelukan Siti hanya menggeleng. Kusno berusaha merapikan rambut Reva yang acak-acakan. Wajah cantik yang biasanya selalu ceria itu kini tak terlihat lagi.


Saat mata Sam mencoba memungut pisau saat itu juga ia melihat benda sekilas mirip termometer teronggok terpisah dari pisau buah yang tadi menjadi tujuan Reva. Ia pungut dengan segera dan hal tak terduga terpampang nyata di sana.


Degg.


Waktu seakan berhenti berputar. Dunia mendadak menggelap. Suara sesenggukan Reva dan kalimat penenang dari Kusno begitu menggema berulangkali hingga membuat Sam seperti di hantam batu besar menghimpitnya lalu menelannya ke dasar bumi.


"Ada, apa Sam?" tanya Kusno membuyarkan kesadaran Sam.


Belum sempat Sam mengendalikan debaran di tubuhnya. Kusno sudah lebih dulu merebut benda pipih persegi panjang dengan garis dua di tengah.


"Pak_" suara Sam tercekat manakala Kusno terduduk lemas di lantai dengan Revi yang memeluk sang ayah.


Sementara Reva semakin meraung dan ikut bersimpuh di kaki Kusno. "Maafin Reva, Paaak. Maafin."


"Siapa dia Reva?" Lirih Kusno dan membuat Reva semakin kencang tangis pilu itu. "SIAPAAAAAA!" Teriakan Kusno memenuhi ruang kamar Reva.


"Te-teman Rev....a, Pak,"


*


Sam duduk sendiri di teras rumah Kusno. Waktu sudah hampir tengah malam. Pandangannya kosong menerawang entah kemana.


Maafin Reva Pak. Maafin Reva sudah mencoreng nama baik bapak. Maafin Reva, buk. Reva sudah mengecewakan semua. Masa depan Reva sudah hancur. Reva nggak akan bisa jadi kebanggaan bapak juga ibu. Sudah tak ada gunanya lagi Reva hidup. Semua salah Reva. Reva salah tak bisa menjaga kehormatan dengan baik.


Tanpa terasa air mata Sam menetes tanpa bisa di bendung. Bisa ia rasakan bagaimana tangis pilu sepupunya seakan mencabik-cabik dadanya. Raut wajah kecewa Kusno dan pandangan kosong Bulik Siti kembali menari-nari di depan matanya.


Ponsel di depannya bergetar menampilkan beberapa pesan belum terbaca. Perlahan ,tangan Sam terulur dan menggulir layar perlahan.


Membalas pesan Royan dan Akmal yang menanyakan keberadaannya. Rupanya kedua orang itu telah mencarinya ke bengkel dan ke rumah. Jelas mereka tak menemukannya.


Saat melihat petunjuk waktu di sudut layar. Sam perlahan berdiri dan masuk ke dalam rumah. Pemandangan memilukan kembali tersaji di depan mata.


Reva tidur di kasur depan ruang keluarga. Tidur diantara Kusno dan Siti. Sedangkan Revi ikut serta memeluk Siti erat.


Bisa Sam lihat wajah Reva yang masih tercetak pucat dengan bekas air mata yang mengering. Ia rapihkan selimut tebal agar melindungi keempat orang yang begitu ia sayangi.


Seperti inikah masa depan yang hancur? Seperti inikah wujud berantakan yang sesungguhnya? Sekuat apapun ia ingin menyangkal kenyataan ini, nyatanya duka itu semakin terlihat nyata menyeretnya mengikuti ombak. Apalagi masih terdengar sesekali suara sesenggukan dari alam bawah sadar sepupunya.


*


Sam sudah sampai di depan rumah Nada. Dengan yakin ia melangkah menjauhi motornya mendekati pintu berbahan kayu jati yang di balut pelitur coklat. Ucapan salam keluar dari bibirnya di sertai ketukan pelan. Melihat arloji di tangan kirinya, Sam yakin Nada sudah tak ada di rumah.


Begitu pintu di buka, ada Hardi yang sedikit terkejut dengan kedatangannya.


"Assalamualaikum, Pak," sapa Sam sedikit mengangguk dan segera mendapat jawaban salam dari pria paruh baya itu.


"Ini, Sam? "tanya Hardi dan Sam mengangguk segan. "Teman Nada?"


Sam kembali mengangguk dan seulas senyuman tersungging di bibir sedikit bervolume itu.


"Mari-mari ayo masuk!" Hardi membimbing Sam untuk duduk di ruang tamu.


Begitu keduanya duduk, Sam berbasa-basi seperlunya, hingga ia beranikan diri untuk mengungkapkan maksud kedatangannya.


"Maaf, Pak. Apa Nada, putri bapak sudah mempunyai teman dekat? Semacam pacar atau tunangan?"


Sam terlihat lega mendengarnya.


"Tapi, dua tahun lalu, dia itu sempat menolak pinangan temannya. Padahal anak itu sudah membawa serta orangtuanya." Hardi menghela nafas, "Nada bikin seisi kampung membicarakannya." Hardi menggeleng pasrah. Ada rasa malu membicarakan anaknya.


Pria paruh baya itu kini memandang Sam dengan intens. Seolah memberi kesempatan untuk berkomentar.


"Pak, jadi maksud kedatangan saya ke sini adalah untuk memastikan Nada sedang tak terikat hubungan dengan siapapun. Yang kedua, saya ingin meminta restu langsung dari bapak sebagai orang tua Nada, agar mengijinkan saya untuk menjalin hubungan serius dengannya ."


Hardi sedikit tercengang mendengar penuturan Sam. Ada rasa kagum sekaligus resah yang menyertai perasaannya.


"Bapak ini memang orang tua Nada. Tapi perihal siapa yang akan di pilih Nada sebagai pendampingnya, bapak tidak akan memaksakannya. Bapak serahkan sepenuhnya pada Nada."


Siti yang sedang duduk memegangi nampan berisi minuman juga menghela nafasnya. Sam bukan orang pertama yang datang untuk meminta restu agar mendekati anaknya. Tapi, Nada sungguh sulit di mengerti. Ada rasa takut melihat sang anak sudah tak terbuka seperti dulu.


Siti sendiri tidak yakin Sam akan berhasil meruntuhkan sisi keras Nada. Melihat bagaimana sang anak sungguh datar dan cenderung dingin pada teman lelaki yang terang terangan mendekatinya.


Tiba-tiba ada suara motor matic berhenti di halaman rumah. Ada Nada datang teeburu masuk ke dalam rumah. Setelah sebelumnya ia mengetuk pintu yang sudah terbuka di iringi salam.


Begitu Nada mendapati dua orang yang sedang duduk berhadapan di ruang tamu, dadanya berdegup lebih cepat. Benar seperti dugaannya, Sam kembali datang setelah ia melihat satu motor matic dengan CC 150 berwarna hitam yang ia kenali.


Sama halnya dengan Sam, ia menoleh saat mendengar kedatangan Nada. Mendapati wanita yang amat ia nantikan kehadirannya datang lebih cepat sama sekali tak ada dalam bayangannya.


"Udah pulang, Na?" tanya Hardi membuat Nada menghampiri dirinya membuat Sam duduk tak tenang.


"Iya, Pak. Ada workshop ke Solo besok pagi. Jadi, Na, pulang duluan buat nyelesaiin tugas," terangnya lalu menatap Sam. "Mas, kenapa datang nggak ngabarin Na, dulu?" Nada terpaksa tersenyum melihat bapak menatapnya penuh selidik. "Pak, aku sama Mas Sam ngobrol di luar, dulu, ya,' tukasnya membuat Sam terkejut. Udah kan, ngobrolnya sama bapak!"


Hardi tentu mencium keanehan, tak biasanya Nada berlaku demikian. Namun, ia tak punya pilihan lain selain melihat Sam dengan raut tak enak.


Melalui bahasa mata, Sam seolah meminta izin. Meskipun tak tahu permainan apa yang sedang Nada rencanakan. Pasalnya pertemuan keduanya di toserba kemarin Nada tak menunjukkan raut bersahabat.


Sam menurut saat Nada berjalan keluar rumah lebih dulu. Rupanya Nada ingin berbicara di teras rumah. Sam duduk di depan Nada yang hanya bersekat satu meja panjang.


"Sudah lama, Mas?"


Pertanyaan Nada yang jelas tak ramah itu terpaksa tertahan manakala Marni datang membawa minuman yg untuk Sam. Sam berterima kasih dan mengangguk sopan sebagai sopan santun. Setelah itu, Marni berlalu ke dalam lagi setelah menyilakan minum.


"Jadi, Mas. Sudah lama kamu di sini. Apa saja yang kamu katakan sama bapakku?" ulang Nada dengan hati yang sudah tak karuan. Takut Sam akan berkata macam-macam.


"Aku ... Aku katakan niatku untuk menikahimu." Sam tak jujur. Tapi ia lega bisa mengatakan ini pada Nada meskipun sebenarnya ia baru meminta ijin Hardi untuk mendekati Nada. Sejujurnya ini adalah tujuan utamanya. Tapi ia rasa harus meluluhkan hati Nada terlebih dahulu.


"Kamu jangan seenaknya, ya, Mas! Kenapa kamu nggak minta persetujuan aku dulu. Kamu terlalu percaya diri, Mas. Kamu tahu, aku bahkan sudah mempunyai pilihan sendiri."


Sam tersenyum tipis meski ucapan Nada terasa perih. "Kamu tak perlu berbohong untuk menolakku. Cukup jadi dirimu sendiri Nada. Jangan seperti orang lain. Aku sudah mengenalmu sebelum ini. Kamu tak pandai berbohong, Nada. Aku tahu itu."


Nada menyembunyikan resahnya. "Aku akan menikah dengan seseorang. Bahkan tak akan lama lagi. Tunggu saja, kamu pasti akan mendapatkan undangannya, kok."


Sam begitu mengamati gestur tubuh penuh keresahan dalam diri wanita berstelan khaki di depannya. Nada bahkan tak mau menatap wajahnya dan lebih memilih menatap ke segala arah.


"Nada, mungkin dulu kamu bisa lari dan aku begitu bodoh sudah menyerah sebelum bertindak. Tapi aku bisa pastikan jika kali ini aku tak akan melepaskanmu lagi."


"Mas!! Sebenarnya apa saja yang sudah kamu katakan sama bapak?"


Sam tersenyum tipis dan menundukkan pandangan. "Nada, apa kamu sedang menghukumku sekarang? Jangan paksa aku untuk mengakui semuanya di depan orang tuamu." Lirih sekali Sam mengatakan hal itu. "Ayolah, Nada. Bantu aku untuk mempertanggungjawabkan rasa bersalah ini."


"Iya. Dan kamu ingin menerima amukan mengerikan dari bapak?" tantang Nada. "Sudahlah, Mas. Kamu bisa pulang, dan tunggu saja undangan dariku."


"Berdamailah, Nada. Berdamailah dengan rasa sakitmu agar perasaanmu bisa lega. Bukalah hatimu, Nada. Berikan kesempatan pada ku untuk memperbaiki semuanya." Semakin sendu saja Sam memohon pada Nada.


"Gelas yang sudah pecah, sudah tak bisa di perbaiki lagi, Mas." Nada melirik sinis sedangkan Sam semakin tenang.


"Dan aku akan merangkai kembali gelas itu agar berfungsi kembali sebagaimana mestinya."


"Tidak akan bisa, Mas."


"Kalau begitu, biarkan aku memberimu gelas yang baru. Lembaran yang baru, kehidupan baru."


...***...