
*
Seminggu setelah persami, Nada tak sekalipun bertemu dengan Sam. Begitu juga dengan tampilan room chat dengan kakak kelas terusil yang pernah ia temui. Pesan terakhirnya bahkan tidak juga berubah jadi biru. Masih utuh centang satu berwarna abu-abu.
"Ke kantin, yuk, Na," ajak Via untuk yang ke tiga kalinya. Ia merasa bosan jika di ruang kelas terus. Tadi saja Via menolak ajakan Roni untuk sekedar ngobrol di bangkunya. Tentu karena tidak tega meninggalkan Nada.
"Sakit, kamu." Tangan Via tergerak untuk menyentuh kening sahabatnya. Tidak panas. Itu berarti sehat, kan?
Dengan pelan, Nada menepis tangan Via yang kini telah berpindah sampai ke pipinya. "Aku sehat, kok. Lemes aja ini."
"Ya makanya ke kantin!" Via kini menyandarkan kepalanya di meja, berhadapan dengan Nada yang tidak berhenti mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
"Kamu kalau mau mojok sama Roni nggak apa-apa. Aku fine aja kok, di sini." Kali ini Nada menegakkan duduknya di ikuti Via. Seolah tahu resah yang di sampan sahabatnya.
"Yee, mana bisa gitu! Nggak setia kawan, dong, aku jadinya."
"Ya udah, nitip es lemon tea, deh. Kalau mau ke kantin." Kemudian Nada mengulurkan uang lima ribuan pada Via. Setelahnya, barulah Via benar-benar ke luar kelas untuk ke kantin. Sebenarnya bukan hanya ke kantin tujuannya, melainkan karena ia memenuhi ajakan Roni untuk makan bareng.
Sesampainya di kantin, Via mencari meja yang di janjikan Roni. Lantas keduanya makan sembari bercerita. Via katakan alasan keterlambatannya. Roni paham, karena memang persahabatan Via dan Nada bak amplop dan perangko.
Saat akan kembali ke kelas, Via melihat Sam beserta gerombolannya duduk melingkari meja. Ada tambahan dua cewek cantik di sana. Yang Via kenali dengan nama Bella dan Dita. Via ingat beberapa waktu sepulang dari persami, Nada menceritakan masalahnya dengan Dita.
"Masa' iya, Nada nggak mau ke kantin karena malas ketemu Dita lagi. Nggak mungkin deh kayaknya," gumam Dita yang kini sudah berjalan bersisihan dengan Roni. Tidak lupa es lemon tea pesanan Nada ada dalam tentengannya.
"Nih, biar adem kepala kamu." Dita menempelkan cup es di pipi Nada membuat si empunya melirik sinis. Namun, segera berubah saat Via melempar candaan akan mengambil kembali cup es lemon tea-nya. Via juga menyelipkan uang Nada ke saku temannya itu. Karena kedua ujung jilbab Nada sengaja si sampirkan di pundak. Jadi, membuat Via leluasa melakukannya.
"Kok di kembalikan?" tanya Nada setelah memeriksa uang yang di kembalikan ke sakunya masih utuh.
"Mentang-mentang mau ulangan, udah nggak mau kemana-mana." Via mengalihkan pembicaraan dan masih saja nerocos, sedangkan Nada hanya senyum-senyum melihat tingkah sahabatnya.
"Terbaik, deh," celetuk Nada sambil menyesap es lemon tea dengan sedotan plastik.
"Duhh, udah kaya' boboboi aja kamu, nih. Apanya yang baik coba?" tanya Via.
"Ya, kamu."
Tidak lama, guru mapel bahasa datang dan segera memulai ulangan.
Satu jam kemudian, barulah kelas yang sedari tadi tenang kembali riuh saat guru mapel keluar. Bertepatan jam pulang sekolah. Membuat seisi kelas seakan terlepas dari suasana yang mencekam saja.
Via dan Nada berjalan pulang menyusuri koridor. Melewati ruang perpustakaan dan ruang OSIS, hingga keduanya berakhir di parkiran.
Nada sempat melirik sekilas saat melintas di depan ruang OSIS tadi. Entahlah, reflek saja begitu. Mungkin ada yang kurang saja setelah beberapa hari ini tak bertemu kakel jahil yang perlahan ia rindukan tanpa sadar.
"Mikir apasiii!" Nada menepuk-nepuk pipinya. Berusaha membuyarkan lamunannya.
"Kamu kenapa lagi sih, Na. Heran deh lama-lama."
Sadar tingkahnya di perhatikan Via, Nada segera menyambar kontak milik Via. Saat memindai sekitar sudah cukup legang, barulah Nada menekan remote di susul bunyi cuit pada motor Via.
Masih ada beberapa siswa lain yang akan keluar dari parkiran sekolah. Membuat Nada belum juga memutar lock.
Saat itu, matanya tertuju pada motor ber-cc besar berwarna hijau yang melesat kencang. Ada yang berbeda dari biasanya, di belakangnya ada satu cewek yang turut membonceng dengan memeluk pinggang pemuda itu.
Detik itu juga, sekeliling Nada terasa memanas. Bahkan sudah menembus leher hingga merambat ke wajah dan telinga.
Aku kenapa sih?
"Ayo jalan, Na. Udah sepi, nih!" Suara Via perlahan menurunkan suhu udara yang tadinya sempat memanas. Ia sudah siap di boncengan.
"Kamu ngerasa panas, nggak, si, Vi" tanya Nada sambil perlahan menarik tuas gas.
"B aja kali. Mungkin, karena lagi mendung aja. Ya wajar kalau cuacanya nggak enak. Kenapa emang?"
Nada tidak menjawab dan justru menambah kecepatan laju motornya. Sampai Via menepuk-nepuk punggung Nada karena tidak biasanya Nada melaju sekencang itu. Walau keadaan jalan cukup legang, ngeri saja rasanya.
Nada tertawa melihat wajah takut Via. Tak tahu saja, itu adalah luapan kekesalan Nada. Tapi kesal untuk apa? Mungkin Nada mulai menyadari, ada yang berbeda dengan hatinya.
*
"Makasih ya Sam, udah antar aku pulang." Itu suara Dita saat turun dari motor Sam.
"Ya. Aku langsung cabut, ya."
"Ih, perjanjiannya nggak gitu, tadi," tahan Dita
Seharian ini Dita terus saja mengikuti kemana ia pergi. Membuatnya jadi bahan ejekan satu gerombolannya. Siapa lagi jika bukan, Ando, Akmal, Royan dan Dika.
"Ya, kan, lima hari ini aku udah bantu banyak tugas yang seharusnya tanggung jawab kamu. Kamu lupa, kalau mau mampir ke rumah."
Sam mendengkus tertahan. Ia sadar jika Dita memang banyak membantu menghandle tugas OSIS, selama ia masih lemah karena tipusnya belum pulih betul. Hari ini pun sebetulnya masih begitu lemas untuk masuk. Namun, ia juga malas jika hanya tidur di rumah saja. Ponselnya juga rusak karena tak sengaja jatuh ke air bak.
"Sam," panggil Dita seraya menghentak kesal.
Mau tak mau, akhirnya Sam ke rumah Dita. Tentu membuat si gadis bernama Anindita Patricia berjingkrak senang bukan main.
Mengisi rasa bosan, Sam bermain rubik yang kebetulan ada di atas meja. Sam kini duduk di teras menunggu Dita keluar rumah.
Benar saja, lima menit kemudian Dita muncul dari dalam rumah dengan memakai hot pants berwarna hitam dengan kaus model Sabrina. Wajahnya juga terlihat segar dengan bibir merona karena di poles lip balm berwarna pink.
Meskipun terlihat menarik, tetapi Sam justru merasa jengah saat Dita duduk begitu dekat dengannya. Bahkan terkesan nempel-nempel.
Nampan berisi es syrup berserta satu toples berisi kue kacang sudah di letakkan Dita di atas meja. Tepat di depan mereka berdua.
"Sam, kok wajahnya kelihatan nggak iklhas gitu! Senyum dong," rayu Dita seraya menagkup pipi Sam.
Sam sendiri tak menolak. Meskipun ia merasa tidak nyaman. Ia bahkan memaksakan senyumnya agar besok ia bisa terlepas lagi dari rapat OSIS. Ada suatu hal yang akan ia urus sepulang sekolah.
"Sam, kita pacaran kan. Jadi kurangin dong, kamu deket-deket sama Bella. Kamu tuh, harus jaga perasaan aku," ungkap Dita merajuk.
"Aku dari dulu udah deket sama Bella. Dia teman aku sejak SMP. Lagian dia juga anggota OSIS. Ya wajar kalau kita diskusi sama-sama!"
"Ya, nggak gitu juga, dong." Kali ini Dita sudah melingkarkan tangannya di lengan Sam. Sam sendiri justru semakin penasaran karena hampir menyempurnakan susunan rubik di tangan.
"Masa iya tadi perlakuan kamu ke Bella, sama seperti perlakuan kamu ke aku. Bahkan kesannya Bella lebih tau kamu daripada aku."
Sam paham, pasti soal baso yang di tukar Bella tadi. "Ya, kamu nggak nanya."
"Ponsel kamu nggak bisa di hubungi, ya, Sam. Kamu lupa!" Kali ini Dita berani menyentak Sam. Ia perlahan melepaskan tangannya karena Sam justru fokus sama mainan di tangan.
"Kamu tuh, bilang kek. Kalau kamu kena typus. Nggak makan sambal untuk sementara. Jadi aku nggak kasih banyak sambal di mangkuk kamu." Dita kembali menekuk wajah. Mulut sampai keriting karena menahan kesal. Seperti ujung rambutnya yang di buat sedikit bergelombang.
Sam melirik sekilas pada Dita. Lalu tersenyum kecut saat menyadari minuman yang di suguhkan juga pasti begitu asam rasanya.
"Aku justru penasaran. Bella berarti datang ke rumah kamu dong. Sampai dia bisa tahu kalau kamu sempat di rawat di rumah sakit. Iya!" Dita terus saja menuduh Sam.
"Udah aku katakan, Bella itu teman dari SMP. Orang rumah sudah pada kenal sama Bella. Aku sendiri nggak tahu Bella bisa tahu dari siapa. Dia datang jenguk aku. Ya udah, gitu aja."
Dita benar merajuk layaknya pacar yang sedang cemburu. Namun, Sam tak begitu menghiraukannya.
"Aku pulang sekarang, ya, Dit. Masih pusing banget ini." Memang wajah Sam masih terlihat pucat. Pusing yang di katakan, hanya alasan agar dapat pulang cepat.
"Ya, kamu, tiduran di sini aja, Sam. Taruh kepalamu di sini," ucap Dita sambil menepuk pangkuannya.
Hahhh, gilakk ni cewek.
"Enggak-enggak aku masih kuat kok." Gagal acara pulang cepat karena Sam kalah strategi.
"Sam. Kamu ngerasa Bella itu suka kamu nggak, sih." Dita menyandarkan kepala di bahu Sam, "dia sampai tukerin mangkok baso punyanya dengan punyamu," lanjutnya. Semakin iri saja Dita melihat Bella begitu manis memperlakukan Sam.
"Mulai, deh. Bella itu emang manis dari dulu."
Sam mengucapkan fakta. Memang ia sudah merasakan Bella menyimpan perhatian lebih untuknya.
"Dari tadi kamu belain dia. Kesel aku jadinya." Dita melipat tangan di dada. Tak di sangka, di apelin pacar tapi membuat moodnya buruk.
Perdebatan kecil itu terus berlanjut hingga orang tua Dita datang dari kantor. Sebagai sopan santun, Sam bersalaman juga dengan wanita yang di kenalkan Dita sebagai mamanya.
Jelas terlihat bedanya antara ibu dan anak itu. Meskipun sang mama begitu tampil elegan, tapi tutur katanya begitu halus. Sedangkan Dita justru kebalikannya. Mungkin karena Dita begitu di manjakan, sehingga bersikap seenaknya sendiri. Terkesan centil malah.
"Silakan di lanjutkan ngobrolnya, Tante ke dalam dulu, ya," pamit mamanya Dita dan Sam mengangguk canggung.
Sam juga bisa mendengar meski samar. Mamanya Dita berbisik menegur cara berpakaian anak gadisnya itu, sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah.
"Dit. Udah sore, nih, aku musti pulang."
*