
...***...
...
"Jadi, cah bandel itu ngadu ke kamu, Mas?" tanya Rusno sambil tertawa, sedangkan tangannya masih aktif memainkan tangan Aksel di pangkuannya. Meskipun lelaki yang lebih dari lima puluh tahun itu tertawa. Namun, kadar tegas dari garis wajahnya tidak berubah.
Alif balas meringis sambil melirik sang istri yang sedang menjemur popok, di teras samping. Anak keduanya sudah lahir dua hari yang lalu.
Rusno menghela nafas sejenak, sebelum melepaskan Aksel yang sudah kembali berlarian. "Papa ini sudah, tua, Mas. Mama juga sering sakit, apalagi kalau banyak pikiran, kan, tau sendiri. Salah satunya ya ... mikirin anaknya yang bandel satu itu."
Kali ini Rusno mengambil rokok, dan menyalakan ujungnya. Lalu ia embuskan setelah menyesap lintingan tembakau itu. "Papa pengen cepet Sam itu nikah."
"Kemarin, Pak Manto nanyain Sam. Trus akhirnya papa jawab lagi bikin bengkel seperti pakdene, gitu. Ngalirlah ... cerita Sam dari kecil sampai sekarang."
Kembali Rusno menyesap lintingan tembakau itu. Alif masih diam di tempatnya mendengarkan dengan seksama. Lihatlah, di pancing sedikit saja, papanya sudah mengalir dengan sendirinya. Sebenarnya, Alif sangat menyayangkan koneksi antara adik dan papanya yang terbilang kaku. Jika dirasakan, sebenarnya sang papa bukan orang yang kaku.
Alif mengangguk pelan sebagai respon untuk menanggapi cerita papanya.
Setelah terdiam, Alif pun berinisiatif mengajak Rusno berbincang di teras saja. Karena jarak ruang tengah dan kamarnya lumayan dekat. Takut saja asap rokok membuat polusi. Terlebih pada anaknya yang masih bayi.
"Oiaa, ya. Papa lupa, kalau anak mu sudah brojol lagi. " Rusno terkekeh lalu mengambil duduk di kursi panjang. Diikuti oleh Alif yang mengambil duduk dan meletakkan kopi yang di bawanya dari dalam.
"Lihat, papa ini sudah tua. Cucu lahir kemarin saja, hampir lupa. Masih kebiasaan ngerokok sembarangan."
Alif tersenyum. "Kalau mama di sini, pasti sudah ngomel, Pa." Tantri sendang ada acara senam bersama ibu-ibu Bayangkari di alun-alun. Jadi, nenek dua cucu itu tidak ikut berkunjung ke rumah dinasnya.
"Yo, bener, kui."
Rusno manggut-manggut sambil melihat sepeda motor yang berseliweran di jalan depan. Asrama yang di huni Alif, memiliki halaman yang tidak begitu luas. Sehingga dekat dengan jalan kompleks.
"Jadi, gimana ceritanya papa bisa jodoh-jodohin Sam sama anaknya Pak Manto?"
"Nah, itu dia." Rusno membenahi duduknya. "Pas papa ke rumahnya. Si Tiara, anaknya yang ragil itu kasih minum papa. Eh, nyambung aja ikut gabung. Ramah, anaknya. Taunya, pernah akrab sama Sam. Iseng-iseng, lah, papa ngajak Pak Manto besanan."
"Malamnya, Pak Manto itu telepon masalah kantor. Terus di akhir candaan, Pak Manto ngendiko (berkata) yen raono salahe di coba besanan." Rusno tertawa dan Alif mengangguk paham.
"Oh, kirain beneran," gumam Alif. Namun, Rusno cepat menyahut.
"Lho, ya beneran. Apalagi kurangnya, Tiara, itu. Udah berpendidikan, cantik, ramah, luwes. Masa', Sam tega nolak dia."
Alif menghela nafas panjang. "Ya ... mungkin dia sudah punya pilihan sendiri, Pa." Ia heran sendiri, candaan sang papa justru di sambut sungguhan oleh rekannya. Parahnya, bikin anak orang baperan pula. Ambyyar kowe Sam.
"Lho, sudah punya pacar?" Rusno mengernyit, menatap penuh anak sulungnya.
"Ya ... dari ceritanya, sih, gitu, Pa."
...***...
"Sam, kamu ke Manado bisa? Mamamu kangen sepertinya. Jadi, maagnya kambuh."
Dari pembicaraan bersama Alif itulah, akhirnya, Rusno meminta Sam untuk ke Manado. Dengan dalih keponakannya sudah lahir. Sang istri kangen dan masih banyak hal untuk dibicarakan bersama.
Jelas sekali Sam menolak. Kesibukan bengkel menjadi alasannya. Untuk alasan yang kedua, tentu ia sangat menghindari pertemuan dengan sang papa jika pada akhirnya akan ada pertentangan lagi.
"Kamu mau ke Manado, Mas?" tanya Nada di seberang telepon.
"Aku hanya ceritakan permintaan papaku, Dek. Bukan aku yang mau ke sana." Sudah semakin lancar saja dia menyematkan panggilan manis yang membuat Nada bersemu di belahan kota seberang.
"Kenapa? Takut banget kayaknya," goda Sam saat Nada hanya diam saja.
"Yeeyy. Siapa takut. Ge-er," dengus Nada dengan mulut memberengut. Tangannya juga mencubit bantal di pangkuannya.
"Lha itu, jutek banget jawabnya," terka Sam sambil terkekeh.
"Dih, sok tahu." Kali ini wajah Nada mulai memanas. Ia pandangi cincin pemberian Sam beberapa hari yang lalu.
"Kayaknya, muka kamu nih paling ngangenin kalau lagi kesel. Vidio call, boleh, ya!" Sam ingin sekali bisa video call. Seminggu tidak bertemu Nada sudah membuatnya rindu. Namun, Nada tidak sekalipun mau mengangkatnya jika Sam memanggil mode Vidio.
"Jangan macam-macam, ya. Nggak akan aku angkat. Aku masih kucel banget seharian siapin acara halal bi halal buat besok."
"Nggak macam-macam. Satu macam aja. Cuma mau lihat kamu!"
"Jangan alihkan pembicaraan, deh, Mas. Dari tadi aku tanya, papamu nyuruh kamu ke Manado buat apa?"
Sam jadi deg-degan sendiri. Tidak mungkin kan, dia mengaku jika papanya menyuruhnya untuk bicara langsung pada Tiara. Yang ada bisa perang dunia lagi.
Susah payah, Sam membujuk dan menyakinkan Nada. Ketika pintu sudah mulai terbuka, tidak mungkin ia akan menutupnya kembali dengan kejujurannya.
Sudah ia pikirkan matang-matang, jika ia tidak akan menyinggung Tiara sedikitpun. Ia begitu takut jika Nada akan jatuh dalam pikiran buruk yang akan disimpulkannya sendiri. Never mind.
"Dek, kamu bisa bikin besengek kaya' kemarin nggak?"
"Kenapa emang?" Suara nada masih datar. Seperti biasa, tidak ada manis-manisnya.
Sam menghela nafas panjang. Ia harus memutar otak agar Nada kembali melembut.
"Ngg ... nggaakkk. Cuma nanya aja."
"Sengaja ngalihin pembicaraan, kan!"
Oh, ternyata masih ingat saja. "Kenapa? Bilang aja nggak boleh kesana, kan. Takut kangen ya,"
Ya, menggoda Nada adalah jurus andalan terakhir. "Kamu tahu nggak kalau garam itu asin!"
"Ya karena udah dari sononya!"
"Salah."
"Karena ... yang manis itu kamu." Senyum mengembang di wajah Sam begitu membayangkan wajah Nada. Andai saja bisa lihat wajahnya.
Mulut hendak kembali mendebat apa yang di ucap Sam. Namun justru wajah yang memanas karena tersipu. Mengusap wajah berkali-kali. Tahan, Nada jangan ge-er.
"Pinter banget, ya, kamu, Mas."
"Pinter gimana? Yo jelas pinter. Wong aku sekolah enam tahun di SD. Tiga tahun di SMP. Tig ... "
"Wesss, hooooooooop! Nggak usah di terusin, udah tahu." Tanpa sadar Nada sudah melunak karena jokes receh dari Sam.
"Yakin deh yakin, kamu pinter ngerayu, begini. Pasti cewek-cewek banyak yang baper Mas."
"Kamu baper, dong?" tebak Sam semakin di atas awan.
"Cewek-cewek, Mas. Kalau aku sih, jangan sampai. Jangan sampai percaya pokoknya."
"Kenapa? Apa aku terlihat meragukan?"
"Em ... Nggak tahu. Aku baru percaya kalau ada bukti. Bukan cuma di mulut aja,"
Selorohan Nada justru terdengar lain di telinga Sam. Ia merasa tertohok akan ucapan Nada. Ia bahkan sampai terdiam mencerna setiap makna kata yang baru saja Nada ucapkan.
"Mas! Hallo?" Suara Nada kembali membuat Sam menatap detik yang berjalan di layarnya.
"Hm, iya. Aku denger, kok."
...*** ...
Hari tetap berlalu mengikuti perputaran waktu. Dari hari Senin yang katanya hari paling menyebalkan, sampai hari Sabtu adalah hari yang paling ditunggu. Padahal, sebenarnya semua hari adalah sama.
Bisa bernafas tanpa alat bantu, dapat berjalan dengan kedua kaki sendiri. Dapat makan enak, walaupun hanya dengan garam. Seperti itu ibarat kata syukur atas apa yang sudah ada.
Dari awal bulan yang penuh dengan acara halal bihalal, Nada kembali disibukkan dengan banyak acara di sekolah maupun di organisasi.
Sebagai anggota yang terbilang baru, Nada masih banyak belajar di organisasi kepemimpinan. Dia di tunjuk sebagai bendahara 2 untuk organisasi PKG di kecamatan.
Intensitas bertemu dengan Atar bisa di bilang sering. Sudah hal lumrah bila sesekali mereka ikut selfi bila selesai mengerjakan tugas bersama. Karena memang Atar juga ada dalam organisasi yang sama.
Hal itulah, kadang sering membuat Sam uring-uringan di bengkel. Wajah datarnya lengkap dengan mulut yang terkatup rapat, mampu membuat seisi bengkel menjadi tidak menyenangkan.
"Ajak tenis, aja, di Manahan. Eneg aku lihat mukanya begitu." Dimas adalah orang yang tidak tahan bila tidak bercanda.
"Ra wani(tidak berani), aku. Mungkin punya masalah serius. Nggak coba-coba, ah." Agus adalah orang yang paling dewasa saja enggan hanya untuk sekedar menawarkan sesuatu.
"Apalagi aku. Wes kemarin ada kesalahan dikit. Untungnya dia hanya lihat sekilas. Begitu ada kesempatan aku langsung ganti laporannya. Aku benahi lagi. Ngeri wess." Pipin ikut berkomentar.
Bengkel sudah tutup tapi mereka masih berbincang di parkiran motor samping bengkel.
Mereka bahkan masih berseragam yang sama. Pipin adalah satu-satunya yang berseragam masih rapi. Yang lain, seragam sudah berfungsi sebagai blazer saja. Tanpa dikancingkan.
"Kalian, nggak pulang!" Sam sudah muncul dengan jaket dan backpack yang di gantung di bahu kiri. Sepatu sneaker putih andalan dan celana chinos warna cokelat sudah membalut kakinya. Kaos putih di dalam jaket cokelat merk Cole menambah kontas yang apik bila di lihat. Namun, wajah masih saja tanpa senyum. Aroma sabun juga tercium saat Sam melewati ketiga karyawannya. Seharusnya sudah segar dan membuat mood jadi baik, bukan. Namun, mengapa wajah masih sama datarnya.
"Eee ... Masih mau ngobrolin buat sunmori besok, Mas."
Suara Agus mampu membuat Sam berhenti sejenak.
Sepertinya aku butuh hiburan juga. Penat banget rasanya ngurusin kerjaan. Belum lagi keterlambatan pengiriman ke bengkel.
Sam kembali mendekat pada motornya. Ia cekatan memasang sarung tangan dan mengecek ponselnya sebentar. Ia masih melirik ketiga karyawannya yang sedang membahas sesuatu.
Sunmori?
Saat satu rencana kegiatan yang di sebut Agus tadi mampu membuat sudut bibir Sam tertarik keduanya.
Ngomongin, Sunmori. Jadi inget beberapa tahun lalu. Apa aku musti ajak Nada juga ya. Tapi ... sudahlah.
Sam sudah siap di atas motor maticnya. Tapi ketiga orang di depannya masih asyik dengan sesekali bercanda.
"Duluan, ya!"
Sam telah melesat lebih dulu, membuat Agus, Dimas dan Pipin tertawa terbahak-bahak.
"Kalian tahu apa yang di pikirkan, Masam!"
Pipin dan Agus kompak geleng-geleng.
"Pasti dia juga baru kepikiran buat liburan."
Mereka jadi terkekeh sembari bersiap di atas motor masing-masing.
"Ngakunya bukan workaholic. Tapi lihat cara dia kerja pulang malam terus dan wajah nyaris kaya'kanebo, jelas kurang hiburan dia."
"Kurusan, dia."
"Alahhh, koyo' (seperti) kowe berisi, gitu."
"Udah udah, balik. Malming, nih, malming. Waktunya jemput pacar." Agus bersemangat.
"Kasihan, yang jones," ejek Pipin menatap Dimas yang kini menekuk wajah juga.
"Kampret!"
...***...