Sam

Sam
Kamu lagi!



*


Sam bersama Dika, Royan dan Akmal sedang nongkrong di parkiran sekolah.


Lahan parkir yang mampu menampung dua ratusan kendaraan itu masih begitu legang, hanya di baris terdepan yang sudah full. Sedangkan di sisi kanan gerbang sudah ada beberapa kendaraan yang masuk.


Mayoritas kendaraan yang terparkir tentu sepeda motor. Di solo, jarang sekali ada siswa yang mengedarai mobil ke sekolah. Bukan karena mereka tak ada, tapi mau parkir dimana? Lingkungan di sekitar SMA BATIK VI adalah kawasan padat penduduk. Sedangkan space untuk mobil hanya untuk guru-guru dan stafnya.


Akses dan letak strategis sekolah dekat dengan stasiun dan pusat perbelanjaan. Lima ratus dari sana bahkan ada alun-alun kota dan keraton.


“Sam, semalam balik jam berapa?" tanya Royan seraya memainkan kunci motor.


“Hampir jam satu. Paklik, telpon terus, bikin nggak nyaman aja,'’ jawab Sam tanpa mengalihkan pandangan. Fokus pada ponsel, sedang berbalas pesan dengan Bella.


"Hemmm. Udah kaya satpam aja itu pak guru," ungkap Akmal ikut menimpali tentang Paklik Sam yang bernama Kusno.


“Kita jadi nggak bebas kalau mau ngapa-ngapain di rumah kamu Sam,’' keluh Royan.


“Sam mana berani gitu lagi, setelah keciduk sama pak tua itu." Suara Dika ikut mengompori kekesalan Sam pada Kusno.


Tanpa menimpali teman-temannya lagi. Sam melepas jaket, menaruhnya di atas motornya. Sam berlalu tanpa banyak bicara sedangkan yang lain ikut saja berjaalan menuju kelas.


Hampir tiba di persimpangan koidor, Sam yang berjalan terdepan menatap lurus hingga bersitatap dengan pemilik mata sayu dengan bulu mata lentik. Senyum terukir di bibir Sam manakala dia yang di tatap salah tingkah menoleh kesana kemari.


Ck. Keinget aja sih. kalau ketemu dia. Bisa-bisanya aku oon di depan dia yang sedang pms. Sampai perban dan teman-temannya ikut keluar saking kagetnya. Anjiirrrr.’


Sedangkan Nada yang tak mau berurusan lagi dengan Sam segera menarik Via. Memutus arah agar tak bertemu di persimpangan depan. Mengabaikan protes Via yang takut kena tegur tukang kebun sekolah.


Sam tertawa dalam hati. Baru kali ini ada cewek yang sengaja ngehindar dari pesona Sambara. Segitu nggak inginnya dia nggak ketemu sama aku, sampai taman sekolah di terabas juga.


"Hai Sam," sapa cewek dengan jilbab di sampirkan ke dua sisi pundak. Sengaja tebar pesona karena Sam lewat. Dua siswi IPS, beda ruang kelas dengannya.


Sam tersenyum sebagai jawaban. Sedangkan teman-teman di belakangnya sedang melancarkan aksi kiss bye menggunakan tangan.


Sam sendiri lantas kembali diam tak menimpali obrolan absurd teman-temannya yang berjalan di belakangnya.


Rupanya Sam sedang bimbang akan bersikap bagaimana dengan Bella sesampainya di kelas nanti. Dia adalah teman sejak SMP. Sudah terlanjur akrab dan Sam nyaman sebagai teman, karena memang Sam tak ada ada rasa suka lebih. Semalam Bella mengungkapkan rasa sukanya hingga membuat Sam berakhir dengan botol minuman.


*


"Vi, ntar main ke rumah, ya! Sekalian ngerjain tugas," ajak Nada sembari mengunyah snack jenis kuaci. Snack biji bunga matahari dengan rasa gurih di sana tentu membuat nagih.


Nada melirik Via yang sedang sibuk dengan ponselnya. Tak berniat menjawab ajakannya.


Saat istirahat memang waktu untuk refresh sejenak. Nada gunakan untuk nyemil sedangkan Via sibuk bermain ponsel.


Ada beberapa teman sekelasnya yang tetap tinggal di kelas. Sebagian ke kantin atau berjejer saja di depan kelas.


"Vi," panggil Nada.


"Hm," Via sedikit melirik Nada sebentar lalu kembali pada ponsel karena sedang berbalas pesan pada crush-nya.


"Udah belanja perlengkapan camping?" tanya Nada mencari topik yang bisa mengalihkan perhatian sahabatnya.


"Belum,"


"Belanja, yok! Setuju nggak habis pulang sekolah langsung ke toserba?"


"Gampang,"


"Ntar bayarin, ya," pancing Nada mulai kesal.


"Ya," jawab Via santai sambil senyam-senyum.


Nada kembali mencari ide. Kebetulan teman sekelas mereka yang bernama Roni keluar kelas. Secerah ide melintas di benak Nada, karena tahu teman sebangkunya sedang naksir berat dengan Roni. "Roni, cakep, ya?"


"Ya," lirih Via sambil tersenyum penuh arti.


"Kamu jadian sama Roni?"


"Ya."


Nada cekikikan membuat Via menoleh cepat.


"Tadi bilang apa?" pekik Via menoleh penuh pada Nada, sedikit panik.


"Jangan di cariin! Orangnya barusan keluar." Tebakan Nada memang tepat sasaran karena Via langsung memindai seisi kelas.


"Duh, niat hati pengen rahasiain dulu. Tapi kebaca banget si kalau udah sama kamu, Na!"


Nada tersenyum lalu menjulurkan lidahnya. "Nada Gantari, adalah orang yang peka terhadap lingkungan. Ciiieehhh, udah kaya bunglon aja!" Nada lanjutt menoel pipi Via.


"Putri malu sekalian! Sekali dapat sentuhan langsung kicep!" Via yang gagal menutup rahasia jadi asal membuat perumpamaan.


"Ih, kok Putri malu, si," protes Nada.


"Katanya, Peka!"


"Pekanya sama raut wajah orang yang kucing-kucingan, lebih tepatnya. Apalagi itu kamu."


"Kesel, ah, kesel," ucap Via menyerah lalu menyembunyikan wajah di kedua telapak tangan.


"Btw, gercep, loh. Baru beberapa hari kode-kodean sekarang udah jadian aja. " Nada menggelitik Via membuat ia tertawa geli.


"Cieee jadian! Jangan lupa pajaknya!" Semakin gencar saja Nada menggelitik Via.


"Ampun, ampun," ucap Via seraya menahan tangan Nada.


"Kamu hutang cerita sama aku!"


"Iya, iya. Nanti cerita."


Sementara di lantai dua, tepatnya di kelas Sam. Hal yang sama terjadi di sana. Hanya tinggal beberapa saja siswa yang tinggal di kelas.


Sam, Dika, Royan dan Akmal, sedang duduk bergerombol. Ada yang duduk di meja. Ada juga yang sedang memainkan gitar. Gitar milik Sam yang baru di kembalikan pihak OSIS karena operasi kedisiplinan beberapa hari yang lalu.


"Atar tadi bilang apa?" tanya Sam pada teman-temannya setelah bangun dari tidurnya. Sepanjang pelajaran tadi, Sam hanya tidur tak mendengar guru yang sedang menerangkan di depan.


Tidur? Ya, semalam Sam memang pulang larut. Ia bersama Royan dan beberapa teman yang lain asyik nongkrong hingga minum-minum di gang sempit.


"Nggak bilang apa-apa dia. Cuma lirik kamu, habis itu pergi," kata Akmal sembari menghentikan petikan gitar.


Sam berdecak. Ia menyimpan kesal pada Atar yang seenaknya menyita barangnya. Ia akui Atar berusaha menertibkan aturan OSIS baru. Barang kesayangannya jadi tersita dua hari di sekolah.


Sampai tanda untuk masuk kembali menggema. Siswa-siswi lain, satu per satu mulai memenuhi bangku. Sam baru teringat setelah ini adalah pelajaran Pak Bogo yang membosankan.


"Cabut gesss! Baru ingat aku, habis ini sejarah dunia, bikin ngantuk!" Sam mengemas gitar dan memasukkan ke dalam tas. Mengantongi HP dengan cepat di susul tiga teman yang lainnya juga keteteran mengemas buku-buku ke dalam tas.


"Tangkap, Ka!"


Sam melempar tas gitar pada Dika yang sudah bersiap. Di susul yang lain mengekor di belakang.


Tepat saat mereka menjauh dari pintu, saat itu pula Pak Bogo dengan kacamata tebalnya menginjak tangga teratas. Kelas XI ada di lantai dua.


"Siapa di sana?" teriaknya karena tak begitu jelas melihat beberapa anak keluar kelas.


Pria berusia lima puluhan itu tak bisa mengimbangi langkah lebar Sam dan kawan-kawannya. Hingga kehilangan jejak.


"Lewat sini!" Sam yang mengambil langkah paling depan agar di ikuti yang lain.


"Sial! Pak Wakasek!" Sam berbalik arah saat di depan sana ada Pak wakasek sedang berkeliling. Mungkin sengaja patroli bila ada yang mau bolos seperti Sam.


Sam berlari ke belakang gedung kelas sepuluh. Sengaja ia memilih jalur itu agar cepat sampai di parkiran.


Hingga langkahnya terhenti saat ia menabrak benda berbahan plastik.


Brug!!.


"Aaauuu," keluh pemilik suara nyaring. Ada Nada yang sedang terduduk karena bertabrakan dengan Sam. Tong sampah yang di bawa Nada Sampai menggelinding tak jauh.


"Hhh, ma-maaf!" Sam mencoba membantu Nada untuk bangkit namun segera di tepis kasar.


"Nggak usah," tolak Nada seraya berdiri hingga ia menemukan empat siswa sedang menatapnya. Lebih pada sedang terkejut atas apa yang terjadi di depannya.


"Kamu lagi!"


*