Sam

Sam
Jelang Pensi



"Nada!"


Sam mendekati Nada dan hendak memeriksa wajah gadis itu. Ia tidak dapat melihatnya karena Nada menyembunyikan wajah dengan memalingkan wajahnya.


Sedangkan Arka yang tidak sengaja memukul Nada, masih bergeming di tempatnya. Sampai saat Sam kembali mengunci matanya ia segera mengambil langkah lebar untuk menghindari amukan Sam.


Sam kembali fokus pada Nada. Terdengar rintihan dan isak tangis dari gadis itu. Membuat Sam mulai sedikit gusar.


"Nada, mana yang sakit? Kita ke UKS, ya?" tawar Sam tapi Nada menjadi lebih terisak. Bukan sepenuhnya sakit karena terkena pukulan Arka, melainkan lebih pada rasa malunya yang sudah menggunung.


Melihat Nada yang menahan isak tangisnya, membuat Sam memaksa memutar wajah nada hingga ia dapat melihatnya.


Ada penolakan dari Nada sebelumnya. Namun, Sam memberi sedikit paksaan. Hingga Nada tidak melawan lagi. Sam dapati memar di ujung bibir Nada dan sedikit darah yang keluar dari sudut bibirnya. Melihatnya, kembali dadanya tersulut seperti kayu bakar bertemu dengan pusat api. Geram yang tadi sempat meredup kini menyala kembali.


"Ssshhhh," desis Nada saat Sam melihat dengan seksama.


Ada rasa geram yang sangat ia tahan saat Nada mencoba menepis tangannya.


"Aku nggak apa-apa, Mas. Makasih," ujarnya seraya berdiri membuat Sam ikut melakukan hal yang sama.


"Kita ke UKS sekarang."


Tanpa menunggu Nada menjawab, Sam segera menarik tangan gadis itu. Beruntung tidak ada penolakan dari Nada kali ini.


Beberapa kali Sam menoleh pada Nada sedangkan gadis itu sibuk mengusap ujung bibirnya. Kembali, Sam di buat nyeri seperti ikut merasakan perih di sana.


Sepanjang lorong perpustakaan, ruang laboratorium dan bertemu dengan tangga untuk ke lantai dua, mereka berjalan dengan keheningan. Hanya suara riuh di halaman sekolah yang tidak mengusik keduanya sama sekali.


Baik Sam ataupun Nada, keduanya sibuk oleh pemikiran masing-masing.


Sampai di ruang UKS, cekatan Sam mencari alkohol dan kapas. Setelahnya, Sam menarik Nada yang masih diam bergeming di dekat pintu. "Duduk," titahnya dan Nada menurut.


Sedikit canggung Sam mulai mengusap-usap kapas yang sebelumnya sudah ia basahi dengan cairan alkohol. Hingga, terlihatlah memar kebiruan yang tampak jelas disana.


Nada membuat matanya bergerak kesana-kemari, asalkan tidak melihat mata Sam yang sedang fokus pada lukanya. Di samping rasa perih dan nyeri di ujung bibirnya, ada rasa yang tak kalah riuh kala sesekali ujung jari Sam mengenai pipinya.


"Ssshhh, aku sendiri aja, Mas," tolaknya.


Sam mengentikan tangannya dan memicing ragu. "Bisa?"


Nada mengangguk canggung sebagai jawabannya. Di banding terjebak dalam pergulatan rasa nyaman dan malu, lebih baik Nada menyekanya sendiri.


"Kalau gitu, aku ke kantin sebentar. Jangan kemana -mana!" Wajah tanpa senyum sedikitpun milik Sam, begitu membuat Nada mengangguk tunduk di buatnya.


Lelaki itu berdiri dan berlalu dari UKS dengan lari kecil.


Seperginya Sam, Nada membuang nafas besar seraya memegangi dadanya. Rasanya lega setelah Sam hilang dari pandangannya. Berkali-kali ia menahan napasnya agar degup jantungnya yang terasa mau melompat dapat bertahan di tempatnya.


Perlahan ia memegangi sudut bibirnya. Rasa nyeri dan perih begitu jelas ia rasakan. Namun, entah mengapa tanpa di minta, bibirnya perlahan terangkat manakala mengingat perlakuan Sam.


Begini, rasanya dekat dengan orang yang di suka? Dia yang semaunya sendiri, ketus dan menyebalkan, ternyata adalah orang yang membuat hatiku tak karuan.


Nada masih terus memegangi sudut bibirnya. Beruntung kejadian tadi tidak ada yang melihatnya. Karena ia tahu, seisi sekolah sedang melihat gladi kotor di tengah halaman sekolah.


Sampai suara panggilan untuk Sam terdengar di indera pendengarannya, membuat Nada berubah muram.


"Pasti, Mas Sam nggak akan kembali. Dia kan aktor penting di pensi lusa."


Sedetik Nada berucap itu, ia kembali mengutuk pemikirannya. Duuuh, mikir apasiii, aku. Bisa-bisanya ngeharap banget sama dia nyamperin lagi.


Nada geleng-geleng kepala. Kini matanya beralih menatap pergelangan tangannya. "Di tangan ini, tanganku berada di telapak tangannya. Rasanya sungguh bisa merubah rasa sakit akan perlakuan Arka. Apa aku harus bersyukur atas keributan tadi, sampai Mas Sam membawaku ke sini?"


Saat Nada masih sibuk membuat pikirannya bercabang kemanapun, terdengar suara langkah kaki yang mendekat.


Pintu yang terbuka tergesa menjadi jawaban atas rasa penasarannya. Ada Sam yang datang dengan satu botol berisi air putih di sana. Terlihat dari botol yang di bawa adalah botol kaca bekas minuman bervitamin. Hanya saja, berisi air hangat. Nafas lelaki yang naik turun itu membuat Nada bisa menebak jika lelaki itu habis berlari. Mungkin, karena jarak dari kantin dan UKS cukup jauh.


"Mas. Bukannya kamu dapat panggilan buat ke aula?" tanya Nada saat Sam justru sedang mencari cari sesuatu di lemari kecil di samping brankar.


"Mereka bisa nunggu. Kalau memar kamu klo nggak di obatin bisa iritasi." Sam berdiri setelah mendapatkan selembar kain kecil. Meletakkan air hangat dalam botol kemudian di gulungnya dengan kain. "Nih, tekan pelan-pelan. Bisa kan?" Ujarnya seraya memberikan benda itu pada Nada.


"Makasih," ucap Nada setelah ia menerima botol yang di bawa Sam. Ia lekas menekan-nekan pada ujung bibirnya hingga ke pipinya. Masih terasa kebas dan nyeri di sana.


Melihat ujung sepatu Sam masih belum beranjak dari hadapannya, membuat Nada mendongak. "Kamu nggak ke aula, Mas? Tadi ada panggilan, loh."


"Kamu nggak apa aku tinggal?"


Nada mengeryit mulai membuat kesimpulan sendiri. "Aku udah dewasa ya, Mas. Kamu pikir aku takut?"


Sam berdecak pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari bibir Nada. Ada sesuatu yang mendesaknya melihat gadis galak yang terlihat menyedihkan tapi masih saja tampak galak di hadapannya.


"Ya... tapi nggak usah jadi sok berani dengan masuk di dalamnya. Biarin aja bisa, kan! Urusan laki-laki, bukan space-nya kamu buat di sana."


"Tapi kalian ribut gara-gara aku," balas Nada dengan rasa bersalah sembari memberanikan diri menatap Sam yang kini sudah berkacak pinggang.


Saat Nada menatap Sam, ada sedikit rasa bersalah menyergap di dirinya. Di sana ada sedikit bekas baret di dekat mata sampai di pelipisnya. Seingat Nada tadi, Sam memang sempat menghantam batang pohon mangga di belakang ruang perpustakaan tadi.


Sadar, Nada menatapnya lekat, Sam segera menoleh asal lalu kembali pada Nada.


"Jangan kelamaan natap aku. Awas jatuh cinta sama aku, nanti." Sam menjepit ujung hidungnya sekilas untuk mengurangi gugupnya.


"Di dekat mata kamu kena baret, Mas." Di banding meladeni kejahilan Sam yang mulai nampak, Nada lebih perduli pada pelipis Sam.


Sam mengibaskan tangannya pelan. "Udah biasa. Ntar juga sembuh sendiri. Aku tinggal sekarang, ya! Nggak apa, kan?"


Nada mengangguk kaku. Sementara Sam masih ragu untuk meninggalkan Nada. Hingga panggilan pada Sam kembali terdengar, barulah Sam benar-benar pergi dari sana.


Baru beberapa langkah, Sam berbalik kembali pada Nada. "Kalau ada apa-apa, panggil aku, ya," ucapnya di ambang pintu lalu Nada memberi jawaban iya dengan terpatah karena masih terkejut dengan hadirnya Sam yang tiba-tiba.


Sedikit senyum di bibir Sam sebelum pergi membuat dada Nada kembali riuh.


"Si datar itu. Sekalinya senyum bikin rame dadaku," pungkas Nada dengan rona pipi yang memanas.


*


Sejak kejadian itu, Nada beranikan diri untuk mengirim pesan jika ia masih merasa bersalah pada Sam. Tidak lupa ia menayangkan keadaan Sam malam harinya.


Sekali lagi Sam tekankan bahwa ia tidak apa-apa. Hanya saja, setibanya di rumah, Rusno kembali berang karena ia pikir anaknya telah membuat keributan.


Hal itu tidak di pikirkan serius oleh Sam sedangkan berbeda bagi Nada. Gadis itu merasa tidak enak telah membuat Sam dalam masalah.


Padahal, Sam tidak berminat sedikitpun untuk melakukan pembelaan di hadapan papa. Karena dari kejadian itu, Sam mendapatkan alasan untuk bertukar pesan dengan seorang yang membuat hatinya bergetar setiap mengingatnya.


Esoknya, latihan kali ini sekaligus gladi bersih untuk acara malam nanti berlangsung dengan lancar tanpa kesalahan.


Hingga hampir mendekati waktu ashar, siswa-siswi sudah mulai meninggalkan lokasi sekolah untuk pulang ke rumah terlebih dahulu. Lalu, akan kembali ke sekolah untuk acara malam nanti.


Saat turun dari panggung, Sam di hadang oleh Mika. Gadis itu memintanya untuk berbicara sebentar di taman dekat parkiran.


Dengan menghela nafas besar, Sam terpaksa mengikuti Mika. Hingga berakhir di dekat taman.


"Biar nggak ada yang mengganjal di antara kita. Aku mau minta maaf bila ada salah sama kamu Sam."


Ucapan Mika menepis pemikiran buruk yang sedari tadi Sam mencoba menebak tujuan Mika berbicara padanya.


"Iya." Sam mengangguk dan menatap Mika datar. "Aku pun, kalau seandainya bila banyak salah kata dan sikap, aku juga minta maaf," lanjutnya. Kali ini benar-benar tulus ia ucapkan.


Mika kembali memberikan banyak pesan-pesan pada Sam. Mengingatkan jika setelah masa ini berlalu, ia meminta Sam tidak lagi bersikap canggung padanya.


Sam menyetujuinya dan Mika pergi lebih dulu. Setelahnya Sam berbalik arah hendak menuju ke arah motornya.


Sampai di sana ia di buat terkejut saat Nada berdiri dari duduknya. Gadis itu sudah mengenakan jaket jeans yang membungkus seragam OSIS-nya.


"Kamu nungguin aku?" tanya Sam menatap lekat pada Nada.


Nada menelan salivanya sembari mundur selangkah untuk menetralkan rasa gugupnya.


Awalnya ia urung untuk menemui Sam, karena ia melihat Mika bersamanya tadi. Saat akan beranjak dari sana, Sam sudah datang, membuatnya terjebak di suasana yang membuatnya bingung akan tujuannya.


"Nada. Arka bikin ulah apalagi sama kamu?"


Nada menggeleng cepat. "Ah, nggak. Bukan. Bukan karena dia,"


"Lalu?" hardik Sam mulai memicing menyelidik.


Nada gelagapan hendak menjawab apa. "E.. itu, anu. Mau tanya itu masih sakit nggak?" jawab asal Nada sambil menunjuk pelipis Sam yang tertutup rambutnya.


Bahu Sam turun seiring helaan nafasnya. Lega. Perlahan sudut bibirnya terangkat dan membentuk senyum simpul di sana. "Sudah mulai kawatir sekarang?"


Nada mendelik di buatnya. "Ih, ge-er." Nada mengalihkan pandangannya. Kedua tangannya sibuk memainkan tali ranselnya. sengaja untuk mengurangi gugup yang kembali mendera.


"Tapi... mau gimana lagi, aku memang ngerasa bersalah banget Mas." Akhirnya, entah keberanian dari mana Nada mengakui hal itu.


"Duhh, Nada. Mengaku saja apa salahnya, sih. Iyain gitu, kamunya kawatir sama aku. Biar aku jadi seneng," ucap Sam tanpa melunturkan senyum di bibirnya.


*