Sam

Sam
Gugup



Bisa dibilang, saya sudah menunggu cukup lama untuk memiliki keberanian datang kemari, Pak," kata Sam, menatap yakin pada Hardi sebelum memandang hati-hati ke arah Marni yang duduk di samping Hardi, "Bu," sambung Sam sambil mengangguk segan. Nada, yang duduk di kursi berbeda dengan kedua orangtuanya, sudah ketar-ketir mengantisipasi kata-kata Sam yang akan datang.


Saat suara motor memasuki halaman rumahnya setelah Sam menyelesaikan shalat Maghrib di kamarnya, Sam, Hardi, dan Marni keluar bersama-sama. Mereka mendapati Sam membawa sebuah paket buah-buahan, dua kotak kue pandan, dan sebuah kantong plastik putih berukuran besar yang isinya tidak diketahui. Nada belum sempat membukanya, karena hanya melihat sekilas semua isi barang tersebut dengan tertegun.


Sejam sebelumnya, Nada membalas pesan Sam yang menyatakan bahwa setelah shalat Maghrib, mereka akan menghadiri acara halal bihalal bersama pengurus organisasi remaja di kecamatan. Namun, Nada bingung dan tertegun saat melihat Sam datang dengan begitu banyak barang. Terlebih lagi, Sam datang dengan kemeja batik berlengan panjang dan rambut teratur, sehingga Nada tidak sadar bahwa dirinya mengagumi sosok Sam yang mulai membuatnya tidak nyaman di tempat duduknya.


Hardi mengajak Sam, anak dan menantunya, untuk duduk di ruang tamu. Nada menyempatkan diri mengambil empat cangkir teh panas untuk kemudian bergabung bersama orangtuanya. Mereka semua duduk dengan jarak yang cukup jauh di ruang tamu.


Hardi masih menunggu Sam untuk melanjutkan perkataannya yang belum selesai. Dia memberi kesempatan pada Sam untuk berbicara lebih lanjut.


"Tujuan saya datang ke sini adalah untuk menyampaikan niat dan maksud saya untuk mempersunting putri pasangan suami istri ini, Nada Gantari," kata Sam mantap sambil menatap Nada sesaat. Gadis itu duduk di kursi rotan yang terpaut dua kursi darinya.


Sam mengambil nafas dalam-dalam seperti baru saja melepaskan diri dari tempat yang menyesakkan. Nada masih membelalakkan mata. Hardi dan Marni saling pandang sebelum akhirnya menoleh ke arah putri mereka satu-satunya.


"Jika saya ditanya, apakah saya benar-benar serius dengan maksud saya, saya akan menjawab siap dan sungguh-sungguh ingin menikahi putri pasangan suami istri ini," lanjut Sam sambil menatap Hardi dan Marni sebelum menatap kembali ke arah Nada. Jilbab corak warna sage yang dikenakan Nada membuatnya terlihat manis dengan warna pipi memerah.


Mata Nada tidak lepas dari Sam, yang membuat Sam semakin merapatkan jari-jarinya. Melihat putri mereka yang berhenti memandang, Hardi berdehem dan memandang Sam dengan senyum lebar. Marni mengusap lengan suaminya yang menunjukkan ekspresi jenaka, sementara Hardi mengatakan bahwa sebagaimana orang tua, mereka sangat menghormati niat baik Sam.


"Tapi, keputusan akhir ada pada anak saya," sambung Hardi, menatap Nada.


Nada menegakkan wajahnya dan ditanya oleh orang tuanya tentang keputusannya. Meskipun dia ingin meminta restu orang tuanya, namun mulutnya kelu untuk mengatakannya. Melihat ini, Hardi mengatakan, "Jadi, Nduk, jawablah sesuai hatimu. Bapak dan ibu percayakan keputusan ini padamu."


Nada menatap kedua orangtuanya dan berkata, "Nada terima lamaran Mas Sam." Saat Sam mengucapkan hamdalah dengan lirih, Nada merasa wajahnya membara. Hardi dan Marni tampak lega dengan senyum yang dipancarkan, dan tali-temali yang mengikat Sam terlihat seperti sudah terurai. Terlihat dari sedikit senyum di wajah Sam.


"Kalau begitu, silakan diminum dulu, tehnya! Bapak yakin, pasti sangat haus kan," seloroh Hardi membuat empat orang di ruang tamu itu tersenyum. Wajah-wajah lega sudah mulai tampak cair.


Lalu kemudian, perbincangan ringan mengurai ketegangan yang sempat terjadi.


Hingga Hardi memberikan kesempatan pada Sam untuk berbicara dengan Nada. Lelaki itu cukup tanggap, karena ia pun pernah muda.


"Mas,"


"Hm,"


Mata Nada dan Sam saling bertemu. Tidak ada senyum di antara keduanya.


"Kamu, kok, nggak bilang sebelumnya?" ungkap Nada. Ia sudah tidak bisa menutupi rasa rasa penasarannya kali ini.


"Bilang apa? Kalau aku mau ke rumah?" tebak Sam.


Nada mengangguk dan menaikkan satu kaki menimpa pada lutut kakinya yang lain.


Suasana malam yang dingin karena musim kemarau membuat udara lebih dingin dari biasanya.


Sam melirik cincin di jari tangan Nada yang masih melingkar sempurna di sana. Hal itu cukup membuat Sam semakin lega hingga tanpa ragu membuat senyum mengembang di wajahnya makin lebar.


Nada mengangguk tersipu. Membuat Sam bergumam dengan lancarnya, "cantik."


"Ish. Gombal!" Nada jadi mencebik dengan memutar bola matanya.


"Aku ngomong beneran."


"Garing, banget," ucap Nada ketus walau tersipu kembali.


"Senyummu ini buat aku aja bisa, kan! Jangan senyum-senyum begitu buat orang lain, ya."


Membuat Nada tertawa dengan menutup mulutnya. "Ish, makin garing kamu, Mas. Sumpah!"


"Ya, boleh kan, muji. Apalagi buat calon istri sendiri."


"Ssstt, Mas. Jangan keras-keras!" Nada meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.


"Loh, kenapa?" tanya Sam tidak mengerti.


"Ya, ng..nggak apa-apa, sih. Cuma takut kedengaran tetangga." Nada menunjuk beberapa orang yang berjalan dari arah masjid. Mereka kini berbincang di teras rumah. Wajar jika pembicaraan keduanya takut didengar oleh tetangga.


"Bukannya bagus ya, kan? Kan ini berita baik."


Nada menggeleng. "Belum sekarang, Mas."


Sam mengeryit sejenak. Membuat Nada gemas.


"Habis ini, bapak mau bicara lagi katanya, Mas."


Sam mengangguk paham. Lalu kemudian ia lebih memilih untuk berbincang santai lagi. Ia juga sempatkan menyinggung Nada yang tidak jadi berangkat menemui undangan.


"Ya, kan, ada kamu di sini. Kasihan jauh-jauh kalau aku tinggalkan."


Membuat Sam kembali menarik kedua sudut bibirnya. Merasa menang. Akhirnya dia lebih memilihku daripada bertemu dengan orang lain.


Maksud orang lain dalam pikiran Sam tentu saja adalah Atar salah satunya.


The power of Google. Informasi dari sana sungguh akurat. Beruntung aku mencari informasi dulu sebelum ke sini. Kalau tidak, pasti aku bakal malu-maluin diri sendiri.


Kemeja batik, oleh-oleh adalah hasil dari mesin pencarian yang sudah Sam amati sejak sore sebelum bengkel tutup. Sehingga ia harus pulang terlebih dahulu untuk berganti dengan batik. Lalu kemudian ia berbelanja oleh-oleh.


Malam itu sebelum Sam pulang, ia sempatkan berbincang sebentar dengan Hardi. Hanya pembicaraan santai. Namun, setelah Sam sampai di rumah, barulah ia menepuk jidatnya.


"Sammmmm...Bodoh banget kamu!"