
Sudah tiga hari ini Nada mengikuti worksohop di kabupaten. Banyak tugas mandiri yang harus di kerjakan sebelum dari pihak kecamatan melakukan pertemuan KKG di kecamatan maing-masing.
Selama itu pula ia tidak begitu berfokus pada ponselnya. Bukan sepenuhnya abai. Melaikan karena banyaknya tugas yang di berikan. Bahkan tanpa sadar puluhan chat dari Sam tertimbun banyak.
Dengan menggunakan motor lamanya, Nada pulang pergi dari desa ke kota utamanya. Sebenarnya sudah lama Nada ingin menukarnya dengan motor yang lebih muda tahun pembuatannya. Hanya saja belum kesampaian sampai sana.
Menjelang magrib, Nada belum sampai di rumah. Karena ini hari terakhir, kepulangannya pun menjadi molor. Sudah ciri khas warga +62.
Awal perjalannnya lancar tanpa hambatan. Namun, lima menit kemudian motor terasa aneh bagi Nada. Ia sadari setelah ia tidak begitu memerhatikan jalan berlubang dari beberapa ratus meter lalu. Untung saja Nada tidak jatuh karena keseimbangannya pas.
Dengan harap-harap cemas, Nada melakukan sign kiri lantas segera mengecek kondisi roda depan.
“Bocor,’ gumam Nada lemas. Ia memindai sekitar lalu melihat ke depan. Ada mbolak atau perkebunan sepanjang ua ratus meter. Mendadaak nada mernding, mengingat petang mulai menyapa.
Dengan melawan rasa takut, Nada memutuskan untuk mendorong motornya. Beruntung jalanan merupakan jalanan datar. Tidak menanjak. Bisa di bayangkan bagaimana beratnya mendorong kendaraan dengan roda yang kehilangan banyak angin.
Istighfar terus Nada ucapkan. Karena jalanan sudah sepi. Hanya sesekali kendaraan roda dua melintas . itupun amat kencang.
“Siapapun tolong aku," lirih nada. Sudah capek ya kamu nemenin aku enam tahun lamanya. Kenapa sih, harus bocor di saat begini. Batin Nada terus saja menggerutu kesal.
Baru setelah Nada mendengar suara adzan magrip, ia berhenti menggerutu. Ia kembali mendorong motornya untuk berhenti di masjid pnggir jalan.
Nafas jelas ngos-ngosan tidak karuan. Peluh juga turut hadir di dahi sampai pelipisnya. Setelah memarkir motor, Nada duduk dengan kedua kaki diluruskan. Ia mengambil ponsel dan memfoto motor perjuangannya dari SMA.
Sama sepertiku. Rupanya kamu juga lelah.
Nada putuskan untuk sholat terlebh dahulu. Sengaja ia tidak memikirkan bagaimana ia pulang nanti. Yang terpenting ia tidak kehilangan waktu magrip yang begitu singkat.
Setelah solat, Nada terdiam lama. Ia memeriksa ponsel dan mengirm pesan pada Attar. Dalam benaknya, hanya Attar yang ringan tangan dalam segala kondisi. Berharap pada Sam pun percuma karena jarak yang tidak memungkinkan.
Akhirnya, setelah menunggu lama, Attar menepon dan menanyakan keberadaanya. Nada sampaikan juga pada Atar untuk meminta tolong menyempatkan untuk menghubungi orangtuanya karena sisa baterai ponsel yang tinggal menunggu kapan akan drof. Bahkan sebelum Nada menutup ponsel, panggilan sudah terputus di susul menggelapnya layar ponsel. Doble sad.
Nada tidak berani bertanya pada pengunjung yang lain akan bengkel terdekat. Takut saja bila sebagian pengunjung juga hanya orang yang mampir sholat saja.
Sampai setelah Nada selesai isya dan berjalan ke serambi masjid, orang yang diharapkan tidak juga muncul. Dalam keadaan seperti ini, keberadaan benda pipih yang kini menggelap begitu amat di perlukan.
Nada duduk lemas, gelisah, juga sedikit takut. Bahkan jilbab khaki yang senada dengan seragamnya begitu terlihat lusuh karena telah ia kenakan seharian.
“Dek!”
Panggilan yang berasal dari samping kiri, membuat Nada menoleh dengan segera.
Ada sesosok yang akhir-akhir ini begitu menguji kesabarannya. Terkejut sudah pasti. Apalagi kehadirannya tidak ia perkirakan sama sekali.
"Kok bengong, sih! Salim dulu dong." Satu senyuman lengkap dengan satu telapak tangan yang sengaja di ulurkan ke hadapan Nada.
Kaku, Nada meraih tangan Sam yang terulur.
“Kaget, ya?" kata Sam lagi karena Nada masih melongo tanpa suara.
“Maaf, maaf, ya.” Sam tersenyum sambil mengelus lengan Nada. “Mana motornya? Biar di bawa sama temen aku." Sam kini memindai halaman masjid sengaja menghindari tatapan bingung dari kekasih hatinya. Ingin sekali memeluk atau melakukan apapun. Tapi segera Sam sadari keberadaannya. Masih banyak pengunjung juga di teras masjid yang tepat berada di pinggir jalan raya.
Kesal dan terkejut tentu membuat Nada masih enggan membuka suara. Namun sebaliknya, ada rasa lega yang kini meraja di batinnya. Meskipun rasa kesal masih bertahta paling utama.
Dengan langkah lemas Nada mengikuti langkah sam yang mendekati motornya. Dengan dua orang yang keluar dari mobil pick up menjadi tujuan Sam yang kini mengarahkan motor Nada untuk di naikkan di atas mobil pick up itu.
“Motor aku ...”
"Biar di bawa mereka ke rumah. Kita cari makan dulu, ya.” Kini Sam menggandeng tangan Nada menuju motor matic yang terparkir tidak jauh.
“Duluan, Mas!"
Ucapan pamit orang di balik kemudi di beri satu kepalan tangan dengan ibu jarii berdiri tegak dari Sam.
“Ayo, Dek! Naik! Keburu malam, nanti.” Sam tersenyum lembut dan kembali mengusap lengan Nada. “Bapak sama ibuk udah tahu, kok, kalau aku yang jemput kamu. Nggak usah kuatir." Seolah tahu dalam pikiran Nada, Sam sudah katakan lebih dulu.
Meskipun masih bungkam, Nada mengikuti ajakan Sam dengan duduk di belakang lelaki itu.
Meski sudah di atas motor, Sam belum juga melajukan motornya. Membuat Nada bingung dengan sedikit memajukan wajahnya.
"Kalau belum pegangan, aku belum mau jalan, nih!"
Ucapan Sam kembali membuat Nada mencebik kesal. Dengan terpaksa ia berpegangan pada jaket Sam. Di ikuti laju motor berjalan pelan.
Sam dengan perasaan gusar sekaligus senang. Sedangkan kesal juga lega di dalam benak Nada.
Terbesit tanya dalam benaknya bagaimana Sam bisa mengetahui keberadaanya. Padahal ia hanya memberi tahu lokasi sekaligus permintaan bantuan pada Attar.
Sampai pada sebuah rumah makan. Keduanya berhenti. Sam kembali meraih tangan Nada untuk masuk ke dalam dan memilih meja yang paling ujung. Karena pemandangan malam yang tersaji dari pegunungan yang jauh di samping jendela membuat siapa saja betah melihatnya.
Sam beranjak mendekati penjual di depan.
Nada sendiri bingung hendak merangkai kata apa yang tepat untuk memulai pembicaraan dengan Sam. Terlebih dengan kedatangannya yang tiba tiba.
Pesanan datang tepat dengan kemunculan Sam yang entah dari mana. Ada dua mangkuk bakso lengkap dengan dua piring nasi dengan tempat terpisah, juga dua gelas lemontea panas besar di antara keduanya.
“Ayo, dimakan. Mumpung masih anget. Atau minum dulu biar ngak kedinginan."
Sam masih saja bersikap lembut. Bahkan terkesan banyak bicara meskipun Nada hanya lebih banyak menunduk diam atau mengedarkan pandangan ke segala arah.
"Dek!” Sam memanggil lembut di iringi tangannya yang menggenggam lembut tangan Nada yang kebetulan di atas meja.
Kali ini Nada balas menatap Sam dengan wajah menahan kesal.
"Mas minta maaf. Jangan diem begini, ya. Aku jadi makin bersalah.”
“Tau darimana aku di sini, Mas?” satu tanya meluncur bebas dari mulut Nada.
Sam meremas lembut tangan Nada dengan sendu. “Ceritanya panjang. Kita makan dulu, ya. Aku udah lapar soalnya. Dari aku take off belum makan apa-apa.”
Kali ini Nada semakin terkejut. Namun hati mendadak berbunga mengingat perkataan Sam barusan. Nada menyimpulkan bila Sam baru saja datang dan langsung menemuinya, begitu kira kira isi pikiran Nada.
“Iya,’ sahut Nada lirih membuat Sam tersenyum dan melepaskan tangannya.
Mereka makan dalam diam. Nada berkali mencuri pandang pada Sam yang kini begitu lahapnya menyuapkan potongan bakso berikut nasi di hadapan.
‘Selapar itu kamu, Mas. Sampai nggak ada jeda sama sekali skali,” batin Nada yang kini ikut makan juga. Perutnya juga terasa kosong setelah mendorong hampir empat ratus meter jaraknya.
“Boleh pinjam hape kamu, mas?” tanya Nada setelah nasi tandas dan bakso tinggal sedikit kuahnya.
“Hm? Boleh, ini.” Sam menyodorkan hapenya setelah membuka layar dengan menekan touch finger di balik layarnya.
“Kamu simpan siapa nomor bapak, mas?"
“Oh, mau telepon bapak. Ketik aja Bapaknya istriku."
Nada melirik air muka Sam yang menyiratkan wajah jenaka dengan lirikan sisnisnya.
“Ayo, silakan. Aku nggak akan ganggu kok.” Sam tetap mengulas sedikit senyum karena entah merasa sikap Nada amatlah menggemaskan.
Nada kini mengirim pesan pada bapak. Takut saja pasti orang tuanya begitu mengkhawatirkannya. Sekilas, Nada membaca chat sebelumnya. Dengan pengirim Sam tentunya. Di lihat baru pukul empat sore tadi Sam melakukan panggilan dan dua pesan tentang keberadaanya. Membuat wajahnya menghangat tiba-tiba.
“Udah?" tanya Sam mengagetkan Nada tentunya.
"E ... udah, kok," jawab Nada terbata membuat Sam kembali tersenyum tipis. Setelahnya Sam menarik tangan Nada mengajaknya untuk pulang karena malam semakin pekat. Ia tidak mau disangka tidak bertanggung jawab membawa anak gadis orang.
Setelah membayar dan menerima satu jinjngan plastik Sam menarik Nada dan siap meneruskan peralanannya.
“Tadi aku telepon bapak, karena kamu udah satu bulan nggak balas wa ku. Telepon juga nggak kamu angkat.” Kata Sam tiba tiba lengkap dengan sindiran halus pada Nada.
Motor melaju standard cenderung pelan, Sam sengaja membuatnya demikian agar perkataannya di dengar sempurna oleh Nada.
"Tiga hari aja aku nggak balas wa kamu, Mas,’ protes Nada segera. Meluruskan kata-kata Sam yang di lebih-lebihkan.
Sam tertawa pelan lalu meringis setelahnya. Karena mendadak mendapatkan cubitan besar di pinggangnya. Tentu saja pelakunya adalah Nada.
“Sadar nggak kamu kebangetan, Mas!’
Sam masih saja terkekeh pelan sambil mengangguk. Ia mengakui banyak salah daripada benarnya. Membuat Nada mencebik kesal meskipun wajahnya bersemu.
"Kan aku udah minta maaf. Kok masih saja kesal, sih. Aku cium lho lama-lama.”
“Mau aku tabok sekarang juga!" Ancaman Nada tidak sungguh-sungguh. Karena Sam mungkin juga tidak sungguhan. Sengaja mencairkan suasana yang sempat menegang sepertinya.
...