Sam

Sam
Hari bahagia



*


Sepulangnya mengajar, Nada lanjut berbelanja di minimarket. Tidak jauh dari rumahnya.


Seperti biasa ia berbelanja bahan-bahan untuk membuat donat dan roti isi yang akhir-akhir ini begitu di minati oleh anak-anak di sekolah. Tidak hanya itu, kemarin Nada bahkan menerima pesanan putu ayu untuk snack pengajian untuk pertama kali.


“Alhamdulillah,’' ungkapnya ketika menerima sejumlah uang di tangan. “Kenapa nggak kepikiran buat di posting, sih. Lumayan kan, jadi cuan,'’ lirihnya girang sore itu.


Satu keranjang penuh berisi tepung terigu, tepung beras, gula halus, mentega, margarin, coklat batangan, pasta pandan, pasta cokelat, soda, meises dan keju.


Ya, kurang lebih seperti itu isi belanjaan Nada. Sambil menunggu antrian ia membuka ponselnya. Rasa kesal masih merajai hati kala dua hari yang lalu Sam membuatnya kesal. Bukan apa-apa, setelah tahu keluarga Sam terbilang keluarga menengah ke atas, ia menjadi minder. Ia hanya ingin mengungkapkan resah yang bersarang. Nyatanya, justru Sam berlaku ketus padanya. Bahkan terkesan tak begitu menghiraukannya. Padahal, Nada hanya butuh di berikan dukungan. Itu saja.


“Eh, gimana, gimana?" tanyanya pada diri sendiri setelah membaca pesan dari Sam.


"Silakan, Kak." Suara penjaga kasir membuat Nada meletakkan ponsel ke dalam tasnya.


Setelah membayar belanjaannya, Nada segera pulang ke rumah. Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di rumah.


“Na, ada paket. Itu di meja deket leptop kamu. Kamu pesan apa emangnya?"


Baru juga datang, Marni sudah memberondong pertanyaan pada anaknya. Nada bahkan baru saja melepas sepatunya dan meletakkannya di rak.


"Paket?’' gumam Nada. Namun, kakinya bergerak juga menghampiri bungkusan di mejanya.


“Azara Fashion," lirih Nada membaca toko pengirim pada lembar faktur ekspedisi.


'‘Sambara,” lanjutnya demi membaca nama pengirimnya.


Nada membawa bingkisan itu ke kamar dengan bertanya-tanya. Ia buka perlahan hingga menampakkan isi paketnya. Satu stel kebaya tile warna sage yang sedang in kali ini. Lengkap dengan bawahan serut bermotif mahkota warna senada.


Luruh sudah rasa kesal di dada berganti dengan degup jantungnya yang berdebar. Terlebih mendapati kebaya modern yang langsung membuatnya suka walau baru sekali melihatnya.


Segera ia meraih ponselnya untuk membalas pesan yang Sam kirimkan kemarin.


[Ini gimana maksudnya, Mas]


Satu menit


Lima menit.


Namun, Sam tidak juga membalas pesannya. Padahal ia sedang on line. Membuat Nada mendengus sebal.


Nada mencoba beralih mode panggilan. Namun, Sam justru menolaknya.


“Di reject lagi," gumam Nada semakin kesal. Ia beralih meraih kebaya dan menempelkannya di badan.


Ia berdiri di depan kaca almarinya. “Sepertinya pas juga. Kok tahu ukuran aku m,” ujarnya sambil melirik ponselnya di atas bantal.


Tidak lama panggilan dari Sam berdering. Lekas Nada gulir tanda hijau ke atas. "Kam_”


Ucapan nada terpaksa terhenti karena suara Sam yang begitu riang di seberang sana.


“Hai, Dek. Udah sampai paketnya?" suara Sam membuat Nada berdesir halus. Tanpa sadar Nada memegangi dadanya yang berdebar.


“Iya... ini gimana maksudnya. Aku belum ngerti?"


“Syukur deh. Semoga pas. Besok pagi kamu pakai, ya. Biar samaan sama baju aku.”


“Kita sarimbitan gitu maksudnya?” tebak Nada tepat.


“Iya gitulah bahasa kerennya. Besok sehabis dhuhur aku mungkin udah sampai. Kamu juga udah pulang sekolah, kan! Satu lagi, bilang sama ibu bapak biar meluangkan waktu buat besok.” Padahal Sam sendiri baru saja bicara pada Hardi melalui telepon.


“Katanya, mau bawa teman! Buat apa, Mas?’'


Terdengar Sam terkekeh. “Itu, buat benahi acara lamaranku kemarin yang asal datang aja. Pokonya besok deh, jelasinya. Atau kamu akan tahu sendiri."


“Hm," jawab Nada sekenanya.


Membuat Sam tersenyum tipis menerka wajah Nada yang yang tidak puas dengan jawabannya.


“Udah makan?”


“Belum. Baru juga datang,’' suara Nada masih saja ketus padahal wajahnya tengah bersemu. Mendapat perhatan kecil seperti ini saja rasanya mau melayang.


“Kamu?"


“Apa?”


Nada berdecak pelan. "Udah makan juga?’'


“Beluuum. Masih juga kotor sama oli.” Jawaban Sam tidak sepenuhnya berbohong, karena saat ia tengah membantu Dimas, ponselnya berdering dengan nama pemanggil 'bapak Nada'. Mau tak mau Sam menghentikan sejenak pekerjaannya.


“Bohong!"


'‘Di bilangin... Jangan malu ya, kalau calon suami kamu ini hanya kerja di bengkel. Bukan pegawai seperti kamu.’


Nada berdecak. “Mas, ortu kamu bener seorang abdi negara? Tugas di luar pulau, sampai nggak anter kamu buat lamar aku?’' Ada ragu yang membuat hatinya tidak nyaman. Takut menerka sesuatu.


Pertanyaan Nada sungguh di luar dugaan. Membuat Sam bingung hendak menjawab apa. “Ss_siapa bilang? Aku punya banyak orang tua di sini, mereka bisa jadi wakil orang tuaku. Sama saja, Dek. Udah jangan risau. Papa mamaku bisa paham kok." Sam meyakinkan Nada. Lebih tepatnya juga menyakinkan dirinya sendri. Sampai detik ini ia belum berbicara lagi pada papanya. Sam percayakan soal bujuk membujuk pada kakaknya, Alif. Karena Sam sadar, ia tidak sesabar kakaknya jika menghadapi papanya.


*


Suara pintu yang di tutup bersahutan membuat dada Nada berdebar seperti letupan kembang api di tahun baru. Ia pegangi dadanya yang berdesir hebat sambil menyibak tirai jendela kamarnya. Dua mobil terparkir rapi di halaman rumahnya.


Dua orang lelaki paruh baya yang sekilas mirip. Di susul dua orang wanita dengan gamis warna marun dan biru dongker, keluar dari mobil Avanza hitam.


Tampak Sam berdiri dengan mengenakan kemeja batik lengan panjang, coraknya persis seperti bawahan yang sedang Nada kenakan. Rambut yang biasanya terurai bebas kini telah di pangkas rapi bergaya undercut.


“Mbak Nada. Itu mas mas yang kemarin nanya-nanya sama aku,” aku Kalis seraya mendongak pada Nada yang sibuk mengusap setitik genangan air di sudut matanya. Sungguh terharu mengingat acara hari ini terkesan dadakan. Terlebih di bagian dapur rumahnya yang ikut riweh perihal masak memasak.


Nada hanya tersenyum. Selanjutnya kedatangan Marni yang membuka pintu kamarnya membuat Nada menjauh dari jendela.


‘'Tamunya udah datang. Ayo keluar!”


Bu RT yang diundang sebagai saksi juga turut menjemput Nada di kamar. Merapikan sedikit ujung jilbab Nada. “Pinter yang make up. Natural sekali," puji bu RT dengan senyum mengembang tulus. “Dasare yo wes kenes (dasarnya juga sudah cantik), di poles make up tipis dikit aja udah makin fresh. Mbok lipstiknya di tebelin lagi, to, Nok!’'


Nada menggeleng tidak setuju. “Begini aja, Bu. Mboten (tidak) pede kalau pakainya terlalu tebel,’' tolak Nada halus. Memang ia tidak suka warna warna cetar. Khusunya untuk warna bibir.


Marni menarik lengan Nada. “Ayo! Senyum dikit, biar judesnya berkurang,” goda Marni membuat Nada meringis malu.


Nada sempatkan untuk menarik nafasnya lalu mengempuskan perlahan. Begitu keluar dari kamar semua pasang mata langsung tertuju padanya. Tidak terkecuali Sam.


Balutan hijab segi empat yang di bentuk sedemkain rupa menambah manis wajah Nada. Gigi ginsulnya juga tampak manis kala ia tersenyum menyapa tamunya.


“Kann, aku bilang. Cantik, kan, buk," bisik Revi pada Siti yang masih betah memandangi Nada.


“Kedip, Mas,” bisik Reva sambil menyenggol lengan Sam.


“Diem bocah,” sahut Sam tak kalah pelan dengan senyum tertahan.


Nada mengatupkan kedua tangan di depan dada seraya mengangguk sambil menatap satu per satu tamunya yang duduk lesehan melingkar.


Rombongan sam sejumlah delapan orang dan sepuluh orang dari pihak Nada duduk di atas karpet. Kursi dan meja yang biasanya di letakkan di tengah ruang itu sudah di pindahkan. Sehingga tampak lebih luas.


Dinding kayu yang sudah di pelitur coklat mengkilap itu lebih membuat suaarana hidup dan terlihat klasik, terkesan berbeda.


Kemarin, Hardi telah mengecat dari siang beserta tukang yang di pesannya secara kilat. Setelah Sam mengabari perihal rencana kedatangannya.


Acara ramah tamah tampak mulai di suarakan dari pihak Nada. Suara pak RT yang sudah mahir menyambut tamu lebih mendominasi seisi ruangan itu.


Selanjutnya pakde Wahid dari pihak Sam mengambl alih sebagi juru bicara pihak tamu.


"Assalamualaikum wr wb."


"Selamat siang bapak atau ibu dan segenap keluarga yang kami hormati. Terimakasih kami ucapkan telah berkenan menerima kami sekeluarga dengan baik. Perkenankanlah saya untuk menyampaikan tutur kata mewakili adik kami, Bapak Rusno, yang saat ini sedang tidak bisa hadir karena tugasnya. Untuk secara resmi menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami ini."


"Pada hari ini, kami hadir di tengah-tengah keluarga bapak atau ibu, tiada lain dalam rangka bersilaturahmi agar saling mengenal lebih dekat antara satu dengan lainya."


Wahid melirik Sam yang duduk salah tingkah di belakangnya. Lalu kemudian kembali menyapukan pandangannya pada seluruh yang hadir.


"Selanjutnya, kami juga ingin menyampaikan hajat dari keponakan atau yang sudah kami anggap anak sendiri. Yaitu Alsaki Sambara, anak bungsu dari adik saya."


"Izinkan kami mewakili Mas Sambara menyampaikan niat tulus untuk melamar putri bapak atau ibu. Untuk itulah maksud dan tujuan kedatangan kami pada hari ini. Mudah-mudahan bapak dan ibu berkenan untuk meridhoi niat anak kami, dengan menerima lamaran ini."


"Hanya inilah yang dapat kami utarakan kepada bapak dan ibu, sambil menanti sambutan dari bapak atau ibu apakah lamaran kami ini diterima atau mungkin ditolak, tak lupa kami sekeluarga mohon maaf apabila dalam menyampaikan maksud dan tujuan ini ada tutur kata yang kurang berkenan di hati. Begitu pula hantaran hari ini yang ala kadarnya sebagai wujud keseriusan hati kami.


Wassalamualaikum Wr. Wb."


Sam mengembuskan napasnya, sedikit lega. lalu mencuri pandang pada Nada. Yang tampaknya amat Nada sadari hingga membuat rona di wajahnya.


Beruntung ada Kalis yang duduk di sampingnya, yang bisa meredakan rasa gugupnya menjadi pusat perhatian.


"Monggo dik Nada, silakan agak ke depan di samping, saya," kata Pak RT yang bisa di katakan sebagai pembawa acara, menyilakan Nada.


Gugup sudah pasti, tangan dan kaki nada bahkan rasanya begitu dingin.


"Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Mas Sambara beserta keluarga atas kedatangannya. Terimakasih karena telah memercayakan hati kepada saya serta mencintai saya secara tulus. Dengan restu orang tua dan keluarga, insya Allah saya menerima niat baik Mas untuk menjadikanku calon istri. Dan insyaallah, lamaranmu saya terima."


Sam bahkan tidak menyangka bila Nada sendiri yang menjawab sambutan lamaran yang di ucapkan oleh pakde Wahid. Dalam hati ia amat malu tidak bisa mengucap ikrar sendiri. Bahkan kala Bulik Nur memberi kode untuk beringsut ke depan Nada.


Untuk selanjutnya, Bude Nur menyiapkan satu kotak transparan berisi dua cincin. Sam lebih dulu mengambil dan menyematkan cincin di jari Nada. memastikan melingkar sempurna di jari Nada. Tampak cincin di jari tengah Nada juga masih melingkar cantik di sana membuat Sam memberikan senyum termanisnya pada Nada yang tengah tersipu. Hingga Nada melakukan hal yang sama seperti yang Sam lakukan.


Reva dan Revi bahkan sudah on sedari tadi dengan kamera masing-masing. Tidak ketinggalan pak RT juga ikut mengambil gambar dua sejoli yang tengah berbinar mendeskripsikan kebahagiaan mereka.


Rangkaian acara hingga datangnya teh panas beserta kudapan membuat acara sedikit santai. Ada lemper, sagon, dadar gulung, jenang jawa dan kacang Bandung sebagai teman minum teh.


Tidak di sangka Wahid yang terkesan kaku bisa berbaur pada Hardi maupun para sesepuh yang di tuakan. Suaranya bahkan mendominasi di ruangan itu, walau sedang berbisik-bisik. Dari telinga Sam jelas pakdenya itu yang minta di jelaskan mengenai siapa pembuat sagon yang sedang di pujinya.


"Ini yang membuat, ya, calon manten nya itu, Pak." Suara pak RT cukup meyakinkan. Sedangkan Wahid mengangguk-angguk saja.


"Kalau saya pernah ke desa sebelah, waktu itu juga sedang acara tilikan tetangga. Ada sagon tapi bentuknya lebih panjang, Pak RT." Rusno menceritakan pengalamannya.


"Jaman sekarang, sudah banyak inovasi, Pak. Sudah banyak anak muda yang kreatif. Ya, seperti Buna ini."


"Buna?" ulang Kusno ikut dalam obrolan.


"Iya, Pak. Orang sini sering menyebutnya seperti itu. Ngikut anak-anak sekolah kalau manggil Mbak Nada."


Diam-diam, Sam tersenyum saat menggulir-nggulir ponselnya.


[Masyaaallah, dek. Terimakasih sudah menerima lamaranku dengan cara yang luar biasa.]


[Kamu cantik,]


Begitu nada membuka pesan pada ponselnya yang bergetar. Membuatnya kembali bersemu sambil menunduk menggulum senyum.


^^^[Cemen,]^^^


^^^[nggak berani ngomong sendiri.]^^^