
Setelah sampai rumah Nada, Sam berbincang sebentar dengan Hardi. Sesekali juga Marni ikut masuk ke dalam obrolan seputar para lelaki itu. Sam juga katakan apa yang menimpa Nada hingga anak dari lelaki paruh baya itu harus pulang tanpa motor maticnya. Jelas karena motor Nada harus masuk bengkel. Selain karena ban yang sudah sobek bagian dalamnya ternyata ada masalah lain yaitu karena sistem injeksinya terganggu.
“Bapak sudah bilang sama Nada. Suruh ganti saja dengan ban tubles tapi Nadanya tetap ngeyel.”
Sam tersenyum tipis mendengar itu. Pasti lagi-lagi karena dia pikir masih terlihat layak alasannya. Itulah pikiran Sam tentang Nada.
“Dia juga bandel. Suka menyepelekan jadwal ganti oli sama service. Padahal sudah sering bapak ingatkan.”
Sekali lagi Sam di buat tersenyum tipis dengan peringai Nada. Ia menyesap teh hangat yang sudah tersaji di depannya. Berkali kali melirik pintu kamar Nada yang belum juga terbuka. Dia ganti baju apa keterusan tidur sih. Kok nggak keluar keluar. Batin Sam mulai resah karena malam kian larut.
“Sekali lagi, terimakasih ya, Mas Sam. Sudah menolong Nada.” Sudah berulang kali Hardi katakan itu, dan itu membuat Sam justru tidak enak hati.
“Sami-sami, Pak. Sudah semestinya itu saya laukukan.” Bahkan Sam merasa ini belum apa-apa. Mungkin sudah berkali-kali Nada mungkin juga membutuhkan bantuan serupa selama ia berada di Manado kemarin. Dan sayangnya ia tidak selalu ada di saat Nada membutuhkannya.
“Sebenarnya tadi Mas Atar juga datang kemari setelah di wa sama Nada. Tapi sudah bapak katakan jika Mas Sam sudah menjemput Nada.”
Ada yang berdenyut di sudut hati Sam saat merasa Atar masih begitu perduli dengan tunangannnya. Namun, ia bisa apa. Memaksa Atar untuk berhenti perduli pada Nada jelas tidak mungkin. Nanti kesannya terlalu kolot pemikiran sampai tidak mau menerima bantuan dari orang lain.
Tidak lama, Nada muncul dari balik pintu dan bergabung di meja tamu bersama Sam dan Hardi. Ada sedikit perbincangan sebelum Sam katakan pamit pada Hardi dan juga Marni.
Kini Nada tengah memasang wajah keruh saat ia mengantar Sam sampai teras depan sambil memerhatikan Sam yang sedang memakai jaketnya.
Ada senyum tipis saat Sam memasang sarung tangan di tangan kirinya. Bukan tidak tahu bagamana arti wajah muram yang Nada suguhkan saat mengantarnya saat ini.
“Kenapa, sih, Dek. Wajahnya kusut begitu. Janganlah pasang wajah begitu. Makin nggak tega buat pulang ini nanti.” Sam jelas menggoda Nada.
“Padahal baru jam sembilan. Udah buru-buru pulang aja.” Nada mengadu kukunya saat berucap demikian. Sedikit mengurai gugup karena telah berani mengungkapkan gundah hatinya. Bukan gundah sebenarnya. Hanya saja Nada belum rela berpisah rasanya.
Sudah hampir empat bulan mereka menjalani LDR. Betemu muka baru sekitar tiga jam. Rasanya belum sembuh rasa rindunya. Namun, anehnya lagi ia sengaja mengurung diri di kamar demi mencuri dengar perbincangan Sam dengan bapaknya bukan menemuinya dengan ikut berbincang. Sesalah-tingkah itu rasanya, bahagia juga kesal tengah beradu mana yang lebih kuat.
“Masih kangen, ya. Kayaknya belum rela pisah lagi, nih.” Semakin gila saja Sam menggoda Nada yang saat ini wajahnya kian memanas.
“Bisa nggak, sih, jangan bercanda melulu.” Nada mendelik dengan tangan yang mencubit lengan Sam yang sudah dibalut jaket tebal. Cuaca sedang begitu dinginnya saat ini.
“Nanti kita sambung telponan ya, Dek. Nggak enak sama tetangga kalau aku kemaleman di sini." Sam mencubit gemas pipi Nada. Membuat pemliknya mendelik sebal sekaligus malu.
Akhirnya Nada harus rela melihat Sam pergi dengan motornya. Sam benar, di kampungnya jika ada orang yang bertamu terlalu malam pasti akan ada omongan tetangga yang kurang enak di dengar.
Malamnya setelah Sam tiba di rumahnya, ia tidak serta merta segera menghubungi Nada sepertii janjinya. Ia hanya sempat menuliskan pesan pada Nada jika dirinya baru saja sampai rumah. Ada paklik Kusno dan bulik Siti datang menanyakan kabar Tantri. Sam pun meceritakan bagaimana pengobatan apa saja yang sang mama lewati hingga membuahkan hasil baru setelah empat bulan ini.
"Bengkel tetap jalan, kan, Sam?’ Kusno berganti topik menanyakan tentang kekawatirannya pada bengkel Sam yang terbengkalai.
“Ya ... namanya kendala awal pasti ada saja, Paklik. Makanya Sam pulang karena takut melebar kemana-mana. Agus nggak berani berbuat banyak saat banyak komplain saat sparepart ada yang tidak ori. Makanya Sam mau telusur masalah ini."
Memang benar hal itu tengah terjadi di bengkel barunya. Entah karena dari oknum luar atau memang keteledoran penerima barang. Sam tahan agar tidak banyak mengumpat i karyawannya. Terlebh Agus, yang notabene lebih tua darinya. Ini juga salahnya sendiri yang menginginkan usaha tetap jalan meski dirinya tidak berada di tempat.
Esoknya, Sam sudah berada di bengkel pagi-pagi sekali. Ia suah mengecek aministrasi selama ia pergi. Menyesuaikan dengan stok sistem dan stok secra fisik. Semuanya aman tanpa masalah.
Tapi masalah lain ada pada fisik barang yang bagi Sam butuh ketelitian agar bisa membedakan barang yang ori dengan tiruan, untuk kali ini Sam tahan agar tidak banyak menyalahkan karyawannya. Biarlah kerugian ini ia tanggung. Mungkin ini yang di namakan usaha tidak selalu mulus.
Dering ponsel membuat Sam segera mengangkatnya.
“Katanya mau nelpon, di tungguin sampai malam juga nggak muncul, Mas!’
“Dek, Mas minta pengertian kamu, ya. Kerajaan lagi ada masalah. Mas sudah pusing bagaimana menyelesaikannya. Oke oke, aku minta maaf. Kamu sabar sedikit, ya. Nanti kalau udah ketemu titik terang aku pasti telpon kamu.” Terang Sam dengan tenang agar Nada tidak kembali melayangkan potes.
Nada di seberang sana mendadak sendu mendengar suara Sam. Mungkin ia harus mulai bisa mengerti Sam dari sekarang.
“Bukannya kamu kerja di bengkel pakde kamu, Mas? Harusnya masalah yang ada kan bukan kewajian kamu buat selesaikan. Apaplagi kamu juga tidak ada di tempat, kan, saat itu!”
Kali ini Sam di buat terdiam. Pasalnya Sam belum mengaku jika ia punya usaha sendiri. Belum, Sam belum ada waktu untuk menceritakannnya. Terlebih bengkelnya sedang carut marut begini. Sam merasa belum waktunya saja.
“Cerita, mas. Setidaknya dengan bercerita itu akan buatmu lega. Apa gunanya akau disini kalau buka tempat berbagi cerita," desak Nada.
Sam baru bisa tersenyum lega mendegar ucapan Nada. Sepolos dan sebaik itu Nada-nya. Ia tidak bisa membayangkan jika Nada tahu masih banyak hal yang belum bisa ia bagi dengan gadis itu. Nanti, dia pasti akan bercerita. Saat ini memang malu masih mendominasi pikirannya. Apalagi usaha yang ia dirintisnya masih harus mengangsur dengan ciciclan per bulan. Masih ada waktu untuk memperbaikinya. Sam hanya bisa berharap semua maslah masalahnya akan segera berkurang. Belum lagi tentang konsep pernikahan yang semalaim sempat di bahas oleh bulik siti dan paklik. Semua datang bersama-sama membuat isi kepalanaya seperti berdenyut hebat. Namun, sebisa mungkin ia pikirkan dengan jernih. Ia bukan lagi anak SMA yang grasak-grusuk dalam bertindak.
Seharian mengoreksi dan memilah milah juga menandai sparepart yang terlanjur masuk membuat Sam benar-benar sibuk. Ia akan tetap mempertahannya meskipun ia kan menjual dengan harga lebih miring.
Rugi sudah pasti. Namun sperti itulah jalannya orang yang tengah merintis usaha.
Rencana tinggal rencana. Dengan menjual semua sparepat asli adalah misinya sedari dulu. Meskipun mahal asalkan itu barang asli maka pasti akan lebih awet lebih lama. Akhirnya ia harus menerima jika ia terpaksa harus menghabiskan sisa stok sparepat kw dengan harus jujur lebih dahulu pada pelanggannya nanti. Meskipun ia sebelumnya telah membeli dengan harga ori.
Hingga malam ketiga. Tepatnya sabtu malam, Barulah ia bisa merbincang dengan Nada lewat udara. Berbincang hal-hal receh untuk sekedar melunakkan hati Nada yang sebenarnya sedang rindu namun amat malu untuk mengungkapkannya.
“Jadi, dek. Sebenarnya aku ada usaha kecil sejak beberapa bulan lalu. Di sekitar skh.” Sam mulai menceritakan dengan menyebutkan lokasi ia mendirikan usaha. Setelah berbicang hal hal receh cukup lama tentunya.
“Usaha apa, Mas” tanya Nada begitu seriusnya.
"Ada. Itu bengkel kecil-kecilan. Baru aja buka, makanya kemarin aku ada sedikit pusing di buatnya. Ada masalah yang bikin mood anjlok aja.”
“Kok baru cerita sekarang, sih,” sahut Nada segera, mulai merasa bersalah.
“Iyaa, baru ada waktu, sih.” Sam tertawa pelan. “Ya ... gimana ya? Jujur, aku masih ada angsuran. Jadi untuk mengaku jika punya usaha, rasanya takut di bilang sombong. Atau, di bilang sengaja cari muka biar kamu yakin mau nikah sama aku.”
Kali ini Nada di buat kagum sekaligus tidak akan menyangka jika itu hasil pemikiran Sam. Biasanya jika ada orang yang sudah punya usaha pasti akan senang berkoar-koar agar mendapat pujian dari kalayak. Namun, hal lain yang kini ia temukan di diri Sam. Hal lain yang baru ia sadari sedari dulu sudah ada padanya. Tidak ada sikap sombong walau sikap itu kini marak untuk manusia masa sekarang.
Ya, banyak hal yang Nada ketahui bagaimana Sam di masa sekolah. Ia tidak pernah sombong meskipun dari keluarga berada dengan figur seorang ayah yang berpangkat dengan ekonomi keluarga menengah ke atas. Padahal kerap kali ia makan mie instan juga, jika ingin menghemat pengeluaran. Bahkan ia juga harus mengalami meminjam uang pada Akmal jika kehabisan uang saku. Ada yang lebih parah malah. Ia pernah menjual tabung gas karena papanya sengaja tidak mengirim uang jajan, saat Sam pernah berurusan dengan kepolisian karena terciduk razia balap motor.
“Jadi, Dek. Kamu jangan kaget bila nanti aku nggak bisa kasih uang bulanan seperti impian kamu. Karena aku masih ada hutang buat bengkelku ini.”
“Ya ampun, Mas. Kamu mikir apa sih!" Nada jelas tidak terima jika Sam menyamakannya dengan gadis kota masa kini yang sudah pasti ikut-ikutan kelas sosialita. Meski lingkupnya bukan seperti artis-artis ibukota.
Sam tersenyum getir, malu juga sebenarnya telah mengaku hingga sedalam ini. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak ingin akan ada kebohongan atau hal yang ia tutupi, apapun yang bisa membuatkanya buruk di kemudian hari.
“Bukannya yang namanya menikah itu saling mengisi kekurangan masing-masing, Mas. Dalam hal apapun tentunya." Semakin lebar senyum Sam saat ini, sekaligus membayangkan wajah Nada di sebrang sana. Rasanya ingin video call saja agar bisa melihat wajah Nada nada dengan raut juteknya. Namun, Nada jelas menolak dengan alasan suara yang di dengar jadi tidak jelas.
“Yaudah, Mas. Setidaknya sudah berkurang bebanku setelah ini. Bisa ngobrol selama ini, sih ... ” Nada melirik detik yang bergerak pada layar teleponnya. “Seperti bisa ketemu trus ngobrol aja. Merasa di buat penting gitu rasanya, tau.”
“Emang, selama ini kita kurang ngobrolnya?" tanya Sam dengan tanpa berdosa. Baginya takut saja jika kebanyakan bercuap-cuap akan membuat Nada ilfil.
“Kann ... kita, tuh, harus menyamakan pendapat dulu deh, Mas! Biar kita jadi sejalan pemkirannya. Jadi nggak ribut terus kayak kemarin-kemarin.” Akhirnya Nada katakan apa yang menjadi inginnnya. Jika menunggu Sam peka, rasanya itu hal yang mustahil. Insiatif lebih dulu tidak ada salahnya. Sesuai saran dari Bella beberta waktu lalu, benar-benar Nada lakukan.
*