
Tidak lagi menghiraukan keraguan Nada. Sam lebih memilih diam dan menyibukkan diri berbenah. Sampai sekitar pukul delapan malam, pekerja las baru selesai dan berterima kasih setelahnya.
Malam itu juga Sam segera melesat ke rumah Wahid untuk membicarakan masalah serius di sana. Sampai di sana sudah ada paklik Kusno dan Bulik Siti juga yang sudah berkumpul di ruang tengah. Saudara dari papanya itu duduk di sofa, bersisihan dengan pasangan masing-masing.
Mengucap salam dan menyalami satu per satu saudara sang papa, Sam lekas duduk setelah berbasa-basi dan minta maaf karena datang terlalu malam.
"Bengkel sudah siap buka, Sam?"
Pertanyaan pertama setelah Wahid menyelesaikan kegiatan asyiknya, menyesap lintingan tembakau.
"Insyaallah, minggu depan, Pakde," jawab Sam. "Belum dapat karyawan," lanjutnya meringis demi menyadari keteledorannya untuk poin satu itu. Saking sibuknya dan banyaknya pekerjaan di bengkel Wahid ia jadi lupa untuk mencari karyawan. Tidak mungkin ia sendiri yang jadi teknisi, bukan?
"Sam ... Sam, banyak pikiran jadi nggak fokus, kan," sahut Bulik Siti dengan tatapan kasihan.
"Bawa Adit atau Dimas di bengkel pakde. Asalkan jangan Agus," kata Wahid membuat Sam mengangkat kepala, menatap penuh pada Wahid. Merasa tidak enak.
"Em... Apa nggak merepotkan, Pakde?"
Wahid menyipit tidak berniat menjawab seraya menggerus rokok pada asbak berbentuk unik di meja.
"Bukannya kamu punya teman-teman yang hobi bongkar pasang motor, Sam. Kasih info di grup, pasti bakal banyak yang minat." Kusno ikut angkat bicara.
Ide Kusno membuat Sam mengangguk dengan senyum berkembang. "Iya paklik, sampai tidak kepikiran ke sana."
"Sudah sudah. Sekarang soal bengkel sudah kelar. Tinggal bahas lamaran kamu. Lebih tepatnya membenahi lamaran kamu yang amburadul itu." Wahid mencibir meremehkan Sam. "Wong ya masih punya orang tua, mbok ya di bicarakan baik-baik. Malah main gerak sendiri."
"Sudah, to, Pak. Kita di sini buat membenahi, bukan saatnya komplain lagi." Beruntungnya Bude dapat menghentikan suara suaminya yang akan kembali mengoreksi kesalahan sang keponakan.
"Soal papamu bagaimana, Sam?" tanya Wahid sengaja memancing kejujuran Sam. Mereka sudah tahu jika Rusno belum menyetujui Sam dengan pilihannya.
"Yang mau nikah itu saya, Pakde. Baik buruknya calon istri saya sudah saya pertimbangkan. Papa masih saja membujuk untuk memikirkan anak rekannya. Tapi niat saya sudah bulat pada pilihan saya."
Rusno tersenyum tipis melihat raut Sam yang terlalu serius, tanpa ragu.
Dalam hati, Wahid juga akan pasang badan jika adiknya tidak kunjung memberi restu untuk Sam. Ia paham sekali terhadap watak adiknya. di balik sifat keras Rusno, Wahid bisa merasakan Rusno tidak sepenuhnya menentang niatan Sam. Terbukti dari pembicaraan lewat sambungan telpon sebelum Sam datang tadi, adiknya itu terang-terangan meminta tolong untuk membantu segala urusan anak lelakinya.
"Seperti apa sih, Nada, itu. bude jadi penasaran." Bude Nur mencoba mengurai ketegangan pada diri Sam.
"Mbak Wulan sudah bertemu dengannya, Bude. bahkan sudah dua malam sekamar dengan Nada."
"Iya, Wulan juga sudah cerita. Hanya saja lupa foto katanya."
"Mbak, besok pagi saya yang belanja. Ndak ada yang kurang, tho. Sesuai yang kita bahas tadi. Jam sembilan njenengan langsung ke rumah, ya. Nggak usah nyusul ke pasar."
Akhirnya, perbincangan serius itu mengalir hingga pukul sebelas malam. Dari hantaran yang akan di bawa, tata cara menyesuaikan adat di desa yang Sam ketahui dari Hardi beberapa waktu lalu.
Diam-diam, Sam sering melakukan pembicaraan lewat telepon pada calon mertuanya. Tanpa sepengetahuan Nada tentunya. Di banding pedekate dengan calon istrinya itu, Sam lebih memilih untuk mendekati Hardi. Karena memang Sam sadari akhir-akhir ini Nada bersikap kekanakan, membuatnya bertambah pusing. Belum lagi, ia harus banyak menyiapkan alasan bila Tiara dengan terang-terangan begitu perhatian lewat pesan-pesan yang gadis itu kirimkan.
Mengikuti Paklik Kusno dan Bulik Siti, Sam juga berpamitan pada Wahid dan istrinya.
"Tidur di rumah, bulik aja, Mas." Ajak Siti pada Sam yang sedang memakai jaketnya.
"Makasih, Bulik. Besok Sam harus ngurus ini itu. Belum lagi harus beli cincin lagi. Sesuai kata pakde, tadi."
"Lha iya. Yo jelas harus beli lagi. Mana bisa kamu minta kembali buat tukar cincin. Ya anggap yang kemarin sekedar hadiah saja. Sedangkan yang nanti itu simbolis." Siti mengingatkan lagi pembinaan tadi.
"Kalau begini kan, kamu jadi harus repot lagi, Sam. Kamu ada kan buat beli?" timpal Kusno.
Siti menepuk lengan suaminya. "Pak, yang namanya mau nikah itu pasti udah di persiapkan. Kok pakai, nanya-nanya itu."
Kusno menatap Sam penuh selidik. Sedangkan Sam mengangguk pelan untuk menyakinkan pakliknya.
"Yowes, ayo-ayo udah malam," ajak Siti sambil meraih helm untuk di berikan pada suaminya.
Malam semakin larut. Namun, mata Sam tidak kunjung terpejam. Pikirannya melayang entah memikirkan bagian mana yang menjadi perioritasnya.
Sisa uang yang ada di rekeningnya hanya tinggal seberapa. Kurang dari sepuluh juta . Semua sudah habis untuk isi bengkel barunya. Sementara uang tunai yang ada di dalam dompetnya tidak lebih dari tujuh lembar, meskipun semuanya dengan foto dua proklamator yang sedang tersenyum.
Nyatanya, senyum dua proklamator kemerdekaan yang ada di dalam pecahan uang di dalam dompetnya tidak dapat menularkan senyumnya pada Sam.
Mengadu pada papa, jelas tidak mungkin ia lakukan. Sam terlalu anti dengan sang papa yang jelas-jelas masih belum memberikan restu padanya. Masih mempertahankan sarannya atas Tiara. Tidak tega, itulah yang selalu ia sebutkan.
Sementara jika mengadu pada sang mama, tidak. Sam tidak mau membebani ibunya. Padahal, semua orang tua pasti akan menerima dengan tangan terbuka bila anaknya dalam kesulitan, bukan?
Itulah Sam. Sok kuat dengan mencoba berdiri sendiri.
Jika mengandalkan uang gaji dari bengkel Pakde, itu sudah ia perkirakan untuk kebutuhan selanjutnya. Apalagi jika dari pihak Nada menghendaki pernikahan dalam jarak dekat.
Isi kepala Sam saat ini di penuhi oleh rincian biaya kedepannya. Ia baru merasakan betapa banyaknya pernak pernik yang harus ia persiapkan.
"Ternyata, menikah tidak segampang yang aku kira," erangannya. Satu tangannya ia timpakan pada kedua matanya. Berharap kantuk akan segera membawanya ke alam mimpi. Melupakan sejenak penat yang menyerangnya.
Entah ada angin apa pagi-pagi sekali Sam mendapati pesan dari BRI notif.
[Trx: setoran_simpanan.
Nomor rekening 695001012655555 sebesar Rp.5.000.000,00
Tanggal : 2023-05-14 telah berhasil
Transaksi ID: 2790400
Sam mengeryit demi mendapati rekeningnya bertambah dengan mendapat sejumlah transfer.
Ia segera bangun dan menerka dari siapa nominal yang begitu mengejutkannya. Sampai suara qiroah dari mesjid kompleknya membawa Sam bangun dari kasurnya yang melenakan.
Saat melewati dapur, Sam lebih dulu meraih teko siul dan mengisinya dengan air untuk kemudian ia taruh di atas perapian. Setelahnya barulah ia mengambil wudhu dan melaksanakan kewajiban dua raka'atnya.
Sedikit lebih lama Sam bermunajat, mengungkapkan rasa syukur di tengah kemelut isi kepalanya. Sampai suara siul yang mendesis merdu dari arah dapur membuat Sam segera menuntaskan seluruh doanya.
Setelah mematikan kompor, Sam menuang air rebusan pada cangkir setelah sebelumnya ia beri serbuk sereal. Sekedar untuk mengganjal perutnya.
Tidak ada niatan untuk Sam memasak nasi. Karena seperti biasa ia akan beli nasi bungkus dan di bawanya ke bengkel.
Mandi, berbenah, kemudian Sam berangkat dengan motor maticnya.
Selama dalam perjalanannya, Sam masih memikirkan siapa orang yang baik hati mengisi rekeningnya. Menepis sedikit rasa penasarannya, ada sedikit senyum yang hadir pada wajahnya.
"Terkadang pertolongan-Nya bisa datang kapan saja. Bahkan dari arah yang tidak di sangka-sangka."
Sam masih bersyukur hingga saat ini. Masih selalu di beri jalan keluar dari setiap masalahnya. Pemilik hidupnya masih bermurah hati dengan segala hal yang dimilikinya sekarang. Mengingat di masa lalu ia banyak membuat catatan dosa yang jelas jelas ia tahu. Bahkan dosa besar yang ia rasakan sampai sekarang.
Sampai di bengkel, sudah ada Pipin dan Agus, yang rupanya telah datang lebih pagi darinya.
"Kenapa belum di buka?" tanya Sam pada Agus dan Pipin.
"Ck, lupa, ya, Mas. Semua kunci kamu bawa semua."
Pipin ikut mendekati Sam yang sedang mengorek isi tasnya. "Jangan-jangan, lupa naruh lagi!"
Sam semakin panik mengaduk isi tasnya. Kemudian wajahnya menegang. Benar dugaan Pipin. Ia lupa dimana ia menaruh kunci.
"Waduh, tanda-tanda, ini," celetuk Agus yang mulai menebak dari raut wajah Sam.
"Lupa, Pin. Aku taruh dimana, ya," guman Sam sambil memijit pangkal hidungnya.
"Ingat-ingat lagi, Mas!" Pipin masih terus mencoba mengorek ingatan Sam.
Ketiganya masih berupaya mencari sekiranya Sam terbiasa menaruh benda pipih itum sampai dering suara ponsel Sam membuat lelaki itu menggeser tombol hijau yang bergerak pelan.
"Hallo, Yan." Sahut Sam begitu panggilan tersambung.
"Iya Sam. Mohon maaf nih, ganggu."
"Iya ganggu banget malah. Kenapa sih?" Wajah suram Sam jelas kentara.
"Mau bilang makasih, buat uang semester kemarin. Maaf baru bisa balikin."
Sam mengeryit mengingat sejenak lalu sedikit menarik sudut bibirnya. "Kamu yang transfer, pagi tadi. Aku bahkan hampir lupa. Makasih banget, ya, Yan. Datang di saat yang tepat." Sam memberi Kode pada Pipin dan Agus untuk bersabar sebentar.
"Ck, genting begini malah ngobrol." Agus mendengkus sambil bergerak menghampiri motornya. Berniat mencari sarapan terlebih dahulu. Ia mengeluarkan motor Sam, karena berada paling dekat dengan pintu.
"Aku yang makasih. Akhir-akhir ini sibuk banget to, jadi jarang komen di grup. Sibuk apa sih?" tanya Royan mulai kepo. Mumpung Sam mau mengangkat teleponnya. Sekalian mengorek kegiatan sahabatnya. Begitu pikirnya.
"Ada pokoknya, nanti aku minta bantuan kalau udah nggak bisa mikir, ya." Sam kembali berdiri begitu motornya di keluarkan oleh Agus.
"Ck, kebiasaan. Kalau udah mentok baru lari ke kita. Akmal nanyain dari kemarin."
"Main lah. Gampang kan cari aku di mana." Sam mendekati Agus dan Pipin yang sedang tertawa. Membuatnya penasaran.
"Berisik bgt ada apa?" suara Royan kembali mampir di telinga Sam.
"Ini lagi cari kunci bengkel. Lupa naruh."
"Alah, paling elu taroh di dasbor." Royan mencibir bersamaan dengan Pipin yang mengangkat tinggi tangannya. Membawa kunci yang sejak tadi Sam cari-cari.
Selanjutnya Sam jadi bulan-bulanan Agus, dan Pipin. Di tambah lagi kedatangan Dimas dan anak PKL.
"Yang lagi sibuk mau nikah mendadak pikun, coy." Agus geleng-geleng sambil menyapu teras yang sedikit berdebu. Setelah pintu bengkel terbuka sempurna.
"Untung nggak lupa pakai celana, kang!" Dimas mulai on jika urusan membuli.
"Asal nggak lupa aja kemana senjatanya terparkir nantinya." Agus meringis saat Sam mendelik dari dalam. "Salah sendiri bikin gara-gara," seloroh Agus yang di hadiahi kepalan tangan Sam lengkap dengan muka yang di tekuk. Amat keruh.
"Ojo di jarak (jangan di godain), Kang. Ngamuk nanti , gajimu nggak cair." Dimas terkekeh melihat wajah Agus yang meredup dengan selorohannya. Urusan gaji jangan di bikin bercanda. Karena hidup ini tidak sekerdar candaan.
Sam sendiri sudah tidak menghiraukannya. Candaan team servis yang sepanjang hari tidak pernah sepi itu, justru menjadi hiburan tersendiri baginya. Ia kembali menekuri ponselnya, setelah semalaman ia abaikan. Ia yakin, saat ini tidak ada pesan dari Nada. Mengingat betapa ia tak berusaha membujuk gadis itu. Malah justru membentaknya. Meskipun ia tidak sengaja.
Tangan kanan Sam juga cekatan menyalakan leptop dan memastikan terkoneksi dengan server dan layar kerja Pipin.
Menunggu email yang masuk, Sam kembali mencari-cari gambar dan memeriksa deskripsinya. Begitu menemukan gambar yang pas, Sam tersenyum sambil menerawang sejenak.
"Semoga suka," gumamnya.
[ Dek, maaf ya kemarin.]
[Maaf udah sedikit abai. Aku hanya sedikit pusing aja.]
[ Besok agak siang. Aku mau ke rumahmu lagi. Bawa teman, nggak sendirian lagi. Aku harap besok kamu udah selesai ngambegnya. Jangan sampai, kerikil-kerikil kecil seperti ini jadi merusak apa yang jadi tujuan kita kedepannya, Oke.]