
Sementara Nada hanya mendengkus kala matanya menangkap Sam yang tengah tersenyum simpul.
“Sebenarnya kamu mau ngomong apa, sih, Mas?" sungutnya kesal.
Sam terkesiap dan sejenak menunduk untuk kemudian menatap penuh pada Nada. Tetap dengan senyum simpul.
“Maaf ya, aku ganggu waktu kamu. Pasti kamu capek banget seharian terima materi.”
"Iya. Ganggu banget malah. Baru nyadar!" Nada kini sudah menahan kesal. Membuat Sam meringis malu.
"Buat nemuin kamu di sini, tuh, momen langka, Na. Bisa di bilang ini tuh kebetulan yang tanpa di sengaja."
Nada menghela nafas panjang, karena lagi-lagi Sam terus berkilah, tidak menjawab pertanyannya. Membuatnya malas untuk bertanya lagi.
“Nada. Jika dalam waktu dekat, aku ke rumah kamu, boleh, kan?” tanya Sam setelah sejenak hanya diam membuang pandangan ke segala arah.
Nada menatap penuh pada Sam meninggalkan ponselnya yang masih menyala. Mode mengetik untuk menu perpesanan, masih jelas terlihat di sana.
“Kamu mau apa datang ke rumahku, Mas. Tanganmu aja masih belum pulih. Bagaima-”
“Selama kamu mengijinkan, mau dengan cara apa aku datang, itu tidak akan jadi masalah.”
Sam sengaja menyela ucapan Nada. Agar Nada bisa yakin akan niatannya tidak hanya di mulut saja.
"Buat apa minta ijin, kalau nyatanya sudah beberapa kali kamu datang tanpa ijinku lebih dulu."
"Karena dengan ijin kamu, aku akan tahu bagaimana kamu menerima hadirku."
Nada akan kembali menyahut. Namun, kedatangan waiters yang membawa dua hot matha latte di hadapannya membuatnya urung.
Waiters menyilakan keduanya untuk menikmati pesanannya. Lalu, segera beranjak untuk melayani pengunjung yang lain, setelah Sam berterima kasih.
Sejenak dua insan itu diam dengan pikiran masing-masing.
“Mas!"
“Na?”
Ucapan yang nyaris bersamaaan keluar dari mulut Sam dan Nada. Membuat keduanya membuang muka lantas senyum meski tertahan. Ada bahagia dan bersemayam di balik wajah ketus Nada dan wajah sendu milik Sam.
“Darimana kamu tahu aku ada workshop di sini, Mas?” tanya Nada yang sudah tidak lagi menghalau rasa penasarannya.
Sam tersenyum mengingat bagaimana ia mendesak Wulan agar mengungkapkan tempat dimana sepupunya itu workshop. “Dari saudara. Dia di sini juga." Lagi-lagi, Sam kembali menarik sedikit sudut bibirnya.
“Oya?" tanya Nada terkejut.
Sam mengangguk sebagai jawaban.
“Sayang banget pesertanya ratusan, jadi nggak mungkin bisa tau yang mana saudara kamu. Tapi tunggu, bukannya kamu anak kedua, mana mungkin ada saudara lagi. Nggak mu-“
"Saudara sepupu, Na," jelasnya demi melihat wajah kebingungan Nada.
Sam mendadak tersenyum melihat Nada mengangguk angguk. Ada raut antusias di wajah Nada membuat Sam bahagia tiada kira. Satu lagi, Nada masih jelas mengingat ceritanya sewaktu mereka masih sekolah dulu. Sewaktu sempat dekat di waktu itu. Membuktikan bahwa ceritanya dulu masih jelas di ingat dengan baik oleh Nada. Nada, make me double happy.
“Tuh, kan. Kamu itu masih sama nyebelinnya, ya, Mas.”
Sam mendongak cepat lantas menyimpan kedua lengannya di meja. “Aku?’ Sam menunjuk dadanya, "nyebelin?”
“Iya," Nada mulai berapi-api, “apa tujuan kamu ngajak aku ngobrol begini, coba? Jika hanya melihat kamu senyum-senyum gaje begitu,” lanjutnya bersungut-sungut.
Sam terkekeh kecil. “Ini karena aku bahagia bisa ngobrol sama kamu, Na. Kamu tahu, ini tuh harapan aku dari bertahun-tahun yang lalu. Dan baru kesampaian sekarang," ucapnya sungguh-sungguh.
Kali ini Nada beranikan diri menatap dalam manik mata Sam. Tentu saja ia ingin mencari sorot kejujuran dari sana dan ia mendapatkannya.
Hal itu justru membuat mata Nada memburam mengingat apa yang Sam katakan adalah harapannya pula dari beberapa tahun yang lalu. Membuat Nada menjadi gadis yang teramat tertutup karena merasa jauh dari kata percaya diri. Kehilangan harapan. Menyisakan sakit, sesal dan juga kemarahan yang terpendam.
Apa ini artinya kamu masih menyimpan rasa bersalah atas kesalahan yang kamu lakukan bertahun-tahun lalu?
Ucapan Nada membuat Sam terkesiap. Ia mencoba menelan salivanya dengan susah payah. Hingga menunduk adalah satu-satunya penolong diri dari sikap menyesal. "Aku minta maaf. Maaf Nada."
"Kamu nggak tahu bagaimana hari-hariku setelah hari itu, Mas. Aku selalu takut. Setiap hari teman setiaku hanyalah rasa takut."
Sam memberanikan diri untuk menatap penuh pada Nada. Inilah yang ingin ia pertanggungjawabkan. Ia sudah terhukum rasa bertahun lamanya. Hingga rasa bersalah yang begitu menohok hati, semakin menghukumnya kembali melalui masalah Reva. Sam sudah pasti dapat mengetahuinya tanpa Nada ceritakan.
"Aku mengerti, Nada. Karena it_"
"Kamu nggak ngerti, Mas." Nada menggeleng pelan, "kamu nggak ngerti," lanjutnya parau.
"Kamu tahu! Sejak tahu kamu pergi entah kemana, saat itu hidup aku udah nggak ada artinya. Aku takut jika sampai hamil. Aku takut keluar rumah. Aku takut sekolah," lirihnya namun penuh penekanan.
"Bapak dan ibuku sampai bingung, sampai akhirnya mereka membawaku ke desa. Tau kenapa?" Nada menggeleng dan menutup wajahnya sejenak lalu dengan cepat membukanya kembali. "Mereka pikir aku kena gangguan. Karena tanpa sadar, aku sering terisak saat aku tidur, Mas!"
Semakin iba Sam mendengar kenyataan baru ini. Raut sendu dan bersalah semakin jelas manakala Nada menahan Isak tangisnya. Membuat suaranya tersendat.
"Sampai tiga bulan kemudian, barulah aku mencoba berdiri manakala hal yang aku takutkan tidak terjadi. Aku bahkan sampai berhenti sekolah demi memulihkan kepercayaan diriku."
Ingin sekali Sam memeluk Nada untuk menenangkan. Namun, sadar mereka sedang berada di tempat umum, membuatnya urung. Meskipun di sekitar mereka tidak begitu ramai.
Nada tertawa sumbang. "Tapi aku sadar, aku juga salah di sini. Salahku sempat mengira bahwa kamu adalah orang yang melindungiku." Nada berhenti karena nafasnya yang patah-patah, "nyatanya kamulah orang yang menghancurkan aku."
Sam merasa tidak terima. Ia memandang sendu dan menggeleng tidak setuju. Mulutnya hendak membela diri, namun ... .
"Parahnya. Aku anggap perlakuan kamu selama ini, karena kamu punya perasaan yang sama denganku. Nyatanya...," Nada menggeleng lalu menutup wajahnya, "aku menempatkan perasaanku pada orang yang salah."
Untuk kemudian, kali ini Nada terisak tertahan. Punggungnya bergetar manakala telah lega mengungkapkan apa yang selama ini ia simpan di hati. Tanpa satu orangpun yang tahu.
"Nada, kamu salah paham. Aku sama seka_,"
"Jangan di teruskan! Aku memang salah." Nada memberi tatapan tajam sebelum Sam kembali menyalahkannya. Dengan air mata yang terus mengalir berdesakan, Nada kembali meraup wajahnya, untuk sekedar menutupi kekacauannya.
Sam sampai berpindah ke bangku lain agar sampai untuk menjangkau Nada. Ia meraih tissu dan mulai memberanikan diri untuk menghapus air mata wanita yang semakin membuatnya tersentuh dan yakin untuk melabuhkan hatinya.
Usapan pelan di pipi, membuat Nada tersadar dan segera meraih tissu dari tangan Sam.
“Maaf,"
Ucapan Sam justru membuat bulir bering yang lain ikut berjatuhan dan berakhir terjun bebas. Peralahan, membuat gumpalan yang bersarang dapat mencair seiring semakin banyaknya tirta bening yang lain luruh seiring punggung yang bergetar.
Ingin sekali Sam meraih tangan tangan Nada untuk ia genggam. Namun, lekas ia urungkan mengingat dimana mereka berada.
Hanya hati yang terus di liputi rasa sesal dan dada yang di re mas –re mas. Carut-marut ungkapan perasaan Nada membuatnya teramat menyadari besarnya luka yang ia buat. Ia harus beruntung bahwa dengan ini pula, ia dapat tahu perasaan Nada untuknya.
"Maaf. Karena membuat kamu menyesal dan bersalah menempatkan perasaanmu. Tapi aku pastikan, selanjutnya akulah yang akan menepis sesalmu. Tidak akan aku biarkan kamu menyesal telah menempatkan perasaanmu buat aku."
Setelah menengakan diri, Nada beranikan untuk mengangkat wajahnya yang sudah sembab. Ia bahkan tidak menolak kala Sam mengulurkan hot matcha latte di hadapannya yang sudah tidak begitu panas. Menyisakan rasa hangat. Aroma matcha yang menenangkan setidaknya membantu Nada lekas menguasai keadaaan agar tidak menyita perhatain pengunjung.
Sam lekas mengajak Nada untuk berlalu dari restaurant hotel, setelah meminta bill dan membayar pesanannya. Cukup sudah untuk hari ini, ia tahu perjalanannya masih panjang untuk menyentuh kembali perasaan Nada. Kata maaf saja tidak cukup. Maka ia harus lebih banyak berusaha lagi untuk membuat Nada menerimanya.
Tanpa diminta Sam masih saja terus mengikuti kemana langkah kaki Nada. Beruntungnya, gadis itu tidak menolak atau melarang dengan kata-kata ketus juga galak. Membuat Sam layaknya bodyguard yang berjalan selangkah di belakang Nada.
Hanya kurang dari tiga kali mereka berpapasan dengan pengunjung atau penghuni hotel yang hendak masuk atau keluar kamar. Selama itu pula Sam mengangguk demi kesopanan. Ia tidak lagi berjalan di belakang Nada, melainkan jadi sejajar agar tidak menarik perhatian yang lain.
Melewati lift dengan menekan angka 3. Baik Sam atau pun Nada masih diam seribu bahasa. Kini yang terdengar hanyalah ketukan sepatu fantofel milik Nada dan bunyi decitan dari sepatu sport milik Sam. Hingga langkah keduanya berhenti di depan pintu kamar nomor 21.
Nada berbalik menghadap Sam. “Makasih sudah di antar sampai sini. Kamu bisa pulang Mas.” Nada masih berlaku datar dan lebih memilih menatap ke arah lain, asalkan tidak pada Sam.
Melihat mata Nada yang masih sembab membuat Sam tidak bisa lagi menahan untuk menghapus sisa air mata di pipi gadis itu. Lalu tangannya mengikuti naluri untuk menggenggam tangan Nada. “Nada, kita harus menikah.”
Nada terbelalak dan menoleh cepat mendengar kalimat Sam.
“Secepatnya," sambung Sam menyakinkan, seiring tangan yang meremas tangan Nada perlahan.
"Sam!"