
Saat rasa harus terpupus oleh rasa kecewa. Merubahnya menjadi benci kemudian mendarah daging. Terus berjalan meski tertatih mencari jati diri yang menghilang bersama sisa luka. Begitulah gambaran perjalanan Nada saat menyembuhkan sesal dan luka dulu.
Kini semua itu sudah terlewati. Bahkan asa dan luka, kini bersama-sama menemukan penawarnya. Bahagia sudah pasti. Hari-harinya kian berwarna dengan raga yang sama namun jiwa yang baru. Menjadi orang terpilih dari cinta lama yang tertinggal. Cinta yang ia kira hanya miliknya saja.
Dengan segala yang Sam lakukan. Selama kurun waktu hampir enam bulan ini, Nada boleh merasa bahagia. Menyimpulkan sendiri bagaimana rasanya diinginkan. Meskipun pernah terbesit ragu jika Sam hanya mewujudkan rasa tanggung jawab yang tertunda. Meskipun tidak yakin, bahwa sosok yang tanpa sadar sedari dulu menjadi pilihan hatinya, telah memenuhi asa yang dulu hanya ada dalam angan saja.
"Aku secinta itu ke dia. Meskipun dia tidak sekalipun mengungkapkannya," batin Nada.
Menghela nafas panjang. "Tapi ... bagaimana mungkin cincin ini melingkar di sini, jika dia tidak mencintaiku?"
Bagaimanapun, tidak salah perempuan seperti Nada masih mengharapkan pengakuan, bukan? Sedangkan Sam memang tidak pernah mengungkapkan perasaannya sedari mereka bertemu setelah sekian purnama. Atau memang Sam bukan tipikal orang yang suka mengumbar kata-kata?
Dalam diam, Nada memandang betapa cantiknya dua simbol ikatan yang melingkar di jari tengah dan jari manisnya. Bukan hanya karena berharganya benda-benda itu. Melainkan karena makna dan siapa sosok yang berada di balik itu semua.
"Dorr!"
Tepukan di bahu dan suara yang melengking membuat Nada berjingkat sambil memegangi dadanya yang hampir lolos dari tempatnya.
"Bubelllllll!" Erangannya hampir menangis gemetar. Nada bahkan harus mengusap sudut matanya yang berair. Sedangkan pelakunya justru terkekeh sambil mencebik campur mengejek.
"Yang habis dilamaaaaaarr. Liatin trosss sampe lebaran kambing!" Bella menyeret bangkunya kemudian duduk sejajar dengan Nada. Di tariknya tangan Nada yang sedari tadi gadis itu pandangi tiada jemu.
"Cantiknya. Simple tapi elegan gitu," puji Bella memerhatikan cincin di jari tangan Nada.
Nada berdecak pelan. Menyapu pandangan seisi ruangan. Hanya ada dua mahkluk di dalamnya. Guru-guru yang lain sedang berada di luar ruangan. Dengan urusan masing-masing tentunya.
Sedangkan Nada dan Bella masih betah di ruangan itu, sibuk dengan ponsel atau kegiatan masing-masing. Salah satunya saling melempar candaan. Sesekali mereka berbincang mengenai dekorasi yang menjadi pilihan mereka.
Ya, dua bulan lagi, Bella akan melangsungkan pernikahan. Sedangkan Nada masih harus memutar lembar demi lembar halaman kalender untuk sampai di hari yang ia nantikan.
...***...
"Sudah satu bulan, Sam nggak pulang, ya?" tanya Bella demi melihat wajah Nada yang mulai lesu jika membicarakan Sam.
Nada mengangguk. Kini ia mengalami sebuah fase hidup dimana long distance relationship, yang selalu menjadi ketakutan setiap insan.
"Cuma, wa, DM sama video call, aja selama ini," jawab Nada sekenanya. Tidak di pungkiri ia begitu merindukan kehadiran Sam. Setelah acara lamaran itu, Sam seolah menjadi orang yang paling sibuk. Intensitas berkabar pada Nada pun tidak begitu sering. Meskipun hanya dengan bertukar kabar melalui WhatsApp, setidaknya hanya itu. Meskipun hanya sekali waktu. Lebih baik daripada tidak sama sekali.
"Yyyahhh, dia nggak bisa hadir, dong. Di acaraku lusa." Bella memandang Nada yang sedang mengangkat bahu, berada di balik mejanya.
"Nggak tahu, Bel. Mamanya belum mau di tinggal, kayaknya."
...***...
Di belahan pulau lain, Sam masih menunggui sang mama yang sedang sakit gejala stroke ringan.
Tantri tidak mau, Sam balik ke Jawa dalam waktu dekat ini. "Temani mama, Sam?"
Begitu kata Rusno satu bulan lalu. Titah sekaligus permintaan yang begitu berat menjerat kaki Sam untuk bertolak ke Jawa.
Di satu sisi, siapa pula yang dapat merasakan bahagia bila salah satu anggota keluarga kita tertimpa ujian. Di sisi yang lain, usaha yang baru di rintisnya harus ia tinggalkan demi bakti yang harus ia tunaikan. Untunglah ada orang-orang baik yang mau menolongnya.
Sepanjang hari, Sam banyak menemani Tantri. Dengan meletakkan sang mama di kursi roda, lalu mengajaknya bercerita. Meskipun dari hari pertama, Tantri belum bisa banyak bicara.
"Lihat, ini Nada, Ma. Calon istri, Sam," kata Sam sambil menunjukkan foto di ponselnya. Saat hari pertama ia menginjakkan kaki di Manado.
"Ma, Nada ini lembut sekali orangnya. Tapi ... tidak dengan saat masih SMA. Anaknya rame dan berisik. Itu, bila Sam perhatikan dari jauh. Saat dekat dengan Sam, dia jadi pendiam."
Itu cerita Sam di hati berikutnya. Terlihat jelas bagaimana bahagianya Sam saat menceritakan sosok Nada pada mamanya. Bagi Sam, ini adalah cara menggambarkan Nada pada mamanya yang hingga sekarang belum sempat berkenalan.
"Anaknya rajin, Ma. Tiap hari bikin kue-kue kecil, trus di bawa ke sekolahnya. Sesekali juga membuat pesanan orang. Sam udah ngebayangin nanti jika beristrikan dia. Bakal gemuk nanti, karena meja nggak pernah sepi sama makanan buatannya."
Ini cerita Sam saat seminggu ia berada di Manado. Sam meraih tangan Tantri lalu mengecupnya. Meskipun Tantri hanya merespon dengan mengusap tangan di kepalanya. Itupun dengan tangan kanan. Karena tangan dan kaki kirinya masih sulit digerakkan. Suaranya juga patah-patah dan tidak begitu jelas. Membuat Sam menjadi merasa bersalah.
"Mama cepet, sembuh, ya. Semangat, Ma. Bantu Sam buat ngeyakinin papa. Sam butuh bantuan mama untuk kali ini," imbuh Sam yang tiba-tiba mengingat raut tegang Rusno begitu ia menginjakkan kaki di Manado. Hingga saat ini, sang papa masih saja memasang wajah tak ramah jika berhadapan dengannya.
"Belum tahu, Dek. Mama masih belum banyak bicara." Itu suara Sam saat berbicara di sambungan telepon. Membuat Tantri menarik sudut bibirnya yang berkedut, demi mendengar cara Sam memanggil gadis pilihannya. Sebagai ibu, Tantri amat paham, sejauh mana perasaan Sam terhadap wanita pilihannya.
Sesaat, Tantri melirik Sam yang kini mengarahkan ponsel padanya sambil berbincang begitu antusias. Ia yakini, seseorang yang sedang tersambung teleponnya sedang melihat dirinya yang tidak berdaya. Dalam hati, Tantri meyakinkan diri untuk bisa sembuh dan bisa lepas dari penyakitnya ini.
"Nada, masih malu, Ma, jika mau berkenalan sama mama," kata Sam begitu mendudukkan diri di hadapan Tantri.
Takut-takut, Sam memandang wajah Tantri. "Dia nunggu saat yang tepat, katanya," lanjut Sam yang kini memberikan pijatan kecil di tangan Tantri. Mengikuti hatinya, Sam harus sesekali memberikan pijatan-pijatan kecil di titik tertentu. Seperti jari-jari tangan dan kaki misalnya. Yang ia yakini adalah terapi ampuh agar peredaran darah tetap lancar hingga membantu proses pemulihan mamanya.
"Sembuh, ya, Ma. Biar nanti bisa kenalan sama Nada." Adalah harapan Sam saat ini. Sekaligus memberi semangat.
Meskipun Tantri tahu, ini adalah cara Sam meyakinkannya terhadap pilihannya. Raganya memang tengah mati rasa di titik tertentu, tapi hatinya tidak akan ia biarkan mati rasa. Dengan cerita-cerita yang Sam ungkapan, ia berniat menceritakannya pada sang suami jika ia sembuh nanti.
Rupanya, dari hari ke hari, Tantri sudah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Hingga sekarang sudah bisa mengucap sepatah dua patah kata, meski pelan. Hipertensi yang di deritanya, membuat ia menerima gejala ini setelah pikirannya begitu berat sedang tertuju pada anak bungsunya yang masih juga belum bisa berbaikan dengan sang suami.
Rusno yang sama kerasnya, tetap berharap Sam dapat mempertimbangkan Tiara. Meskipun ia tahu, sang anak sudah melamar gadis pilihannya.
Ya, restu itu belum Sam dapatkan dari sang papa. Padahal hari baik itu sudah di tentukan. Yakni sepuluh bulan mendatang.
Bagaimana Tantri tidak sakit melihat suami dan anaknya masih berseteru. Meskipun tidak dengan berdebat atau baku hantam. Namun, keterdiaman keduanya membuat tekanan batinnya tidak kuat menerimanya.
"Nada sedang ngambeg, Ma. Masalahnya cuma sepele padahal. Hanya karena Sam lupa tidak memberinya kabar hari ini."
"Apa mama juga seperti itu, jika papa tak memberi kabar?"
"Kenapa cewek rumit sekali, sih."
Sam mengakhiri cerita sore ini. Meskipun lagi-lagi hanya di respon segurat senyum di bibir sang mama.
"Mandi dulu, ya, Ma. Udah sore, takut kedinginan nanti." Sam membujuk, dengan tangan cekatan mendorong kursi roda sang mama ke kamar mandi.
Sam memapah Tantri begitu sampai di mulut pintu.
"Mama bisa, sendiri," ucap Tantri pelan pelan dan itu membuat Sam terkejut dengan mata membola dan membentuk lengkungan di bibir. Ini sungguh kejutan. Dengan berkali-kali mengucap Hamdallah berulang kali, ia yakin, mamanya akan segera sembuh dan perih hatinya akan segera sirna seiring perkembangan sang mama yang jelas mulai terlihat.
Meskipun demikian, Sam justru membopong tubuh Tantri yang sudah banyak kehilangan berat badannya itu. Membuat batin Tantri serasa di aduk-aduk. Anak yang bertahun-tahun ia biarkan hidup sendiri, nyatanya tidak kehilangan baktinya di saat ia sedang membutuhkannya.
Tantri menahan tangan Sam saat akan membantu mengusap sabun di badannya, ketika ia sudah duduk di kursi kayu dan tengah menanggalkan bajunya.
"Mama bisa," lirihnya lagi membuat Sam tersenyum dan mengangguk.
Tantri pun mulai membersihkan tubuhnya meski dengan gerakan yang hati-hati. Ini menjadi kali pertamanya membersihkan diri sendiri. Setelah hampir satu bulan hal itu di lakukan oleh Sam atau suaminya.
Sam sendiri hanya memerhatikan dari luar pintu sembari merebus air di dapur.
Saat itu Rusno datang dan hanya melewati Sam begitu saja. Menyapa sang istri sebentar lalu kemudian menghampiri Sam yang sedang menuang air panas ke dalam teko berbentuk unik. "Besok pagi, tolong antarkan mama kontrol. Papa ada piket malam soalnya. Takut kesiangan jika nunggu papa."
"Ya, Pa," jawab Sam, menjadi dialog pertama semenjak Sam berada di Manado hampir satu bulan ini.
"Papa ke kantor pakai apa?" tanya Sam sesaat menyadari motor matic yang biasa di pakai Tantri di bawa Alif untuk bekerja.
"Besok gampang. Pinjem punya sebelah."
Dari tempatnya duduk, Tantri begitu bahagia demi mendengar sang anak dan suaminya yang baru saja berbincang seperti tidak ada masalah apapun.
Kini terlihat, Tantri berusaha memakai baju sendiri. Sam hanya bisa memandangnya sendu. Namun, cukup membuatnya bahagia bukan main. Tidak lupa Sam memberi kabar pada Alif terkait perkembangan sang mama, sembari membuatkan teh untuk sang papa yang baru pulang bekerja.
"Sam," panggil Tantri yang kini terdengar pelan.
Sam kembali membopong Tantri. Untuk membawanya keluar kamar mandi.
Setelah meletakkan Tantri di kursi rodanya, lalu Sam membawanya mendekati meja makan. Menu sehat selalu tersaji di sana, karena Rusno sengaja memanggil orang untuk memasak sekaligus bersih-bersih di rumah dinasnya.
"Makan, ya, Ma. Biar lekas pulih." Sam hendak menyuapi Tantri. Namun, lagi-lagi Tantri mengatakan jika ia akan makan sendiri.
"Mama bisa," lirihnya yakin sambil tersenyum meraih piring di tangan Sam. Di tambah lagi kehadiran Rusno yang sudah berganti baju rumahan ikut bergabung di meja makan.
Dalam hati Sam banyak mengucap syukur. Kini mamanya sudah semakin membaik. Itu artinya niatannya untuk pulang sudah di depan mata. Sudah terlalu lama ia berada di sini.
Meskipun Sam pernah di tinggalkan sendiri. Namun, ia tidak sampai hati untuk membalasnya. Terlebih pada orang tuanya. Ia berjanji dalam hati akan menemaninya sampai sembuh. Karena Sam sadari, sakit yang mamanya derita tidak lain adalah karenanya.
Satu keluarga itu makan dengan tenang. Sam lebih banyak pergerakan daripada kata-kata. Seperti tanggap saat sang mama memerlukan air minum. Sam membantu dengan menyodorkannya. Selebihnya, Tantri mencoba memegangi dengan hati-hati.
Rusno pun hanya sesekali menawarkan lauk yang mungkin Tantri inginkan.
Diam sudah amat biasa bagi Sam. Karena memang karakter dia tidak banyak bicara. Tapi tidak begitu bagi Tantri, baginya saat berkumpul inilah saatnya menambah kedekatan satu sama lainnya. Ia banyak mencuri pandang pada suami dan anaknya. Yang keduanya masih betah dengan egonya masing-masing.
Rusno membawa Tantri yang sudah menyelesaikan makannya. Sedangkan Sam masih mencuci bekas piring ketiganya.
"Pa, sampai kapan, mau begini?" tanya Tantri dengan lancar hingga membuat Rusno terkejut.
...