Sam

Sam
Kejutan



...***...


"Ngelamun, Mas," tegur Agus pada Sam, kala melintas dari meja Pipin meminta kanvas.


Membuat Sam buru-buru memposisikan duduknya dan berdehem. "Ah, siapa yang melamun?" sanggah Sam cepat.


Agus tak memperdulikan lagi. Namun, justru kembali tersenyum simpul. Karena bukan hanya sekali dua kali, ia mendapati Sam tengah tersenyum simpul dengan memandangi layar pipih di tangannya.


"Bos kamu lagi jatuh cinta, Dim," ujar Agus ketika meletakkan ban dengan hati-hati.


Dimas yang di panggil, spontan menoleh ke arah Sam duduk. Lantas, Dimas pun hanya bisa tertawa tanpa suara. "Aku wes reti sopo pacare Mas Sam."


"Jadi penasaran aku," sahut Agus sembari mengelap tangan yang kotor oleh oli.


Sementara yang jadi objek pembicaraan sedang senyum-senyum sendiri, ketika sedang memerhatikan ponselnya.


Sam jadi tersenyum simpul kala akun lamanya ia temukan kembali. Ia menemukan kembali beberapa foto lama saat sunmori beberapa tahun lalu yang tersimpan di google Drive.


Salah satunya foto-fotonya bersama Dika, Ando, Royan, Akmal.


Kemana ya mereka sekarang? Lama nggak ada kabar.


Bahkan foto bersama Nada dan Via juga masih ia temukan. Membuatnya berbinar bak menemukan bongkahan berlian.


"Videonya masih, nggak, ya," gumam Sam dengan jari yang terus menscrol layar. Tanpa sadar ia mengabaikan panggilan dari Pipin di meja depan.


"Mas!"


Panggilan kencang dari Pipin membuat Sam menghentikan kegiatannya. "Apa, sih, Pin!"


"Tuh, ada yang nyari!" Dari tempat duduknya, Pipin mengangkat dagu menunjuk arah ruang tunggu customer.


"Siapa?" tanya Sam sambil bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti Pipin.


"Nada?" lirihnya kala mata Sam menemukan Nada. Duduk di antara enam pelanggan di ruang tunggu.


"Nah, ini, Mbak. Silakan!" Pipin menyilakan Nada yang sedang tersenyum kecil sambil mengangguk sopan.


Sementara Sam masih diam tertegun dengan kedatangan Nada yang tanpa sepengetahuannya. Pantas saja saat asyik bertukar chat satu jam yang lalu, Nada sudah tidak membalasnya. Rupanya, Nada justru sedang di jalan. Hingga sampai di bengkelnya.


Sam mengajak Nada ke dalam. Saat melewati Pipin yang mengangguk samar dengan raut terkejut karena Sam mengajak Nada untuk ke dalam. Lebih tepatnya ke meja Sam.


"Kenapa harus ke dalam, sih, Mas. Di luar kan, bisa," sungut Nada sebal. Karena merasa tidak enak, saat Pipin dan orang-orang bagian service melihatnya dengan terkejut.


"Nggak enak sama teman-teman kamu. Belum nanti kalau bos kamu marah!" Nada mulai risau.


"Sssst, tenang. Aku udah ijin kok sama yang punya," aku Sam. Namun, jelas sekali Nada tidak mempercayainya.


"Di depan, aja, Mas." Nada masih enggan melangkah ke dalam. Membuat Sam justru merangkul bahunya dan mengajaknya mendekati mejanya.


"Duduk, dulu. Jangan ngomel-ngomel terus. Ntar puasanya batal lagi," seloroh Sam membuat Nada menurut untuk duduk di kursi plastik di samping Sam.


"Ish,"


"Kamu kenapa bisa tiba-tiba di sini. Ini kejutan, tau'!" Sam jelas bahagia atas kedatangan Nada. Ia memposisikan duduk sedikit berjarak dengan menatap Nada lekat-lekat.


"Ish. Katanya mau ini!" Nada meletakkan jinjingan berwarna fuchia di meja Sam, "jadi, nggak?"


Nada masih memasang wajah tidak nyaman sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.


Sementara Sam jadi mengeryit lalu membuka kait penutup yang baru saja diletakkan oleh Nada.


"Ya, ampun, Na. Makasih banget. Sampai bela-belain antar ke sini." Sam mendapati empat toples transparan berisi aneka kuker di dalamnya. Sungguh-sungguh Sam berterimakasih pada Nada, karena candaannya justru di kabulkan tanpa ia memohon-mohon.


Sejak kedatangan Sam ke rumah Nada beberapa pekan lalu. Mereka sudah layak di katakan normal jika di sebut teman baik. Lebih tepatnya calon teman hidup yang sesungguhnya.


"Ya katanya kamu ileran karena lihat nastar sama sagu keju postinganku. Jadi ya beneran aku bawain, lah."


"Nggak bayar, kan," canda Sam membuat Nada melotot kesal.


"Enak aja, ya bayar , lah. Sembarangan!"


"Bercanda doang. Kirain kan, di kasih cuma-cuma buat calon suami," sahut Sam dengan senyum jahilnya.


Aku seperti melihat Sam di masa lalu. Batin Nada tanpa sadar membuatnya terpana melihat senyum Sam yang amat langka.


"Dih, ge-er. Aku nggak bela-belain juga datang ke sini. Aku sengaja mampir karena aku mau cari toples kuker di Solo. Di daerahku stok udah zonk soalnya." Nada memberi alasan setelah mengembalikan kewarasannya.


"Butuh banyak, ya?"


"Nggak juga. Sekitar, enam puluhan toples aja."


Nada menjelma jadi penjual online musiman seperti yang lain. Kebetulan momentum puasa menjelang lebaran, bisnis kuker (kue kering) terlihat menjanjikan. Jadi, inilah kesibukannya kali ini.


"Dihh, maunya," ujar Nada sambil memutar bola matanya malas. Dengan senyum tertahan di bibirnya.


Membuat Sam kembali mengulas senyum. Ketika dari arah bagian servis terdengar deheman kompak yang di buat-buat oleh anak bengkel.


Pipin pasti yang menyebar racun, ini. Batin Sam membuatnya awas. Lalu kembali salah tingkah ketika melihat Nada yang sedang memindai sekeliling belakang kursinya.


"Mau senyum, ya, senyum aja, Dek. Jangan di tahan."


"Emang aku adek kamu," jawab Nada sebal. Namun, hati dan perkataan memang tidak sejalan. Setiap Sam menyebutnya dengan panggilan itu, rasanya seperti seorang yang ... Istimewa.


"Boleh, kan, panggil seperti itu?" tanya Sam membuat Nada mengangguk dengan menggu lum senyumnya.Jelas sekali dari wajah merona milik Nada.


Ada ribut kecil karena Sam meminta nomor rekening Nada, untuk pembayaran kukernya. Akhirnya, Nada memberikan nomor rekeningnya juga.


"Alasan aja, kan, kamu nggak punya uang cash," dengus nada ketika Sam mengantarnya ke parkiran.


Gadis itu sedikit risih karena teman-teman Sam terus mengawasinya. Tidak lupa mereka sering melempar jokes receh. Membuatnya segera ingin pergi dari sana.


"Mana kelebihan lagi. Sengaja ya mau pamer bisa dapat gaji gede!"


Sam hanya senyum tipis saja mendengar celotehan Nada. Tidak berniat meluruskan.


"Sisanya aku kasih lagi apa gimana, Mas." Nada jelas tidak enak. Dengan sejumlah uang yang di transfer Sam adalah harga yang di buat untuk delapan toples kuker. Dua kali lipatnya, kan.


"Udah, anggap aja ongkirnya, Dek."


Membuat Nada berhenti dengan bibir terkatup rapat, di ikuti oleh Sam. Karena lagi-lagi, ia di buat bersemu oleh panggilan Sam barusan.


"A ..."


"Udah. Beneran, nggak usah di bikinin lagi kukernya. Takut kamu repot bila harus nganter ke sini."


Sam menepuk bahu Nada dia kali. "Semoga usahanya berkah, jadi pengusaha kue besar nantinya." Ucapan Sam sungguh-sungguh tanpa terlihat seperti omong kosong.


Salut sama kamu, Na. Ku pikir kamu anak manja karena anak satu-satunya.Pantas saja orang tuamu begitu bangga punya kamu. Kamu gigih banget ternyata.


Nggak kebayang sedihnya orang tua kamu saat kamu sempat jadi orang yang berbeda karenaku, Na. Maafin aku. Maaf karena aku mencintaimu. Meskipun ... caraku salah.


...*** ...


Setelah mendapatkan apa yang di cari, Nada lekas pulang.


Berburu toples kuker yang melelahkan sekaligus mengasyikkan, nyatanya tidak membuat Nada hilang semangat. Namun justru sebaliknya.


Meskipun cahaya matahari sangat terik, dengan jarum pendek tepat di angka dua. Hal itu tidak membuat Nada terganggu sedikitpun. Walaupun dorongan untuk memutus puasa sempat hinggap di pikirannya.


"Sabar... Sabar, tinggal empat jam lagi," ujarnya menyemangati diri.


Rona bahagia sejak tadi terpancar selama roda terus berputar di atas aspal jalanan. Terlebih, ia habis mendapatkan bonus yang tidak terduga dari customer yang paling bisa membuatnya kesal namun justru bisa membuatnya bersemu senang.


Sampai di rumah, roomchat dari Sam sudah berbaris rapi. Lengkap dengan pertanyaannya yang melebihi seorang wartawan.


Banyak juga stiker bertebaran di dalamnya. Nada paham, pasti itu karena ia tidak juga membalasnya.


^^^["Udah sampai, baru aja."]^^^


^^^["Makasih udah di perhatikan, Kak."]^^^


Nada tahu panggilan kak adalah panggilan yang amat Sam benci. Karena itu terdengar tidak ada istimewanya sama sekali. Seperti panggilan orang umum. Dengan begini, Nada bisa juga balas jahil. Impas, kan.


[Oke. Siap-siap aja, aku akan datang tiap hari]


Itulah balasan Sam lengkap dengan emogi memberengut kesal. Sungguh ia ingin mendapat tempat paling berbeda di hati Nada.


Nada membalas dengan emogi tertawa terpingkal-pingkal.


^^^[Siapa takut,] ^^^


Ini jelas hanya candaan dari Nada. Ia tidak sebebal itu untuk menerima tamu terlalu sering. Apalagi untuk orang lelaki. Takut menimbulkan bahan ghibah tetangganya.


^^^[ Ingat , ya, Mas. Awas aja, sekali kamu ke rumahku tanpa seijinku, mending kita nggak usah ketemu lagi]^^^


Ancaman Nada ini, begitu ampuh untuk Sam agar tunduk. Patuh terhadap permintaannya.


[Iya, deh. Bakalan nurut , kok. Jangan ngancam gitu lagi, ya. Jatuhnya serem,]


Membuat Nada yang membaca balasan Sam jadi terbahak-bahak.


...***...


oke hari ini cukup lah, ya, manis-manisnya. besok siap di aduk² lagi, 🤭