
Airmata Nada tidak berhenti mengalir sejak tahu bukan hanya dirinya saja yang berharap pada Sam.
Kemarin Sam ceritakan bahwa ada gadis bernama Tiara yang sedang mengunjungi mamanya. Hanya karena Nada mendengar suara riang seseorang saat ia menelepon Sam.
Tidak puas begitu saja, Nafa berganti mode vidio call agar tahu wajah dengan suara lembut yang sedang bersama tunangannya.
"Apa kalau aku nggak nanya, kamu juga nggak akan cerita, Mas!"
"Katanya, apapun itu kamu akan cerita!"
"Setidaknya, walaupun aku nggak bisa bantu banyak, asalkan aku tahu permasalahan kamu, aku pasti lega karena merasa di butuhkan. Sekedar untuk tempat bercerita, misalnya. Aku hanya ingin merasa dekat meski kita sedang berjauhan."
"Atau ... bukan, bukan! Mungkin ... kamu sengaja lama-lama di sana biar bisa dekat dengan Tiara_Tiara itu!"
Sejumlah tuduhan meluncur dengan lancar berikut hati yang carut marut. Terlebih, Sam justru malah mematikan sambungan telepon setelah menyuruh Nada istirahat saja.
Hal itu membuat Nada menanggung kesal yang semakin menggunung.
Hingga beberapa hari kemudian mereka cukup jarang saling bertukar pesan.
Nada yang diam, karena memang ia butuh pikiran tenang. Sedangkan Sam, ia hanya butuh di mengerti dan di dengar. Bukan dituduh sedemikian rupa.
...***...
"Ciee, yang habis hanimuuuunn." Nada melempar jokes pada Bella begitu sahabatnya itu muncul di pintu ruang guru. Bella sudah seminggu cuti dan baru hari ini masuk kembali. Nada sendiri baru pulang dari workshop di kabupaten.
"Apasii," bisik Bella manyun sambil mendekati mejanya.
"Duluan, ya, adek adek. Maklum mau ke tarub. Ibu-ibu, begini banyak sekali kondangan. Sampai pusing, mikirinnya." Yuni berkata sambil mencangklong tas dengan ponsel di tempelkan di telinga. Ia melambaikan tangan tanda pamit, dengan kembali sibuk berbicara dengan lawan teleponnya.
"Hati-hati, Bu Yun," sahut Nada riang. Meski yang di sapa sudah jauh melangkah.
Selanjutnya tinggalah Nada dan Bella di ruang itu. Dengan Bella yang sibuk memilah-milah buku besar di meja. Sedangkan Nada, ia tersenyum jahil dengan menumpu kepala di lengan yang di tumpuk di meja.
"Aduh, duh, mukanya merah meronah gitu." Nada kini menaik turunkan alisnya dengan senyum jahil saat Bella meliriknya. "Cerita donng, Bubelle!"
Ledekan Nada di acuhkan Bella dengan senyum-senyum di lengkapi bibir yang mencebik lucu. Ia lantas menyimpan buku-buku dan peralatannya ke dalam tas. Tanpa berniat membalas candaan Nada.
"Bubelle, nggak asik, ah. Jangan pelit. Berbagi pengalaman itu pasti dapat pahala, loh!" Nada kini mengikuti langkah Bella keluar ruang guru. Dengan mencangklong backpack di bahu kanan.
Waktu sudah jam absen pulang. Nada hanya sedang butuh teman bicara sebetulnya. Tapi agak segan, karena sahabatnya itu kini sudah ada suami yang harus di urus.
"Heh, katanya masih piyik. Mana boleh begituan di ceritain ke anak di bawah umur . Aya-aya bae."
"Yaelah, dikit doang, Bubelle. Kasih bocoran, tips atau apa, gitu. Bukan cerita soal tutorialnya." Sambil menunggu Bella memberi jawaban, Nada kini sibuk mencari-cari kontak di setiap kantong tasnya.
"Di Gugel, banyak. Udah cari aja di sana. Lagian, kamu juga masih delapan bulan la_ ... eh, bner delapan bulan, ya." Bella justru mulai menerka perkiraan akad Nada yang masih lebih dari satu semester itu.
Bella hentikan langkahnya, dengan Nada pun yang ikut berhenti tentu saja.
Hal itu membuat, Nada teringat akan Sam yang semakin lama rencana kepulangannya. Menambah sesak yang bersarang di dada. Berusaha baik-baik saja di tengah gempuran badai badai kecil yang mulai berdatangan.
"Nah, kan, nah, kan. Giliran di singgung, dikit aja. Udah melow." Bella mulai melihat raut sedih di balik wajah riang yang Nada perlihatkan.
Bella memegang kedua bahu Nada yang kini sudah muram saja. "Masih resah kamu, sama yang namanya Tiara-Tiara itu?" terka Bella dan Nada mengangguk sedih. Tanpa ba-bi-bu, Nada ceritakan semua hal tak terduga tentang Tiara pada Bella. Ia harus luapkan pada seseorang, karena ia tidak mau menanggung prasangka yang belum tentu benar.
"Namanya juga, laki-laki Nad! Yang Deket aja bisa lepas, apalagi yang jauh. Makanya kamu tuh perhatian dikit, kek. Nggak melulu nunggu Sam yang telepon atau video call. Sesekali kamulah, yang inisiatif buat fon duluan."
Bella menarik Nada untuk duduk di kursi panjang di depan kantin. Tidak ada penolakan dari Nada dan itu membuat Bella menyakini memang Nada butuh teman bicara.
"Udah bukan jamannya, kalau laki-laki, tuh, harus aktif duluan. Bisa di mulai dari kita-kita ini, para wanita .Apalagi kalau udah halal, kek aku ini. Udah jadi istri. Inisiatif lebih dulu udah jadi ladang pahala kata pak ustadz. Keren, kan."
Nada mengangguk angguk dan itu membuat Bella puas. Nasihat berselimut candaan Bella membuat Nada mengulas sedikit senyum di bibirnya.
"Iya, makasih, ya, Kakak Bella."
"Duh, kasian. Ntar kalau ada kesempatan, kamu bicarakan baik-baik. Ademin, tuh, kepala. Jangan asal cemburu aja." Bella tahu, bagaimana takutnya Nada jika Sam benar-benar goyah.
Kemudian keduanya mengakhiri cerita masing-masing. Lebih tepatnya, Bella yang ceritakan bagaimana penyesuaian dengan suaminya selama seminggu ini. Semua tidak ada yang instan. Semua butuh proses. Dari yang tidur sendiri, kini sudah ada teman tidur. Dari yang jadi penguasa kamar, kini harus berbagi kamar pula. Ya, penyesuaian dari hal hal terkecil dengan pasangannya.
Sementara di Manado, Sam sedang menemani Tantri yang sedang terapi Lazer. Karena dengan metode itu, perkembangan Tantri semakin meningkat. Alhasil, seminggu ini Sam rutin mengantarkan Tantri untuk terapi.
"Sam, ada telepon dari pakde. Hp, kamu silent, to!" Alif datang dan memberikan ponsel Sam yang tertinggal di dashboard mobil. " Angkat, dulu! Biar mama, sama aku!"
Sam mengangguk sambil meraih ponsel dari tangan Alif. Kemudian menepi keluar ruangan.
"Udah, mama jangan pikirin, Sam. Dia udah gede, udah waktunya punya banyak masalah."
Tantri tidak puas atas jawaban Alif. Tapi dia cukup diam sambil memikirkan anak bungsunya. Karena sejak menerima telepon tadi, Sam tidak juga muncul.
"Itu Sam, Ma." Alif menunjuk Sam yang berdiri bersandar di pintu mobil.
Ketiganya segera meninggalkan rumah sakit. Selama perjalanan, Alif katakan apa kata dokter pada Sam. Akan tetapi, melihat wajah Sam yang serius dengan fokusnya pada benda pipih di tangan membuat Tantri penasaran dan menahan diri untuk tidak bertanya macam-macam.
Begitu sampai di rumah, Tantri sudah tidak bisa menunggu lagi dengan sabar. Ditanyailah apa masalah Sam, hingga kini terlihat kurus di matanya.
"Nggak ada, Ma. Cuma ada keterlambatan pengiriman. Jadi bengkel pakde sampai kosong stoknya. Dan ini tadi minta kirim cepat dari bengkel Sam."
"Yakin, seperti itu?" tanya Tantri menyelidik.
Sam katakan hanya itu saja. Meskipun aslinya ada masalah yang lebih rumit. Nada kembali meledak-ledak, hanya karena Sam kemarin telah salah mengambil langkah.
Yaitu dengan mengatakan soal Tiara. Berharap dengan kejujurannya, Nada dapat memahami dan tidak salah paham. Namun, sekali lagi. Tetap saja Sam menjadi pihak yang salah karena baru memberitahu tentang bagaimana Tiara yang kini ada di sekitarnya.
"Jujur, salah. Diem, apalagi. Maunya gimana, sih, Nada," gerutunya saat puluhan panggilannya tidak tersambut.
"Anggap ini ujian sebelum menikah, Sam. Kalau kamu bisa melewati ini, pasti bisa lulus. Tapi ... jangan puas sampai di sini. Ujian pernikahan itu tetap akan berlangsung sepanjang kalian bersama." Masih Alif begitu menenangkan malam ini.
Di temani dua cangkir kopi dan jajanan pasar yang di beli Sam sehabis magrib tadi, keduanya sedang bertukar cerita.
"Calon istrimu itu hanya sedang cemburu, Sam."
"Orang kaya'Nada mana bisa cemburu, Mas." Ada rasa senang yang menggelitik jika benar apa yang di ucapkan Alif barusan. Namun, Sam mencoba menepisnya. Kalau dia cemburu, pasti sudah ngomong, kan. Tapi ini ...
"Kamu ini benar-benar tidak peka, ya, Sam!" Alif mulai kesal dan lebih memilih diam menyesap lintingan tembakau yang di jepit diantara jari tengah dan telunjuk.
"Papa udah nyerah, sepertinya, Sam." Alif berkata setelah lama terdiam.
"Maksud, Mas?" tanya Sam belum mengerti maksud ucapan kakaknya.
"Papa udah nggak menggebu-gebu soal Tiara," jawab Alif yang kini meniupkan asap putih pekat yang mengepul di udara.
"Kalau kata aku, sih. Karena kamu udah bicara dari hati ke hati dengan Tiara. Jadi, mungkin dia sudah ikhlas, dan bicara pada papa. Itulah mengapa sekarang papa sudah nggak bahas-bahas dia lagi, kan."
Memang benar Sam sudah bicara dari hati ke hati pada Tiara. Itu karena, Sam tidak tahu lagi harus menegur dengan cara apa atas kebaikan-kebaikan gadis itu. Yang pada akhirnya membuatnya tidak nyaman.
"Lagian, bodoh banget Tiara kalau sampai masih mengharap pengangguran kek kamu." Alif kembali bersuara meledek.
Kali ini Sam melirik sinis pada Alif. Membuat sang kakak jadi terkekeh. Sungguh jauh dari kesan menyeramkan yang tersaji pada wajahnya yang karismatik nan tegas. Tubuh tegap Alif dengan bentuk yang pas, kini menjadi perhatian Sam.
Inilah satu-satunya yang membuat Sam iri dengan sang kakak. Jika melihat pada diri sendiri yang kian kurus tidak terawat. Apalagi ia kurang tidur dalam waktu yang cukup lama. Semenjak Tantri sakit tentunya.
"Kalau saja kamu kembar, Sam. Pasti akan aku dukung jika Tiara itu jadi ipar nantinya."
"Ngarang!" Sam mendengkus mendengar pendapat konyol Alif. Dirinya saja masih pusing bagaimana Nada bisa lembut lagi dan tidak uring-uringan.
Alif melirik Sam yang tidak berniat membahas hal ini lalu tersenyum kecil. "Kamu kapan pulang, Sam?"
"Nggak tahu. Belum ngobrol lagi sama papa." Sam meraih satu batang roko* Alif lalu menyulutnya dengan api. Ia harus melepas resah dengan berlari pada tembakau ini. Padahal, Nada sudah mewanti-wanti agar tidak merokok lagi.
"Kalau menurutku, sih. Nada uring-uringan itu cuma kengen aja loh, Sam."
Membuat Sam terkekeh tiba-tiba. "Dimana kangennya? Orang kalau telepon cuma ngamuk-ngamuk!"
"Itu dia masalahnya. Mungkin Nada type orang yang sulit mengutarakannya perasaan. Jadi ya ... dengan kelakuannya. Dia meluapkannya."
Sam mengangguk kecil. Membuat Alif geleng-geleng.
"Ini serius kamu nggak peka, soal begini!" Tawa Alif meledak seiring tatapan menyipit dari Sam.
Benarkah Nada kekanakan hanya karena kangen ke aku? Tapi, apa mungkin kangen. Sedangkan kalau ngomong nggak ada manis-manisnya? Aneh.
Tapi, bagus juga kalau Nada cemburu, kan. Itu artinya dia takut kehilanganku.
Kali ini senyum Sam mengembang sempurna. Membayangkan wajah Nada yang sedang uring-uringan membuatnya kian merindu sosok galak di seberang pulau sana.
Mau bagaimana lagi, begitu juga, calon istri aku. Anehnya lagi, kok aku justru senang ya, kalau uring-uringannya dia karena cemburu.
...Tbc...