
Lindsey memejamkan matanya menikmati Semilir angin yang berhembus. Berada jauh dari pusat kota yang bising dan ramai sedikit banyak bisa menenangkan pikiran kacaunya. Lindsey menatap kota New York dari balkon kamarnya.
Lindsey duduk santai di balkon kamar menatap kota New York dengan pandangan takjub. Gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi namun nampak indah dari kejauhan, membuat mata Lindsey seakan tidak ingin berpaling dari sana.
Mansion Lucas berada cukup jauh dari pusat kota New York. Kamar mereka sendiri berada di lantai dua. Dan dari balkon kamar ini, ia bisa melihat pemandangan kota New York yang luas dan juga sibuk.
Lindsey kembali memejamkan matanya. Memikirkan sikap Lucas yang akhir-akhir ini mulai berubah. Sedikit banyak membuat otaknya berpikir keras. Ia mencoba memikirkan dan mengartikan setiap tindakan Lucas yang penuh kasih sayang. sayangnya otaknya selalu menyimpulkan kalau Lucas memang lelaki normal. Atau itu harapannya?
Apa mungkin seorang gay memperlakukan perempuan dengan lembut? Namun besar harapan Lindsey kalau Lucas memang menyukainya.
Terkadang sebagai perempuan, ia merasakan kalau perlakukan Lucas sedikit berbeda jika dibandingkan dengan perlakukan George padanya. George sahabatnya, lelaki itu memperlakukannya dengan sangat baik. Tapi Lindsey merasa kalau itu adalah hal yang wajar. Ia tidak pernah berpikir kalau perlakukan George akan membuatnya menginginkan lebih.
Tidak seperti perlakuan Lucas padanya. Lelaki itu memperlakukannya dengan sangat berbeda, tidak sama seperti George. Cara Lucas memperlakukannya, membuat Lindsey menginginkan sesuatu yang lebih yang tidak pernah ia inginkan dari George. Ia ingin Lucas menyukainya, dan ia berharap akan hal itu.
Terkadang perlakuan Lucas membuatnya melayang. Seakan ia adalah orang yang berharga dan istimewa. Lindsey sangat menyukai itu. Ia ingin seperti itu selamanya bersama Lucas.
Lindsey menggelengkan kepalanya dengan cepat. Sepertinya pikirannya menjadi gila karena memikirkan hal-hal gila. Salah satu hal gila itu adalah cara bagaimana ia bisa memiliki Lucas. Tapi yang terpenting untuk saat ini adalah bagaimana cara ia menghadapi Lucas yang akhir-akhir ini bersikap tidak biasa padanya.
Tapi hari ini Lindsey bisa bernafas lega walau sedikit. Setelah perkataan Lucas yang manis tempo hari, ditambah dengan perlakuan lelaki itu yang selalu memeluknya saat tidur, benar-benar membuat ia bingung sekaligus senang.
Ya Tuhan, Lindsey benar-benar berharap kalau Lucas adalah lelaki normal. Ia menginginkan Lucas, sangat. Ia suka ketika Lucas memeluknya, ia suka ketika Lucas memperlakukannya seolah ia adalah perempuan yang spesial dan berharga.
Sayangnya ketika Lindsey terbangun tadi pagi, ia merasa kehilangan karena Lucas tidak ada disampingnya. Mungkin lelaki itu sudah pergi bekerja, tapi tetap saja, ia merasa kehilangan. Lindsey tidak tahu pasti apa yang tengah ia rasakan, apa ia sudah mulai jatuh cinta pada Lucas?
Lindsey merindukan Lucas.
Tidak salahkan kalau ia merindukan Lucas? Seharusnya wajar jika seorang istri merindukan suami. Ehem, istri. Hanya saja merindukan suami yang tidak merindukan istri, apa masih wajar?
Lindsey masih memikirkan Lucas ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ia mengambilnya di nakas dan tersenyum melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Lucas!
“Halo,” sapa Lindsey sambil kembali berjalan menuju balkon kamar mereka.
“Halo, Lindsey.” sapa Lucas dari seberang sana.
“Ya Lucas, ada apa?” tanya Lindsey sambil terus tersenyum. Ia bahkan tidak bisa untuk tidak tersenyum, ia sepertinya sangat menyukai Lucas.
“Kau dimana sekarang? Apa kau sibuk?”
Bagaimana mungkin Lindsey sibuk ketika ia bahkan tidak diperbolehkan bekerja?
“Aku di balkon kamar, aku tidak sibuk. Kenapa?”
“Apa kau bisa mengambilkan berkas yang ada diruang kerjaku dan mengantarkannya ke kantorku sekarang? Aku lupa membawanya tadi pagi.”
Lindsey tersenyum manis, ia akan ke kantor Lucas hari ini. “Bisa, aku akan mengantarkannya padamu.”
“Oke, berkasnya ada di mejaku. Aku akan menunggumu.”
“Oke,” ucap Lindsey kemudian tersenyum manis dan mematikan ponselnya.
Lindsey mengganti pakaiannya dan memakai dress yang sangat pas di tubuhnya. Ia memoles wajahnya dengan make up senatural mungkin. Setelah itu ia menuju ruang kerja Lucas dan langsung melihat berkas yang dimaksudkan oleh lelaki itu. Ia mengambilnya tapi matanya menangkap sebuah pigura yang didalamnya ada foto dua orang manusia saling berpelukan.
Lindsey menelan ludahnya sudah payah. Ia mengangkat pigura itu dan memperhatikan dengan seksama. Itu foto Lucas dengan seorang lelaki yang sepertinya pernah dilihatnya, tapi dimana?
Ponsel Lindsey kembali berbunyi dan membuatnya langsung tersadar dari pikirannya. Ia mengangkat panggilan tersebut sambil terus memperhatikan lelaki yang dipeluk Lucas yang ada di foto itu.
“Halo,” sapa Lindsey tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
“Kau sudah menemukan berkasnya?” tanya Lucas dari seberang.
Tersadar kalau yang meneleponnya adalah Lucas, buru-buru ia langsung menurunkan kembali pigura itu dan meninggalkan ruang kerja Lucas.
“Sudah, aku akan segera ke sana.” Jawab Lindsey berusaha setenang mungkin.
“Aku sudah menyuruh Patrick menjemputmu tadi, sepertinya ia akan sampai sebentar lagi.”
“Oke,” jawab Lindsey kemudian memutus sambungan telepon itu dengan cepat. Ia merasa kecewa dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Begitu Lindsey keluar dari mansion, ia sudah menemukan Patrick sedang menunggunya sambil membuka pintu penumpang.
“Silahkan masuk, Nyonya.” ucap Patrik sopan.
“Terima kasih.” jawab Lindsey tak kalah sopan.
Berbeda dengan Lindsey yang saat ini hanya terdiam di kursi penumpang, tidak peduli pada kecepatan mobil yang ditumpanginya. Pikiran Lindsey masih melayang pada foto yang ada di ruang kerja Lucas.
Foto itu membuat pikirannya teralihkan, pada apapun. Ia merasa kecewa ketika mengetahui kalau asumsinya yang sebelumnya serta harapannya mengenai Lucas salah.
Lucas benar-benar adalah seorang gay. Dan bodohnya lagi, ia mulai jatuh cinta pada lelaki gay itu.
“Patrick,” panggil Lindsey.
“Ya, Nyonya?”
“Apa kantor Lucas masih jauh?” tanya Lindsey pelan.
“Tidak Nyonya, sekitar lima menit lagi kita akan sampai.”
“Sudah berapa lama kita berkendara?” tanya Lindsey lagi.
Patrick melihat jam tangannya dan berpikir sejenak. “Sudah sekitar dua puluh menit nyonya.”
Lindsey mengangguk. Tiba-tiba saja mood-nya berubah buruk, padahal sebelumnya ia begitu bersemangat menemui Lucas di kantornya. Lindsey menghela napas pelan. Ia tidak perlu lagi bersusah payah memikirkan tentang cara menghadapi Lucas.
Lelaki itu bukan lelaki normal, suaminya itu tidak mungkin menyukainya, benar-benar mengecewakan.
Lindsey memasuki gedung perkantoran milik Lucas sambil membawa berkas yang diminta oleh lelaki itu. Beberapa karyawan menatap Lindsey dengan tatapan takjub.
Sebagian besar lelaki yang melihat Lindsey terpesona karenanya. Siapa yang tidak mengenal Lindsey? Model cantik dan seksi yang menjadi objek imajinasi liar kebanyakan lelaki.
Tubuhnya yang pas, tidak kurus seperti kebanyakan model pakaian dalam. Tubuhnya sangat pas, tidak termasuk pada kategori gemuk. Ia gemuk di tempat yang tepat.
Setidaknya saat ini itulah yang terlihat. Pakaiannya yang tepat, menunjukkan lekuk tubuhnya yang indah. Banyak lelaki yang menelan ludah hanya dengan melihatnya berjalan.
Beberapa lelaki mencoba menggodanya. Mereka berani menggoda Lindsey karena sebagian dari mereka semua tahu kalau bos besar mereka, Lucas, bukan lelaki normal.
Tapi lelaki yang menggodanya tadi tiba-tiba terdiam dan menunduk.
“Anda tidak apa-apa, Nyonya?” suara Patrick menginterupsinya.
Lindsey berhenti sejenak dan berbalik menatap Patrick, "aku? Aku tidak apa-apa, memangnya kenapa?” tanya Lindsey bingung.
“Saya kira anda terganggu dengan sikap mereka, jika Nyonya terganggu saya bisa meminta HRD untuk memecat mereka.” ucap Patrick tegas membuat karyawan yang tadi menggoda Lindsey menjadi was-was.
Lindsey tersenyum manis, "aku tidak apa-apa. Jangan lakukan itu, itu hal yang wajar." ucap Lindsey tenang.
Patrick mengangguk dan kembali mempersilahkan Lindsey berjalan, ia menekan tombol lift yang khusus dibuat untuk para direksi. Setelah lift terbuka Patrick mempersilahkan Lindsey masuk.
“Ruangan tuan ada di lantai 80 Nyonya, paling atas. Tuan sudah menunggu Anda.”
“Kau tidak ikut naik?”
“Tidak nyonya, tuan hanya ingin bertemu dengan Anda.” ucap Patrick kemudian menunduk.
Pintu lift tertutup meninggalkan Patrick yang masih menunduk. Lindsey berpikir, Lucas ingin bertemu dengannya? Apa maksudnya? Mungkin bertemu karena berkas yang dibawanya.
Cukup lama Lindsey berada di dalam lift sampai kemudian ia mendengar denting lift berbunyi, sedetik kemudian pintu lift terbuka. Lindsey berjalan keluar lift dan melihat seorang wanita juga sedang menatapnya sambil tersenyum.
“Tuan sudah menunggu Anda di dalam Nyonya.” ucap perempuan itu dan mempersilahkan Lindsey masuk ke dalam.
“Apa Lucas ada tamu?” tanya Lindsey sambil mengikuti wanita itu.
“Tuan memang sedang ada tamu nyonya, tapi beliau sudah mengatakan pada saya agar langsung mempersilahkan Nyonya masuk jika sudah datang.”
“Apa rekan bisnis?”
“Bukan Nyonya. Silahkan masuk.” ucap wanita itu yang hanya mengantarnya sampai pada pintu ruangan Lucas.
Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Lindsey langsung membuka pintu itu dan hendak melangkah masuk. Tapi kakinya terpaku begitu pintu terbuka, pemandangan yang sama persis dengan yang ia lihat di foto yang ada di ruang kerja Lucas tadi membuatnya terdiam.
Lelaki itu, lelaki yang sama dengan yang menghadiri pernikahannya dengan Lucas waktu itu. Sedang menatapnya dengan tersenyum sambil memeluk Lucas erat.