
Lindsey keluar dari kamar mandi lebih dulu. Meninggalkan Lucas yang mengerang kesal. Suaminya itu mengatakan kalau mereka harus keluar bersama karena akan melanjutkan kegiatan mereka barusan.
Tapi dengan jahil Lindsey menyelesaikan mandinya lebih cepat. Membuat Lucas menggerutu tidak jelas sedangkan ia tertawa terbahak-bahak. Tanpa menunggu Lucas, ia langsung melesat meninggalkan Lucas sendirian di kamar mandi.
Lindsey berjalan menuju walk in closet, lalu memakai pakaiannya yang tertutup. Ia lagi-lagi ingin menggoda Lucas. Lindsey menyadari satu hal mengenai Lucas. Lelaki itu ternyata sangat lucu dan manja.
Setelah selesai memakai pakaiannya, Lindsey berjalan menuju tempat tidur. Ia melihat sebuah paket dengan keadaan yang sudah jelek berada di atas tempat tidur. Ia meraih paket itu dan membacanya.
Paket itu ditujukan untuknya.
Dengan tidak sabaran, Lindsey membuka paket itu dan mengambil isi yang ada di dalam paket itu. Tubuh Lindsey seketika menegang kaku. Paket ini berasal dari lelaki itu.
Dari belakang Lucas mengamati Lindsey yang membuka paket sialan itu dengan diam. Ia bisa melihat tubuh Lindsey yang menegang kaku. Ia berjalan mendekati Lindsey yang masih fokus dengan paket sialan itu.
"Katakan kau tidak akan meninggalkanku." kalimat tajam dan menusuk itu keluar dari bibir Lucas.
Lindsey menoleh padanya dan ia bisa melihat mata Lindsey yang berkaca-kaca. What the F**k. Apakah ia sudah kalah?
"Katakan sayang," suara Lucas berubah menyedihkan sekaligus frustasi.
"Katakan sayang, katakan kalau kau tidak akan meninggalkanku..." rengeknya frustasi. Ia merengek seperti anak kecil sembari merunduk dengan lututnya jatuh di atas lantai
Lucas sudah tidak tahu lagi. Ia sudah sangat frustasi. Barusan saja ia mendengar Lindsey berjanji tidak akan meninggalkannya. Tapi begitu melihat raut wajah Lindsey yang berubah karena paket sialan itu, membuat Lucas ketakutan.
Lindsey menatap Lucas yang berlutut di hadapannya dengan raut wajah sedih. Ia tidak tahu mengapa Lucas bisa seperti ini, ditambah lagi lelaki itu berlutut seperti ini hanya karena paket ini? Lindsey tidak tahu apakah ia harus bahagia atau sedih melihat Lucas yang seperti ini.
Lindsey bergerak mendekati Lucas dan ikut berlutut di hadapan lelaki itu. Lucas masih menundukkan kepalanya. Ia meraih jemari lelaki itu dan menggenggamnya dengan erat.
“Lucas.” suara serak Lindsey membuat Lucas mendongak.
Ia masih memperhatikan Lucas yang memandangnya dengan tatapan menyedihkan yang mampu membuat ia merasa sesak.
“Aku tidak pergi.”
Tatapan sedih yang Lucas berikan padanya sedikit tergantikan dengan tatapan berharap. Hanya sedikit. Tapi setidaknya mampu membuat Lindsey tersenyum tipis.
“Kau tidak akan pergi?” tanya Lucas memastikan.
Lindsey mengagguk. “Aku tidak akan pergi.”
“Aku sudah berjanji tadi.”
“Kau juga mengatakan kalau kau mencintaiku tadi.” ucap Lucas merajuk.
“Aku memang mencintaimu Lucas.”
“Tapi paket itu membuatmu ragu-ragu.” Lucas terdiam beberapa saat, “aku takut kau meninggalkanku.” lanjutnya dengan nada sedih yang tidak berusaha ia tutupi.
Keadaan hening seketika. Lindsey tidak membalas kalimat Lucas. Entahlah, tapi ada perasaan aneh yang muncul saat mengetahui lelaki itu masih hidup dan mengirimnya paket seperti ini. Ia terharu.
Berarti lelaki itu masih mengingatnya. Jujur saja, ia memang sudah lama menanti paket ini datang. Jauh sebelum ia mengenal Lucas. Tapi nyatanya paket ini datang saat ia sudah tidak berharap lagi. Bukankah itu tandanya jika lelaki itu sudah terlambat?
“Baby,” Suara Lucas membuyarkan lamunan Lindsey.
“Jangan takut, aku tidak akan pernah meninggalkanmu.” ucap Lindsey lembut.
Lindsey lalu berdiri dan meraih tubuh Lucas agar ikut berdiri dengannya. Lelaki itu menurut saja, bahkan saat Ia juga menuntun Lucas ke walk in closet dan memilihkan pakaian santai padanya.
“Pakai ini.” Lindsey menyerahkan kaos polo untuk Lucas dan sebuah celana pendek selutut.
“Aku tidak membutuhkan ini.” suara Lucas berubah serak dan menggoda Lindsey. Sudahkah Lucas mengatakan kalau istri seksinya itu selalu menggodanya tanpa melakukan apa-apa?
“Lalu kau ingin memakai apa?” kening Lindsey mengerut. Tidak mungkin Lucas akan memakai setelan kerja di rumah kan?
“Aku tidak membutuhkan apa-apa,” ucapnya menaik-turunkan alisnya dengan jahil. “Kau sudah berjanji untuk ronde kedua.” lanjutnya dan berjalan mendekati Lindsey dengan perlahan seolah menemukan mangsanya.
Langkah kaki Lindsey bergerak mundur seirama dengan langkah Lucas yang semakin mendekar. “Ak-aku tidak pernah berjanji.” ucapnya gugup.
“Kau lupa janjimu sendiri, eh?” langkah Lucas semakin mendekati Lindsey membuat wanita itu berdiri terpojok karena punggungnya sudah menyentuh lemari.
Lindsey bergerak menyamping karena sudah tidak bisa mundur lagi. “Aku tidak ingat pernah berjanji” ucapnya pelan karena gugup, “kau yang mengatakannya sendiri bukan aku.” Ia masih terus bergerak menyamping yang sialnya terus diikuti oleh Lucas.
Lucas tersenyum manis. Sangat manis.
“But I want you so bad, baby.” ucap Lucas dengan suara berat dan serak yang menggoda membuat Lindsey menelan salivanya kasar.