Not Yet Yours

Not Yet Yours
Chapter 45



Bryan menatap nyalang lelaki paruh baya berwajah datar yang sedang berdiri di hadapannya. Lelaki itu tidak sendiri, beberapa orang berpakaian formal berdiri di belakangnya.


Lelaki itu hanya menatapnya datar.


Sebenarnya Bryan sedikit bingung melihat lelaki paruh baya ini tiba-tiba saja muncul dihadapannya tepat ketika ia berjalan menuju pintu keluar loby. Ini pertama kalinya Bryan bertemu langsung dengan pria tua itu.


Sejenak Bryan menatap tajam lelaki tua itu dengan seksama, mencoba mengingat siapa lelaki itu. Bryan tidak mengenali lelaki itu tapi dari tatapan lelaki itu, Bryan tahu lelaki itu mengenalnya.


Tatapannya tidak mengintimidasi Bryan tapi cukup mengganggunya.


Awalnya Bryan tidak berniat untuk menemui laki-laki ini. Tapi seseorang dari belakang lelaki tua itu maju dan mengatakan kalau Tuan-nya ingin berbicara dengannya. Dan entah kebetulan atau tidak, anak buah Bryan juga menghilang. Jadi Bryan memutuskan untuk menemui lelaki itu.


Dan saat ini, mereka berada di sebuah ruangan yang Bryan tidak tahu ini di mana. Bryan tidak suka berada di tempat seperti ini. Benar-benar menyusahkan.


“Siapa kau dan apa mau mu?” Bryan memulai percakapan karena sepertinya lawan bicaranya saat ini bisu. Terlebih lagi dia bukan orang yang memiliki kesabaran yang besar.


Lelaki itu masih menatapnya datar kemudian berkata,


“Anda tidak perlu tahu siapa saya. Di mana Lindsey?”


Senyum miring muncul di wajah Bryan. Jadi lelaki tua ini pasti seseorang yang menganggap Lindsey-nya berharga. Pikirnya


"Tenang saja, dia dalam keadaan sehat dan segar." kata Bryan tenang.


Lelaki tua itu mengangkat sebelah alisnya, lalu tersenyum tipis.


"Baguslah kalau dia baik-baik saja. Tapi kau tidak menjawab pertanyaanku anak muda. Where. Is. Lindsey?" Tanya Erick penuh penekanan.


"Di tempatku." Bryan menyilangkan kakinya seakan pembicaraan ini tidak penting sama sekali.


"Kembalikan dia."


“Lindsey milikku.” Ucap Bryan santai namun penuh penekanan. Ia menatap pria paruh baya yang menurutnya tua itu dengan senyum mengejek.


“Milikmu? Sejak kapan putriku menjadi sebuah properti?”


Ya, Erick memilih untuk langsung mengakui dirinya. Enak sekali lelaki congkak itu menyatakan kepemilikan atas putrinya. Sangat tidak tahu diri.


Erick memicingkan matanya, tidak suka dengan kalimat yang baru saja diucapkan oleh lelaki yang ia ketahui bernama Bryan itu. Jelas-jelas putrinya sudah menikah dan itu bukan dengan lelaki ini. Bodoh.


Air muka Bryan langsung berubah begitu ia mendengar kata ‘putriku’ dari lelaki paruh baya itu.


“Anda Erick Collins?” tanyanya syok. Ia langsung memperbaiki posisinya menjdi lebih sopan.


“Maafkan sa—”


“Tidak usah berbasa-basi. Cukup katakan di mana putriku.”


“Lindsey ada bersama saya, sir.”


“Aku tahu dia bersama mu, yang aku tanyakan di mana posisinya.”


“Di rumah saya, ia di ruangan yang saya buatkan khusus untuknya,”


“Kau mengurung putriku?!”


“Saya hanya tidak ingin dia pergi, sir.”


“Apa kau kira putriku seekor binatang? Dasar bedebah!” Erick sudah tidak bisa menahan emosinya.


Erick sudah terlalu sering melakukan kesalahan pada Lindsey semenjak Lindsey masih kecil, dan ia ingin memperbaiki kesalahannya. Walau ia memiliki alasan, tapi Lindsey sudah terlanjur memendam rasa marah dan kecewa padanya. Ia yakin itu.


Lagipula Lindsey adalah putrinya satu-satunya dan sekarang, lelaki tengik bernama Bryan ini mengurung putrinya seperti seekor binatang? Sialan!!


“Saya tidak menganggap Lindsey seperti itu, saya hanya tidak ingin dia pergi lagi.”


“Apa bedanya? Lagipula kenapa putriku bersama mu? Dia sudah menikah!” Erick menggeram menahan gejolak emosi dalam dirinya.


“Suami sialannya itu tidak mencintainya.” tegas Bryan.


“Tapi tetap saja putriku masih berstatus istri. Apa kau ingin merebut istri orang lain?” desis Erick tajam.


“Pengacara saya sedang mengurus perceraian mereka, sir.” ucap Bryan kali ini dengan pembawaan yang sudah diubahnya menjadi sikap penuh ketenangan.


Erick masih ingin kembali membentak Bryan. Namun dering ponselnya membuat ia harus mengabaikan ucapan Bryan dan lebih memilih menerima panggilan di ponselnya begitu melihat nama yang tampil di wallpaper-nya. Sejenak ada kerutan di dahinya dan ia menatap Bryan nyalang.


“Aku datang kemari untuk menjemput putriku. Katakan pada anak buah mu untuk membiarkan putriku pergi.” Erick menyerahkan ponselnya pada Bryan.


Lelaki itu memandang Erick sejenak sebelum kemudian meraih ponsel itu.


“Jangan biarkan gadisku pergi.” Ucapnya datar langsung menutup panggilan itu dan memberikan ponsel itu kembali pada Erick.


Sungguh apa yang baru saja Erick dengar bukanlah halusinasi. Lelaki tengik di hadapannya ini tidak membiarkan putrinya pergi?! PUTRINYA! Kurang ajar!


“Saya tidak akan membiarkan anda membawa Lindsey sekalipun dia adalah putri anda. Saya mencintainya.”