
Sesak, kata itu mungkin tepat untuk menggambarkan rasa yang saat ini Lucas rasakan di dadanya. Perasaan yang membuatnya kesulitan bernapas dan membuatnya merasa tersiksa.
Sakit, kata itu masih belum tepat mendeskripsikan apa yang saat ini Lucas rasakan. Mungkin sakit bukan kata yang tepat untuk saat ini. Yang Lucas rasakan lebih dari sekedar kata sakit.
Hancur, ya mungkin kata itu sedikit banyak bisa menjelaskan apa yang saat ini ia rasakan. Meski kata itu juga tidak terlalu tepat untuk bisa dengan benar menggambarkan bagaimana perasaannya.
Rasanya tidak ada kata yang tepat untuk mengungkapkan bagaimana rasa yang tepat ketika ketakutannya menjadi kenyataan.
Lucas tidak tahu harus merespon seperti apa saat mengetahui kalau dia sudah bukan lagi calon ayah. Lucas tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa. Dia merasa hampa.
Anak yang terlambat diketahuinya, anak yang bahkan belum Lucas ketahui jenis kelaminnya. Anaknya yang belum terlahir dan melihat indahnya dunia sudah direnggut darinya.
Lucas belum mengatakan pada dunia kalau ia akan segera menjadi seorang ayah. Lucas belum sempat membelai perut istrinya dimana buah cinta mereka tinggal. Rasany sangat hancur ketika Lucas belum sempat mengatakan kalau dia begitu mencintai mereka dan sudah menunggu kehadirannya untuk melengkapi hidupnya.
Bukankah Lucas sudah menjadi suami dan ayah yang buruk sekaligus? Lucas belum mengatakan kalau ia begitu sangat berbahagia mengetahui bahwa ia akan menjadi seorang ayah.
Air mata Lucas terjatuh melewati pipinya yang sedikit tirus. Isak tangis itu terdengar sangat lirih dan menyakitkan.
Erick menatap Lucas dengan pandangan yang sangat sulit diartikan. Erick bisa merasakan kepedihan Lucas, merasakan naluri sebagai seorang ayah yang kehilangan anaknya. Anak pertamanya.
“Apa Lindsey berada di dalam?” tanya Lucas setelah berhasil menahan dirinya untuk tetap tenang. Mencoba untuk tetap tenang disaat ia rasanya ingin membunuh dirinya sendiri. Tapi dia harus kuat karena ada seseorang yang lebih hancur darinya.
Erick mengangguk pelan.
“Apa aku boleh masuk?”
Lagi-lagi Erick mengangguk pelan.
Dengan langkah gontai Lucas masuk ke dalam ruangan istrinya. Mata Lucas langsung terpaku pada Lindsey yang duduk di atas sebuah kursi roda sedang menatap ke luar jendela. Central park yang hijau dan luas dapat dilihat dari ruang inap istrinya.
“Aku tidak tahu ia ada.” Lindsey berkata dengan lirih. Lucas tahu, dari suara Lindsey ia bisa memastikan kalau istrinya ini sangat syok dan hancur.
Isakan kecil mulai terdengar. Lucas memilih menggenggam tangan Lindsey semakin erat. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Lucas berusaha menyalurkan kehangatan melalui tangan istrinya yang terasa dingin.
“Dan saat aku tahu dia ada, dia langsung pergi.” Isakan Lindsey tidak lagi kecil. Wanita itu kini menangis dengan kuat.
Lucas yang menggenggam tangannya dari samping juga ikut menangis. Lucas yakin yang dirasakan istrinya saat ini jauh lebih sakit dari yang ia rasakan.
“Rasanya sakit sekali Lucas. Ia ada bersamaku selama ini tapi aku tidak merasakannya.” Lindsey benar-benar menangis dan rasanya jantung Lucas diremas dengan sangat kuat.
“Aku ibu yang buruk, aku membiarkannya pergi. Anakku, anak kita.” Lindsey menyalahkan dirinya membuat Lucas semakin merasa hancur.
Dengan pelan Lucas memutar kursi roda istrinya dan membenamkan kepalanya diantara kedua paha Lindsey sambil terus menggenggam tangan istrinya itu.
“Semuanya salahku.” ucap Lindsey lagi.
Lucas mendongak dan menggeleng pelan.
“No baby, it’s not your fault. It’s me” ucap Lucas pelan sambil mengusap kedua tangan Lindsey yang ada di genggamannya dengan ibu jarinya dan sesekali menciumnya lembut.
“Kalau saja aku tidak memberitahukannya pada Bryan, anak kita mungkin masih ada.” Air mata Lindsey tidak berhenti mengalir. “Aku terlalu bahagia saat mengetahui kalau ada nyawa lain di dalam tubuhku. Aku ingin memberitakan pada orang yang kuanggap penting kalau aku akan menjadi seorang ibu.” Lindsey berbicara dengan air mata yang terus mengalir namun tatapannya terasa kosong. “Tapi ia memilih pergi.”
Lindsey menurunkan pandangannya menatap Lucas yang saat ini sudah menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Namun sialnya tatapan Lucas membuat Lindsey semakin merasa bersalah.
“Maafkan aku,” ucap Lindsey dan air matanya kembali terjatuh. “Maafkan aku, aku memisahkan kalian,” Lindsey berbicara dengan kosa kata yang tidak terlalu jelas karena ia berbicara sambil menangis.
Melihat Lindsey yang seperti ini benar-benar membuat Lucas semakin hancur. Lucas menegakkan tubuhnya dan memeluk Lindsey dengan erat. “Ssstt, sayang itu bukan salahmu.”