
Lindsey membuka matanya dan mendapati dirinya tertidur sendirian di kamar. Tidak ada Lucas di sampingnya.
Ia melirik jam dinding yang ternyata sudah pagi. Tapi pagi ini ia tidak merasa seperti biasanya. Ia merasa tidak nyaman karena Lucas tidak memeluknya seperti biasa. Apa Lucas tidur di ruang kerjanya?
Mungkin suaminya itu terlalu lelah bekerja, sehingga membuatnya harus tidur di ruang kerja.
Lindsey bangun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya sebentar kemudian turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan Lucas.
Tapi sebelum itu, ia terlebih dahulu berjalan menuju ruang kerja Lucas untuk melihat lelaki itu dan mendapati lelaki itu tertidur di sofa.
Lindsey meringis melihat Lucas yang tertidur tanpa selimut dan bantal. Istri macam apa ia sampai membiarkan suaminya tertidur di ruang kerja bahkan tanpa bantal dan selimut?
Dengan langkah pelan, Ia mendekati Lucas dan menggoyang-goyangkan tubuh suaminya itu dengan perlahan.
“Lucas..” panggilnya pelan sambil menggoyang-goyangkan tubuh Lucas agar terbangun.
“Lucas.” panggilnya lagi, kali ini ia bisa merasakan Lucas menggeliat karena terganggu.
“Tidurlah di kamar.”
Dengan perlahan Lucas membuka matanya dan mendapati Lindsey tengah tersenyum di depannya.
“Jam berapa sekarang?” tanyanya serak.
“Sudah pagi.”
“Aku ada rapat jam 8 pagi.”
“Kalau begitu kau harus segera mandi, aku akan menyiapkan sarapan.” Lindsey berdiri dan berjalan keluar ruang kerja Lucas. Tapi sebelum ia mencapai pintu, suara Lucas kembali terdengar, pelan.
“Jangan pergi. Apapun yang terjadi, jangan pernah pergi.”
Lindsey memutar tubuhnya dan mendapati Lucas tengah menatapnya dalam. Ia sebenarnya tidak mengerti maksud lelaki itu, jadi ia hanya tersenyum tipis.
“Aku hanya ke dapur menyiapkan sarapan untukmu.”
Lucas mengulurkan kedua tangannya ke arah Lindsey membuat wanita itu kembali mendekati Lucas dan meraih tangan suaminya itu. Bukannya terbangun Lucas malah menarik kedua tangannya dengan kuat sehingga Lindsey terjatuh di atas dada bidangnya.
Kedua tangan Lucas langsung merengkuh badan Lindsey yang sudah berada di atasnya. Ia memeluk tubuh istri seksi-nya itu dengan erat.
Jantung Lindsey berdetak cepat, ia merasa sangat senang mendengar pernyataan Lucas yang tiba-tiba seperti itu.
“Aku juga mencintaimu, Lucas.” ucapnya pelan dengan wajah yang sudah memerah. “Bisa aku menyiapkan sarapan sekarang?” tanyanya berusaha menetralkan jantungnya yang mulai menggila.
“Berjanjilah kau tidak akan pergi.”
“Lucas, aku tidak kemana-mana. Aku di sini bersamamu, selamanya.”
“Janji?”
Lindsey menarik kepalanya dan menatap Lucas bingung, “Sebenarnya ada apa Lucas? Kita sudah pernah membahas ini sebelumnya. Kau berkali-kali memintaku untuk tidak pergi. Aku bahkan tidak punya alasan untuk pergi. Aku mencintaimu.”
“Kau akan pergi ketika kau menemukan alasannya. Berjanjilah padaku, baby.”
“Alasan apa?"
“Berjanjilah sayang, ku mohon.”
“Iya, aku berjanji tidak akan pergi. Bisa sekarang lepaskan aku? Kau harus bersiap-siap, dan aku juga harus menyiapkan sarapan untukmu.”
“Tunggulah sebentar lagi, aku masih nyaman dengan posisi seperti ini.” Lucas meraih kepala Lindsey dan memposisikan nya di dadanya.
Cukup lama mereka berada di posisi itu, tubuh Lindsey yang berada di atas tubuh Lucas, mereka berpelukan dalam diam. Sesekali Lucas mencium puncak kepala istrinya dengan lembut penuh kasih.
“Aku menginginkanmu, baby.”
“Ta-tapi ini sudah pagi Lucas.” ucap Lindsey gugup saat ia bisa merasakan sesuatu yang mengganjal di perutnya.
“Tidak apa-apa.” ucap Lucas serak. Ia mulai menarik tubuh Lindsey lebih ke atas dan mencium bibir ranum istrinya itu dengan kuat.
“Lu-Lucas kau ha-harus bekerja.” Lindsey berusaha melepaskan diri dari serbuan bibir Lucas yang menggoda.
“Pekerjaan bisa menunggu baby, tapi tidak dengan adikku.” Ucapnya masih terus menyerbu wajah Lindsey dengan ciuman-ciuman panasnya.
Lindsey hanya bisa pasrah mengikuti keinginan sang suami.