
Mobil yang mereka tumpangi sudah melaju membelah jalanan kota New York. Sama seperti saat pertama ia menginjakkan kakinya di kota ini, Lindsey kembali menatap setiap bangunan-bangunan tinggi itu dengan pandangan memukau.
Tidak ada yang berubah.
“Kita akan kemana?” tanya Lindsey kemudian setelah mobil yang mereka tumpangi melewati gedung milik Lucas dan juga tidak melaju ke arah mansion suaminya itu.
“Tentu saja bertemu Lucas,”
“Tapi kita baru saja melewati ka—”
“Lucas sedang menemui seseorang, jadi kita akan langsung menemuinya juga.”
“Apa kita tidak akan menggangu pertemuan mereka?” tanya Lindsey merasa bersalah karena akan mengganggu Lucas.
Erick terdiam sejenak. Kali ini sadar dengan ucapan Patrick beberapa waktu yang lalu yang mengatakan kalau Lindsey sangat pengertian, ia tidak akan mengganggu Lucas ketika lelaki itu bekerja. Seperti sekarang ini, putrinya itu bahkan belum mengganggu Lucas, tapi sudah merasa bersalah lebih dulu. Erick mendengus sebal, beruntung sekali menantu bajingannya itu mendapatkan putrinya.
“Tentu saja tidak mengganggu.” Ucap Erick kemudian, “Lindsey, kau harus mengganggu Lucas sesekali saat ia bekerja. Setidaknya mencari tahu apakah lelaki itu akan memilihmu dibandingkan pekerjaanya. Terkadang kaum pria akan melupakan dunia saat mereka bekerja.”
“Lucas selalu memilihku ayah,”
“Bagaimana kau tahu? Kau bahkan tidak pernah memberinya pilihan.”
“Tentu saja aku tahu, sikapnya sudah menunjukkan kalau ia akan selalu memilihku.”
Erick tersenyum, “Ayah selalu berdoa untuk kebahagiaanmu.” Ucapnya lembut sambil mengelus puncak kepala putrinya dengan sayang.
Lima belas menit kemudian mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah gedung apartemen. Lindsey memperhatikan gedung itu dengan seksama. Ia tidak pernah ke sini sebelumnya.
“Apa Lucas ada di dalam?” tanyanya.
“Tentu saja dia ada di dalam. Patrick yang mengirimkan alamat ini pada ayah, jadi seharusnya Lucas memang berada di sini.”
Mereka memasuki gedung apartemen itu lalu melangkah menuju lift. Erick menekan angka tujuh belas.
Jantung Lindsey berdetak lebih cepat. Ia sudah sangat merindukan Lucas, dan sebentar lagi ia akan bertemu dengan lelaki itu. Dengan pelan, Lindsey mengelus perutnya. Anaknya akan segera bertemu dengan ayahnya. Ia sudah menunggu hari ini tiba sejak beberapa bulan yang lalu.
Demi putri kesayangannya ia bahkan rela turun tangan sendiri untuk mencari apartemen itu. Bisa saja Erick menyuruh supirnya untuk mengantarkan dan mencari apartemen itu sendiri, tapi ia tidak mau. Setidaknya Erick ingin terlihat berguna dihadapan putrinya walau barang sekali saja.
Langkah kaki Erick berhenti setelah ia menemukan pintu dengan angka yang sama dengan yang ada di pesan yang dikirimkan Patrick padanya. Erick berbalik, melihat putrinya itu menunduk.
“Lucas ada di dalam,” ucapnya. Lindsey mendongak lalu mengangguk.
“Ayah akan turun terlebih dahulu. Berbicaralah dengannya, jangan emosi ingat kau sedang mengandung cucuku.” Ucap Erick lalu berbalik meninggalkan Lindsey. Erick sendiri sebenarnya tidak tahu sedang apa Lucas di tempat ini. Tapi tidak penting sedang apa, yang penting putrinya itu akan bertemu dengan menantu bajingannya.
Setelah kepergian Erick, Lindsey menekan bel apartemen itu dengan jantung yang berdegup kencang. Apa Lucas tahu ia akan datang? Tapi kenapa tidak ada yang membuka pintu itu? sekali lagi Lindsey menekan bel. Beberapa saat kemudian pintu itu terbuka dan menampakkan wajah syok Patrick.
“Nyonya?” panggilnya terkejut.
Lindsey menatap Patrick takjub. Ini kali pertama ia melihat raut wajah lelaki itu berekspresi selain ekspresi datar. Tapi kenapa Patrick seakan terkejut melihat kedatangannya? Apa ayahnya tidak memberitahu Patrick kalau ia akan datang?
“Patrick?” panggil Lindsey.
Patrick mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum ia benar-benar sadar. “Nyonya?” panggilnya lagi, seakan masih belum percaya.
“Iya, ini aku. Apa Lucas ada di dalam?” tanya Lindsey.
“Siapa Patrick?” tanya suara berat dari belakang Patrick.
Ah, suara itu. Lindsey sangat merindukannya. Lindsey mendorong tubuh Patrick dan masuk ke dalam apartemen itu dengan semangat.
Dan apa ini? Lucas sedang memeluk tubuh perempuan yang ia ketahui adalah seorang wanita Lucas.
Lindsey terdiam. Ia tidak tahu harus bagaimana. Bibirnya kelu, kakinya kaku dan ia hanya bisa diam membisu.
“Maaf mengganggu kalian.” ucap Lindsey dengan datar.
Ia lalu berbalik meninggalkan apartemen itu, sekali lagi ia mendorong Patrick yang terlihat menghalangi jalannya. Lindsey menahan tangisnya. Ia keluar dan berjalan cepat mengabaikan panggilan Patrick. Ia tertawa miris, Lucas sudah menemukan penggantinya. Wanitanya itu juga sedang hamil dan lebih besar darinya.
Lucas sialan.