
Tatapan Lucas yang tajam serta raut wajahnya yang datar, membuat tubuh Lindsey menegang kaku.
Lindsey tidak tahu kalau Lucas akan menatapnya dengan tatapan seperti itu.
“Kau terkejut?” Lucas bertanya datar. Sama halnya dengan raut wajahnya yang juga datar.
Tidak ada tanggapan maupun pergerakan dari Lindsey. Ia masih shock mendengar pernyataan Lucas barusan. Ia terdiam kaku.
Lucas berjalan mendekati Lindsey. Namun kaki istrinya itu reflek mundur menjauh, membuat Lucas berhenti berjalan seketika. Melihat Lindsey yang terkesan menjauh darinya membuat ia merasa tertolak. Ia tidak suka itu.
“Sepertinya kau masih shock, kalau begitu aku akan pergi.” Lucas berucap sambil terus menatap Lindsey. Mengamati raut wajah istrinya itu, tapi yang ia lihat hanya raut syok. Lucas berbalik lalu berjalan menuju pintu kamar mereka. Tapi sebelum ia keluar, ia menoleh, menatap Lindsey yang masih diam.
“Makanlah, aku yakin kau pasti kelaparan.” katanya lalu menghilang di balik pintu.
Lindsey menatap pintu yang sudah tertutup itu dengan pandangan sayu. Lucas mengakui kalau ia bukanlah seorang gay seperti yang ia kira selama ini. Tapi kenapa Lucas menyembunyikan fakta itu?
Dengan tertatih, Lindsey berjalan menuju nampan yang berisi makanan. Ia bisa melihat makanan yang ada di nampan itu memang ditujukan untuk dua orang. Ia yakin makanan itu untuk dirinya dan Lucas.
Lindsey lalu duduk di pinggiran tempat tidur. Seketika ia merasa galau dan kesal secara bersamaan. Bukankah ia ingin agar Lucas menjadi normal? Tapi kenapa setelah mengetahui kalau suaminya bukan gay, ia malah membuat Lucas menjauhinya?
Lindsey menghela napas rendah lalu berdiri, berusaha berjalan untuk mengambil ponselnya yang berada di meja di sebelah tempatnya tidur.
Sayangnya rasa nyeri yang ia rasakan pada bagian bawah tubuhnya membuat Lindsey harus kembali terduduk. Kenapa ia merasakan sakit ini lagi? Padahal barusan rasa sakit ini tidak se-nyeri sekarang.
Mungkin karena sedari tadi ia tidak fokus pada tubuhnya melainkan fokus pada Lucas, suaminya.
Lindsey baru akan kembali berdiri saat pintu kamar tiba-tiba terbuka. Lucas berdiri di sana. Lelaki itu hanya menatapnya datar. Tidak lama karena lelaki itu langsung berlalu menuju walk in closet.
Tidak membutuhkan waktu lama, Lucas sudah keluar dari ruangan itu dengan penampilan yang rapi. Lelaki itu memakai setelan kerja. Sepertinya Lucas akan ke kantor.
“Lucas,” panggil Lindsey saat lelaki itu sampai ke pintu.
Langkah kaki Lucas terhenti. Ia menoleh menatap Lindsey dengan datar. Tidak ada tanggapan, Lucas hanya menatap Lindsey. Menunggu apa yang akan dikatakan oleh istri seksinya itu.
“Apa kau akan ke kantor?”
Sebenarnya tidak perlu bertanya, dengan setelan formal seperti itu Lucas tidak mungkin pergi berjemur di pantai. Lindsey merutuki kebodohannya atau mungkin rasa gugupnya.
Tidak ada jawaban dari lelaki itu, tapi Lindsey melihat Lucas mengangguk. Setidaknya Lucas tidak benar-benar mengabaikannya. Oke! Itu adalah suatu pertanda yang bagus.
“Ayo makan bersama, aku tidak kuat menghabiskan makanan itu sendirian.” Lindsey menunjuk pada nampan yang belum ia sentuh sama sekali.
Lucas menatap Lindsey datar, “aku belum lapar.” serunya lalu kembali melangkahkan kakinya menuju pintu. Ia meraih gagang pintu dan membukanya.
“Lucas.” panggil Lindsey lagi.
Lagi-lagi Lucas harus menghentikan langkahnya dan menoleh pada Lindsey yang sedang menunduk. Ia merutuki dirinya sendiri kenapa ia tidak sanggup mengabaikan istrinya itu.
“Sakit,” ucap wanita itu dengan suara serak seperti hendak menangis. Ia menunduk, merasa sakit hati saat Lucas menolak makan bersamanya. Ia tidak ingin Lucas bersikap seperti itu padanya.
Seperti biasa Lucas memang selalu bersikap datar, tapi entah kenapa sikap datar yang baru saja Lucas tunjukkan terasa berbeda. Tidak seperti biasanya. Sikap datar barusan terasa asing dan Lindsey tidak menyukai itu.
Suara langkah kaki Lucas yang mendekat membuat Lindsey mendongak. Ia menatap Lucas dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Bagian mana yang sakit?” tanya Lucas datar. Namun kali ini nada datarnya yang sudah kembali seperti biasa. Ia menatap istrinya itu sedikit khawatir.
Pipi Lindsey langsung bersemu merah karena malu. Ia tidak sepenuhnya bohong dengan kata sakit itu, karena bagian bawah tubuhnya memang masih terasa sakit.
Lucas berjongkok di hadapan Lindsey, “apa yang kau butuhkan?” tanyanya karena sepertinya ia tahu bagian mana yang istri seksinya itu rasakan sakit.
“Aku lapar.” ucap Lindsey pelan kemudian ia menunduk.
Senyum tipis langsung terbit di bibir Lucas. Seperti biasa senyum itu hanya bisa dilihat oleh orang yang beriman saja. Ia berdiri lalu mengambil nampan yang berisi makanan itu.
“Bergeraklah lebih ke tengah.” pinta Lucas datar.
Lindsey mengangguk dan bergerak ke tengah tempat tidur mereka. Lucas meletakkan nampan yang berisi makanan itu di hadapan Lindsey.
“Makanlah.”
“Kau juga ikut makan,”
“Kalau begitu aku juga tidak ingin makan,”
Kening Lucas mengerut, ia menatap Lindsey yang sedang menundukkan kepalanya.
“Bukankah barusan kau berkata lapar?” tanya Lucas memastikan. Tidak mungkin rasa lapar itu langsung berubah jadi kenyang kalau perut tidak diisi. Lindsey mengangguk membuat kerutan di kening Lucas semakin dalam.
“Lalu kenapa tidak ingin makan?” tanyanya.
“Aku ingin makan bersamamu,”
Keheningan terjadi diantara mereka berdua. Lucas diam begitupun dengan Lindsey. Apa Lindsey mengatakan sesuatu yang salah? Ia hanya sedang berusaha terbuka.
Lindsey masih terus menunduk, ia tidak berani menatap Lucas. lelaki itu juga belum bergerak sama sekali. Ya Tuhan kenapa tiba-tiba Lindsey merasa sesak dan sulit bernapas ya? Apa ia terlalu gugup?
Gerakan Lucas yang tiba-tiba terasa, membuat jantung Lindsey menggila. Apa yang akan lelaki itu lakukan? Kenapa terasa semakin sesak sekarang? Ditambah lagi Lucas yang kembali mengangkat nampan berisi makanan itu menjauh.
Seketika perasaan kecewa langsung menyelimuti Lindsey. Apa Lucas benar-benar marah padanya sampai tidak ingin makan bersama dengannya? Air mata Lindsey sudah berkumpul di ujung matanya. Tapi air mata itu tidak boleh jatuh. Ia harus menahannya.
Bersamaan dengan itu, Lindsey terpekik kaget saat merasakan tubuhnya tiba-tiba melayang. Lucas menggendongnya dan membawanya ke arah sofa yang ada di seberang tempat tidur mereka.
“Lu-Lucas!” panggilnya terbata-bata karena masih terkejut.
“Kita akan makan di sofa, tidak baik makan di tempat tidur.” ucapnya datar.
Perasaan kecewa yang baru saja ia rasakan langsung hilang tak berbekas dan terganti dengan senyum manisnya seperti biasa, ia terlalu memikirkan yang tidak-tidak tentang Lucas.
Lelaki itu mendudukkannya di sofa panjang lalu diikuti dengan Lelaki itu yang duduk disebelahnya. Lucas mengambil makanan untuk Lindsey dan menyuruh wanita itu makan duluan.
Lindsey mengangguk dan mulai memakan makanannya. Melihat Lindsey yang sudah mulai makan, Lucas juga mengambil makanan untuknya dan mulai menyantapnya. Mereka makan dalam keheningan.
“Lucas,” panggil Lindsey setelah ia selesai makan. Lucas juga sudah selesai makan karena lelaki itu sedang sibuk dengan ponselnya.
“Hmm.”
“Apa aku merepotkanmu?”
“Tidak.”
“Apa kau marah padaku?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa kau menyembunyikannya?”
Lucas menoleh menatap Lindsey yang juga tengah menatapnya sayu. Kenapa? Kenapa apa?
“Menyembunyikan apa?”
“Kenyataan,”
Lucas langsung memalingkan wajahnya sejenak, kemudian kembali lagi menatap Lindsey, “apa kau sudah selesai?”
Wanita itu mengangguk dan tersenyum. Lucas mengalihkan pembicaraan mereka.
“Aku harus pergi ke kantor.” ucapnya kemudian hendak menggendong Lindsey dan membawanya ke tempat tidur. Tapi Lindsey bergerak menolak.
“Tidak perlu, aku masih ingin duduk di sini.” ucapnya datar.
“Bukankah masih sakit?”
“Hanya sakit, aku tetap masih bisa berjalan.”
Lucas bisa merasakan aura yang berbeda dari Lindsey hanya dalam sekejap. Tapi ia tidak ingin terlalu memikirkannya, ia harus ke kantor.
“Kalau begitu aku pergi.” ucap Lucas lalu mencium kening Lindsey dengan lembut. Tak lupa ia juga membawa nampan bekas makanan mereka keluar. Lucas tidak membiarkan siapapun masuk ke dalam kamar mereka.
Lindsey menatap punggung Lucas dengan datar. Ia lalu tersenyum, ternyata semua orang memang sama saja. Pembohong.
Itu juga mengapa ia tidak akan pernah terbuka pada orang lain.