Not Yet Yours

Not Yet Yours
Chapter 15



Lindsey termenung di balkon kamar mereka -Lucas dan dirinya-. Kenapa Liliana bisa tahu Mansion Lucas? Ia tidak pernah berhubungan dengan Liliana. Tidak pernah sama sekali. Jadi dari mana Liliana tahu?


Dan lagi, kenapa adiknya itu terlihat akrab dengan Lucas? Apa mereka pernah bekerja bersama? Tapi seingatnya Lucas bukan seorang model.


Lindsey mendesah pelan. Kenapa juga ia harus memikirkan Liliana? Kalau Lucas, tentu saja karena ia mencintai lelaki itu, jadi wajar aaja ia cemburu melihat Liliana yang dekat dengan miliknya.


Terdengar konyol memang, Lindsey mengklaim bahwa suami gay-nya itu adalah miliknya. Pernikahan mereka saja membuat publik bertanya-tanya dan menjudge-nya sebagai wanita yang hanya menginginkan harta.


Dunia tahu kalau suaminya itu adalah seorang gay. Otomatis ketika ia menerima permintaan pernikahan dengan Lucas menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Tepat setelah ia resmi menyandang nama belakang Lucas di belakang namanya.


Banyak sekali netizen maha benar yang mengatakan kalau ia menikahi lelaki gay kaya raya karena ia seorang gold digger. Perkataan itu walau tidak benar, tetap saja menyakitkan dan mengganggunya.


Dunia melihat dari sisi yang terlihat saja. Padahal tidak semua yang terlihat itu nyata namun dunia tidak mau tahu tentang itu. Terlepas dari itu semua, yang Lindsey rasakan saat ini justru adalah rasa sesak.


Sesak karena ia jatuh cinta pada orang yang tidak tepat. Ia jatuh cinta pada orang yang jelas-jelas tidak akan meliriknya sama sekali.


Lindsey terkejut saat tiba-tiba sebuah lengan melingkar pada perutnya.


"Apa yang sedang kau pikirkan, hmm?"


"Eh, ti-tidak ada."


Detik selanjutnya Lindsey mencium bau parfum Lucas yang berbeda. Bau parfum Lucas bukan seperti ini. Bau Lucas biasanya maskulin sesuai dengan diri lelaki itu yang terasa laki.


Sedangkan bau ini lebih lembut, bukan lebih lembut mungkin lebih tepatnya baunya feminin. Lucas bukan lelaki feminin. Suaminya ini memang gay, tapi Lucas bukanlah yang menjadi peran perempuan pada pasangannya.


"Lucas." panggil Lindsey datar.


"Hmm?"


"Baumu berbeda."


Lucas sejenak melepaskan pelukan Lindsey lalu mengendus-endus tubuhnya. Seperti anjing yang mengendus makanan sebelum dimakan. Setelah mengendus ia kembali memeluk tubuh Lindsey.


"Sepertinya begitu, tadi Liliana memelukku." ucapnya datar.


Deg. Lindsey menelan salivanya susah.


"Kenapa?"


"Entahlah," ucap Lucas tak acuh. Ia tidak peduli dengan Liliana maupun wanita-wanita lainnya, yang jelas ia ingin menikmati saat seperti ini bersama istri seksinya ini.


"Apa sebelumnya kau dengan Liliana pernah dekat?" Lindsey menahan suaranya agar tidak bergetar. Ayolah, ia merasa cemburu di sini. Ia dan Liliana bukan adik-kakak yang akrab.


Mereka cenderung seperti orang asing.


Mungkin lebih tepatnya dia yang asing.


"Kenapa bertanya begitu?"


"Dia tahu alamatmu."


Lucas terdiam selama beberapa saat, tidak tahu hendak menjawab apa. Perempuan gila seperti Liliana memang selalu punya cara agar bisa bersama dengan dirinya. Namun sayangnya Lucas hanya ingin bersama dengan Lindsey saja.


"Mungkin dia mendapatkannya di internet." Lucas mengeratkan pelukannya pada perut Lindsey, membuat kupu-kupu seolah beterbangan di dalam perut Lindsey.


Lindsey tidak bertanya lagi. Jawaban Lucas walau terdengar tidak peduli tapi cukup masuk akal. Pasti banyak media yang berlomba-lomba mencoba mengorek informasi tentangnya, seperti apa saja usahanya dan di mana tempat tinggalnya mungkin.


Lagipula Lindsey sendiri juga merasakannya karena ia adalah seorang model yang cukup terkenal. Hadiah dari beberapa fansnya selalu datang ke rumahnya. Itu tandanya orang-orang mengetahui di mana ia tinggal, walau ia tidak pernah mengatakannya sama sekali bukan?


"Lindsey?" panggil Lucas membuyarkan lamunan Lindsey.


"Ya?"


"Apa kau merasa tidak nyaman ada Liliana di sini?" ia sendiri yang sebenarnya tidak merasa nyaman karena adanya Liliana.


Apa lagi ketika tadi ia ingin bertanya pada perempuan itu, bukan mendapat jawaban Liliana malah memeluknya dan mengatakan kalau perempuan itu benar-benar merindukannya. Perempuan gila.


"Apakah terlihat begitu?"


"Tidak juga, hanya saja aku teringat saat kita masih tinggal di London. Kalau kau memang tidak merasa nyaman, mungkin kita bisa menjauh."


"Hmm, seperti meninggalkannya di sini." ucap Lucas datar menunggu jawaban dari Lindsey. Jika wanita ini setuju maka mereka akan langsung pergi hari ini juga.


"Tapi bukankah itu keterlaluan? Maksudku ia baru saja sampai, dan kita adalah tuan rumah. Meninggalkan tamu yang baru datang menurutku itu bukan tindakan yang beretika."


Ah, Lucas lupa kalau istrinya ini bukanlah seorang yang tega. Sepertinya rencana menjauh itu hanya angan-angan. Terkutuklah segala etika yang ada!


"Baiklah." ucapnya datar.


Lindsey bisa menangkap nada tidak rela di suara Lucas. Ia tiba-tiba memikirkan cara agar lelaki ini kembali ke seharusnya. Datarnya yang biasa.


"Mungkin kita bisa pergi setelah liburan Liliana selesai." ucapnya berusaha menghibur Lucas.


"Hmm." balas Lucas tak niat. Kalau ia dan Lindsey pergi setelah Liliana selesai liburan, lalu apa bedanya dengan mereka tanpa Liliana?


"Kita bisa pergi jalan-jalan kalau kau mau." tawar Lindsey kala merasakan nada bicara Lucas yang semakin buruk.


"Seperti honeymoon?" tanya Lucas takjub.


"Piknik, mungkin." ucap Lindsey memperbaiki.


Lucas kembali lemas, "hmm" ucapnya lagi, tak minat.


Lindsey tersenyum kecut. Ia baru saja menolak ajakan honeymoon dari Lucas. Bukan tanpa alasan ia melakukannya. Ia ingin, benar-benar ingin honeymoon dengan Lucas. Tapi apa bedanya dengan ia selama ini?


Sekalipun ia dan Lucas pergi honeymoon, lelaki itu tetap gay. Seberapa banyak dan sering pun ia berciuman dengan Lucas, tetap tidak akan ada bedanya. Jadi tidak ada gunanya ia pergi honeymoon dengan Lucas, kerena tidak akan ada yang berubah.


Tidak ada.


Mereka masih berpelukan saat tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamar mereka tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Berhenti bermesraan kak!" Liliana berdiri dengan angkuh sambil menatap sinis pada Lindsey.


Mereka berdua membalikkan tubuh dan mendapati Liliana sedang bersidekap sambil menatap mereka sinis. Lebih tepatnya menatap Lindsey sinis. Kali ini kedua tangan Lucas sudah tidak memeluk perut Lindsey lagi melainkan pinggang wanita itu.


Mereka bermesraan karena mereka memang sepasang suami istri. Jadi apa masalahnya?


"Bisakah kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke dalam kamar orang lain?" tanya Lucas sinis pada Liliana, sebelah tangannya masih merangkul pinggang Lindsey mesra dan posesif.


"Oh, ayolah Lucas aku sedang liburan di sini dan kau mengasingkan ku? Setidaknya bawa aku jalan-jalan. London - New York tidak dekat kalau kau lupa." suara Liliana terdengar seperti sedang merajuk di telinga Lindsey dan ia tidak menyukai itu.


"Kau bisa pergi jalan-jalan sendiri." Lucas menatap Liliana tak suka.


"Beginikah kau memperlakukan seorang tamu?" kali ini nada bicara Liliana terdengar merengek.


"Aku tidak pernah memintamu datang."


"Oh ayolah Lucas, bawa aku jalan-jalan." rengekan Liliana semakin menjadi-jadi membuat Lucas bertambah kesal.


"Aku akan meminta Patrick untuk menyiapkan seorang supir agar mengantarmu kemana pun kau mau." putus Lucas.


"Tapi aku ingin bersamamu." ucap Liliana manja.


Jika seandainya yang manja dan merengek seperti ini adalah Lindsey, maka Lucas akan langsung membawa wanita itu kemanapun Lindsey mau. Tapi sayangnya yang sedang merengek manja di hadapannya ini adalah si perempuan gila.


"Aku sedang ingin bersama istriku." Lucas menekan kata istri pada kalimatnya membuat Liliana langsung menatap Lindsey tajam.


"Berhentilah memonopoli Lucas untukmu sendiri, kak." ucap Liliana sinis dengan tatapan tajam pada Lindsey.


Lindsey menatap Liliana datar. Ia tidak memonopoli Lucas. Ia bahkan tak bersuara sedari tadi, jadi bagaimana bisa Liliana mengatakan kalau ia memonopoli Lucas?


"Berhentilah menjadi egois, kak." lanjut Liliana sarkas.


Lindsey terdiam. Air matanya sudah berada di pelupuk, hanya tinggal berkedip dan air itu akan langsung jatuh. Kapan ia bersikap egois? Bahkan jika ia ingin pun, ia tetap tidak akan bisa bersifat egois.


"Kau ter-"


"Jaga bicaramu Liliana!" sentak Lucas memotong kalimat Liliana tajam. "Memangnya kenapa kalau Lindsey egois tentang ku? Apa masalahnya untukmu? Memang apa salahnya kalau Lindsey memonopoli ku untuknya sendiri? Aku miliknya dan ia berhak memonopoli ku untuknya sendiri!" ucap Lucas tegas dan tajam, sembari menatap Liliana dingin.


"Tidak akan ku biarkan!" sergah Liliana, "KAU MILIKKU LUCAS. SELAMANYA!" lanjutnya lagi menekan setiap kata dalam kalimatnya. Lalu berjalan keluar dari kamar Lucas.