Not Yet Yours

Not Yet Yours
Chapter 25



Lucas memasuki mansionnya dengan paket sialan yang masih berada di tangan kirinya. Sungguh sedari tadi ia sudah ingin membakar paket ini. Ia tidak peduli dengan isi paket sialan ini, yang jelas ia sangat membenci siapapun yang mengirim paket ini!


Rasa kesal sekaligus marah menguasainya kala mengetahui Lindsey pernah memiliki lelaki lain selain dirinya.


Dalam laporan yang diserahkan oleh Bernard saat masih di London pun, tidak tervantun nama laki-laki yang pernah dekat dengan Lindsey. Kecuali sahabat istrinya, George. Bahkan George sendiri mengakui kalau Lindsey tidak pernah dengan laki-laki manapun karena terlalu dikekang oleh kedua orangtuanya.


Jadi siapa lelaki sialan yang dengan sangat berani mengatakan bahwa Lindsey adalah miliknya?


Langkah kaki Lucas semakin lebar. Ia tidak memperdulikan siapapun yang menyapanya. Beberapa pelayan bahkan merasa ngeri melihat ekspresi dan aura yang keluar dari diri Lucas.


Dengan perasaan kesal, Lucas memasuki kamarnya. Mencari seseorang yang mengacaukan pikirannya hari ini. Namun tidak ada seorangpun yang ada di kamar ini.


Begitu kaki Lucas berjalan semakin dalam, ia bisa mendengar suara percikan air dari kamar mandi.


Seketika kekesalan dan kemarahan Lucas menguap tak berbekas, apalagi kala ia membayangkan Lindsey mandi dan bertelanjang bulat di dalam sana. Grrr! Lucas menelan ludahnya kelu. Adiknya mulai mengeras.


Lucas lalu membuang paket sialan itu ke tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Sambil berjalan, Ia membuka setiap lapisan pakaiannya dengan tergesa-gesa. Takut Lindsey selesai mandi.


Dengan perlahan ia membuka pintu kamar mandi, mendapati Lindsey tengah membasuh tubuh dengan gerakan yang menurutnya sangat seksi. Tubuh bagian bawah Lucas auto menegang semakin keras.


Ia mendekati Lindsey yang membelakanginya lalu mendekap wanita itu dari belakang dengan sangat erat. Ada rasa nyaman yang melingkupinya saat ia mendekap Lindsey seperti ini.


Wangi Lindsey yang lembut mampu membuat pikirannya kembali tenang. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya tanpa Lindsey. Hidupnya memang baik-baik saja sebelum ia menikah dengan Lindsey. Tapi sekarang jauh lebih baik lagi setelah ia bersama dengan Lindsey.


Bayangan Lindsey yang pergi bersama lelaki lain membuat Lucas semakin mengeratkan pelukannya. Ia tidak akan sanggup dengan bayangan itu. Tidak akan pernah sanggup.


---------


Lindsey melonjak kaget dan berteriak ketika merasakan seseorang tiba-tiba mendekapnya dengan erat dan semakin erat. Ia sangat takut. Namun ia kembali rileks kala indra penciumannya menangkap wangi Lucas.


Sial rasa kecewa dan kesedihanya sirma hanya setelah Lucas pulang dan memeluknya seperti ini. Apa cinta selalu selemah ini?


Tapi cinta memmag selalu memaafkan kan? dan secepat itu juga ia bisa memaafkan Lucas. sial.


"Lu-Lucas." panggilnya serak. Suhu tubuhnya meningkat saat merasakan bahwa Lucas yang memeluknya juga tidak sedang memakai pakaian.


Tapi Lindsey merasa ada yang tidak beres dengan Lucas. Tidak biasanya suaminya ini memeluknya seperti ini tanpa menciumi lehernya.


Lindsey tersipu malu dengan pikirannya sendiri. Apa ia yang terlalu berharap mendapat ciuman dari Lucas?


Tapi hey! Itu wajar. Lucas suaminya dan ia mencintai Lucas.


Lindsey tidak menyangkal perasaanya. Ia pernah jatuh cinta sebelumnya, jadi ia tahu bahwa yang ia rasakan pada Lucas adalah cinta. Lagipula siapa yang tidak akan jatuh cinta dengan lelaki yang berparas tampan bak dewa Yunani seperti Lucas?


Semua wanita pasti akan dengan mudah jatuh cinta padanya.


"Lucas," panggilnya lagi. Ia lalu mematikan keran air setelah tidak mendengar jawaban dari lelaki yang ada di belakangnya ini.


"Jangan pergi." suara Lucas akhirnya terdengar namun serak dan sarat dengan kefrustasian. Membuat Lindsey merinding sekaligus meremang.


Ada apa dengan Lucas? memangnya ia akan pergi ke mana?


"Lucas." panggil Lindsey pelan. Gairah yang awalnya timbul, tiba-tiba hilang saat ia mendengar suara Lucas yang frustasi, "ada apa?" tanyanya pelan dan lembut.


"Katakan kau tidak akan pergi," suara Lucas yang frustasi seperti itu membuat Lindsey merasa hatinya ikut tercubit.


"Aku tidak akan pergi." ucapnya lembut.


"Janji?"


"Aku mencintaimu, baby."


Deg


Tubuh Lindsey menegang kaku. Ia tidak salah dengar kan? Tapi telinga Lindsey tidak sedang bermasalah. Apa ia terkena fatamorgana?


"Lu-Lucas." suara Lindsey berubah gugup.


Dengan kecepatan kilat, Lucas memutar tubuh Lindsey sehingga saat ini mereka berhadap-hadapan. Ia menatap Lindsey intens. Mengamati wajah Lindsey yang cantik, mata istrinya balas menatapnya dengan berkaca-kaca.


"Ada apa? Kenapa kau menangis?" seketika Lucas khawatir. Apa ia salah bicara barusan? Sungguh ia hanya ingin mengatakan perasaannya. Benar kata Jonathan, ia memang mencintai Lindsey. Ia mengakuinya sekarang.


Melihat Lucas yang panik membuat ia tersenyum walau air matanya menetes. Ia merasa sangat senang kala mengetahui Lucas khawatir padanya. Ia memejamkan mata kala Lucas menghapus bekas air yang ada di pipinya.


"Jangan menangis." ucap Lucas.


Lindsey menggeleng pelan dengan seulas senyum manis dan tulus terbentuk di bibirnya.


"Aku senang." ucapnya pelan.


Awalnya Lucas menatap Lindsey bingung, tapi senyum Lindsey berhasil membuat otaknya beku dan jatuh ke dengkul. Mereka bertatapan dengan intens. Entah siapa yang memulai tapi bibir mereka bertemu kemudian dan seketika suhu langsung meningkat.


Tangan kanan Lucas meraih kran shower dan menyalakannya lalu memutar kran yang lain untuk mengatur agar suhu air itu menurun dan menjadi air dingin. Tanpa melihat pun ia sudah hapal setiap letak dan fungsi yang ada di kamar mandinya.


Mereka berciuman dengan panas dibawah guyuran air shower yang dingin. Lucas tidak tinggal diam, tubuhnya dan tubuh Lindsey sudah telanjang sedari tadi. Ia mencium seluruh permukaan kulit Lindsey dengan bibir panasnya.


Lindsey hanya bisa meremas rambut basah Lucas dengan keras karena sulit menahan rasa nikmat yang diberikan Lucas di tubuhnya.


"Lucas..." Lindsey mendesah tidak karuan. Tubuh bawahnya sudah basah sedangkan Lucas masih tetap menciumi lehernya.


Ciuman panas Lucas akhirnya turun ke payudaranya. Mengulum payudara Lindsey dengan lembut dan menggigit-gigitnya kecil, membuat Lindsey hanya bisa membuka mulutnya tanpa berkata-kata lagi. Ia juga tak lupa mengulum aset bagian atas Lindsey yang satunya dengan sama lembutnya.


Tangan kanan Lucas bergerak turun dan menyentuh pusat tubuh Lindsey. Ia memasukkan jarinya dengan perlahan dan membuat kewarasan Lindsey lenyap seketika.


"Kau sudah sangat siap untukku, baby." ucap Lucas serak.


Lucas kembali mencium bibir Lindsey, sedangkan tangan kanan Lucas mengangkat paha kiri Lindsey dan memasukkan miliknya ke dalam rumahnya dengan sekali hentakan.


Mereka melenguh saat merasakan kenikmatan itu bersamaan. Setelah beberapa saat, Lucas kemudian menggerakkan tubuhnya dengan pelan lalu semakin cepat hingga mereka mencapai pelepasan mereka bersama.


"Aku mencintaimu." ucap Lucas lalu mencium leher Lindsey kuat. Meninggalkan tanda kepemilikannya di sana.


"Aku juga mencintaimu, Lucas." Lindsey  menatapnya sambil terengah-engah.


Tubuh Lucas menegang. Ia tidak salah dengar kan?


"Ucapkan sekali lagi." nada perintah itu keluar begitu saja dari bibir Lucas membuat Lindsey tersenyum.


"Aku mencintaimu, Lucas." Lindsey mengulangi kalimatnya.


Lucas tersenyum lebar. Ini kali pertama Lindsey melihat Lucas yang tersenyum sangat lebar seperti itu.


"Ayo kita mandi sebelum masuk ke ronde kedua." ucap Lucas menggoda Lindsey, wanita itu hanya tersenyum dengan pipi yang sudah bersemu merah.


Ternyata Lucas memang benar-benar mencintai istrinya, Lindsey.