
*S**edangkan disisi lain*
Seorang lelaki berwajah tampan dan bermata biru sedang duduk sambil meminum Long Island dengan santai di ruang VVIP sebuah club malam. Tak lama kemudian beberapa pria yang memiliki badan tegap menghampirinya dan menunduk hormat.
“Kau sudah mendapatkan yang ku mau?” tanya lelaki tampan itu sambil membuat gerakan memutar pada gelas minuman yang ada di tangan kanannya.
“Sudah sir.” ucap salah satu pria yang berkepala plontos sambil menyerahkan sebuah map pada lelaki itu.
Lelaki itu meletakkan gelasnya lalu menerima map itu kemudian membaca isi yang ada di map itu sejenak. Mata indahnya mengamati setiap barisan kata yang tertera di map itu dan tak menunggu waktu lama karena senyum tipis langsung terukir di wajah tampannya.
“Siapkan mobil.” ucapnya dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya yang membuatnya semakin terlihat tampan.
“Tapi Sir,” sela salah satu pria yang memiliki badan tegap itu dengan ragu-ragu.
Lelaki itu tidak menjawab tapi ia hanya sedikit memiringkan kepalanya tanda ia menunggu dan mendengarkan.
“Nona itu sudah menikah.” ucap pria itu lagi dengan nada pelan.
“Aku tahu, aku tidak membutuhkan informasi seperti itu tentangnya.”
“Lalu bagaimana anda bisa tahu, sir?”
“Tentu saja aku tahu, pernikahan mereka sangat mendadak dan mengejutkan. Gadisku menikahi seorang gay, lagipula mereka tidak merahasiakan pernikahan itu.”
“Maafkan saya sir, tapi fakta yang kami temukan selanjutnya sepertinya cukup mengejutkan."
Lelaki yang memiliki mata berwarna biru itu menoleh dengan sorot mata yang tajam dan dingin. “Apa maksudmu?” desisnya tajam, ia kembali membuka map itu dan membolak-balikkan kertas yang ada di map itu dengan kasar.
“Maaf sir informasi mengenai ini tidak ada di map karena informasi ini sangat tertutup. Salah satu detektif yang anda sewa mengatakan kalau suami gadis anda bukanlah seorang gay seperti yang selama ini diketahui publik,"
“Jadi maksudmu gadisku menikahi seorang lelaki normal?!”
Pria yang memiliki badan tegap itu mengangguk dengan takut-takut.
“Sialan!” lelaki itu memukul meja yang ada di depannya dengan kuat. Semua orang yang di ruang VVIP itu menunduk ketakutan.
“Sir, mobil anda sudah siap.” Salah satu dari anak buah lelaki itu memasuki ruang VVIP lalu berbicara. Namun kelihatan sangat jelas jika orang tersebut juga sangat ketakutan.
Tanpa menunggu lagi, lelaki itu langsung berjalan keluar dan memasuki mobil yang bergaya limusin yang sudah berdiam di lobby club malam tersebut.
“Pulang.” ucapnya datar sekaligus dengan aura dingin pada supir yang bertugas mengantarnya malam ini.
Pikiran lelaki itu kacau. Baru saja ia bisa tersenyum karena gadisnya itu sudah hidup bebas dari keluarganya. Ia juga masih bisa tersenyum walau gadisnya sudah menikah karena gadisnya dinikahi oleh lelaki gay yang jelas-jelas tidak akan menyentuh gadisnya itu.
Tapi ternyata ia salah.
Lelaki itu memejamkan matanya, ia kecolongan satu hal mengenai lelaki gay sialan yang ternyata adalah seorang laki-laki normal itu. Sialan!!!
Jika saja ia tahu dari awal kalau lelaki sialan itu bukanlah seorang gay, sudah pasti dan sangat jelas ia akan menghancurkan dan mengacaukan pernikahan tersebut dan membawa kabur gadisnya itu di hari H pernikahan mereka.
Tapi sialnya ia terlambat.
Ini tidak bisa dibiarkan. Lindsey adalah gadisnya! Miliknya, dan selamanya akan seperti itu. Ia tidak akan membiarkan gadisnya bersama dengan lelaki banci itu terlalu lama.
Ia harus bertindak secepatnya sebelum Lindsey-nya berpaling darinya!