
Rasanya hari ini Lucas sudah gila. Sejak pagi hingga siang ini, ia tidak bisa berhenti memikirkan permintaan istrinya yang mengerikan tersebut.
Bahkan ia tidak bisa berkonsentrasi selama rapat berlangsung. Padahal rapat tersebut adalah rapat yang bernilai miliaran dollar. Patrick mengacaukan kegiatannya dengan Lindsey tadi pagi juga karena rapat ini. Sial, permintaan tidak masuk akal Lindsey benar-benar mengacaukan harinya dan pekerjaannya.
Lucas melangkah memasuki mansionnya, tidak perlu bertanya karena Patrick sudah lebih dulu bertanya padanya dengan datar.
“Kenapa anda sudah pulang sir? Bagaimana hasilnya?” tanya Patrick sambil melangkah mensejajarkan diri dengan Lucas.
Lucas berhenti berjalan dan menoleh ke arah Patrick. “Kau yang urus.” Ucapnya lalu berjalan meningglkan Patrick yang terdiam di tempatnya.
Detik selanjutnya Patrick sudah tersadar dan langsung menyusul Lucas. "Sir, itu tugas Anda."
"Dan aku melimpahkannya padamu. Apa ada masalah?" tanya Lucas ambil terus berjalan.
“Saya tidak menghadiri rapat sir, jadi saya ti-”
“Proposalnya ada di atas meja kerjaku di kantor.” potong Lucas tanpa menoleh sedikitpun.
Patrick berhenti berjalan sementara Lucas masih terus berjalan semakin menjauh. Tapi sedetik kemudian ia melihat Lucas berhenti dan berbalik.
Akhirnya ia sadar juga, Batin Patrick senang.
“Dimana istriku?”
Booom! Ternyata apa yang ada di pikirannya meleset. Kenapa Lucas memberinya pekerjaan yang ia tidak ikuti perkembangannya, sih?
“Patrick!”
“Nyonya ada di kamar, sir.” Ucap Patrick tersadar dari lamunannya.
Tanpa menunggu lagi, Lucas langsung berjalan menuju kamarnya. Padahal ia mengira kalau Lindsey akan berada di taman belakang.
Dengan kasar ia membuka pintu kamar dan menutupnya dengan kencang, membuat Lindsey yang berada di balkon langsung berbalik karena terkejut.
“Lu-Lucas” panggilnya masih terkejut.
“Apa kau sudah memikirkan ucapanmu tadi pagi?” tanya Lucas sinis.
Lindsey terdiam, ia menatap Lucas dalam lalu mengangguk.
“Lindsey!” panggil Lucas meninggikan suaranya, membuat wanita itu sedikit ketakutan.
Air mata Lindsey mulai terkumpul di pelupuk matanya karena bentakan Lucas barusan. Ia terkejut sekaligus syok. “Aku tidak bisa bersama mu.” Ucapnya serak.
“Kenapa?” tanya Lucas.
Lindsey tidak menjawab, wanita itu menundukkan kepalanya mencoba menahan dirinya agar tidak menangis.
“Jawab aku baby, kenap kau ingin berpisah?” tanya Lucas lagi, kali ini suaranya terdengar pelan karena frustasi.
“Aku tidak ingin dikasihani.” Kata Lindsey kemudian. Ia sudah tidak bisa membendung air matanya. Kenapa rasanya semakin sakit?
Lucas menatap Lindsey tidak mengerti. “Apa maksudmu? Kasihani? "
“Kau mengatakan kalau kau tidak suka orang berbohong,” Lindsey menahan diri untuk tidak menangis sejadi-jadinya, “tapi kau juga berbohong padaku” ucapnya dengan air mata yang mulai mengalir.
Lucas merasa dadanya sakit melihat istri yang begitu dicintainya menangis seperti itu di hadapannya. Dengan langkah pelan, ia berjalan mendekati Lindsey hendak memeluknya. Tapi wanita itu menolak, ia menepis tangan Lucas dengan pelan.
“Aku berbohong tentang apa? Aku tidak pernah membohongimu.” ucap Lucas berusaha untuk kembali meraih tubuh Lindsey yang terus menolaknya.
“Kau membohongiku! Kau mengatakan kalau kau mencintaiku, tapi kau berbohong! Lucas kau berbohong, kau tidak mencintaiku.”
“Hei.. hei baby, aku tidak berbohong. Aku benar-benar mencintaimu.” Lucas mengatakan kebenaran, ia memang benar-benar mencintai istrinya itu.
“*Kau tidak mencintainya?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa kau terlihat peduli?”
“Karena aku kasihan padanya, dia diasingkan di keluarganya sendiri*.”
Suara rekaman itu tiba-tiba terdengar. Lucas terkejut bukan main, ia rekaman pembicaraannya dengan Jonathan beberapa minggu yang lalu. Dari mana Lindsey mendapatkan rekaman itu?
Lucas menatap Lindsey yang ternyata juga tengah menatapnya dalam, penuh kekecewaan dan kesedihan.
“Apa kau punya pembelaan tentang itu?”