
**Haii karena banyak yang minta ekstra part, aku kasih nih. Semoga kalian suka ya ❤ Btw ini panjang lo wkwkw
*Psst aku belum pernah melahirkan jadi nggak tau ini benar apa enggak wkwk***
Lucas berlari memasuki rumah sakit dengan napas yang mulai tersengal. Rasa kesal dan khawatir bercokol di hatinya kala mengingat kalau tadi pagi Lindsey mengatakan baik-baik saja padahal ia merasa mulas yang bekerpanjangan. Apalagi istrinya itu kekeuh mengatakan kalau buah hati mereka akan keluar minggu depan.
Tapi bodohnya, Lucas malah mempercayai perkataan istrinya yang sudah hamil tua itu.
Dan sekarang Lucas ingin memaki semua orang yang berlalu lalang di koridor rumah sakit ini karena memperlambat dirinya menemui istrinya. Beberapa belas menit yang lalu, Lucas mendengar kabar bahwa istri yang sangat dicintainya itu sudah masuk ke rumah sakit karena ternyata sudah mulai pembukaan. Detik itu juga, Lucas langsung meninggalkan pengadilan tanpa memperdulikan bahwa sidang permasalahan dengn Bryan masih berjalan. Sidang tidak penting, yang penting adalah istrinya.
“Kamar istriku!” tanyanya begitu ia sampai di rumah sakit.
“Ya?” perawat yang sedang bertugas itu menatap Lucas tidak mengerti dan malah menatap wajah tampan nya dengan wajah malu-malu.
Shit! Lucas baru akan meneriaki perawat itu jika saja suara Patrick tidak menginterupsinya.
“Kamar Nyonya Lindsey Jefferson.”
Perawat itu mengalihkan pandangannya pada Patrick begitu ia mendengar suara dingin dan datar itu berbicara padanya.
“Ah, ya Tuan. Kamarnya berada di ruang VVIP lantai 15.” ucap perawat itu dengan ramah. Tepatnya pada Lucas. “Tapi saat ini Nyonya Jefferson masih berada di ruang persalinan di sebelah utara.” lanjut perawat itu.
Tidak membutuhkan waktu lama setelah mendengar itu Lucas langsung berlari menuju sayap bagian utara rumah sakit itu. Begitu Lucas memasuki ruang persalainan, ia mendapati Lindsey yang tengah berbaring lemas.
“Baby.” panggil Lucas khawatir. Lindsey menoleh dan tersenyum lembut pada suaminya. Ia tidak berbicara, hanya tersenyum. Rasanya Lucas ingin memukul dirinya sendiri karena meninggalkan istrinya di saat yang seperti ini.
“Sudah bukaan ke tujuh.” ucap Liliana datar.
Lucas menatap Liliana datar kemudian mengangguk. Sejujurnya ia sedikit tidak suka melihat adik angkat istrinya itu berada di sini. Apalagi ketika ia kembali mengingat bagaimana Liliana berusaha membuat dirinya dan Lindsey berpisah dulu membuat Lucas memendam rasa tidak suka pada adik iparnya itu.
“Ba-gaimana sid-angnya?” tanya Lindsey kesusahan.
Lucas kembali mengalihkan pandangannya pada Lindsey dan tersenyum lembut. Ia membelai rambut Lindsey dengan sayang. “Aku tidak tahu, tapi sepertinya Bryan akan lama di penjara. Apalagi Kayla juga ikut memberatkannya. Jadi jangan memikirkan Bryan lagi.” Kata Lucas lalu meraih tangan Lindsey dan menggenggamnya dengan erat.
Lindsey mengangguk dengan sedikit kesusahan. “Aww” pekik Lindsay pelan sambil memejamkan mata.
Lucas langsung menoleh mencari keberadaan perawat yang sebelumnya berada di ruangan itu, tapi entah kenapa tiba-tiba menghilang. “Panggil dokter Patrick! istriku kesakitan!” ucapnya panik.
Patrick mengangguk lalu berlari keluar untuk mencari dokter kemudian membawanya masuk ke dalam ruangan Nyonya-nya.
“Istriku kesakitan!” ucap Lucas pada dokter itu dengan tajam.
Dokter itu mendekati Lindsey dan memeriksanya. “Tenang sir, sudah bukaan ke delapan sedikit lagi kita akan mulai persalinan. Biar saya panggilkan suster sebentar.” Ucap dokter itu hendak meninggalkan ruang persalinan.
“Berani kau keluar dari ruangan ini akan kupatahkan kakimu!” sentak Lucas marah, membuat dokter itu menelan ludah kasar.
“Tapi sir-”
“Kau ingin meninggalkan istriku yang sedang kesakitan seperti ini?! Patrick panggilkan suster!” teriak Lucas.
“Periksa istriku!” sentaknya membuat dokter itu langsung menghampiri Lindsey dan memeriknya denyut nadinya. Dan Lindsey bisa merasakan kalau tangan dokter itu sedikit bergetar ketinya menyentuh tangannya.
Dalam kesakitannya, Lindsey masih tersenyum tipis melihat bagaimana Lucas merespon rasa sakit yang ia rasakan. Ia tahu, Lucas sangat khawatir melihatnya kesakitan seperti ini. Bahkan tindakan Lucas itu cenderung karena merasa ketakuan. Hanya saja mengancam bukan tindakan yang benar.
Bersamaan dengan itu Lindsey kembali meringis karena kembali merasa kesakitan. Tapi ia berusaha menahannya -walau tidak bisa di tahan- karena bersalah pada dokter yang saat ini terlihat amat sangat ketakukan pada Lucas. Tapi Lindsey juga tidak bisa melakukan apa-apa, tubuhnya terlalu sakit untuk bergerak dan terlalu lemah hanya untuk sekedar berbicara.
Seorang perawat kemudian masuk ke dalam ruangan itu dengan membawa beberapa peralatan persalinan. Sejenak Lucas meringis melihat adanya gunting terselip di peralatan itu. Untuk apa gunting itu?
Tapi ia tidak bisa berpikir terlama lama dan terlalu dalam karena sedetik kemudian ia kembali mendengar ringisan Lindsey. Sepertinya sudah waktunya karena saat ini Lindsey seperti merasa sesuatu mendesak keluar dari dalam tubuhnya, membuat ia mulai kesulitan bernapas.
“Lakukan sesuatu!” bentak Lucas pada dokter yang saat ini sudah mempersiapkan peralatan dan memakai maskernya. Dokter itu mengangguk dan memposisikan diri untuk memulai proses persalinan.
“Nyonya kita akan mulai melakukan proses persalinannya. Tarik napas dalam-dalam, jika Anda kembali merasakan sakit itu datang, mengejanlah dengan kuat.” Ucap dokter itu dengan sabar.
Lindsey mengangguk dan mulai menarik napasnya, begitu ia merasakaan bahwa rasa sakit itu kembali muncul, ia langsung mengejan dengan kuat dan merasakan sakit pada inti tubuhnya. Ia meremas tangan Lucas dengan kuat, sedangkan lelaki itu terlihat sudah sangat ketakutan melihat istrinya yang kesakitan.
“Iya terus nyonya, jangan berhenti. Tarik napas lagi lalu kembali mengejan.”
Lucas melirik dokter itu yang meminta istrinya jangan berhenti. Sialan! Istrinya sudah terlihat sangat kesakitan, tapi dokter itu memintanya jangan berhenti?
Tapi apa boleh buat, untuk saat ini ia tidak bisa melakukan apa-apa. Yang dilakukan oleh dokter itu adalah hal yang benar walau sangat menyebalkan!
Lindsey menarik napas dalam-dalam, dan dalam hitungannya ia kembali mengejan dengan kuat. Lebih kuat dari sebelumnya. Dan detik itu pula ia merasa dirinya terbelah dengan rasa sakit yang amat sangat sebelum kemudian mendengar suara tangisan nyaring yang memenuhi setiap sudut ruangan.
“Oh Tuhan,” desah Lindsey lemas. Melihat itu Lucas langsung menghujami wajah Lindsey dengan ciuman lembut dan kebahagiaan.
“Thank you baby.” Desahnya haru. Tapi kemudian Lucas mengalihakan tatapannya saat melihat sang dokter mengambil gunting dan mengarahkannya pada anaknya dan istrinya.
“Hei apa yang kau lakukan!” sentaknya.
Dokter itu langsung menatap Lucas dengan gusar. “Memotong ari-ari sir,” ucapnya gugup.
Lindsey meraih wajah Lucas dan tersenyum lembut. “Sayang tenanglah, ia sedang melakukan proses selanjutnya.” Ucapnya pelan.
Lucas memejamkan matanya. Andai mereka semua tahu betapa takutnya ia saat melihat Lindsey yang kesakitan, dan betapa takutnya ia jika seandainya anaknya kembali pergi. Apalagi saat melihat benda tajam itu mendekati istri dan anaknya, ia tidak bisa berpikir jernih. Lucas takut, sangat takut.
Perawat itu lalu membawa anaknya yang masih berdarah itu dan menelungkupkannya di dada Lindsey. Lucas mengamati putranya dengan tatapan yang sangat lembut. Sangat mungil dan menggemaskan. Dan seharusnya ada dua.
Mulai saat ini, Lucas tidak boleh mengingat lagi akan hal itu. Biarlah itu menjadi bagian dari sebuah kenangan yang pahit dan kelam. Bersatu dan berubah menjadi kenangan yang indah hanya untuk mengingatkan kalau ia pernah ada. Setidaknya sekarang sudah ada putranya yang masih merah sedang menangis sangat kencang. Logan Jamie Jefferson.
Ia bahagia sekalipun memendam sebuah luka. Ia harus tertawa setelah selesai menangis. Setidaknya hidupnya adil. Ia pernah kecewa dan akhirnya tertawa. Ia pernah bersedih hingga akhirnya tersenyum. Ia pernah menangis hingga akhirnya bahagia. Waktu berlalu, hidup terus berjalan dan kebahagiaan sungguh ada.
Setidaknya itulah yang Lindsey dan Lucas rasakan. Mereka ternyata memang bisa berbahagia. Setiap luka sudah mulai sembuh dan mereka saling menyembuhkan. Dan saat ini semuanya seperti mimpi, mimpi indah. Jika memang ini mimpi maka Lindsey maupun Lucas rela untuk tertidur selamanya.
Tidak ada luka yang tidak bisa disembuhkan. Dan perlahan namun pasti luka mereka sembuh.