Not Yet Yours

Not Yet Yours
Chapter 29



Sejujurnya Lucas merasa ada yang aneh pada wanita itu. Biasanya Keyla tidak akan peduli jika Lucas mengusirnya bahkan membentaknya sekalipun. Keyla wanita yang ambisius. Wanita itu tidak akan berhenti jika belum mendapatkan kemauannya.


Tapi melihat Keyla yang baru saja menurut, Lucas merasa ada yang janggal. Tapi masa bodoh juga, yang penting wanita itu pergi dan ia bisa kembali bekerja. Bekerja memikirkan cara agar ia bisa menemui lelaki sialan yang ingin merebut Lindsey darinya.


Sungguh tidak adil. Kenapa bukan ia yang menjadi cinta pertama Lindsey? Awalnya Lucas sangat bahagia karena Lindsey tidak pernah berpacaran sekalipun.


Kebahagiaan itu semakin bertambah lagi saat mendapati Lindsey hanya pernah disentuh olehnya. Walau sebelumnya ia sempat kesal karena Lindsey mengatakan kalau ia sudah tidak perawan. Tapi tak apa, toh kenyataannya dia-lah pertama dan akan menjadi yang terakhir untuk Lindsey.


Sayangnya kebahagiaan Lucas berubah ketika Lindsey mengatakan kalau dirinyaia pernah jatuh cinta pada seorang lelaki. Lelaki yang menyelamatkannya saat ia tersesat di hutan. Tapi yang membuat Lucas murung adalah pengakuan Lindsey yang mengatakan kalau ia pernah berharap bahkan menunggu lelaki tidakn jelas itu datang menjemputnya dan menikahinya.


DAMN!!!!


Suara ketukan pintu membuat Lucas menggeram marah. Siapa lagi yang berusaha menggangunya sekarang?


Pintu ruangannya terbuka dan menampilkan Jonathan di baliknya. Sepupu sialannya.


“Apa!” sentak Lucas langsung bahkan  saat Kaki Jonathan baru melangkah sekali.


“Wohoo, calm down brother, ada apa denganmu?” Jonathan berhenti dan menatap Lucas heran. Perasaan  dari kemarin sepupu bodohnya itu selalu emosi.


“Apa maumu?!”


“Hey, kenapa kau semakin marah? Aku hanya bertanya.” kerutan di kening Jonathan semakin dalam.  Apa salahnya?


“Aku sedang kesal!”


“Oh.” langkah Jonathan yang sempat terhenti kembali bergerak mengarah ke sofa yang tersedia.


“Kau belum menjawab pertanyaan ku bodoh!” suara Lucas yang bernada kesal itu terdengar seperti sebuah candaan di telinga Jonathan. Sungguh ia ingin tertawa.


“Pertanyaan yang mana?” Jonathan mendudukkan bokongnya di sofa dengan nyaman. Sungguh tempat Lucas terasa lebih nyaman jika dibandingkan dengan tempatnya.


“Apa maumu sialan!”


“Berhentilah mengumpat brother, itu dosa.”


“Cepat katakan apa maumu!”


Jonathan terkekeh kecil, “aku ingin mewawancarai mu.” ucapnya polos. Ia merasa seperti berhadapan dengan Evelyn yang sedang menstruasi.


Lucas memicingkan matanya, “sebenarnya apa pekerjaanmu Jo?”


“Aku?” Jonathan menunjuk dirinya sendiri, “tentu saja sama dengan pekerjaanmu.” Jonathan tersenyum manis pada Lucas.


“Sama denganku katamu? Sejak kapan aku menjadi seorang wartawan?” Lucas mengucapkan kalimatnya dengan datar. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau ia masih emosi.


“Aku hanya mencoba membantu kekasihku.”


“Perempuan itu bukan kekasihmu.” ralat Lucas, membuat Jonathan kesal.


“Ah iya, bukan kekasihku tapi calon ibu untuk anakku.” ucap Jonathan membuat Lucas ingin muntah seketika.


“Wanita itu masih kuliah Jonathan dan kau? Kau bahkan lebih tua dariku.”


“Cinta tidak memandang usia Luke, kau bodoh atau apa? lagipula aku hanya dua tahun lebih tua darimu.”


“Ah Evelyn wanita yang mandiri, aku sangat menyukainya. Diaa bekerja sambilan sebagai wartawan. Dan aku bukan pedofil karena Evelyn berusia lebih dari 14 tahun.”


“Tapi kau membuat ia terlihat seperti sugar daddy.”


“Dia bukan sugar daddy, dia calon ibu dari anakku. Lagipula Evelyn bukan wanita materialistis, ia wanita yang mandiri.” Jonathan berkilah. “Dan lagi, aku kemari untuk mewawancarai mu bukan membahas Evelyn."


“Kenapa Evelyn tidak mewawancarai mu saja? Kau juga seorang CEO.”


“Aku CEO di salah satu cabang perusahaan mu karena kau memintaku bodoh, kau pemiliknya.”


“Kalau begitu aku memberikan cabang itu padamu, sekarang kau jadi pemiliknya. Sana pergi, wawancarai dirimu sendiri!” usir Lucas.


“Oh ho, tidak semudah itu ferguso! aku tidak mau perusahaan mu. Aku punya perusahaan sendiri jika kau lupa.”


“Itu artinya kau juga seorang pemilik perusahaan, pergi sana!” Lucas kembali mengusir Jonathan dengan kesal.


“Evelyn tidak pernah tahu jika aku memiliki perusahaan. Dia gadis yang itu unik, dia membenci orang kaya.”


"Gadis?"


"Tentu saja sialan! Aku belum menyentuhnya!"


Lucas hanya tertawa. “Benci orang kaya, eh? Apa kau tidak sadar diri, Jo?"


“Oleh sebab itu aku mengatakan kalau aku hanya seorang pegawai padanya, brother.”


“Kau gila, Jo!”


“Yeah, Love makes you crazy Brother.”


Lucas menatap Jonathan jijik, “sudahlah, intinya aku tidak ingin di wawancarai olehmu.” ucap Lucas kembali fokus pada berkasnya.


Jonathan menatap Lucas dengan pandangan tersakiti. “Kalau aku mewawancarai istrimu boleh?”


“Tidak! Kalau ingin mewawancarai istriku, harus Evelyn yang pergi wawancara sendiri. Tidak boleh laki-laki!”


“Posesif sekali kau my stupid brother.”


“Pergi sana.”


Jonathan menggelengkan kepalanya pelan sambil terkekeh kecil, “rupanya kau sudah menyadari perasaanmu. Oke lah, kalau begitu aku pergi.” ucapnya lalu meninggalkan ruangan Lucas.


Lucas menatap punggung Jonathan sampai hilang dibalik pintu lalu kembali pada berkasnya, namun suara dentingan ponselnya membuat Lucas lagi-lagi harus beralih dari pekerjaannya.


Pesan itu dari Patrick yang lagi-lagi memerintahnya.


Cek email anda sir.


Mengabaikan niat untu memaki Patrick, Lucas membuka email-nya dan membaca email dari Patrick.


Kening Lucas mengerut melihat isi pesan Patrick. Foto dan data diri lelaki yang menjadi cinta pertama istrinya. Sial! Ternyata lelaki itu tampan dan juga kaya. Tapi tetap saja ia jaub lebih kaya, toh perusahan lelaki ini tidak sebesar miliknya.