Not Yet Yours

Not Yet Yours
Chapter 57



****Aku upload 3 chapter dulu ya wkwk


tenang aja, cahpter ini lumayan panjang kok :)


jangan lupa #stayathome dan jaga kesehatan selalu ❤❤❤**


*****


Lindsey membuka matanya yang masih terasa berat. Perasaannya sudah jauh lebih baik sekarang. Satu-satunya yang tidak terasa lebih baik adalah hatinya. Hatinya masih sesak seakan menghimpitnya sejak Lucas meninggalkannya di rumah sakit dua bulan yang lalu.


Lindsey mengelus perutnya dengan pelan. Akhir-akhir ini nafsu makannya bertambah drastis, membuatnya tersenyum. Perutnya masih rata, belum menunjukkan kalau ia tengah berbadan dua.


Ya Tuhan apa yang akan Lucas katakan padanya ketika lelaki itu tahu kalau salah satu anaknya selamat? Apa Lucas akan bersedia kembali bersamanya atau lelaki itu akan kecewa dan malah meninggalkannya?


Sungguh, dua bulan lalu ia benar-benar dalam kesedihan yang mendalam ketika mengetahui kalau salah satu anak yang ada dalam perutnya pergi. Dan ia melupakan fakta kalau masih ada yang bertahan.


Bodohnya lagi, kala itu Lindsey bahkan menyalahkan Lucas, mengatakan pada lelaki itu kekecewaanya dan secara tidak langsung juga menuduh Lucas sebagai pembunuh.


Saat ini Lindsey benar-benar merutuki kebodohannya. Ia begitu merindukan Lucas. Sangat merindukan suami tampannya. Namun yang lebih menyiksanya adalah ketika ia menginginkan Lucas didalamnya dan menjenguk buah cinta mereka. Hormon hamil yang sangat menyebalkan.


Dan lagi, kenapa Lucas tidak menghubunginya? Ia mengirimkan beberapa surat pada lelaki itu karena merindukannya. Tapi sampai saat ini Lindsey tidak merasakan adanya tanda-tanda kalau Lucas akan datang mengunjunginya.


Oh sial, baru saja ia merasa bersalah pada Lucas dan sekarang tiba-tiba ia merasa kesal pada suaminya itu.


Lindsey kembali mengingat ketika ia meminta cerai pada Lucas kala itu. Apa lelaki itu benar-benar menceraikannya? Sungguh kah Lucas akan menceraikannya? Tidak boleh! Mereka tidak boleh bercerai! Mereka harus bersama demi buah cinta dan tentu saja demi cinta mereka berdua.


Dengan langkah pelan, Lindsey kemudian turun dari tempat tidurnya. Ia membasuh wajahnya dan berjalan turun ke ruang makan. Di meja makan sudah ada Liliana dan mamanya. Selalu seperti itu, mereka masih lupa padanya. Miris sekali.


“Kau sudah bangun?” tanya Lacey yang menyadari kehadiran putrinya.


Lindsey mengangguk. Lacey tersenyum dan mengisyaratkan Lindsey agar duduk di kursi. Dengan cekatan Lacey mengambil sarapan untuk putrinya itu. Berbeda dengan mamanya, Liliana tampak tak acuh pada kehadirannya.


Lindsey ingat ketika ia kembali ke rumah ini beberapa minggu yang lalu, Liliana masih terlihat tidak suka padanya walau Lindsey tetap tidak peduli. Sedangkan kedua orangtuanya sudah berubah, mereka lebih memperhatikannya. Lindsey bisa merasakan kalau kedua orangtuanya sedang berusaha membuatnya merasa nyaman.


Tapi Lindsey bukanlah orang yang sangat baik. Setelah bertahun-tahun berlalu, baru kali ini Lindsey merasakan yang namanya kasih sayang orang tua. Sujujurnya ia sedikit merasa terganggu dengan sikap kedua orangtuanya tersebut.


Bertahun-tahun diasingkan dan tiba-tiba dipedulikan, jujur saja itu bukanlah perasaan yang bisa dibanggakan. Lindsey justru merasakan perasaan tidak nyaman dan sedikit terganggu. Tapi Lindsey berusaha untuk memahami dan menerimanya, walau sebagian besar dirinya ingin menolak.


Lindsey juga akhirnya tahu fakta kalau Liliana bukanlah adik kandungnya. Dan itu semakin membuat ia merasa jengah dan marah pada orangtuanya. Bagaimana mungkin kedua orangtuanya lebih menyayangi Liliana yang notabene bukanlah darah daging mereka.


Jujur saja ketika pertama kali mengetahui fakta itu dari ayahnya, Lindsey merasa sangat kecewa. Hal itu malah semakin membuat ia kembali merasakan benci pada kedua orangtuanya.


Namun Lindsey juga bukanlah orang yang frontal. Ia lebih suka diam dan memendam semuanya. Rasa benci, kecewa, marah dan sedih itu tetap tidak akan berguna jika ia mengeluarkannya. Tidak ada gunanya berbicara. Terkadang apa yang keluar dari mulut kita akan membuat kita terlihat menyedihkan. Dan Lindsey tidak ingin terlihat lemah, jadi ia lebih baik diam dan tidak bersuara.


Lindsey, Liliana dan mamanya sarapan dalam keadaan hening. Tidak ada yang bersuara. Lindsey sih merasa biasa saja, sebab sejak dulu ketika makan bersama, tidak akan ada yang mengajaknya berbicara. Jadi ia sudah biasa dengan keadaan seperti itu. Hanya saja sedari tadi ia tidak melihat ayahnya dan karena penasaran ia akhirnya bertanya juga.


“Di mana ayah?” tanyanya datar.


Lacey mendongak dan tersenyum, “Ayahmu sedang di New York.” ucapnya.


Sejujurnya jika Lindsey boleh jujur, entah kenapa ia sangat tidak suka melihat mamanya tersenyum seperti itu padanya. Seakan ia disayangi dan dicintai, dan ia tidak suka itu.


“Apa kau tidak ingin tahu untuk apa ayah ke New York?” tanya mamanya lembut masih dengan senyumnya.


Lindsey berhenti mengunyah sejenak, “Tidak.” ucapnya datar dan kembali memakan sarapannya.


Senyum Lacey memudar. “Apa kau masih kecewa pada kami?” tanyanya sedih.


Sedangkan sedari tadi Liliana tetap tidak terpengaruh dan memilih diam menikmati sarapannya.


Gerakan tangan Lindsey terhenti. “Sedikit.” ucapnya.


“Maafkan kami Lindsey.” seketika air mata menggenang di pelupuk mata Lacey, ia hanya tinggal mengedipkan kelopak matanya dan air itu akan langsung terjatuh. “Kami pasti benar-benar menyakitimu, maafkan kami.” Dan air mata itu terjatuh.


Lindsey tidak lagi melanjutkan makannya. Nafsu makannya sudah hilang. “Sedang ku usahakan.” ucapnya kemudian berdiri lalu meninggalkan meja makan dan masuk ke dalam kamarnya.


Memaafkan kedua orangtuanya setelah apa yang terjadi selama hampir seumur hidupnya, bukanlah sesuatu yang mudah. Ditambah lagi saat ini ia sedang hamil, perasaan dan moodnya selalu berubah-ubah dengan cepat.


Kenangan-kenangan pahit masa kecilnya terkadang masih selalu membuatnya kesal dan marah. Hal itu juga yang membuatnya semakin sulit memaafkan kedua orangtuanya.


Tapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa senang karena pada akhirnya kedua orangtuanya bisa melihatnya dan menerima kehadirannya. Kehadiran yang selama ini diimpikannya sekarang menjadi kenyataan. Tapi kenapa rasanya masih sakit? Apakah sekarang ia sudah tidak lagi membutuhkan penerimaan dari kedua orangtuanya?


Lindsey tidak tahu, yang jelas untuk saat ini yang ia tahu, ia hanya ingin Lucas.


_______________


Patrick memasuki ruang kerja Lucas dan mendapati bosnya itu sedang duduk termenung. Tidak bekerja. Patrick menghela napas rendah dan berat.


“Apa kau sudah menemukan di mana perempuan ular itu?” tanya Lucas malas, menyadari kehadiran Patrick.


“Yes sir!” ucap Patrick dan seketika tubuh Lucas langsung tegang. Raut wakjahnya berubah menjadi serius dan semangat.


“Di mana dia?”


“Di Miami.”


“Bagus, siapkan pesawat.”


“Tidak perlu sir, dia sudah dalam perjalanan menuju kemari. Anak buah kita yang membawanya.”


“Bagus sekali!” teriak Lucas bersemangat, membuat Patrick mencibir.


Sedari awal Lucas memang hanya termenung, tidak bekerja sama sekali. Bahkan tidak berusaha mencari Kayla. Bosnya itu hanya memikirkan Lindsey seorang.


“Ada satu lagi yang sebenarnya ingin saya sampaikan sir.”


“Apa itu?”


“Nyonya masih mengandung salah satu anak Anda.” Ucap Patrick datar.