Not Yet Yours

Not Yet Yours
Chapter 40



"*Kau tidak mencintainya?"


"Tidak"


"Lalu kenapa kau terlihat peduli?"


"Karena aku kasihan padanya, dia diasingkan di keluarganya sendiri*."


Lucas menatap Lindsey dalam. Tapi Lindsey langsung membuang mukanya. Ia tidak akan luluh lagi, ia tidak mau luluh. Ia tidak mau hatinya bertambah sakit.


"Baby,"


"Don't baby me! Aku ingin kita bercerai."


"Tidak akan pernah!" Lucas membentaknya.


Kenapa Lucas tetap tidak ingin bercerai? Apa Lucas ingin membuatnya semakin menderita? Sakit sekali rasanya ketika orang yang Lindsey kira mencintainya ternyata hanya berpura-pura.


"*Kau tidak mencintainya?"


"Tidak"


"Lalu kenapa kau terlihat peduli?"


"Karena aku kasihan padanya, dia diasingkan di keluarganya sendiri*."


Lucas menggeram kesal. "Bisakah kau menghentikan rekaman sialan itu?!"


"Ini rekamanmu!"


"Lindsey hentikan! Kau salah paham!"


"Kau mengatakan aku salah paham sedangkan buktinya sudah sangat jelas. Kau bahkan mendengarnya berkali-kali, Lucas." Lindsey kembali memutar suara rekaman itu dengan menekan kembali tombol yang ada di pena itu.


Dengan kesal, Lucas mengambil pena itu dari tangan istrinya dan membantingnya ke lantai dengan kuat. Tidak hanya itu, ia juga langsung menginjak-injak pena itu sampai hancur berkeping-keping.


Seharusnya ia melakukan itu dari dulu.


Air mata Lindsey kembali terjatuh membuat Lucas semakin frustasi. Ia mendekati istrinya itu hendak meraihnya ke dalam pelukannya, tapi dengan kasar Lindsey menepis tangan Lucas.


"Jangan menyentuhku, jangan mengasihaniku. Hentikan semua drama yang kau buat, yang kau lakukan sudah sangat menyakitiku Lucas." Air matanya mengalir semakin deras. Hatinya sangat sakit.


"Baby, biarkan ak-"


"Aku kira kau nyata, ku pikir cintamu sungguh ada untukku, ternyata aku yang terlalu naif. Aku memang di asingkan oleh keluargaku sendiri, aku tidak pernah merasa bahagia sampai kau datang dan memberiku harapan dan kebahagian." Dengan gemetar Lindsey berjalan mundur, menjauhi Lucas yang masih terdiam dan menatapnya kaku.


"Tapi ternyata harapan dan kebahagiaan itu semu, kau melakukannya karena kasihan padaku. Kau benar, aku memang menyedihkan. Tapi seharusnya kau tidak mengasihaniku, kau justru membuatku semakin menyedihkan."


Lindsey meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia lalu masuk ke dalam kamar mandi, dan keluar setelah mengganti bajunya. Ia memakai baju yang sama dengan saat pertama kali Lucas membawanya pulang.


Lucas masih mengamati Lindsey dalam diam. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Semua yang diucapkan Lindsey bagai tombak yang menusuk tepat di jantungnya. Mematikan.


"Sayang, kau mau kemana?" Tanyanya ketika ia melihat Lindsey berjalan menuju pintu kamar mereka.


Ia ingat, ia tidak membawa apapun ketika Lucas membawanya pergi dari London. Satu-satunya miliknya yang ia bawa hanya baju yang saat ini digunakannya. Ponsel dan semua barang yang dipakainya adalah milik Lucas. Ia membelinya menggunakan uang Lucas.


Sekarang, ia bukan siapa-siapa lagi. Ia tidak punya hak untuk membawa barang barang itu. Hidupnya berubah dalam sehari. Menakjubkan sekaligus menyedihkan.


"KAU SUDAH BERJANJI TIDAK AKAN MENINGGALKANKU!"


suara menggelegar itu membuat Lindsey tersentak kaget dalam lamunannya menuju pintu utama.


Ia menoleh ke belakang dan mendapati Lucas sudah berjalan menuruni tangga, menarik tangannya dengan kasar.


"Kau juga mengatakan kalau kau mencintaiku," air matanya yang sempat berhenti mengalir, kembali lagi mengalir mengingat kebohongan Lucas padanya.


"Aku memang benar-benar men-"


"Lindsey." belum sempat Lucas menyelesaikan kalimatnya, suara berat seseorang membuat mereka berdua langsung menoleh.


Lucas mengamati lelaki yang baru saja memanggil nama istrinya itu dari ujung kaki sampai unjung kepala. Seakan tombak sekali lagj kembali menembus jantung dan hatinya, Lucas tahu siapa lelaki itu.


Dengan lemah Lucas melepaskan tangannya Lindsey yang digenggamnya. Ia tersenyum dengan senyuman yang sulit diartikan.


Lucas menoleh menatap Lindsey yang sepertinya juga terkejut melihat lelaki itu ada di mansionnya. Tapi ia sudah tidak bisa lagi melihat raut wajah terkejut itu karena ia sudah sangat marah.


"Jadi ini alasan kau meminta cerai dariku?" tanyanya miris.


Lindsey tidak mengerti sungguh. Alasan apa? Satu-satunya alasan ia meminta cerai adalah karena rekaman sialan itu.


"Kau meminta cerai dariku karena si sialan itu sudah kembali kan? Kau ini memang benar-benar." ucap Lucas sarat dengan kekecewaan. Ia menatap Lindsey dengan tatapna dingin dan menjijikkan. Menyedihkan dan menyakitkan.


"Kau ingin cerai?"


Lindsey menatap Lucas dalam. Kenapa Lucas seperti ini? Hatinya semakin sakit melihat cara lelaki itu yang menatapnya jijik seperti seorang wanita murahan.


"Kita akan segera bercerai. Kau tahu harus mengirim suratnya kemana."


Dan rasanya semakin sesak, Lucas mengatakannya seakan semuanya memang benar. Lelaki itu tidak pernah mencintainya. Lucas hanya kasihan padanya. Hidupnya sungguh menyedihkan. Hatinya hancur sampai tak berbentuk.


Air matanya kembali terjatuh, sakit sekali rasanya.


Tidak mau menatap Lucas terlalu lama, Lindsey langsung berlari meninggalkan Lucas yang hanya menatapnya datar. Ia berlari meninggalkan mansion itu. Dalam hati Lindsey terus memohon pada Tuhan agar sakit di hatinya bisa berkurang.


Pandangan Lucas beralih pada lelaki sialan itu.


"Kau tidak mengejarnya?" tanyanya datar.


Lelaki itu tertawa kecil.


"Sudah ku katakan, dia bukan milikmu." Ucapnya lalu berbalik dan mengejar Lindsey.


Lucas menatap punggung lelaki itu sampai hilang dari pintu utama mansionnya.


"DAMN IT!!"