
Erick tertawa terbahak-bahak. “Itu tidak benar-benar murni perbuatanku.”
“Tapi Tuan Lucas benar-benar masih terpuruk.” Ucap Patrick datar, “ngomong-ngomong bagaimana kabar Nyonya?”
“Ia baik-baik saja. Nafsu makannya sudah mulai bertambah.”
“Padahal saya sudah menunggu saat-saat dimana Tuan Lucas akan kalang kabut mengurus Nyonya dan permintaannya, tapi sepertinya saya harus bersabar.”
Erick mengangkat sebelah alisnya, “memangnya selama ini putriku tidak pernah menyusahkan Lucas?”
“Nyonya sangat pengertian sir, beliau tidak pernah mau menggangu Tuan saat sedang bekerja.”
Erick tersenyum sendu, “ia memang seperti itu. Ia bahkan tidak pernah menggangguku dan istriku. Ia lebih memilih diam dan memendam semuanya, sampai aku kadang merasa kalau ia bukan lagi Lindsey kecilku.”
Patrick tidak menanggapi ucapan Erick, ia hanya memandang ayah mertua bosnya itu dengan datar.
“Aku tidak pernah tahu kalau selama ini dia merasa diasingkan. Saat dia berusia dua belas tahun, dia menghilang sangat lama. Membuatku dan istriku merasa gagal menjadi orang tua.”
“Memangnya kenapa dulu kalian tidak mencarinya?” tanya Patrick kemudian. Ia sebenarnya sedikit penasaran kenapa mereka tidak mencari Nyonya-nya itu ketika menghilang.
Erick menghela napas lesu, ia kembali mengingat kejadian bertahun-tahun lalu. Dimana itu adalah puncak putrinya benar-benar menjadi seperti sekarang.
“Kami mencarinya, dan kami menemukannya.” jawab Erick.
Sejujurnya pernyataan Erick barusan cukup membuat Patrick terkejut. Dari hasil yang diterimanya dari orang-orangnya yang ada di London, tidak ada yang mengatakan kalau orang tua Lindsey mencarinya ketika nyonya-nya itu menghilang selama dua tahun.
Patrick mengangguk.
“Kami menyelidiki latar belakang Bryan, dan ternyata anak itu diusir dari rumahnya kerena memiliki obsesi berlebih pada kakak kandungnya sendiri. Anak itu bahkan memukuli suami kakaknya itu setelah selesai menikah, tapi bukan itu alasan ia diusir. Kau juga pasti tahu alasannya.”
Lagi-lagi Patrick mengangguk.
“Saat mengetahui kalau putriku sedang hamil dan kemudian pergi bersama Bryan, aku langsung mengirim anak buahku untuk mengikuti mereka. Seminggu lebih memantau Bryan, anak buahku tidak memberi laporan apa-apa, ternyata putriku sendiri juga tidak tahu kalau saat itu ia sedang hamil.” Erick tersenyum miris mengingat laporan anak buahnya hari itu.
“Setelah pengakuan Liliana dan wanita bernama Kayla itu, aku semakin berniat memisahkan putriku dan Lucas. Ditambah dengan alasan Lindsey yang sedang hamil, Lacey memaksaku untuk langsung menjemput Lindsey sebelum terlambat. Jadi setelah itu, aku langsung memutuskan untuk menemui Bryan sebelum ia mulai bergerak. Tapi karena aku merasa masih belum ada ancaman, aku melakukan urusan bisnis terlebih dahulu sebelum menemui Bryan. Tapi setelah menemuinya aku merasa bahwa tidak ada masalah, jadi aku membiarkannya pulang menemui putriku.” Lanjut Erick lagi.
“Anda membiarkannya menemui Nyonya?” suara Patrick terdengar tidak suka dengan apa yang baru saja ia dengar.
Erick mengangguk. “Aku berpikir kalau lelaki itu sudah sembuh, lagipula putriku dan Lucas sudah pisah rumah saat itu,” ucapnya meringis, “Tapi setelahnya aku mendapatkan kabar yang membuat jantungku serasa tidak ada gunanya lagi untuk berdetak. Bryan melakukan hal yang sama pada Lindsey seperti yang ia lakukan pada kakak kandungnya dulu. Dan seperti inilah akhir semuanya kau dan aku duduk berhadapan.” Erick meminum kopinya setelah bercerita panjang lebar.
“Berarti saat ini Anda sudah tidak akan lagi memisahkan Tuanku dan Nyonya bukan?”
“Tergantung, apa dia akan menyakiti putriku atau tidak. Tapi lupakan masalah itu, sampai kapan drama ini berlanjut?”
“Sampai kita menemukan Kayla.”
Tak berapa lama kemudian ponsel Patrick berbunyi. Patrick mengecek ponselnya dan senyumnya langsung terbit.
“Drama akan segera selesai sir.” Ucap Patrick dengan senyuman penuh arti.