Not Yet Yours

Not Yet Yours
Chapter 24



Lindsey berjalan mondar mandir di ruang tamu dengan pikiran yang terus mengarah pada Lucas.


Tindak kejahatan apa yang Lucas lakukan sampai-sampai Patrick harus berurusan dengan polisi lumayan lama? Pikiran Lindsey kalut, terlebih lagi jika ia membayangkan Lucas masuk penjara.


Tidak! Itu tidak boleh terjadi.


Sudah lebih dari sejam ia menunggu Lucas pulang, tapi tetap tidak ada tanda-tanda kemunculan lelaki itu. Membuatnya semakin khawatir. Ia khawatir pada Lucas.


Bahkan setelah diusir oleh Lucas sebelumnya, ia masih mengkhawatirkan lelaki itu seperti ini. Sebesar ini kah cintanya pada Lucas? Sebodoh ini kah cinta?


“Nyonya, apa anda membutuhkan sesuatu?”


Suara seorang pelayan membuat Lindsey tersentak. Ah, ia terlalu banyak berpikir. Ia menatap pelayan itu dengan lembut, lalu menggeleng pelan namun pelayan itu sudah menunduk. Lindsey tersenyum.


“Tidak ada.” ucapnya pelan.


“Mungkin nyonya ingin meminum sesuatu?” tanya pelayan itu lagi.


“Kalau begitu bawakan aku jus saja.” Lindsey merasa tidak enak jika harus menolak tawaran pelayan itu.


Pelayan itu mengangguk mengerti dan mundur dengan perlahan. Melihat itu Lindsey kemudian duduk di sofa. Bahkan sedari tadi ia terus berdiri dan ia baru menyadarinya.


Ia benar-benar menjadi bodoh karena cinta.


Suara deru mobil dari arah car port membuat Lindsey kembali berdiri dan langsung berjalan keluar.


Lindsey tersenyum tipis, Lucas pulang, pikirnya. Ia melihat Patrick keluar dari arah kemudi, namun yang membuatnya bingung adalah Patrick berjalan lurus ke arahnya tanpa membukakan pintu untuk Lucas.


“Di mana Lucas?” tanyanya dengan mata yang masih melirik ke arah mobil yang baru saja di tumpangi Patrick.


“Tuan ada di kantor, nyonya.”


Deg


“Lucas tidak pulang terlebih dahulu?” suara Lindsey berubah.


“Ada urusan yang sangat mendesak nyonya, tadi kami sudah dalam perjalan pulang. Tapi harus putar balik ke kantor.”


Bodoh, benar-benar bodoh. apakah cinta semenyedihkan ini? Lindsey tersenyum miris.


“Lalu kenapa kau pulang sendiri?” tanyanya.


“Tuan meminta saya berada di dekat Anda, nyonya. John akan menjemput tuan jika urusannya sudah selesai.”


“Tapi ia baik-baik saja kan?”


“Tuan baik-baik saja. Semuanya baik-baik saja, Nyonya.” Patrick menatap Lindsey sedih. Bahkan di sela-sela kesedihannya, ia masih menanyakan keadaan Lucas.


“Syukurlah kalau begitu.” 


Walau Lindsey mengucap rasa syukurnya, tapi tetap saja ia merasa kecewa setelah mengetahui Lucas lebih memilih bekerja tanpa menghubunginya atau setidaknya menghiburnya. Apalagi setelah kejadian yang kurang menyenangkan tadi pagi. Ah iya, memangnya siapa ia bagi Lucas?


Sarat kekecewaan di raut wajah Lindsey membuat Patrick semakin tidak enak hati. Patrick tahu kalau Lindsey mencintai Lucas, secara Lindsey pernah mengatakannya dengan gamblang sewaktu mereka di mobil dalam perjalanan pulang waktu itu.


“Tuan akan segera pulang, nyonya.” ucap Patrick tidak tega melihat Lindsey yang kecewa.


Lindsey menatap Patrick dan tersenyum. “Iya, aku tahu” ucapnya, lalu memasuki mansion dengan langkah berat.


Memangnya siapa dia sampai Lucas harus mementingkannya di atas urusan pekerjaan?


Patrick memberi kunci mobil Lucas pada John dan menyuruh lelaki itu untuk datang ke kantor. Seperti yang di perintahkan Lucas padanya sebelumnya. Ia lalu mengikuti Lindsey masuk ke dalam mansion.


Beberapa pelayan mendekati Patrick. Para pekerja di mansion Lucas memiliki grup yang bernama Asosiasi Pekerja Mansion Lucas atau biasa disingkat APML.


“Ada apa, sir?” tanya salah satu pengurus taman belakang.


Patrick menatap pekerja itu dengan datar. “Apanya?”


“Nyonya sedari tadi terus berjalan mondar-mandir di ruang tamu dengan raut wajah khawatir.” ucap pelayan yang tadi menawarkan minuman pada Lindsey.


“Memangnya apa yang sudah terjadi, sir?” tanya salah satu dari mereka membuat Patrick berhenti berjalan dan berbalik menatap mereka datar. Mereka semua yang bekerja di mansion Lucas memang dekat dengan Patrick, karena lelaki itu yg merekrut semua pekerja itu.


“Hanya masalah kecil. Kembalilah bekerja.” Patrick lalu meninggalkan mereka dan pergi ke taman belakang mengurusi bunga-bunganya.


Ah, semua bunga yang ada di taman belakang mansion ini adalah milik Patrick. Sedatar-datarnya Patrick, ia tetaplah lelaki yang manis.


________________


Suara ketukan di pintu ruangan Lucas membuat lelaki itu mendongak dan mempersilahkan masuk.


“Sir ada paket untuk Nyonya.” Hana berdiri sambil membawa sebuah kotak kecil yang berbungkus emas dan diikat dengan pita berwarna ungu.


Lucas mengernyit. Paket untuk Lindsey? “Kenapa dikirim ke sini?” tanya Lucas bingung.


“Alamat paket ini memang ditujukan ke sini, tapi paket ini ditujukan untuk Nyonya, sir.” Hana memberikan paket itu pada Lucas.


“Dari siapa?”


“Tidak ada nama pengirimnya, sir.”


Lucas semakin mengerutkan dahinya. Untuk Lindsey tapi dikirim ke kantornya? Bukankah itu aneh? Lindsey juga tidak mengenal siapapun di New York. Lalu ini paket dari siapa? Apa salah alamat? Tapi alamat kantornya benar.


Lucas menerima paket itu dari tangan Hana.


“Kau boleh pergi.” ucapnya, Hana mengangguk dan meninggalkan Lucas yang menatap paket misterius itu dengan kening mengerut dalam.


Ia tidak berniat membuka paket itu, ia akan memberikannya langsung pada Lindsey nanti. Lagi pula tidak sopan jika ia membuka paket yang bukan ditujukan untuknya. Ia lalu meletakkan paket itu di meja dan kembali berkutat dengan berkas-berkasnya.


Suara dentingan pesan berbunyi dari ponsel Lucas. Ia meraih ponselnya dan melihat siapa yang mengiriminya pesan. Pesan itu berasal dari nomor yang tidak di kenal Lucas. Ia membuka pesan itu dan wajahnya seketika mengeras.


Kau sudah menerima paketnya? Itu untuk Lindsey-ku, tunjukkan saja paket itu dan ia akan segera tahu itu dari siapa.


Nb: Aku berharap kau segera bercerai darinya. Kau belum menyentuhnya kan? Dia milikku bukan milikmu. Oh aku lupa kau seorang gay, aku tenang kalau begitu.


Rahang Lucas mengeras, siapa yang mengirimnya pesan sialan ini? Lucas langsung mengirim nomor pengirim itu pada Patrick dan menyuruh Patrick mencari tahu.


Mood bekerjanya seketika menghilang. Ia ingin bertemu dengan Lindsey. Isi pesan itu benar-benar membuatnya ingin menguliti si pengirim pesan itu hidup-hidup. Berani sekali ia mengatakan kalau Lindsey bukan miliknya? Seluruh dunia juga tahu kalau Lindsey adalah miliknya! Hanya miliknya.


Lucas menghubungi John. Ia harus segera pulang. Perasaanya tiba-tiba tidak enak, ia ingin melihat Lindsey. Wanita itu istrinya, miliknya dan akan seperti itu selamanya.


Ia mengambil jasnya dan keluar dari ruangan sambil membawa paket sialan itu. Hana yang melihat Lucas hanya menunduk sopan. Aura tidak bersahabat yang dikeluarkan Lucas sanggup membuatnya merinding.


“Batalkan semua jadwalku. Aku tidak ingin diganggu hari ini.” suara datar Lucas terdengar tajam dan menusuk. Membuat Hana mengangguk kaku. Ini kali pertama ia melihat Lucas seperti itu, bersikap dingin.


John sudah menunggu Lucas di lobby. Ia langsung bergegas menjemput Lucas setelah lelaki itu menelepon nya untuk pertama kalinya. Biasanya Lucas hanya akan mengiriminya pesan.


John menelan ludah gugup melihat Lucas yang berjalan ke arahnya dengan langkah tegap dan wajah yang menahan emosi. Apapun yang terjadi, John tahu kalau Lucas tengah murka.


Suasana perjalanan pulang terasa sangat mencekam. Aura yang keluar dari Lucas sangat mengerikan dan menakutkan. Berkali-kali John mencoba bernapas dengan tenang tapi tetap saja ia merasa seperti akan segera mati.


“Apa istriku berada di mansion?”


“Yes, sir.” Jawab John kaku.


“Lajukan mobilnya lebih cepat.”


John segera mengangguk dan melakukan seperti yang diucapkan Lucas, melajukan mobil lebih cepat.


Lucas memandang kota New York dengan tatapan kosong. Tangan kirinya meremas paket sialan itu. Siapa yang berani mengiriminya pesan seperti itu? Siapa yang yang berani mengatakan Lindsey bukan miliknya? Siapa yang berani berharap seperti itu padanya? Memintanya bercerai dari Lindsey? Siapa yang berani-beraninya bertindak seperti itu?!


Lucas bukan orang baik, percayalah. Jika ia adalah orang baik, maka ia tidak akan bisa di posisina saat ini.


Ia selalu menunggu, menunggu sampai ia bisa bertindak dan mendapatkan apa yang ia mau. Sama seperti saat ini, ia akan menunggu. Menunggu sampai orang yang berusaha merebut Lindsey darinya menunjukkan diri.


Dan jika saat itu tiba, maka ia akan menjadi Lucas yang jauh dari kata baik.