Not Yet Yours

Not Yet Yours
Chapter 23



Lucas melepaskan ciumannya lalu menatao Lindsey datar. "Kenapa ke sini?" tanyanya.


"Lucas.." Lindsey tidak sanggup berkata-kata. Lucas tidak ingin kehadirannya.


"Pulanglah, biar John mengantar mu."


Lindsey menatap Lucas tak percaya. Setelah ia begitu khawatir, lelaki ini malah mengusirnya?


Lindsey tersenyum miris menyadari satu hal. Memang siapa ia untuk Lucas?


"Ayo, John akan mengantarmu." Lucas hendak meraih tangan Lindsey tapi lebih dulu ditepis Lindsey dengan lembut.


"Tidak usah. Aku bisa masuk sendiri ke dalam mobil." Ucapnya lalu berbalik meninggalkn Lucas sedangkan Patrick sudah berada di dalam kantor polisi.


Melihat Lindsey yang menjauh, Lucas ingin menghentikannya tapi ego memaksanya untuk diam. Jadi ia membiarkan Lindsey pulang bersama John.


Lucas menatap Patrick yang keluar dari kantor polisi dengan datar. Patrick juga menatapnya dengan datar namun ada sarat kekesalan di wajah lelaki itu. Tidak perlu bermain tebak-tebakan untuk bisa mengetahui apa yang membuat lelaki itu kesal.


Lucas menghembuskan napasnya santai lalu memasuki mobilnya dengan tak kalah santainya.


“Sir, dimana nyonya?”


"Sudah pulang bersama John."


Patrick baru ingin membalas Lucas tapi ia urungkan. Ia hanya menatap tuan nya itu dengan datar dan membuat Lucas mendengus kesal.


“Kalau kau ingin bicara katakan saja Patrick. Aku malas menatap wajahmu yang datar itu.” 


Tanpa menunggu Patrick kembali berbicara, Lucas menutup pintu mobilnya dengan pelan. Dan disusul oleh Patrick yang duduk dibelakang kemudi. Kali ini bukan John lagi yang mengemudi. Menjalankan mobil Lucas meninggalkan kantor polisi.


“Kenapa anda bisa berurusan lagi dengan polisi.”


Lucas menganggap Patrick sedang bertanya kepadanya karena ada kata ‘kenapa’ di kalimat itu. Ia juga mengasumsikan bahwa pertanyaan itu ditujukan padanya karena hanya mereka berdua yang ada di dalam mobil ini.


Sejujurnya Lucas malas menjawab pertanyaan Patrick karena ia tidak merasa sedang di tanya. Tapi dari pada nanti Patrick merasa tidak dianggap, jadi lebih baik ia menjawab pertanyaan yang lebih terdengar seperti pernyataan itu.


“Karena aku ingin.” balas Lucas tak acuh.


“Nyonya sangat khawatir tadi.”


Lucas bersandar dan memejamkan matanya. Tidak tahu harus berekspresi seperti apa mendengar kalimat Patrick barusan.


“Kenapa kau mengatakannya pada Lindsey?”


“Tentu saja, karena beliau istri Anda.”


Fakta itu terdengar kurang menyenangkan sekarang. Entahlah, tapi Lucas masih merasa kesal. Ia juga tidak tahu mengapa ia bisa se-kesal ini hanya karena Lindsey melangkah mundur saat ia berusaha mendekat.


“Kita ke kantor saja.” ucap Lucas datar masih dengan mata terpejam.


“Anda tidak mau bertemu dengan Nyonya lagi?”


“Tadi sudah bertemu. Bahkan sudah berciuman kalau kau lupa. Jadi nanti saja menemuinya lagi.”


Setelh mengatakan itu, Lucas kembli terdiam. Pikirannya kembali saat ia mengusir istrinya pulang. Lindsey terlihat sangat syok dan terpukul. Sial! Sepertinya ia melakukan kesalahan lagi.


“Bangunkan aku kalau sudah sampai di kantor.”


“Baik, sir.”


Patrick mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, ia tidak ingin mengganggu tidur Lucas walau ia ingin. Patrick tahu Lucas sedang kesal. Tidak mungkin Lucas berurusan lagi dengan polisi jika ia tidak sedang kesal.


Bisa dibilang berurusan dengan polisi adalah salah satu cara Lucas untuk mengurangi rasa kesalnya. Lucas selalu berurusan dengan polisi hanya karena masalah yang sepele. Seperti yang baru saja terjadi. Kejar-kejaran dengan mobil polisi karena ia melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas aturan yang sudah ditetapkan.


Lucas yang seperti ini, sangat tidak menyenangkan menurut Patrick. Sebagai orang kepercayaan Lucas, mengganggu pria itu merupakan salah satu kesenangannya selama ia bekerja.


Ia sangat senang melihat Lucas kesal, tapi ia tidak suka melihat Lucas kesal karena orang lain. Sekalipun Lucas adalah orang yang menyebalkan, tapi lelaki itu adalah pria yang baik. Secara diam-diam, Patrick mengakui kalau ia senang bekerja pada Lucas.


“Kita sudah sampai, sir.” Patrick tahu Lucas tidak tidur. Lelaki itu hanya memejamkan matanya karena sedang berpikir. Entah apa yang dipikirkannya, tapi biasanya bukan sesuatu yang menyenangkan jika Lucas sudah berpikir seperti itu.


Lucas membuka matanya. Mengamati sejenak suasana disekelilingnya lalu bergerak keluar dari mobil dan diikuti oleh Patrick.


“Lebih baik kau pulang dan jaga Lindsey, suruh John datang.” Lucas mengatakannya tanpa melihat Patrick, hanya saja ia masih diam dan tidak berjalan.


Patrick mengangguk lalu masuk kembali ke dalam mobil. Jika Lucas lebih memilihnya untuk menjaga Lindsey berarti ada sesuatu yang mengganggu Lucas tentang Nyonya nya itu. Entah apa itu, Patrick tidak harus tahu. Toh nantinya Lucas akan berbicara padanya.


Lucas memasuki gedung kantornya dengan wajah yang berantakan dan lelah. Beberapa karyawan memberi salam dan menyapanya. Semua orang memang tahu kalau Lucas adalah orang yang datar. Mereka sudah terbiasa jika sapaannya tidak dihiraukan oleh Lucas. Lagipula menyapa Lucas hanya untuk sekedar menghormati saja.


Lucas memasuki lift khusus petinggi. Banyak pertanyaan yang sebenarnya berputar di kepalanya, dan itu membuatnya pusing. Ia keluar dari lift begitu liftnya berhenti.


“Apa jadwalku hari ini?”


“Anda baru saja melewatkan rapat dengan perusahaan pak Jonathan, sir.”


“Perusahaan Jonathan bisa menunggu, ada lagi?”


“Tidak ada sir, laporan keuangan yang anda minta dari tiga bulan yang lalu sudah ada di meja Anda, sir.”


Lucas mengangguk lalu masuk ke dalam ruangnya. Tapi sebelum ia mencapai pintu, suara Hana menginterupsinya.


“Satu lagi sir, tuan Jonathan sudah menunggu anda di dalam.”


“Untuk apa ia datang?”


“Saya tidak tahu sir, sebelumnya saya sudah menghubungi tuan Jonathan karena Anda tidak bisa datang rapat. Tapi beliau memutuskan untuk datang kemari dan menunggu anda di dalam, sir.” Hana menjelaskan panjang lebar namun hanya dibalas anggukan oleh Lucas.


“Ada apa kau kemari?” tanpa babibu dan basa-basi, Lucas menghampiri Jonathan yang sedang bermain ponsel di sofa.


“Oh hey brother!! Kau sudah sampai?" Jonathan menatap Lucas dengan senyuman mautnya. “Aku sudah menunggumu hampir sejam, Aku baru saja mau pulang tapi ternyata kau sudah datang duluan?”


Lucas menatap Jonathan datar. Sudah mau pulang katanya? Bahkan saat ia datang tadi lelaki ia terlihat sangat santai. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda bahwa ia akan pulang.


“Kau belum menjawab pertanyaan ku Jo.”


“Pertanyaan yang mana?” Jonathan kembali menatapnya polos.


Lucas memutar bola matanya, jengah. Dan Jonathan melihatnya.


“Hei! Itu sangat tidak sopan. Tapi karena kau sepupuku jadi aku memaafkan mu.” Jonathan kemudian tertawa kecil.


“Mau apa kau kemari?”


“Ah, aku hanya ingin menyapa mu wahai sepupuku yang datar.”


“Seriously Jo? Aku sedang kesal!” sentak Lucas membuat Jonathan tertawa kecil.


“Apa yang membuatmu kesal sampai harus kembali berurusan dengan polisi?”


“Dari mana kau tahu?”


“Ayolah Lucas, kita sudah menjadi sepupu sejak kita dilahirkan. Kita juga memiliki nama belakang yang sama.” ucap Jonathan dengan nada merajuk “Jadi apa yang membuatmu kesal?” tanyanya lagi.


“Entahlah, aku juga tidak tahu kenapa aku bisa se-kesal ini.” Lucas mengambil tempat duduk di depan Jonathan, lalu bersandar dan menghembuskan napas kesal. Sangat terlihat kalau ia sedang frustasi.


“Apa karena istri seksi mu itu?” Jonathan menebak langsung.


Lucas tidak menjawab. Tapi ia mulai bercerita mengenai kekesalannya. Jonathan Mengernyit tapi ia paham. Ia bertanya setelah selesai Lucas selesai bercerita tentang hal yang menurutnya menggelikan.


Jonathan tahu, Lucas memang agak bodoh kalau soal hal-hal menyenangkan seperti ini. Sepupunya ini memang tidak pernah jatuh cinta.


Detik selanjutnya Jonathan sudah menatap Lucas tajam dan serius. “Sekarang jujur padaku Lucas.”


“Apa?” Lucas mengernyit.


“Apa kau mencintai Lindsey?”


“Sudah ku katakan aku t-”


“Tidak mungkin kau kesal hanya karena masalah sepele seperti itu jika kau tidak mencintainya!”


“Apa kau sedang menggurui ku?”


“Ya, karena kau kan memang bodoh jika berbicara soal cinta.” Jonathan tertawa. “Tapi sudahlah karena aku sudah tahu apa yang membuatmu kesal seperti ini, jadi aku pamit pergi.” Jonathan berdiri dan berjalan ke arah pintu.


“Kau jauh-jauh datang menemui ku hanya karena ingin tahu alasan kekesalanku?” Lucas mengernyit.


“Bukankah itu sangat manis?” Jonathan mengerlingkan sebelah matanya membuat Lucas jijik. "Aku sedang mencoba menjadi sepupu yang baik untukmu."


“Itu tidak manis, tapi menyebalkan.”


“Sudahlah brother, lebih baik kau memikirkan kembali tentang perasaanmu.” ucap Jonathan kemudian meninggalkan Lucas yang masih terduduk di sofa.


Setelah kepergian Jonathan, Lucas kembali bersandar ke sofa. Memejamkan matanya dan mulai berpikir. Kata-kata Jonathan barusan berhasil membuatnya memikirkan Lindsey.


Apa benar ia mencintai Lindsey?