
Suara gema langkah kaki seseorang memecah keheningan di lorong yang menuju sebuah ruangan. Orang tersebut memasuki ruangan itu dengan wajah kesal. Kehadirannya membuat orang-orang yang berada di dalam ruangan itu menjadi gugup karena kehadiran lengkap dengan aura yang menyeramkan.
“Kalian sudah mendapatkannya?” Tanyanya memecah keheningan.
Suaranya yang berat dengan intonasi yang dingin, membuat orang-orang yang ada di dalam ruangan itu mulai ketakutan.
“Su-dah tu-an.” salah satu dari mereka menjawab dengan terbata-bata.
“Katakan.”
“Tu-an Lucas.."
“Dia bukan tuanmu, kau bekerja padaku.” Potongnya tajam.
“Eh.. ma-afkan sa-ya Tuan,”
“Lanjutkan.”
“Lucas ternyata membelikan ponsel baru kepada Nona Lindsey. Ia membelikan ponsel itu saat mereka akan meninggalkan London. Saat it-”
“Mana nomornya?”
“Eh, ah.. iya,” dengan gugup orang itu memberikan kertas kecil pada lelaki itu dengan takut-takut.
Lelaki itu meraih kertas kecil itu dengan senyum miring.
“Kalian boleh pergi.”
Tidak mau mengulur waktu, setelah ruangannya kosong, ia langsung menghubungi nomor yang ada di kertas itu. Cukup lama ia menunggu karena panggilannya tak kunjung di jawab, membuat ia merasa kalau ia baru saja ditipu.
Ia baru akan mematikan ponselnya dan memanggil kembali anak buahnya karena sudah membuatnya emosi, tapi suara dari seberang ponsel membuatnya membeku.
“Hallo,” sapa suara lembut di seberang.
Sejenak ia memejamkan matanya menikmati suara lembut itu. Suara yang sangat di rindukannya.
“Lindsey.” gumamnya kecil.
“Ya? Ini siapa?”
Lelaki itu masih memejamkan matanya menikmati suara lembut nan indah itu yang menyapa telinganya. Otaknya mulai bekerja menghitung berapa tahun waktu yang terlewati tanpa ia mendengar suara yang lembut itu.
“Maaf, sepertinya anda salah nomor.”
Kalimat itu langsung membuatnya membuka mata dan buru-buru menjawab.
“Tidak, aku tidak salah nomor.”
“Maaf tapi saya tidak mengenal Anda.”
“Kau mengenalku Lindsey, sama seperti aku mengenalmu.”
“Maaf tapi sepertinya Anda benar-benar salah nomor Tuan. ”
“Tidak Lindsey, ini aku.”
“Siapa?”
Sejenak ada rasa dongkol di hatinya karena merasa Lindsey melupakannya. Tapi jawaban Lindsey yang selanjutnya membuat bibirnya langsung tersenyum lebar. Lindsey-nya tidak melupakannya.
“Bryan? Apa itu kau?”
“Hmm.” gumamnya penuh dengan kesenangan.
“Ya ampun! Benarkah ini kau?!”
“Ya. ”
“Kemana saja kau? Aku menunggumu.”
“Ya, aku tahu. Sekarang aku sudah kembali, untukmu.”
“Tapi sekarang aku sudah menikah.”
Ah, sialan, batinnya.
“Seandainya aku kembali lebih cepat, kita pasti sudah bersama.” Ucapnya datar untuk menutupi rasa kesalnya.
“Mungkin saja. Seandainya kau kembali lebih cepat. Tapi mau bagaimana lagi, kita sepertinya memang bukan jodoh.”
Ia bisa mendengar suara tawa Lindsey yang mendayu-dayu di telinganya.
Harusnya ia senang mendengar suara tawa yang indah itu, sayangnya Bryan tidak merasa bahwa apa yang dikatakan oleh Lindsey barusan adalah lawakan yang bisa membuatnya tertawa.
Kita memang berjodoh, kau yang sedang salah jodoh. Ucapnya dalam hati.
“Yeah, tapi kita masih bisa berteman kan?” tanyanya. Basa-basi.
“Tentu saja. Kita masih bisa berteman karena bagaimanapun juga aku berhutang nyawa padamu.”
Ia tersenyum miring mendengar kalimat Lindsey barusan. Ah, Lindsey memiliki utang nyawa padanya. Bukanlah itu suatu jalan menuju kebahagian mereka?
“Aku merindukanmu, bisakah kita bertemu?” tanyanya. Basa-basi lagi.
“Tentu saja, aku juga merindukanmu. Akan aku kabari nanti.”
“Baiklah aku akan akan menunggu kabar darimu.”
“Oke. Selamat malam Bryan.”
“Selamat malam juga Lind-Lind.”
“Kau masih mengingat nama itu?”
“Tentu saja, aku yang membuatnya. Nama panggilan khusus untukmu dariku.” panggilan sayangku, lanjutnya dalam hati.
Lagi-lagi ia mendengar suara tawa gadisnya di seberang sana.
“Baiklah, terserahmu. Akan ku tutup.”
“Ya, silahkan.”
Dan senyum miringnya kembali. Tentu saja Bryan tidak akan mau menunggu. Ia akan segera menemui gadisnya itu. Lindsey-nya, gadisnya. Miliknya.