Not Yet Yours

Not Yet Yours
Chapter 50



Sebelumnya aku minta maaf buat kalian menunggu lama :(


Lucas mengikuti Patrick yang berjalan di depannya dalam diam. Dia tidak lagi bersemangat bahkan hanya sekedar untuk bertanya mengapa mereka ke tempat ini. Sejak di dalam mobil, Lucas sudah mengtakan kalau dia tidak apa-apa. Yang dia butuhkan saat ini hanya mengetahui keadaan istrinya yang baik-baik saja.


Tapi seakan Patrick tidak memahaminya dan malah membawanya ke rumah sakit. Demi Tuhan, luka dari pukulan Bryan tidak lebih sakit dari hatinya yang tidak bisa menemukan istrinya.


"Anda tidak bertanya mengapa kita di sini, sir?" Patrick berhenti berjalan dan berbalik menatap Lucas yang hanya diam.


"Anda masih marah pada saya, sir?" tanya Patrick kembali, tapi Lucas tetap tidak menjawab.


Patrick akhirnya menghela napas ketika Lucas tak kunjung berbicara.


"Kita berada di sini sesuai dengan permintaan Anda, sir."


"Aku tidak pernah memintamu membawaku ke rumah sakit. Aku memintamu untuk mencari istriku." Desis Lucas.


"Ya, itu lah mengapa kita di sini."


Lucas akhirnya menatap Patrick. "Maksudmu istriku berada di sini?" Tanya Lucas dan dijawab anggukan oleh Patrick.


"Kau yakin?" Tanya Lucas ketika jantungnya kembali bertalu bersamaan dengan perasaan takut yang melingkupinya.


"Sangat yakin." jawab Patrick mantap.


Jantung Lucas semakin berdetak kuat. Rasa takut itu kian membesar. Kenapa di rumah sakit? Apa ketakutannya benar-benar terjadi? Apa Lindsey terluka? Apa calon anak mereka benar-benar pergi?


Lucas sontak berlari menuju meja administrasi. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang menataonya terkejut karena wajahnya yang babak belur. Lucas juga tidak peduli pada Patrick yang ikut berlari dibelakangnya sambil meneriakkan namanya.


“Pasien bernama Lindsey Jefferson di kamar nomor berapa?” tanya Lucas tergesa-gesa begitu ia sampai di depan dua orang perawat yang bertugas di meja administrasi.


Perawat itu menatap Lucas dengan tatapan takjub. Sekalipun wajah lelaki itu penuh lebam berwarna biru keunguan, tapi kadar ketampanannya tetap saja tidak berkurang. Bahkan saat ini terlihat semakin seksi. Kharisma Lucas benar-benar mampu membuat kaum hawa tidak puas jika hanya melihatnya sekejap.


“Di mana kamar istriku!” sentak Lucas karena kesal pada perawat tersebut yang tidak mengindahkan pertanyaannya dan malah melamun menatap wajahnya.


Dengan perasaan takut-takut dan salah tingkah, salah satu dari perawat itu langsung mengecek komputer untuk mencari permintaan Lucas. Tapi sesaat kemudian perawat itu mendogak menatap Lucas heran, “Maaf sir, tidak ada pasien bernama Lindsey Jefferson. Apa Anda yakin istri Anda di rawat di sini?”


Raut wajah Lucas berubah pias. “Apa maksudmu tidak ada?”


“Memang ti--”


“Namanya Lindsey Collins.” suara Patrick menginterupsi dari belakang Lucas dengan datar.


Lucas menatap Patrick tidak mengerti, mengapa Patrick seakan tahu segalanya?


“Ada apa, sir?” tanya Patrick ketika mereka berada di lift menuju kamar Lindsey.


“Kenapa bukan Jefferson nama belakangnya?” tanya Lucas, “Dia masih istriku dan itu berlaku untuk selamanya!"


“Yang membawa Nyonya ke sini adalah Ayahnya. Tentu saja Erick lebih suka memakai nama belakangnya dibandingkan nama belakang Anda, sir. Apalagi mengingat bahwa beliau ingin segera kalian bercerai.”


“Tetap saja Lindsey istriku! Seharusnya si tua bangka itu tahu. Aku semakin tidak menyukainya.” dengus Lucas.


“Tapi beliau mertua Anda, sir.”


“Tidak ada aturan yang mengatakan menantu tidak boleh membenci mertua. Terutama jika mertua seperti si tua bangka itu.”


“Beliau ayah Nyonya, sir.”


“Yang jelas bukan ayahku.”


“Tapi beliau mertua Anda.”


“Yang penting dia bukan ayahku.”


“Tapi dia ayah istri Anda. Secara tidak langsung Erick adalah ayah Anda juga, sir.”


“Hentikan Patrick.”


“Baik, sir.”


Mereka keluar dari lift dan langsung berbelok ke arah kenan. Di sana tepat di dihadapannya Lucas melihat Erick sedang bersandar di tembok. Wajah mertuanya itu terlihat muram dan suram. Lucas tidak terlalu memperdulikan Erick. Mengingat kalau lelaki tua itu juga selama ini tidak pernah memperdulikan istrinya.


Lucas berjalan mendekati Erick dan lelaki tua itu menyadari kedatangannya.


“Di mana is—”


Belum sempat Lucas menyelesaikan kalimatnya, bogem mentah dari sang mertua sudah lebih dulu mendarat di rahang tegasnya. Wajahnya yang sebelumnya juga masih lebam harus bertambah lebam lagi karena pukulan sang mertua. Dan untuk kali ini Patrick tidak ikut campur, itu adalah urusan keluarga mereka.


"Ada apa denganmu, tua bangka?!" tanya Lucas pias. Jangan lupa kalau dia masih membenci mertuanya ini.


“Ceraikan putriku!” desis Erick dingin.