Not Yet Yours

Not Yet Yours
Chapter 58



Lucas menatap Patrick diam. Ekspresi wajahnya datar dan tidak bisa dibaca, bahkan oleh Patrick sekalipun. Jika biasanya Patrick busa memahami semua sikap non verbal Lucas, maka kali ini tidak sama sekali. Patrick tidak bisa mengerti sama sekali.


"Sir?" Patrick menatap Lucas bertanya.


"Kita bicarakan itu nanti." ucap Lucas dingin lalu meniggalkan Patrick yang terkejut mendengarnya. Ini pertama kalinya Patrick melihat Lucas seperti itu kepadanya. Dingin dan menakutkan.


Dengan langkah cepat Patrick menyusul Lucas dan berjalan dibelakangnya. Untuk pertama kalinya Patrick merasa bersalah dan takut pada Lucas. Ia menghormati Lucas dan mengabdi pada lelaki itu dengan sepenuh jiwanya. Tapi kali ini ia merasa sedikit keterlaluan karena sudah menyembunyikan fakta mengenai Lindsey dan calon tuan mudanya.


Apa yang akan terjadi kalau Lucas mengetahui jika selama ini bukan Nyonya-nya Lindsey yang mengirimkan surat-surat cerai itu? Apa Lucas akan benar-benar memecatnya dan membuangnya ke jalanan?


Perasaan bersalah Patrick semakin menggunung. Jika diingat-ingat lagi, selama ini Lucas adalah penolong dan penyelamatnya. Sekalipun Lucas terkadang menurutnya keras dan menjengkelkan tapi Lucas adalah tuannya, dan sungguh Patrick merasa sangat menyesal.


"Sudah sampai di mana perempuan ular itu?"


Patrick tersentak dari lamunannya mendengar suara Lucas. Suara bosnya itu sudah berubah seperti biasa. Tidak ada nada tajam maupun dingin seperti sebelumnya. Sejenak Patrick merasa sangat bersyukur karena Lucas bukanlah orang yang pendendam.


"Patrick!" tegur Lucas.


"Ah iya, mereka sudah menuju rumah yang dipinggir kota bagian utara sir."


"Katakan pada John untuk menunggu di lobby, aku ingin segera ke rumah itu."


Patrick mengangguk dan segera menghubungi John. Meminta lelaki itu agar bersiap-siap karena mereka sudah di perjalanan menuju lobby.


Lucas langsung memasuki mobil begitu John turun dan membukakan pintu untuknya. Tak lama kemudian mobil itu melaju cepat.


Setelah berkendara selama kurang lebih empat puluh lima menit, mobil mewah itu akhirnya memasuki sebuah pekarangan rumah yang cukup besar bergaya Eropa klasik. Begitu mobil berhenti, Lucas lansgung turun dan memasuki rumah itu. Namun, sayup-sayup ia mendengar suara perempuan yang berteriak dengan kasar.


Lucas mempercepat langkahnya dan menemukan Kayla tengah berteriak sambil menunjuk orang-orangnya. Perempuan itu memaki para pekerjanya dengan posisi membelakanginya.


"Siapa kalian sialan?!" teriak Kayla pada beberapa orang berjas hitam yang hanya menatapnya datar dan tak bersuara.


"JAWAB BODOH!" teriaknya lagi. Namun semua orang yang ada di tempat itu tidak memperdulikannya sama sekali.


"JAWAB ATAU AKAN ME-"


"Kau akan apa Kayla?" suara Lucas yang tajam memotong kalimat Kayla.


Mendengar suara tajam itu, Kayla langsung berbalik dan mendapati Lucas yang menatapnya dingin. Wajah Kayla berubah pucat.


"Kau akan apa hmm?" tanya Lucas lagi sambil berjalan mendekati Kayla.


Tatapan Lucas beralih pada perut Kayla yang sudah cukup besar. "Apa itu anakku?" tanyanya dengan suara tenang dan ekspresi datar.


Wajah Kayla semakin pucat menatap Lucas yang tengah menatap ke perutnya. Ia sama sekali tidak membayangkan akan bertemu dengan Lucas sekarang.


Lucas menatapnya datar membuat Kayla gemetar dan ketakutan. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi.