Not Yet Yours

Not Yet Yours
Chapter 37



Dalam sekejap Lucas menegakkan tubuhnya sehingga membuat Lindsey sudah berada di pangkuannya sekarang. Dengan tergesa-gesa, Lucas menekan tubuh Lindsey semakin merapat padanya.


Lindsey tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia sudah terbawa gairah yang sama dengan Lucas. Ia mengalungkan kedua tangannya ke leher Lucas dan balas menciumnya dengan gairah yang sama.


“Tuan Anda ada meeting penting pagi ini.”


Damn it! Kenapa setiap kali ia akan melakukannya dengan istrinya, Patrick selalu muncul? Apa sebenarnya Patrick adalah seorang cenayang?


Dengan cepat Lindsey langsung membenamkan wajahnya di ceruk Leher Lucas. Meskipun sudah berkali-kali Patrick memergoki mereka seperti ini, tetap saja ia tidak terbiasa. Ia malu.


Patrick memang tidak pernah membahasnya bahkan setelah memergoki ataupun mengganggu mereka. Lelaki itu hanya bersikap biasa saja. Tapi raut wajah datar yang selalu di tampilkan oleh Patrick sangat menyebalkan.


“Patrick kau selalu saja, mengganggu.” Lucas menatap Patrick tajam.


“Maaf sir, tapi sudah tidak ada waktu jika kalian melakukan hal itu dulu.”


“Kami bisa melakukannya dengan cepat.”


“Sudah tidak ada waktu, sir.”


Kenapa Lucas merasa kalau ia sedang bernego dengan Patrick ya? Ia kan bosnya.


“Anda harus segara bersiap-siap sir, dan biarkan Nyonya membuatkan sarapan untuk Anda.”


“Patrick!” Lucas menggeram jengkel.


Bukannya menyahut Patrick hanya tersenyum tipis kemudian menundukkan kepalanya daan meninggalkan mereka berdua.


“Baby, Patrick sudah pergi. Ayo lanjutkan.”


“Tidak, ia pasti akan kembali lagi. Aku malu sekali Lucas.”


“Baby, kita bisa lakukan dengan sangat cepat.”


“Tidak Lucas, hentikan. Lebih baik kau bersiap-siap,”


“Baby, sekali saja.” rengek Lucas manja sambil mengendus-endus leher Lindsey seperti anak anjing.


“Permisi Tuan dan Nyonya, ada kiriman paket untuk Nyonya.”


“Untukku?” tanpa menunggu lagi, Lindsey langsung berdiri dari pangkuan Lucas membuat lelaki itu menggeram kesal.


“Baby!”


“Lebih baik kau bersiap-siap untuk bekerja Lucas.” Lindsey langsung keluar dari ruangan Lucas sambil tertawa kecil. Ia menghampiri pelayan untuk mengambil paket yang dimaksudkan oleh salah satu pelayannya barusan.


Ia menerima paket itu dan mulai membukanya. Kotaknya besar dan terlihat menarik, tapi begitu dibuka, isinya cukup membuat ia sedikit terkejut. Sebuah pena.


Lindsey tidak mengerti, ia mengamati pena itu dengan seksama dan tidak menemukan apapun. Tidak ada apa-apa, itu memang hanya sebuah pena.


“Aku akan bersiap-siap.” geraman kesal dan jengkel yang berasal dari belakangnya membuat Lindsey langsung berbalik dan mendapati suaminya itu tengah menatapnya masam.


Ia lalu tersenyum kecil. “Jangan merajuk, bekerjalah dengan serius. Kalau sudah selesai langsung pulang, aku menunggu.” ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya lalu tersenyum manis, sangat manis.


Lucas menatapnya dalam. Senyum sialan milik istrinya yang masih sama dengan yang dulu. Bedanya, senyum kali ini bukan lagi kebohongan. Ia lalu tersenyum dan langsung berlari ke dalam kamar untuk bersiap-siap.


Sepeninggal Lucas, Lindsey kembali menatap pena yang masih ada di tangannya. Pena ini dikirim oleh Kayla. Apa maksud perempuan itu mengirimnya pena ini?


Ia hendak membuang pena, tapi sebelumnya ia mengambil kertas dan coba-coba untuk menulis menggunakan pena itu. Namun begitu jari jempolnya menekan ujung pena itu, sebuah suara tiba-tiba terdengar. Pena ini ternyata sebuah peremkam, dan merekam suara yang sangat tidak asing baginya. Suara Lucas dan Jonathan.


“**Kau tidak mencintainya?”


“Tidak.”


“Lalu kenapa kau terlihat peduli?”


“Karena aku kasihan padanya, dia diasingkan di keluarganya sendiri.”


Tubuh Lindsey menegang kaku. Jadi selama ini Lucas hanya kasihan kepadanya? Menyedihkan sekali hidupnya. Lindsey tertawa sumbang, benar-benar menyedihkan.


Kenapa dadanya sesak sekali?