
"Lucas aku ingin spaghetti," Lindsey menggoyang-goyangkan tubuh Lucas yang sedang tidur disebelahnya.
"Lucas," rengek Lindsey sambil terung menggoyang-goyangkan tubuh Lucas.
"Nghh" Lelaki itu hanya bergumam tidak jelas. Lucas bahkan belum membuka matanya ketika ia mencari-cari tubuh Lindsey kemudian memeluknya dengan erat.
"Aku ingin spaghetti." Ucap Lindsey dalam pelukan Lucas. Ia melirik jam dinding, hari masih sangat pagi. Jarum jam masih menunjuk di angka 2 AM.
Lagi-lagi Lucas hanya menggumam tidak jelas.
"Lucas anakmu ingin spaghetti!" sentak Lindsey dengan kesal.
Dengan berat Lucas membuka matanya. "Baby ini masih subuh," ucapnya serak.
"Bukan aku yang meminta, tapi anakmu."
Lucas mengelus perut Lindsey dengan pelan dan lembut. "Anak daddy jangan nakal ya, daddy masih mengantuk." Ucapnya setengah sadar, lalu setelah itu ia kembali memejamkan matanya.
Lindsey menatap Lucas dengan kasihan. Suaminya itu baru pulang jam dua belas tadi. Lucas bahkan tidak mandi dan langsung tertidur. Ia yakin kalau suaminya ini sangat lelah. Memang sialan si Bryan yang membuat Lucas harus bolak-balik pergi ke kantor polisi. Lelaki sialan itu melaporkan Lucas karena penganiayaan.
Lindsey menatap Lucas yang terlelap lalu mengelus lembut rambut lelaki itu dengan sayang. Suaminya ini bahkan sudah kembali tertidur.
Bryan si lelaki sinting dan psikopat gila itu yang membuat suaminya menjadi seperti ini. Lucas memiliki pekerjaan yang sangat banyak dan sekarang harus ditambah lagi dengan laporan dari Bryan.
Dengan lembut Lindsey mencium kening Lucas, perlahan ia melepaskan diri dari pelukan suaminya itu. Setelah terlepas, Lindsey lalu berjalan keluar dan menuju dapur. Ia mengambil spaghetti dan merebusnya sendiri.
Entahlah, ia sangat ingin makan spaghetti. Jadi daripada ia mengganggu suaminya yang kelelahan, lebih baik ia membuat spaghetti untuk dirinya sendiri. Tidak butuh waktu lama membuatnya karena spaghetti itu memang makanan instan. Setelah selesai membuatnya dan meletakkannya di piring, Lindsey tidak langsung kembali ke kamar melainkan ke ruang TV.
Ia meraih remote lalu menyalakan tv. Ia mengambil tempat duduk paling nyaman untuknya dan mulai memakan spaghetti nya sambil menonton tv. Namun, mungkin karena memang saat ini sudah bukan jam menonton anak-anak, seluruh siaran acara malam ini berisi konten dewasa. Dan itu membuat Lindsey jijik.
Oh tolong, ia sedang makan. Menonton acara seperti itu sambil makan bukanlah hal yang menyenangkan. Yang ada ia akan muntah jika memaksakan diri. Lagipula akhir-akhir ini ia sedang tidak menginginkan hal seperti itu. Lucas juga tidak pernah menyinggung hal itu.
Mengingat masa kehamilannya sudah memasuki bulan ke tujuh, hormonnya cepat sekali berubah. Lindsey bisa mengingat beberapa waktu yang lalu, ketika ia menginginkan Lucas di dalamnya. Ia berusaha keras menggoda Lucas, tapi begitu suaminya itu menciumnya, tiba-tiba ia sudah tidak menginginkan hal itu. Tentu saja itu lembuat Lucas jengkel dan harus mandi lebih lama, sedangkan ia ia tidak bisa membantu apa-apa. Lindsey tersenyum mengingat bagaimana Lucas tidak bisa marah padanya.
Entah sudah berapa lama Lindsey menonton TV, Ia hampir berteriak ketika merasakan seseorang duduk disebelahnya dan langsung memeluknya dengan erat. Lucas memeluknya dengan sangat erat sebelum kembali tertidur di sebelahnya.
Mengabaikan Lucas, Lindsey menyantap spaghetti nya sampai habis sambil terus menonton TV, dan membiarkan Lucas memeluknya. Setelah selesai dengan spaghetti nya, Lindsey lalu bingung harus bagaimana dan berbuat apa. Lucas tertidur sangat lelap sambil memeluknya, membuat ia tidak tega jika harus membangunkan lelaki itu dan menyuruhnya kembali ke kamar.
Akhirnya Lindsey memutuskan untuk tetap membiarkan Lucas tidur dan tidak akan membangunkan lelaki itu. malam ini mereka akan di sofa bed. Itu tidak menjadi masalah karena dimana pun ia tidur, selalu ada Lucas yang memeluknya.
Lindsey menurunkan tubuhnya dan masuk lebih dalam ke dekapan hangat suaminya dan mencari posisi nyaman. Setelah mendapatkan kenyamanan, ia memejamkan matanya dan tertidur. Ah, sangat nyaman berada di pelukan Lucas.
Kenyamanan ini tidak pernah berubah sejak pertama kali Lucas memeluknya sambil tertidur. Padahal kala itu, Lindsey masih mengira kalau suaminya itu adalah seorang gay. Tapi begitu ia mengetahui fakta yang sesungguhnya, rasanya pelukan yang diberikan Lucas semakin hangat dan nyaman dibandingkan sebelumnya.
Lindsey sanggup jika ia harus berada di pelukan ini selamanya. Dan ia berharap akan hal itu, berada di pelukan Lucas selamanya.
Lucas dan pelukannya benar-benar suatu perpaduan yang sangat tepat untuk menutup dan mengawali hari. Pelukan Lucas mampu memberikan semangat dan energi baru untuknya. Ah, nyaman sekali rasanya berada di pelukan orang yang sangat ia cintai.
Entah berapa lama Lindsey tertidur, tapi ia sedikit tersadar ketika merasakan seseorang mengangkatnya dan membaringkannya di sebuah tempat yang sangat nyaman. Namun tetap setiap tempat yang nyaman itu tidak akan sempurna tanpa Lucas. Tapi sekarang ia kembali merasa sempurna karena merasakan dekapan hangat di tubuhnya.
"Baby, bangunlah."
Ah, suara Lucas yang sangat seksi serta ciuman yang ia rasakan di puncak kepalanya benar-benar membuat Lindsey terlena. Ia semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Lucas.
Lucas terkekeh melihat tingkah istrinya yang sedang mengandung ini. Ia lalu menciumi seluruh wajah Lindsey dengan gemas.
Ia ingat ketika tadi malam ia terbangun dan tidak mendapati istrinya ada di dekapannya. Dengan keadaan yang masih setengah mengantuk, ia memaksakan diri keluar kamar untuk mencari Lindsey. Begitu ia sampai di tangga, ia bisa mencium aroma spaghetti. Lucas langsung sadar kalau sebelumnya istrinya itu memang meminta spaghetti padanya.
Arrgggh!! Lucas mengacak rambutnya kasar lalu menuruni tangga, ia mencari Lindsey sebelum kemudian menemukan istrinya itu tengah menonton tv sambil memakan spaghetti dengan santai.
Lucas langsung berjalan mendekati Lindsey, merebahkan tubuhnya di sofa bed lalu memeluk Lindsey dengan erat. Karena sebelumnya ia memang masih mengantuk, ia langsung tertidur setelah memejamkan matanya selama beberapa saat.
"Baby ayo bangun." Ucap Lucas lagi sambil terus menciumi permukaan wajah Lindsey dengan gemas.
"Bukankah kau memintaku untuk menemanimu yoga hari ini?" tanya Lucas. "Kalau tidak jadi, aku akan ke kantor."
Dengan sekejap Lindsey langsung membuka matanya. "Jam berapa sekarang?"
"Jam 9 pagi."
"Oh my god! Aku akan bersiap-siap!" ucap Lindsey dan langsung bangun.
"Hei..hei! Hati-hati, jangan buru-buru seperti itu. Aku tidak mau kau kenapa-napa. Aku bisa menunggu." Jantung Lucas serasa diremas ketika ia melihat cara Lindsey bangun dan langsung berdiri.
Mendengar itu Lindsey hanya bisa nyengir lalu berlari ke kamar mandi, mengabaikan kalimat Lucas yang memintanya untuk berhati-hati dan tidak buru-buru.
Lucas menatap istrinya tidak percaya. Ya ampun Lindsey sedang mengandung tujuh bulan, TUJUH bulan tapi kenapa tingkah istrinya itu seolah-olah seperti orang yang tidak sedang mengandung?! Hal itu sangat-sangat membuatnya tidak tenang.
Lima belas menit kemudian, Lindsey keluar dari kamar mandi dengan keadaan basah dan tanpa sehelai benangpun alias telanjang bulat. Perut buncitnya terlihat sangat jelas. Lucas menatap perut Lindsey, Seharusnya perut itu lebih besar dari itu mengingat seharusnya isinya ada dua bukan satu. Tapi ia sudah seharusnya merelakan salah satu anaknya, dan menerima kenyataan.
Lucas menghampiri Lindsey, membawa handuk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa keluar seperti ini?" tanyanya serak.
"Seperti apa?" tanya Lindsey sambil mengelus dada Lucas yang dibaluti kemeja dengan gerakan menggoda.
"Lain kali jangan berlari seperti tadi kalau kau tidak ingin melihatku mati berdiri." Lucas berusaha mengalihkan perhatiannya dari pemandangan yang ada di hadapannya saat ini. Tubuh seksi istrinya yang terlihat semakin seksi dengan perut buncit.
"Aku hanya tidak ingin ketinggalan kelas yoga, ini pertama kalinya kau menemaniku. Lagipula kelas ini akan membantuku saat melahirkan nanti. Usia kandunganku sudah tujuh bulan, aku harus lebih sering ikut yoga."
Lucas menghela napasnya berat. "Aku bisa menyewa sepuluh pelatih yoga untukmu, untuk anak kita. Aku hanya tidak ingin kau membahayakan dirimu lagi, apalagi sampai harus bergerak seperti tadi." Ia menuntun Lindsey memasuki walk in closet dan mencarikan baju untuk istrinya itu.
"Lucas, aku baik-baik saja."
"Tapi aku yang tidak baik-baik saja melihatmu seperti itu. Kehilanganmu dan anak kita lagi adalah hal yang paling tidak aku inginkan seumur hidupku." Ucap Lucas lembut sambil menyerahkan pakaian yoga yang ia rasa akan membuat Lindsey nyaman selama menggunakannya.
Memdengar kalimat Lucas, Lindsey terdiam. Lalu dengan perlahan ia menjatuhkan handuk yang melilit tubuhnya. Ia juga menolak pakaian yang diberikan Lucas padanya.
Sedangkan Lucas sudah kembali menatap Lindsey dengan mata yang menggelap karena gairah.
"Baby kita harus segera bersiap. Bukankah kau bilang tidak ingin terlambat?" ucap Lucas serak, ia dengan sekuat tenaga menahan hasrat yang sudah hampir menghilangkan akal sehatnya.
Lindsey mendekati Lucas lalu kembali mengeus dada bidang suaminya itu dengan menggoda. Ia membuat pola-pola abstrak dan kemudian mendengar geraman redah dari Lucas. Lindsey tersenyum.
"Baby, please." Ucap Lucas memohon sambil memejamkan matanya, berusaha menolak setiap gejolak dari dirinya terutama gejolak di tubuh bagian atasnya.
Bukannya mendengarkan kalimat Lucas, Lindsey malah mendekap tubuh Lucas dengan lembut.
"Katamu kau bisa menyewa sepuluh pelatih yoga untukku, jadi kurasa tidak masalah datang terlambat."
Sedetik setelah Lindsey menyelesaikan kalimatnya, kakinya sudah tidak menyentuh lantai. Lucas menggendongnya ala bridal menuju tempat tidur dan mulai mencium bibir lembut Lindsey dengan panas. Menyentuh setiap inci tubuh Lindsey dengan bibir dan jarinya.
Ia merindukan tubuh indah istrinya ini. Tubuh indah ini miliknya seorang, hanya dia.
"Kau milikku baby sejak dulu dan sekarang bahkan sampai selamanya. Kau milikku."
Dan Lindsey tersenyum sambil sesekali mengerang mendengar kalimat indah suaminya itu.
"Ya Lucas, aku milikmu. Selamanya akan menjadi milikmu."
Lucas lalu melakukannya dengan perlahan dan lembut sampai mereka meraih puncak masin-masing.
Tapi bukan Lucas namanya, jika ia puas hanya dengan sekali gol. Jadi Lucas melakukannya sampai ia benar-benar merasa puas dan cukup. Entah kapan itu terjadi, ia tidak tahu. Yang pasti, saat ini ia merasa bahagia dan utuh.
Dan Lindsey? Istrinya itu benar-benar menakjubkan. Tidak cepat lelah bahkan setelah mereka melakukannya beberapa kali, apa istrinya seperti ini karena yoga? Jika iya, maka Lucas akan benar-benar menyewa sepuluh pelatih untuk istri suburnya ini.