
Sungguh wajah Lindsey sudah terbayang-bayang di kepalanya sejak pagi tadi. Tapi sayangnya pagi ini Bryan memiliki kendala pada perusahaanya. Hal itulah yang membuat ia kesal dan sedikit jengkel karena kendala tersebut membuat waktunya banyak terbuang.
Sialan sekali si Jonathan! Lelaki itu benar-benar menyebalkan. Bagaimana bisa lelaki itu tiba-tiba memenangkan tender yang sudah diicarnya dari awal? Memang semua keluarga Jefferson sangat menyebalkan. Tidak Lucas, tidak juga si sepupunya Jonathan. Mereka berdua benar-benar mengganggu ketenangannya.
Alhasil hingga siang tadi ia masih mengerjakan perbaikan karena kesalahan pada dokumennya yang di buat bawahaanya buat. Dengan berat hati ia harus merelakan tender besar itu pada Si Jonathan. Sialan.
Pekerjaannya baru rampung bertepatan dengan jam makan siang. Tapi Bryan tidak ingin mengulur waktunya. Ia segera meluncur dengan mobilnya menuju kediaman Lucas untuk menjemput Lindsey-nya. Gadisnya. Miliknya.
Orang suruhannya mengatakan kalau hari ini Lucas ada rapat penting. Jadi seharusnya lelaki itu cukup sibuk dan ia bisa menculik gadinya dari sangkar lelaki gay itu.
Namun begitu tiba di kediaman Lucas, rasa jengkel memenuhi dirinya karena melihat adanya mobil lelaki itu terparkir di carport.
Sialan!! kenapa Lucas sudah pulang? Tapi bukan Bryan namanya kalau ia harus pulang dengan tangan kosong.
Ia keluar dari mobilnya dan melangkah masuk. Ia cukup heran karena tempat ini seperti tidak ada penjaganya. Dan betapa senangnya ia ketika ia masuk ia sedang menyaksikan live drama antara Lucas dan gadisnya.
Ia tersenyum kecut, melihat tatapan Lucas pada gadisnya. Ia tidak menyukai itu.
“Lindsey.” panggilnya pelan.
Dan berhasil. Lucas menatapnya syok, ia tidak terlalu terkejut melihat tatapan syok Lucas. sudah pasti Lelaki itu juga menyelidikinya. Memangnya siapa yang tidak mengenal Lucas? hanya orang-orang gila yang tidak mengenalnya.
Senyumnya kembali terbit melihat Lindsey berlari dengan air mata, sedangkan Lucas menatapnya datar.
“Kau tidak mengejarnya?”
Ia tertawa kecil menanggapi pertanyaan Lucas.
“Sudah kukatakan dia bukan milikmu.” Ucapnya lalu meninggalkan Lucas yang sepertinya masih menatapnya.
<>
Sedikit rasa bersalah muncul di hati Bryan karena melihat Lindsey menangis. Tapi pelangi ada sehabis hujan bukan. Anggap saja Lucas adalah hujan untuk Lindsey dan ia adalah pelangi.
Bukankah sudah ia katakan di awal? Lindsey sedang salah jodoh, sekarang ia kembali untuk mengambil kembali jodohnya. Lindsey-nya.
Ia mengejar Lindsey dengan mobilnya, gadisnya itu berlari cukup kencang.
“Ayo masuk.”
“Bryan?"
Sejenak Lindsey menatapnya ragu.
“Masuklah.” ucapnya meyakinkan dan akhirnya Lindsey masuk ke dalam mobilnya. Welcome back, my baby Lind-Lind. Batinnya senang.
___________
Lucas menatap kepergian Lindsey dengan lelaki sialan bernama Bryan Robinson itu dengan jengah.
"Anda tidak mengejarnya tuan?"
Lucas menoleh menatap Patrick yang tiba-tiba saja sudah berada di sebelahnya -juga sedang ikut- menatap mobil Mercedes Benz itu yang melaju semakin menjauh.
"Untuk apa? Itu pilihannya."
"Tahu apa kau tentang wanita?" Tanya Lucas meremehkan.
"Tahu lebih banyak dibandingkan Anda." jawab Patrick sombong.
Lucas menghela napas. "Lelaki itu sudah kembali. Lindsey pergi karena lelaki itu sudah kembali."
"Ternyata Anda memang bodoh."
"Apa katamu?" Berani sekali Patrick mengatainya bodoh! Tolong, Dia yang menggaji lelaki ini. Sangat tidak sopan.
"Nyonya Lindsey mencintai Anda."
Lucas terdiam beberapa saat, emosinya seketika menguap dan pergi entah kemana. Ia tersenyum kecut.
"Ia juga berjanji tidak akan pergi."
"Kalau begitu buat ia menepati janjinya Tuan pintar."
Lucas tahu kalau sebenarnya Patrick sedang mengejeknya, baru beberapa saat yang lalu lelaki ini mengatainya bodoh. Tidak mungkin sekarang ia langsung pintar. Entahlah, otaknya tiba-tiba tidak berfungsi dengan baik.
"Aku tidak ingin memaksanya."
"Anda tidak memaksanya, Anda hanya memperjuangkan Nyonya."
"Memperjuangknnya? Sudah ku lakukan tadi. Tapi lihat, ia tetap pergi. Lagipula sudah sangat lama ia menunggu lelaki itu. Selama ini ia menunggu sampai hari ini tiba, laki-laki itu datang menjemputnya."
Patrick memutar bola matanya malas.
"Tuan berpikirlah dengan jernih. Perempuan memang sensitif, mereka selalu menggunakan perasaan dalam hal apapun. Begitupun dalam hal ini, Nyonya mencintai Anda dan itu dengan perasaan. Akhir-akhir ini saya merasa kalau Nyonya juga bertambah sensitif. Apa Tuan yakin kalau Nyonya belum 'jadi' ?"
Lucas mengernyit, "apa maksudmu?"
Patrick menggeleng, "berpikirlah Tuan." Ucapnya lalu meninggalkan Lucas yang masih menatapnya bingung.
Lindsey sensitif? Memang,apalagi akhir-akhir ini semakin parah. Belum jadi? Apanya yang belum jadi?
Patrick berhenti. Ia cukup yakin kalau tuannya itu tidak mengerti maksudnya sama sekali.
"Tuan Jonathan sedang gusar, ia mengatakan kalau nona Evelyn meninggalkannya dalam keadaan hamil. Wanita memang labil dan sangat sensitif saat sedang hamil."
Jika kalimatnya itu juga belum bisa membuat Lucas sadar, maka ia tidak tahu harus mengatakan Lucas apa. Bodoh, dungu atau tolol?
Tapi melihat raut wajah Lucas yang berbinar membuat Patrick menarik kembali pertanyaan terakhirnya. Tuannya itu tidak bodoh-bodoh amat.
"Apa maksudmu Lindsey hamil? Anakku?"
Patrick menatap Lucas gemas. Ingin rasanya ia memukul kepala tuannya itu dengan keras.
"Tidak Tuan, Nyonya hamil anak saya." Ucapnya datar dan langsung meninggalkan Lucas yang menyumpahinya dengan segala sumpah serapah.
Senyum sumringah terbit di wajah Lucas yang sebelumnya muram. Pantas akhir-akhir ini ia merasa Lindsey semakin manja, cengeng, labil, sensitif dan mudah marah. Ternyata usahanya olahraga setiap malam tidak sia-sia.
Damn! Ia menginginkan istrinya dan akan menjemputnya untuk kembali. Pulang kepadanya.