
Hari sudah menjelang siang ketika Lindsey membuka matanya. Ia melihat ke sekelilingnya dan mendapati kamarnya masih sedikit gelap karena gordennya belum dibuka. Lindsey lalu bangun dari tempat tidur kemudian membuka gorden sehingga cahaya matahari yang memekakan mata dapat masuk ke kamarnya. Begitu kamarnya sudah terang, Lindsey berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Lindsey tidak membutuhkan waktu lama untuk membersihkan dirinya karena sejujurnya selama sebulan ini ia hanya ingin bermalas-malasan saja. Berat badannya juga sudah naik beberap kilo karena kehamilannya yang sudah memasuki bulan ke empat. Namun yang membuat Lindsey sedikit merasa aneh adalah ketika ia tidak merasa lapar namun sanggup menghabiskan makanan yang sangat banyak.
Perutnya memang masih belum terlalu menonjol, namun akan terlihat menonjol jika Lindsey memakai pakaian ketat yang press body. Dengan gerakan pelan, Lindsey mengelus perutnya dengan sayang smbil menggumamkan kalimat sayang untuk buah cintanya dengan Lucas.
Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian rapi, Lindsey turun menuju dapur. Pagi ini Lindsey sangat ingin memakan steak daging sapi dengan ukuran jumbo.
Lindsey membuka kulkas dan menemukan daging segar seperti keinginannya. Ia mengambil daging itu lalu meletakkannya disebuah wadah. Lindsey hampir saja menjatuhkan wadah itu saat ia tiba-tiba mendengar suara dari belakang yang membuatnya terkejut.
“Apa yang kau lakukan?”
Lindsey menoleh dan mendapati ibunya berdiri menatapnya bingung. Ia belum sempat menjawab ketika ibunya kembali berbicara.
“Kau pasti lapar bukan? Kau melewatkan sarapan. Apa kau baru bangun? Ibu hamil memang selalu seperti itu.”
Lindsey tidak menjawab karena ibunya sudah menjawabnya sendiri. Jadi ia hanya membiarkan ketika ibunya mengambil alih daging yang ada ditangannya dan mulai mempersiapkan bahan-bahannya.
“Kau ingin dagingnya diapakan?”
“Di jadikan steak seperti biasa saja, hanya saja ladanya ditambah lebih banyak. Dan dagingnya yang rare medium.”
Lacey mengangguk dan mulai membuat steak seperti permintaan putrinya itu. “Kau ingin makan berapa banyak?” tanyanya karena saat ini daging yang ada di wadah berukuran cukup besar.
“Semuanya,”
Lacey menoleh takjub mendengar pernyataan putrinya itu. Semuanya? Apa ia tidak salah dengar? Daging yang saat ini ada dihadapannya bahkan cukup untuk mengenyangkan setidaknya tujuh orang dewasa yang kelaparan.
“Semuanya?” tanya Lacey memastikan. Lindsey mengangguk mantap. “Lindsey bukankah ini terlalu banyak?”
“Aku hanya sedang ingin memakan daging itu semuanya.”
“Aku tidak tahu, yang pasti saat ini aku sedang ingin makan semua daging itu.”
Lacey mengangguk.
“Duduklah, mama akan memasaknya untukmu. Apa kau tidak lelah berdiri seperti itu sejak tadi?”
Lindsey tersenyum tipis. Ia bahkan tidak sadar bahwa ia masih berdiri. Lindsey terlalu syok mendapati ibunya mengambil alih kegiatan memasaknya. Lindesey mengambil tempat duduk di meja bar dekat dapur. Sedikit banyak hatinya yang sempat terluka mulai menyembuhkan diri ketika melihat ternyata ibunya juga peduli padanya.
Sudah sejak lama Lindsey berusaha untuk melupakan luka dihatinya. Luka itu tidak pernah sembuh, luka itu hanya begitu saja seiring berjalannya waktu, dan Lindsey sudah mulai terbiasa dengan itu. Luka itu yang membuat ia kuat seperti saat ini, Luka itu selalu menganga sampai kemudian Lucas datang dan menutupnya.
Luka pada kedua orang tuanya mulai tersamarkan karena Lucas. Lelaki itu sangat unik. Saat pertama kali Lindsey tahu kalau Lucas adalah seorang gay, Lindsey tidak merasa keberatan sama sekali. Saat itu yang ada dipikirannya hanya cara untuk menjauh dari keluarganya. Dan satu-satunya cara adalah menikahi Lucas.
Tapi ketika ciuman yang Lucas berikan padanya setelah acara pemberkatan pernikahan mereka, membuat Lindsey tiba-tiba merasa bahwa Lucas seharusnya bukanlah seorang gay. Lindsey mulai mencintai suaminya itu sejak hari itu. Dan semakin dalam setiap harinya.
Lindsey mengelus perutnya. Ia merindukan Lucas. Kenapa lelaki itu tidak mencarinya sih? Tidak tahukah Lucas bahwa dia dan anak mereka begitu merindukannya?
Tiba-tiba Lindsey teringat ke kejadian dua bulan yang lalu ketika dia menyalahkan Lucas atas kepergian salah satu anak mereka.
Bodohnya dia saat itu adalah karena ia bersedih terlalu dalam, sampai membuatnya lupa diri dan menyalahkan Lucas sepenuhnya. Padahal kalau dipikirkan kembali itu adalah kesalahannya sendiri. Dia yang memilih pergi padahal Lucas sudah melarangnya.
Dia juga membiarkan Lucas salah paham pada hubungannya dengan Bryan. Ternyata itu adalah alasan Lucas membiarkannya pergi. Lucas mengira kalau dia mencintai Bryan dan masih berharap pada lelaki itu padahal kenyataannya ia bahkan risih dengan Bryan.
Bryan sialan yang satu itulah yang membunuh anak mereka, bukan Lucas.
Ah kenapa ia malah menyalahkan Lucas atas kesalahannya sendiri? Lindsey menggelengkan kepalanya dengan cepat. Apalagi ketika Patrick mengatakan kalau Lucas benar-benar sangat mencintainya. Lengkap sudah rasa bersalahnya. Lucas berkali-kali mengatakan kalau ia tidak berbohong tapi Lindsey yang tidak mempercayainya.
Lindsey harus meminta maaf pada Lucas. Bisa saja suaminya itu sampai saat ini masih sakit hati karena tuduhannya yang menyebalkan dan tak berasalan.