Not Yet Yours

Not Yet Yours
Chapter 48



Kaki Lucas mengikuti Patrick memasuki sebuah ruangan yang sebagian besar isinya berwarna putih. Begitu masuk ke dalam ruangan itu, Lucas langsung mencium aroma Lindsey. Sial, istrinya pasti dikurung di ruangan ini.


Aroma Lindsey begitu kuat di ruangan ini. Lucas ingin menangis karena akhirnya ia bisa mencium aroma ini lagi. Dia begitu merindukan aroma ini, hingga rasanya Lucas tidak ingin hidup tanpa aroma ini.


Jangan ditanya bagaimana perasaannya. Setiap malam, Lucas selalu tidur dengan 2 atau 3 baju Lindsey yang ia peluk karena satu tidak cukup. Katakanlah ia gila, tapi ia tidak peduli karena otak dan hatinya berontak hanya ingin istrinya.


Lucas mengalihkan pandangannya pada sebelah tempat tidur.


Ruangan putih itu tidak kosong. Lelaki sialan itu tengah duduk di sebuah kursi di dekat tempat tidur. Dan lagi, ada darah di lantai kamar itu dan cukup banyak.


Ingin rasanya Lucas langsung berlari dan menerjang lelaki sialan itu, memukulinya dengan membabi buta sampai mati kalau bisa. Tapi Lucas menahan diri karena Patrick menahannya.


Bryan masih duduk dan memperhatikan tempat tidur itu dengan raut wajah datar. Ia tidak terkejut dengan kehadiran Lucas di rumahnya. Ia sedari tadi mendengar teriakan Lucas yang memanggil-manggil nama Lind-Lind nya. Ia juga mendengar suara dobrakan pada pintu-pintunya.


Bryan hanya diam. Sedangkan Lucas menatapnya dengan tatapan membunuh.


“Dia hamil.” Ucap Bryan datar.


Lalu dengan perlahan Bryan mulai mendongak untuk menatap Lucas.


“Dia hamil anakku!” ucap Lucas tajam. Jantungnya sudah tidak karuan. Lelaki itu tahu istrinya hamil.


“Aku tidak suka perempuan hamil.”


Seakan petir menyambar, Lucas langsung mendorong Patrick yang ada di hadapannya dengan tangan kirinya cukup kuat hingga Patrick terdorong ke samping. Dan sebelum Patrick sempat berdiri, Lucas sudah berlari dan menerjang Bryan hingga lelaki itu jatuh ke lantai bersama kursi yang di dudukinya.


Ia memukuli Bryan yang sudah terjatuh dengan membabi buta. Lucas tidak peduli jika setelah ini ia akan berurusan dengan polisi. Uang Lucas lebih dari cukup untu membungkam polisi dan membuat mereka berada di pihaknya.


Sedangkan Bryan yang terkejut karena tiba-tiba diserang mulai melindungi dirinya dari serangan Lucas. Ia tidak bisa membalas karena Lucas berada di atasnya sambil terus melayangkan tinjunya. Bayangkan saja, Lucas yang memiliki badan besar seperti itu meninjunya dengan membabi buta. Dan Patrick bergerak memanggil John.


Tapi bayangan Lindsey yang tengah hamil anak Lucas, membuat emosi Bryan seketika memuncak. Ia berteriak marah. Dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh Lucas sampai lelaki itu terjatuh. Sekarang posisi terbalik dengan Bryan yang ada di atas dan menyerang balik Lucas.


“KAU MENYENTUH LINDSEY-KU!” teriaknya dan langsung memukul Lucas.


Seharusnya hanya dia yang boleh menyentuh Lindsey. Bukan orang lain. Ia membiarkan Lindsey menikah karena Lucas adalah gay. Tapi sekarang apa? Lindsey-nya hamil anak dari seorang gay!


Sama-sama tidak ada yang menyerah dan mengalah. Mereka saling memukul, hingga Patrick dan John datang serta orang-orang Bryan melerai mereka berdua. Anak buah Bryan menahan tubuh tuannya begitu juga dengan Patrick dan John yang menahan tubuh Lucas.


Mereka berdua sama-sama terengah-engah. Lucas menatap tajam Bryan, sedangkan lelaki itu sudah kembali menatapnya datar.


“Di mana istriku?” tanya Lucas. Sebisa mengkin ia menahan emosinya yang masih di ubun-ubun. Lucas menepis pegangan John dan Patrick.


Bryan tidak menjawab. Ia melepaskan dirinya dari anak buahnya dengan santai. Dengan langkah pelan, ia mendekati lantai yang berdarah itu kemudian berjongkok.


Jari telunjuknya menyentuh darah yang sudah cukup mengering itu dengan pelan. Ia lalu berdiri dan menggesek-gesekkan jari telunjuknya dengan jari jempolnya.


Senyum miring kemudian terbentuk di bibirnya.