
Lucas menatap Lindsey yang berbaring di sebelahnya. Senyum tipis langsung tersungging dibibir nya. Lucas ingat, ia bahkan tidak membiarkan Lindsey beristirahat sama sekali. Ia ketagihan dengan istrinya.
Ini sudah jam makan siang tapi mereka bahkan belum sarapan. Ia merasa sangat senang karena mengetahui Lindsey masih gadis dan dialah orang beruntung yang mendapatkan kegadisannya.
Dia benar-benar gay yang beruntung.
Sebenarnya Lucas tidak tega jika harus membangunkan Lindsey karena istrinya itu pasti masih butuh istirahat. Tapi ini sudah jam makan siang dan mereka bahkan belum sarapan. Jadi dengan berat hati ia harus membangunkan Lindsey karena ia tidak ingin istri seksinya itu jatuh sakit.
“Lindsey,” panggil Lucas pelan, tidak ada sahutan.
“Sayang,” panggilnya lagi.
“Hmm.” Lindsey hanya bergumam tidak jelas.
Melihat Lindsey yang sepertinya memang masih kelelahan, Lucas akhirnya memutuskan untuk membiarkan Lindsey tidur sebentar lagi sedangkanIa memasuki kamar mandi dan membersihkan dirinya. Tidak terlalu lama karena ia juga merasa lapar.
Lucas keluar hanya dengan memakai handuk yang terlilit di pinggangnya. Tak lama kemudian ia sudah melepaskan handuk itu, mengambil pakaiannya lalu memakainya sambil terus menatap Lindsey yang terlelap. Ia jadi sedikit merasa bersalah pada istri seksinya itu.
Merasa bersalah karena membuat istrinya itu kelelahan. Seharusnya tadi ia cukup melakukannya hanya satu ronde saja, atau mungkin dua ronde. Ia bahkan ragu kalau istri seksinya itu bisa berjalan sekarang. Sayangnya karena terlalu nikmat, ia jadi mengulanginya berkali-kali. Ah! ia memang menyebalkan.
Setelah selesai memakai pakaiannya, Lucas keluar dari kamar mereka dan turun ke dapur. Mungkin lebih tepatnya ke ruang makan.
Ia bisa melihat beberapa maid sedang bekerja, dan ia juga melihat masakan Lindsey masih utuh di meja makan.
“Siapkan makanan untuk istriku, masak kan sesuatu yang baru.” ucap Lucas dan langsung diangguki oleh maid yang berada di dapur.
“Untukku cukup masakan itu, antarkan ke atas kalau sudah siap.” ucapnya sambil menunjuk makanan yang ada di meja makan. Masakan buatan istrinya.
“Apa perlu saya panaskan terlebih dahulu, sir?” tanya salah satu maid.
“Tidak perlu.”
“Tapi, ini sudah dingin sir.”
“Tidak apa-apa.” ucap Lucas lalu meninggalkan dapur menuju kamarnya dengan Lindsey.
Ia memasuki kamar dengan pelan. Lindsey sepertinya masih tidur nyenyak. Lucas mengambil laptopnya dan membawanya ke atas tempat tidur. Ia membuka laptopnya dan mulai bekerja. Ia malas datang ke kantor hari ini, jadi ia akan bekerja dari rumah saja.
Lucas merasa kalau ada pergerakan dari Lindsey, membuatnya menoleh pada istrinya yang ternyata masih tertidur. Istrinya itu hanya berbalik sedikit sedangkan matanya masih terus terpejam, kelelahan. Pastinya.
Pergerakan Lindsey membuat selimut yang menutupi tubuh wanita itu sedikit turun, sehingga kedua aset menggoda milik Lindsey, terlihat.
Lucas menelan ludahnya gugup. Baru beberapa saat yang lalu ia membiarkan Lindsey beristirahat dan sekarang istrinya itu kembali menggodanya.
Sudahkah Lucas mengatakan kalau Lindsey selalu menggodanya bahkan tanpa melakukan apa-apa? Istrinya itu hanya diam saja pun akan selalu tetap terlihat menggoda untuknya. Ia masih normal jadi menurutnya itu wajar. Lagipula Lucas hanya tergoda pada Lindsey.
Dengan perlahan Lucas menarik selimut itu naik agar kembali menutupi tubuh istri seksinya itu. Lucas dengan sangat jelas tahu di balik selimut itu, tubuh istrinya masih polos.
Lucas mencoba memfokuskan pikirannya kembali pada pekerjaannya. Meski sedikit sulit karena baru saja melihat pemandangan yang sangat indah.
Suara ketukan pintu membuat Lucas kembali tidak fokus pada pekerjaannya. Walau sebelumnya lelaki itu memang sudah tidak fokus.
Lucas membuka pintu kamar dan mendapati Patrick berdiri di luar dengan nampan yang cukup besar berisi makanan untuknya dan Lindsey.
“Anda terlambat sarapan sir.” itu kalimat pertama yang keluar dari mulut Patrick. Lelaki itu menatap Lucas datar dan hendak mengalihkan pandangannya ke dalam tapi suara Lucas menginterupsinya.
“Berani kau melihat ke dalam kamarku, maka kau tidak akan mendapatkan gaji selama setahun ini!”
Lucas sadar ia tidak bisa memecat Patrick, jadi itu satu-satunya ancaman yang bisa ia berikan pada tangan kanannya yang sangat-sangat menyebalkan ini.
“Saya sudah tahu seperti apa keadaan di dalam tanpa harus melihatnya, sir.”
“Ha?!”
“Apa Anda mau saya yang menaruh nampan ini ke dalam?”
“Sudah ku katakan kalau aku tidak akan menggajimu kalau kau melihat ke dalam kamarku, apalagi memasukinya Patrick!”
“Saya masih mengingatnya, sir, silahkan ambil nampan ini dari tangan saya.”
Lucas mengambil nampan itu dengan raut wajah kesal. Kenapa sih Patrick senang sekali menguji kesabarannya?
“Lain kali jangan sampai lupa waktu sir, kasihan Nyonya.”
Lucas kembali menoleh dan mendapati Patrick menatapnya masih dengan tatapan yang sama, datar.
“Apa maksudmu?”
“Saya tidak harus menjelaskan apa yang sudah kalian lakukan sampai lupa waktu kan? Anda jelas sudah tahu maksud saya sir.”
Kalimat itu diucapkan dengan sangat datar, tapi entah kenapa terdengar sangat menyebalkan di telinga Lucas. Apalagi jika dipadukan dengan ekspresi wajah Patrick yang tidak berubah sama sekali. Sungguh ini adalah sebuah paket komplit. Triple shit!
Suara itu ternyata membuat Lindsey terganggu. Dengan perlahan ia membuka matanya dan mendapati Lucas dengan nampan besar berjalan mendekatinya.
Lucas yang melihat itu hanya tersenyum seperti biasanya, tipis. Lindsey bahkan tidak bisa melihat senyum itu.
“Ada apa?” tanya wanita itu serak.
“Bukan apa-apa, ayo makan.”
Lindsey terduduk dan tidak sadar selimutnya terjatuh membuat kedua asetnya kembali terlihat. Lucas menelan ludahnya kasar. Ia berdehem keras.
“Lindsey..” panggilnya parau.
Bukankah ia lelaki yang mesum? Bahkan hanya dengan melihat saja, suaranya sudah langsung berubah.
“Hmm?”
“Gunakan selimut itu dengan benar.”
Lindsey menatap Lucas bingung, tapi sedetik kemudian ia teringat apa yang tadi mereka lakukan. Dengan buru-buru Lindsey langsung menarik selimut itu menutupi tubuhnya. Wajahnya sudah berwarna merah karena menahan malu.
“Aku akan mandi dulu.”
Lucas mengangguk paham. Ia meletakkan nampan yang berisi makanan itu di atas nakas, lalu berjalan mendekati Lindsey.
“Mau ku bantu?” tawar Lucas pada Lindsey yang sudah menjatuhkan kakinya di lantai namun ia masih duduk di tempat tidur. Ia menatap Lucas tidak mengerti.
“Sepertinya kau akan kesulitan berjalan, biasanya memang seperti itu. Tapi setelahnya tidak akan lagi.” ucap Lucas lagi, membuat Lindsey semakin tidak mengerti.
Lindsey kemudian menegakkan tubuhnya untuk berdiri, tapi tiba-tiba ia terduduk kembali karena merasa nyeri sekaligus ngilu pada bagian bawah tubuhnya.
“Bukankah sudah ku katakan?” Lucas langsung menunduk dan mengangkat tubuh Lindsey lalu membawanya ke dalam kamar mandi.
Lindsey hanya terdiam di gendongan Lucas. Lelaki itu tidak langsung menurunkan Lindsey di bathtub. Ia masih menggendong Lindsey sambil mengisi air hangat di bathtub agar istrinya itu bisa berendam.
“Kau bisa menurunkanku Lucas,” Lindsey menundukkan wajahnya karena malu.
“Sebentar lagi, setelah benda ini penuh.” ucapnya lalu dengan telaten mengambil botol pewangi dan menuangkan isinya. Wangi bunga lavender langsung tercium di indra penciumannya.
Setelah dirasa cukup, Lucas lalu menurunkan Lindsey di bathtub. Ia melepas selimut tipis yang dipakai Lindsey terlebih dahulu, sebelum menurunkan istri seksinya itu pada bathtub.
“Panggil aku kalau kau sudah selesai.” Lucas meninggalkan Lindsey yang masih menunduk karena malu. Tapi senyum terus terukir di wajahnya. Sekarang ia sudah resmi menjadi milik Lucas seutuhnya dan begitupula sebaliknya.
Apakah seperti ini rasanya bahagia? Jika ini yang namanya bahagia, maka saat ini Lindsey merasa sangat bahagia. Sikap Lucas yang berubah terus menerus. Perhatian yang diberikan lelaki itu padanya sangat nyata dan menyenangkan, dan indah. ia ingin merasakan seperti ini selamanya.
Selamanya.
Lindsey kembali teringat pada Liliana. Seharian ini ia masih belum melihat perempuan itu dimana-mana. Bahkan tadi saat ia memasak ia masih belum melihat dimana wanita itu berada. Biasanya adiknya itu akan langsung terlihat di pagi hari karena selalu olahraga setiap pagi.
Tidak hanya itu, pikiran Lindsey kembali mengingat kejadian semalam saat Liliana mengatakan kalau Lucas sudah menyentuhnya, yang seketika membuat Lindsey sadar akan satu hal.
Kenapa Lucas bernafsu padanya? Bukankah suaminya itu itu gay? Apa mungkin Lucas normal? Apakah Lucas memang sudah menyentuh Liliana?
Pertanyaan-pertanyaan itu seketika langsung memenuhi kepala Lindsey. Ia kemudian memutuskan untuk menyelesaikan mandinya, dan langsung mengambil jubah mandi yang tergantung di dekat bathtub.
Lindsey merasakan perih dan sakit pada bagian bawahnya, kakinya bahkan masih terasa kebas. Lucas sangat buas padanya.
Tapi kenapa Lucas bernafsu padanya? Jika memang lelaki itu bukan gay, kenapa Lucas tidak mengambil kepemilikannya dari malam pertama dulu? Kenapa baru sekarang?
Setelah selesai, Lindsey keluar dengan langkah tertatih. Melihat itu Lucas langsung menyingkirkan laptopnya dan menghampiri Lindsey lalu menggendong wanita itu dan mendudukkannya di tempat tidur.
“Kenapa tidak memanggilku? Bukankah masih terasa sakit?” Lucas bertanya dengan pelan suranya terdengar khawatir.
“Aku baik-baik saja Lucas.”
Lucas langsung berdiri dan mengambil pakaian di walk in closet untuk dikenakan Lindsey. Ia mengambil dres biasa.
“Pakai ini, setelah itu kita makan.”
Lindsey menurut dan memakai pakaian yang diberikan Lucas lengkap dengan pakaian dalam. Seketika wajanya kembali memerah karena malu. Sementara menunggu Lindsey berpakaian, Lucas menyiapkan makanan untuk mereka.
“Lucas,” panggil Lindsey pelan ia menghadap ke arah Lucas yang membelakanginya setelah selesai memakai pakaiannya.
“Hmm?”
“Jadi... kau bukan gay?”
Kegiatan Lucas langsung terhenti, ia berbalik menatap Lindsey datar.
“Bukankah sudah jelas?”