Not Yet Yours

Not Yet Yours
Chapter 49



Lucas mengamati setiap gerak Bryan dengan posisi siap menyerang lagi. Tapi sayangnya Patrick dan John juga sudah berposisi siap menangkapnya, lagi.


Bryan mendekati Lucas, namun tidak terlalu dekat. Ia masih menggosok-gosok jari telunjuk dan jempolnya dengan pelan di hadapan Lucas.


Semua orang yang ada diruangan itu hanya diam termasuk Patrick dan John. Mereka tidak berbicara sama sekali, hanya postur tubuh mereka tidak santai melainkan siap siaga.


“Kau terlambat.” Ucapnya datar.


Seketika tubuh Lucas menegang kaku. Ia tidak salah dengar kan? Terlambat apa?


“A-apa ma-maksudmu?” tanya Lucas tercekat.


“Lindsey tidak ada di sini.”


“Di mana dia?”


Bryan berbalik menjauhi Lucas lalu mengedikkan bahunya.


“Aku tidak tahu.” ucapnya.


“BAGAIMANA MUNGKIN KAU TIDAK TAHU SIALAN!” Teriak Lucas mendekati Bryan dan menarik kerah baju lelaki itu dengan kuat.


Sedari tadi Lucas mencoba untuk menahan dirinya. Tapi lelaki dihadapannya ini memang memancing emosinya.


“Rumah sakit mungkin,” ucap Bryan santai dengan senyum licik yang mulai terbit.


Jantung Lucas kembali terasa diremas-remas. “Apa it-itu darahnya?” Lucas melihat ke daras yang sudah mengering di lantai. Cukup banyak. Apa Lindsey keguguran? Apa istrinya kesakitan.


Bryan menatap Lucas lalu melepaskan kedua tangan Lucas yang ada di kerahnya. “Aku benar-benar tidak suka wanita hamil.” Ucapnya datar, membuat Lucas langsung menggeram marah.


“APA YANG KAU LAKUKAN PADA ANAKKU!” Lucas sekali lagi akan menyerang Bryan tapi dengan sigap John maupun Patrick menahannya.


“Sir, Anda harus tenang.” Patrick berbisik di telinganya.


“KAU MENYURUHKU TENANG DISAAT MANUSIA SIALAN INI MEMBUNUH ANAKKU?!”


“Sir!” Bentak Patrick menatap Lucas tajam.


Lucas memejamkan matanya mulai menahan setiap emosinya. Sedangkan John sedikit syok saat mendengar Patrick membentak bos-nya. Wow!


“Di rumah sakit mana?” tanya Lucas datar.


“Sejak aku tahu kalau Lindsey hamil, aku sudah tidak peduli lagi padanya.”


“Sungguh begitu?”


Lucas menoleh ketika mendengar Patrick bertanya dengan gaya khas datarnya.


“Begitulah.” ucap Bryan tak kalah datar.


Dengan tidak terburu-buru, Patrick menghampiri Bryan yang tengah menatapnya datar. Namun dengan gerakan yang sangat cepat Patrick melayangkan tiga kali tinjunya di rahang Bryan dan sekali tendangan di perut lelaki itu.


Semua orang yang ada di ruangan itu syok. Bahkan anak buah Bryan juga tidak berkutik sama sekali.


Sedangkan John menatap Patrick kagum. Pantas saja si bos terdiam saat mendengar benatakan Patrick tadi. Ternyata Patrick adalah orang yang mengerikan.


Tapi Lucas terlihat tidak terlalu terkejut melihat adegan barusan. Sepertinya Lucas memang sudah tahu akan seperti ini jadinya.


“Tiga kali pukulan karena kau membuat tiga kesalahan. Yang pertama, kau membuat Tuanku marah. Kedua, kau menyentuh Nyonya Lindsey dan ketiga karena kau memukul balik Tuanku. Dan satu kali tendangan karena sudah menyentuh calon tuan muda.” Ucap Patrick lalu berbalik mendekati Lucas meninggalkan Bryan yang sudah terkapar di lantai.


Patrick memberi instruksi agar John membawa Lucas keluar meninggalkan ruangan itu. Sedangkan ia keluar terakhir. Namun sebelum ia keluar, ia kembali bertanya pada anak buah Bryan yang masih takut-takut padanya.


“Siapa yang membawa Nyonya-ku ke rumah sakit?” tanyanya.


“Erick Collins sir,” ucap orang itu menunduk karena ketakutan.


Patrick tidak bertanya lagi dan memilih meninggalkan Bryan yang masih mengerang kesakitan dan anak buah Bryan yang sudah berlari mendekati lelaki itu lalu membopongnya ke tempat tidur. Salah satu dari mereka bahkan langsung menghubungi dokter.


Kali ini Patrick yang tersenyum miring. Seharusnya mereka berterima kasih padanya karena ia tidak membuat kekacauan lebih dari itu. Itu hanya sebuah pukulan, dasar orang-orang lemah.


“Ke Mount Sinai Medical Center.” Ucap Patrick begitu ia memasuki mobil. John langsung mengangguk dan melajukan mobil ke rumah sakit tersebut.


“Aku baik-baik saja Patrick. Lebih baik kita cari Lindsey.” Lucas tidak merasakan sakit pada tubuhya. Ia hanya ingin melihat istrinya. Apa benar anaknya sudah pergi? Bukankan ia seorang suami dan ayah yang sangat buruk?


Lucas merutuki dirinya dan kebodohannya. Kenapa ia datang terlambat? Dengan begitu Lindsey dan anaknya pasti akan baik-baik saja sekarang.


Seandainya saja ia bisa memutar waktu, maka ia akan kembali ke saat di mana Lindsey memutuskan untuk pergi dan tidak akan membiarkan istrinya itu pergi.


Ia akan membiarkan Lindsey memarahinya, membentaknya, memukulnya atau apapun yang akan Lindsey lakukan padanya. Ia akan menerimanya dengan sukacita.


Seandainya itu terjadi, maka saat ini Lucas tidak akan merasa sesak dan ketakutan seperti ini.


Ya Tuhan, Lucas hanya ingin istri dan anaknya baik-baik saja. Hanya itu.


Membayangkan Lindsey yang kesakitan benar-benar seperti neraka. Detik itu juga air mata Lucas terjatuh. Ia sudah gagal menjadi seorang pelindung bagi keluarganya.