Not Yet Yours

Not Yet Yours
Chapter 22



Lucas memasuki mobilnya. Hari ini ia akan menyetir sendiri, tidak ingin menggunakan supir. Entahlah, ia sedang merasa kesal tapi tidak tahu karena apa. Ia bahkan tidak mengijinkan Patrick ikut dengannya ke kantor hari ini.


Ia meminta Patrick menjaga Lindsey. Bagaimanapun juga hanya Patrick yang ia percayai untuk menjaga istri seksinya itu. Ia tidak mempercayai siapapun kecuali Patrick.


Lucas melajukan mobilnya dengan kencang. Untungnya tempat tinggalnya yang berada sedikit jauh dari pusat kota sehingga jalanan memang tidak padat bahkan cenderung kosong jadi ia bisa melaju dengan kencang sesuka hatinya.


Sembari melajukan mobilnya, pikiran Lucas kembali pada Lindsey yang menatapnya dengan shock tadi. Bukan hanya itu, mengingat bagaimana Lindsey mundur dan menjauh saat ia berusaha mendekat membuatnya sangat kesal.


Penolakan halus Lindsey sangat tidak bisa ia terima. Ia tidak pernah ditolak, dia-lah yang selalu menolak. Ternyata perasaan ditolak oleh Lindsey sangat-sangat tidak menyenangkan.


Lucas menginjak pedal gas semakin dalam, ia mengendarai mobil seperti seorang pembalap yang sedang bertanding di arena balapan. Teringat Gerak-gerik Lindsey yang seolah malu-malu tapi terpaksa, membuat pegangan Lucas pada setir mobil menguat. Rahangnya mengeras, ia benar-benar marah.


Bukankah itu sebuah hal yang lucu? Ia marah hanya karena masalah sepele seperti itu? Mungkin karena seumur hidup Lucas, ia tidak pernah melihat orang yang kurang nyaman dengan kehadirannya. Ini kali pertama ia merasakan ada orang yang tidak nyaman dengan kehadirannya sampai-sampai orang tersebut pura-pura malu di hadapannya.


Suara sirine polisi dari belakang membuat Lucas sadar kalau ia membawa mobil terlalu kencang. Tapi bukannya menurunkan kecepatan mobilnya dan menepi, Lucas tersenyum miring dan malah melajukan mobilnya semakin kencang lagi.


Peringatan demi peringatan sudah diteriakkan lewat megaphone oleh polisi yang mengejarnya dari belakang. Tapi Lucas seolah menulikan telinganya dan tetap mengendarai mobilnya dengan kencang. Mobil Lucas dan mobil polisi itu sudah kejar-kejaran di jalanan kota New York.


Lucas melirik dari spion tengah mobilnya dan melihat mobil polisi itu masih setia di belakangnya. Aba-aba dari polisi agar menyuruhnya untuk menepi benar-benar menjadi sebuah kesenangan tersendiri untuk Lucas.


Setidaknya ini menjadi satu hal yang menyenangkan untuk melupakan kekesalannya terhadap istri seksinya itu sejenak.


________________________


Lindsey berjalan tertatih mengambil ponselnya yang berada di dekat tempat tidur. Seperti biasa, tidak ada ada yang menarik di ponselnya. Kontak yang ada di ponselnya hanya kontak Lucas, bahkan kedua orangtuanya juga tidak ada di kontaknya.


Bukankah terdengar menyedihkan? Yah, memang cukup menyedihkan. Tapi Lindsey tidak peduli dengan itu semua, perasaan sialan yang ia rasakan pada semua orang yang membuatnya seperti ini. Ia benci semua orang.


Umumnya setiap orang memiliki orang yang berharga untuk mereka, setidaknya itu yang pernah dibaca oleh Lindsey di sebuah artikel yang ada di majalah lifestyle. Dan sepertinya Lindsey tidak termasuk pada kategori orang umum karena ia tidak memiliki apapun dan siapapun yang beharga untuknya.


Kekehan kecil keluar dari bibir Lindsey. Saat ini ia merasa kembali ke saat dimana ia merasakan perasaan tidak diinginkan. Dimana ia selalu dianggap sebagai pengganggu.


Kenapa ia harus merasakan kembali perasaan ini.


Salah satu alasan ia tidak mau terbuka untuk orang lain karena orang memang selalu berbohong padanya. Ia bukan orang bodoh, berpura-pura menjadi bodoh memang membantunya menjalani kehidupannya.


Berbohong  juga adalah hal yang paling dia benci di dunia ini karena ia adalah pembohong paling hebat yang pernah ada. Sejauh ini tidak ada yang tahu ia berbohong, kecuali lelaki itu. tidak peduli ia sedang tertawa, tersenyum maupun sedang berpura-pura bahagia lelaki itu akan selalu tahu jika ia sedang berbohong.


Dan ia membenci lelaki itu karena sudah menghilang dan menyebabkan ia kembali merasakan penderitaan yang tidak menyenangkan. Apa lelaki itu sudah meninggal? Bisa jadi, karena lelaki itu tidak pernah lagi terlihat.


Awalnya Lindsey mengira kalau Lucas bukanlah orang seperti lelaki itu maupun seperti orang-orang diluar sana. Tapi ternyata ia salah, nyatanya Lucas sama saja dengan mereka semua.


Lindsey membaringkan tubuhnya di tempat tidur dengan pelan. Mencoba memejamkan matanya. Belum lama ia memejamkan mata, suara ketukan pintu membuat Lindsey kembali membuka matanya.


Dengan tertatih, Lindsey berjalan menuju pintu dan membukanya. Ia mendapati Patrick berdiri di depan pintu dengan raut wajah tenang dan datar, namun terlihat mencurigakan.


“Ada apa?” tanya Lindsey pelan.


“Bersiaplah Nyonya, kita akan pergi.”


“Kemana?”


“Ekhem, lebih baik nyonya bersiap terlebih dahulu.”


Dahi Lindsey mengerut dan ia bingung. Tapi ia tidak bertanya lagi karena seperti yang dikatakan Lucas sebelumnya, Patrick memang lelaki yang menyebalkan.


Lindsey kemudian mengangguk lalu menutup pintunya dan bersiap-siap untuk pergi. Karena tidak tahu ia akan perg ke mana, jadi Lindsey memutuskan untuk memakai pakaian yang kasual saja. Sweater turtle neck berwarna abu-abu untuk menutupi bekas cumbuan Lucas pada lehernya dan celana jeans hitam serta sepatu boot hitam senada dengan celananya.


Setelah bersiap sekitar lima belas menit, Lindsey keluar dari kamar dan mendapati Patrick ternyata menunggunya bersiap-siap. Lelaki itu terlihat melongo sejenak menatapnya tanpa berkedip, namun sedetik kemudian Patrick tersadar dan mulai berbicara.


“Apa anda sudah siap, Nyonya?”


Lindsey mengangguk dan tersenyum menjawab pertanyaan Patrick.


“Kalau begitu, silahkan ikuti saya Nyonya.”


Lindsey berjalan di belakang mengikuti Patrick yang berjalan di depannya. Patrick membuka pintu penumpang dan mempersilahkan Lindsey masuk ke dalam mobil yang sudah di siapkan.


Setelah duduk dengan tenang, Patrick menutup pintu penumpang itu dan berlari mengelilingi mobil mengambil tempat duduk disebelah sopir. Mobil mulai berjalan meninggalkan halaman mansion Lucas yang luas. Tidak seperti biasanya, kali ini bukan Patrick yang menyetir melainkan seorang supir yang Lindsey ketahui selalu menyetir untuk Lucas.


“Patrick.” panggil Lindsey.


“Ya, Nyonya?”


“Bukankah dia supir Lucas?”


“Iya Nyonya.”


“Siapa namamu?” tanya Lindsey kali ini bukan pada Patrick melainkan pada lelaki yang ada di belakang kemudi.


“Nama saya John, Nyonya.” jawab supir Lucas tersebut.


“John, kenapa hari ini kau tidak mengantar Lucas? Bukankah ia ke kantor?”


“Ah, sebenaranya kita akan menjemput tuan, Nyonya.” kali ini Patrick yang bersuara.


“Menjemput Lucas? Jika John berada di sini berarti Lucas membawa mobilnya sendiri bukan?”


“Iya Nyonya, tapi kita harus menjemput tuan bukan di kantornya.”


“Di mana?”


“Kantor polisi.”


“APA!” suara Lindsey yang melengking tinggi membuat Patrick dan John sempat tersentak karena terkejut.


“Kenapa ia bisa di kantor polisi?” tanya Lindsey mulai khawatir.


“Kenapa ia bisa di kantor polisi?’ ulangnya lagi ketika tidak ada yang menjawab pertanyaannya.


Mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki halaman kantor polisi. Patrick melihat Lucas berdiri di depan pintu masuk, sedang berbicara dengan salah satu polisi yang Patrick ketahui adalah seorang sheriff.


“Anda tenang saja Nyonya, tuan baik-baik saja. Kalau Anda tidak percaya anda bisa melihatnya di sana.” Patrick menunjuk ke arah Lucas yang sedang berbicara dengan seorang polisi.


Lucas menatap salah satu mobilnya melaju ke arahnya. pasti Patrick, batinnya. Ia menunggu dan melihat Patrick keluar dari mobil itu dengan raut wajah datarnya yang akhir-akhir ini terihat sangat menyebalkan untuk Lucas.


Namun yang membuat Lucas terkejut adalah Lindsey yang keluar dari mobil itu juga dengan terburu-buru lengkap dengan raut wajahnya yang khawatir. Bukankah istrinya itu sangat seksi? Batinnya pada dirinya sendiri.


“Lucas!” teriak Lindsey dan berlari ke arah Lucas.


“Sir-” suara Patrick hilang karena yang terjadi selanjutnya tidak terpikirkan olehnya. Semuanya terjadi sangat cepat. Patrick melongo. Majikannya itu sedang berciuman. Di tempat umum.