Not Yet Yours

Not Yet Yours
Chapter 62



Lindsey tersadar dari lamunannya ketika tangan Lacey menyentuhnya dengan lembut. Lindsey menoleh dan menatap mata ibunya yang saat ini menatapnya khawatir.


“Ada apa? Apa yang kau pikirkan?” tanya Lacey dengan nada khawatir.


“Tidak, bukan apa-apa.”


“Mama memanggilmu sejak tadi, bahkan mama juga sudah melambaikan tangan dihadapan mu tapi kau masih terus melamun. Ada apa?”


Lindsey tersenyum. Apa seperti ini rasanya ketika diperhatikan oleh orang tua sendiri? Senang sekali rasanya.


“Lindsey?”


Lindsey kembali tersadar. “Ah tidak, aku hanya merindukan Lucas.” Ucapnya sendu.


Lacey menatapnya lembut. Entah sadar atau tidak telapak tangan sudah berada di kepala Lindsey dan mengelus rambutnya lembut. “Kau sangat merindukannya?” tanyanya.


Lindsey mengangguk. “Sangat, aku ingin meminta maaf juga padanya.”


“Seharusnya di usia kandungan mu yang sudah melewati trimester pertama ini, kau sudah bisa naik pesawat. Mama akan memesankan pesawat untukmu dan meminta papamu menjemputmu.”


Lindsey menatap ibunya tak percaya. Apa ibunya mengusirnya lagi? Ia mengamati ibunya dengan sedih, namun raut wajahnya tersenyum. Ia sudah sangat ahli untuk menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya.


Lacey menoleh padanya. “Habiskan steak mu, kau sudah mendiamkannya kurang lebih 10 menit.” Ucap Lacey lagi lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


Lindsey memakan steak nya dengan lahap. Ini kali pertama ibunya memasak untuknya, jadi entah kenapa rasanya sangat nikmat.


“Aku ingin memakai pesawat pribadimu.”


Lindsey menoleh pada ibunya yang tengah berbicara pada seseorang. Ibunya tidak sedang mau meminjam pesawat pribadi orang lain untuknya bukan? Tapi sepertinya ia salah karena pesawat itu memang untuknya.


“Iya, putriku akan kembali ke New York. Ia sedang hamil, aku tidak ingin ia naik pesawat komersil bahkan kelas A sekalipun.”


Lindsey ternganga. Setidaknya itu sedikit lebih etis saat seorang ibu mengusir anaknya lagi, tapi memakaikannya pesawat pribadi.


“Iya, uruslah segera. Satu jam lagi putriku sampai di bandara.” Ucap Lacey lalu mematikan ponselnya. Ia kembai berjalan mendekati Lindsey.


“Tadinya aku tidak yakin kau mampu menghabiskan semuanya, tapi sepertinya mama salah karena kau terlihat sangat mampu menghabiskan semuanya.” Ucapnya tertawa kecil yang dibalas senyuman oleh Lindsey. “Habiskan makanmu segera, sejam lagi kau harus sudah di bandara. Mama sudah menyiapkan penerbangan mu.”


Lindsey mengangguk dan menghabiskan makanannya dalam waktu lima belas menit. Bukankah itu hebat? Seharusnya ia bisa catatan rekor makan tercepat dengan porsi daging terbesar.


Setelah selesai bersiap-siap, Lindsey langsung turun dan menemui ibunya untuk pamit. Wanita paruh baya itu ternyata sudah menunggunya di ruang keluarga.


“Kau sudah siap?” tanya Lacey. Lindsey mengangguk dan tersenyum.


Namun seketika tubuhnya menegang ketika sang ibu memeluknya erat. Sama seperti saat pertama kali ketika ia kembali ke rumah ini dengan ayahnya. Saat itu ibunya juga memeluknya, sama eratnya seperti saat ini. Lindsey bisa merasakan tubuh yang saat ini mendekapnya bergetar.


“Maafkan mama dan Liliana,” ucapnya Lacey serak. Ia menjauhkan diri dan menatap Lindsey dalam.


“Aku sudah memaafkan kalian.” ucap Lindsey tersenyum. Walau belum sepenuhnya, tapi Lindsey akan mencoba.


“Mama tahu kau masih kecewa. Mama memang bersalah karena sudah menelantarkan mu, dan mama menyesal akan itu.”


Lindsey mengangguk. “Aku sudah memaafkan kalian.” ucapnya lagi.


Lacey mengelus pipi Lindsey kemudian mencium keningnya lembut. Nyaman sekali rasanya, seperti berada di rumah yang sesungguhnya. Dan inilah rumah yang sesungguhnya.


“Sepertinya mama sudah membuatmu menunggu terlalu lama. Supir akan mengantarmu.” Lacey menuntun Lindsey keluar  dan mengantarnya sampai ke dekat mobil. “Pulanglah kapanpun kau mau, mama akan selalu menunggu dan menyambut kepulangan mu.” Ucapnya lagi.


Lindsey berhenti dan berbalik. “Terima kasih, mama” ucapnya ragu.


Seketika senyum Lacey mengembang dengan lebar. Ini pertama kalinya Lindsey memanggilnya mama setelah pulang dari New York dua bulan yang lalu. Lacey kembali memeluk Lindsey dengan erat. Putrinya, kesayangannya, anaknya yang lahir dari perutnya, buah cintanya dengan lelaki yang dicintainya.


“Mama menyayangimu, sangat menyayangimu.” Ucapnya kembali berurai air mata.


Supir yang melihat adegan itu juga menitikkan air mata. Semua orang yang bekerja di rumah itu mengetahui keadaan dalam rumah itu. Dan pemandangan seperti inilah yang ditunggu-tunggu oleh setiap orang dalam rumah itu.


Lacey melepas Lindsey dengan berat hati. Untuk pertama kalinya ia merasa menjadi seorang ibu yang sesungguhnya. Seharusnya ia seperti ini sejak dulu.


Mobil yang ditumpangi Lindsey melaju menuju bandara. Untunglah hari ini tidak ada kemacetan sehingga ia bisa berangkat tepat waktu menuju New York. Menemui Lucas, suaminya, cintanya, ayah dari anaknya. Pesawat itu langsung lepas landas begitu Lindsey sudah masuk dan duduk manis di dalam kabin.


Lindsey tersenyum. Ia senang, sebentar lagi ia akan bertemu dengan Lucas. Ia begitu merindukan suami tercintanya itu.


**BTW INI BEBERAPA CHAPTER LAGI UDAH END YA ^...^


LUV KALIAN**!!!