Not Yet Yours

Not Yet Yours
Chapter 67 (TAMAT)



Lindsey tersentak saat merasakan seseorang mendekapnya dari belakang dengan sangat erat. Tapi dari hangatnya pelukan ini Lindsey sadar siapa yang tengah memeluknya sambil terus merapatkan tubuh mereka. Lindsey mencium bau parfum dan bau badan Lucas dengan perasaan senang. Yah, Lindsey sangat-sangat yakin kalau yang sedang memeluknya ini adalah Lucas.


“I really miss you baby.” Ucap Lucas.


Lindsey tidak bergerak. Ia masih diam menikmati dekapan hangat Lucas. Ia begitu merindukan lelaki ini sampai rasanya ingin memasukkannya ke dalam perutnya bersama dengan bayinya.


Tapi bayangan Lucas memeluk wanita hamil tadi mengampiri pikiran Lindsey dan itu benar-benar berhasil membuat ia kesal.


“Sayang,” rengek Lucas manja.


“Jangan memelukku!” desis Lindsey.


“Baby,” rengeknya lagi.


“Lucas lepaskan aku!” ucap Lindsey, tapi tubuhnya sendiri tidak bergerak dan malah membiarkan Lucas memeluknya terus menerus. Ia tidak memberontak seperti orang yang tidak ingin dipeluk.


“Tidak mau,” ucap Lucas manja sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan Lindsey seperti anak kecil.


“Aku sedang marah padamu!” ucap Lindsey lagi, tapi ia benar-benar tidak ingin dilepaskan oleh Lucas. Biarkan seperti ini, jangan sampai Lucas melepaskan pelukannya atau ia akan benar-benar marah. Ah, hormon ibu hamil. Sedang marah tapi tidak ingin di pisah.


Lucas tersenyum dan mencium lehernya dengan lembut. “Aku tahu, tapi kau hanya salah paham.” Ucapnya.


“Aku tidak peduli, aku sedang marah.”


“Sayang,” Lucas melancarkan jurusnya dengan mengendus leher Lindsey. Istrinya itu tidak akan berkutik kalau ia sudah menyentuh leher mulus itu. Dengan gerakan slowmotion, Lucas juga mengelus perut Lindsey dengan lembut.


“Lucas,” panggil Lindsey serak.


“Kenapa sayang?”


“Lepaskan!” ucapnya tajam tiba-tiba membuat Lucas terkejut dan melepaskan pelukannya.


Sontak saja Lindsey merasa kehilangan ketika Lucas melepaskan pelukannya, membuatnya semakin marah. “Kenapa kau lepaskan?!” rengeknya dan air matanya tiba-tiba terjatuh.


Lucas gelagapan.Lindsey membalikkan tubuhnya dan memukul dada Lucas pelan. “Kenapa kau lepaskan?” tanyanya masih dengan air mata yang berjatuhan.


Lucas kembali mendekap tubuh istrinya itu dengan erat. Ya ampun tadi minta dilepaskan sekarang menangis karena dilepaskan. Lucas tidak mengerti. Ia hanya bisa mengecup puncak kepala Lindsey dengan sayang.


“Jangan cium-cium.”


“Sayang, kau benar-benar membuatku serba salah. Aku jadi ragu, apa kau benar-benar ingin bercerai dariku?”


Mendengar kata cerai dari Tuannya, seketika Patrick langsung bergerak menjauh. Sedari tadi ia tidak peduli pada apapun yang majikannya itu bicarakan, tapi begitu mendengar kata ‘CERAI’, ha! Seketika Patrick ingin berubah menjadi bunga agar tidak terlihat dan disalahkan.


“Cerai?” Lindsey mendongak menatap Lucas. Lelaki itu mengangguk menatap manik mata istrinya dalam.


“Aku tidak penah meminta cerai padamu.” Ucapnya polos.


Ingin sekali Lucas menjitak kepala cantik istrinya ini. “Lalu yang dirumah sakit dulu apa kalau bukan minta cerai?” tanya Lucas gemas.


Lindsey tersenyum kaku. “Maaf, saat itu sedang kecewa pada diriku sendiri, dan aku malah menyalahkanmu.” Ucapnya.


Seketika Lucas terdiam. Ah, gara-gara dia Istrinya ini kembali mengingat hari yang kelam itu. “Sudahlah, lupakan.” Ucap Lucas kemudian mencium puncak kepala Lindsey.


“Hanya saja kenapa kau terus menerus mengirimiku surai cerai?” tanyanya lagi tidak terima.


Sungguh Lucas merasa sangat jengkel. Bagaimana mungkin istrinya ini bersikap tidak terjadi apa-apa sedangkan ia sudah mati-matian menahan tusukan bambu pada jantungnya setiap kali surat cerai itu datang.


“Surat cerai?” Tanya Lindsey tidak mengerti.


“Ya, kau mengirimiku surat terkutuk itu setiap hari membuatku benar-benar ingin melenyapkan diriku setiap kali surat darimu datang.”


“Setiap hari?”


Ingin sekali rasanya Lucas menggoyang-goyangkan kepala istrinya ini agar tidak berpura-pura polos dihadapannya. Orang surat itu datang hampir setiap hari, tidak mungkin istrinya ini lupa kalau ia tidak pernah absen mengirim surat terkutuk itu.


“Aku tidak pernah mengirimkan surat cerai. Yang kukirimkan itu surat rindu karena kau tidak pernah muncul lagi dihadapanku setelah di rumah sakit. Dan aku juga mengirim surat itu hanya tiga kali.”


“Lucas, ada apa?” tanya Lindsey penasaran.


“Seseorang mengirimiku surat cerai mengatasnamakan dirimu hampir setiap hari.”


Lindsey menutup mulutnya tidak percaya.


“Aku hampir saja menandatangani surat itu karena frustasi kau tidak berhenti mengirimiku surat itu.”


“Aku tidak mungkin menceraikanmu disaat aku sedang mengandung anakmu. Apa kata orang kalau anakku harus lahir tanpa ayah, sedangkan ayahnya masih ada sehat dan selamat.”


Lucas mendengarkan kalimat istrinya itu dalam diam. Benar juga, kenapa Lindsey harus menggugat cerai dirinya. Istrinya ini kan bukan orang yang tega-an pada orang lain, apalagi anaknya sendiri. Seketika bayangan Patrick muncul di kepalanya. Lelaki itu pernah memintanya untuk tidak menceraikan Lindsey.


Apa jangan-jangan Patrick yang mengiriminya surat itu?


Lagipula kalau dipikirkan lagi, bagaimana mungkin surat dari London sampai ke kantornya hanya dalam satu hari? biasanya pengiriman surat antar negara membutuhkan waktu paling tidak seminggu.  Jadi bagaimana mungkin surat itu bisa berdatangan setiap hari.


“PATRICK!” teriak Lucas membuat Lindsey terkejut. Tapi kemudian ia tersenyum.


Namun beberapa saat kemudian Lucas kembali tidak yakin kalau pelakunya adalah Patrick. Di setiap surat itu selalu ada tanda tangan Lindsey sendiri. Patrick kan tidak bisa meniru tanda tangan istrinya yang rumit.


Lucas menatap Lindsey yang menatapnya dengan bingung. Apa jangan-jangan istrinya ini memang yang mengirimkan surat itu tapi kenapa istrinya ini terlihat sangat polos seakan tidak tahu apa-apa?


“Aku rasa bukan hanya Patrick yang mengirimimu surat itu.” Ucapnya Lindsey kemudian, membuyarkan lamunan Lucas.


Lucas masih menatap Lindsey,


“Tapi kalau dipikirkan lagi, sepertinya tidak mungkin kalau Patrick yang mengirimiku? Ada tanda tanganmu di surat itu. Aku yakin itu tanda tangan darimu.”


"Ayahku,"


Lucas menatap istrinya semakin tidak percaya dan bingung sekaligus. "Kenapa dengan ayahmu?"


“Itulah mengapa aku mengatakan Ayah mengambil bagian.”


“Apa ayahmu bisa meniru tanda tanganmu?”


“Justru ayah yang membuatkan aku tanda tangan itu ketika masih kecil. Dan aku belajar dari tangannya langsung.”


Lucas menggeram kesal. “Sialan! Mereka mengerjai ku.”


“Lucas jangan mengumpat. Nanti anakku mendengarnya!”


Lucas tertawa, “anakku juga” ucapnya.


“Anak kita.” Ralat Lindsey.


Lucas tersenyum dan mengangguk, ia mencium puncak kepala Lindsey dengan lembut dan sayang. “Aku akan memberi pelajaran pada Patrick dan Ayahmu.”


Ia menuntun tubuh Lindsey masuk ke dalam mansion dengan pelan dan hati-hati, "jangan terlalu keras pada mereka, mereka sudah tua." Ucap Lindsey bijak.


"Kelakuan mereka seperti anak kecil, membuatku tidak bisa tidur di malam hari karena merasa sangat bersalah."


"Sudahlah Lucas, lupakan saja. Semuanya sudah berlalu."


"Tapi aku hanya ingin memberi mereka pelajaran sedikit," rengek Lucas.


Lindsey berdecak, "mereka yang kau maksud itu adalah ayahku, mertuamu, kakek anakku eh anak kita."


"Hanya sedikit sayang, mereka tidak akan kesakitan,"


Lindsey menatap Lucas ragu, tapi pandangan mata suaminya itu seakan menyihirnya. "Janji?"


"Janji." Ucap Lucas semangat. "Sekarang ayo kita masuk dan biarkan aku memberi mereka sedikit pelajaran."


Lindsey menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Ternyata suaminya ini cukup pendendam.