
Bukan karena Lindsey tidak ingin, ia ingin sungguh. Tapi mengingat kejadian paket yang baru saja terjadi membuat ia berpikir kalau mereka butuh waktu untuk membicarakan hal tersebut.
Lindsey hanya tidak ingin kedepannya ia dan Lucas kembali salah paham tentang lelaki itu. Ia hanya tidak ingin berada di situasi seperti tadi lagi bersama Lucas.
Tapi sepertinya Lucas tidak ingin membicarakan itu karena sekarang lelaki itu sudah berada tepat di hadapannya dengan senyum jahil nan menggoda bertengger di wajah tampannya.
“Jadi baby, bagaimana menurutmu?” Lucas benar-benar menggodanya dengan suara seraknya yang seksi.
“Lu-Lucas ba-bagaimana jika kita berbicara terlebih dahulu?” Ia berusaha berkompromi dengan suaminya itu.
“Berbicara?” Lucas mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi, “bukankah saat ini kita sedang berbicara?” tanyanya tak acuh.
“Maksudku berbicara serius Lucas.” Lindsey memberi pengertian pada suami tampannya itu dengan sabar.
“Berbicara tentang apa?” kali ini nada serius tersirat dalam pertanyaan yang keluar dari bibir Lucas. Tapi jangan di tanya jika ia juga masih menginginkan Lindsey.
“Tentang kita.” Jawab Lindsey mantap.
Senyum Lucas mengembang ia merasa sesuatu yang baik akan segera terjadi di antara mereka.
“Sebelum berbicara bisakah kita melakukannya terlebih dahulu, baby?” tanya Lucas sedih, “aku sudah tidak tahan.” ucapnya nelangsa.
Pipi Lindsey langsung bersemu merah. Ya ampun, usahanya untuk membuat Lucas melupakan keinginan lelaki itu berakhir sia-sia. Lucas tetap memintanya.
Memang ajaib suami gay-nya ini.
Lindsey akhirnya hanya bisa menurut pasrah ketika Lucas meraih tengkuknya dan menciumnya dalam. Ia melingkarkan kedua tangannya pada leher Lucas mengisyaratkan pada suaminya bahwa ia tidak menolak.
Wanita itu juga pasrah ketika Lucas membawanya ke tempat tidur dan menanggalkan seluruh pakaiannya. Lucas sangat beringas menyentuh Lindsey. Terus menerus membuat Lindsey teriak tanpa merasakan rasa lelah sedikitpun.
Lindsey jadi berpikir jika Lucas memiliki kekuatan seperti ini bahkan terbilang memiliki libido yang cukup tinggi, bagaimana selama ini suaminya bisa bertahan dengan isu gay yang sudah melekat sangat kuat pada dirinya?
Entah sudah berapa lama dan berapa ronde ketika Lucas akhirnya melepas Lindsey saat makan malam. Mereka melakukannya dari siang sejak Lucas pulang ke mansion.
Lindsey bahkan ingat, ketika di kamar mandi tadi Lucas mengatakan kalau ia hanya akan melakukannya SEKALI, tapi kenyataannya lelaki itu melakukannya berkali-kali hingga Lindsey kesulitan bergerak.
Rasa sakit dan cenderung kebas ia rasakan kembali kambuh di intinya. Padahal sebelumnya ia tidak merasakannya lagi. Atau mungkin karena rasa sakitnya teralihkan dengan rasa khawatir yang mendominasi pikirannya karena Lucas yang berurusan dengan kantor polisi?
Entahlah Lindsey tidak tahu. Yang penting Lucas kembali padanya, dan lagi....
Lucas memang lelaki yang menyebalkan sekaligus menggairahkan.
“Lucas.” panggilnya.
Lelaki itu menoleh padanya dengan mulut yang masih terisi makanan. Ia tidak menjawab tapi pandangannya menunjukkan bahwa ia menunggu kalimat yang akan diucapkan oleh istri seksinya itu.
“Kita belum bicara.”
Kening Lucas mengerut dan raut wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang berpikir sejenak sebelum kemudian ia menatap Lindsey tersenyum lalu menelan makanannya.
Lindsey mengangguk lalu mengikuti Lucas memakan makanannya.
Ah iya, hari ini tidak memasak karena sibuk dengan Lucas.
Ia ingat ketika mereka keluar dari kamar. Ia mengenakan baju dengan kerah turtle neck dan Patrick menatap mereka dengan sengit sekaligus kesal secara bersamaan. Namun tidak berkata apa-apa.
Lindsey juga tidak bodoh. Ia sudah cukup mengenal Patrick. Lelaki itu memiliki sifat pendiam namun mematikan, dan itu bukan sifat yang baik.
Baru saja ia memikirkan Patrick dan sekarang lelaki itu muncul di hadapannya dengan raut wajah datarnya yang sangat-sangat khas. Lindsey menatap Patrick bingung, apa Patrick akan selamanya berekspresi datar seperti itu? Pantas saja lelaki itu jomblo, siapa juga yang akan betah dengan lelaki poker face akut seperti Patrick.
“Apa yang akan kalian lakukan setelah ini?” Patrick menghampiri mereka yang sedang makan. Ia tidak ikut duduk karena ia masih sadar diri.
“Bukan urusanmu.” Lucas menjawab dengan datar.
“Apa kalian masih belum puas?”
Blusss. Seketika warna pipi Lindsey memerah. Ah, Patrick memang lelaki yang paling datar, semua orang mengakui itu. Namun lelaki itu juga adalah orang yang paling menyebalkan yang pernah Lindsey temui, untuk yang satu ini sepertinya hanya ia dan Lucas yang tahu.
“Sudah ku katakan bukan urusanmu.” Lucas menanggapi kalimat Patrick dengan datar. “Lebih baik kau bekerja.”
“Kalau begitu beri saya pekerjaan, sir.” sindirnya.
“Tinjau ulang semua proyek yang akan kita laksanakan tahun depan. Jangan sampai keliru dengan proyek-proyek itu, aku rasa kau tidak keberatan dengan pekerjaan itu.” Lucas memberi Patrick pekerjaan sesuai dengan permintaan lelaki itu.
“Baik sir, lanjutkan kegiatan kalian. Saya akan kembali ke tempat saya.”
Patrick meninggalkan mereka berdua. Lucas masih melanjutkan makanannya sedangkan Lindsey merasa ada yang aneh. Bukankah selama ini Patrick sudah bekerja? Atau lelaki itu memang pengangguran?
Lindsey tidak mengerti. Sungguh. Entah itu Patrick maupun Lucas. Mereka atasan dan bawahan yang unik, atau mungkin... aneh?
“Kau sudah selesai makan?” Lucas membuyarkan lamunannya. Sudah berapa kali ia melamun hari ini dan Lucas selalu membuyarkan nya.
“Eh, Sudah.” ucapnya salah tingkah.
“Tidak usah gugup.” Lucas terkekeh melihat Lindsey yang salah tingkah. “Kau mau kita bicara di mana?”
“Eh, di.. di mana saja boleh.”
“Sudah kubilang jangan gugup. Kalau begitu ayo kita ke kamar.”
“Lucas kita harus berbicara!” Lindsey tidak terima dengan Lucas yang lagi-lagi selalu mengajaknya ke kamar.
“Iya, aku tahu. Jangan berpikiran negatif baby, kita akan berbicara. Berbicara di kamar. Atau kau ingin seluruh pelayan mendengar pembicaraan kita?” Lucas tersenyum geli saat mengetahui Lindsey berpikir ke arah sana.
Pipi Lindsey seketika memerah, ternyata pikirannya yang mesum. Ia langsung berdiri dan berjalan meninggalkan Lucas. Namun tak menunggu lama karena Lucas juga ikut menyusulnya di belakang sambil tertawa kencang.